Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Rencana Makan Malam


__ADS_3

"Apa yang kalian lakukan?" suara itu membuat ke tiga wanita cantik berbeda usia kini menoleh ke arah sumber suara.


"Papa,"


"Om,"


"Hendra,"


Mereka bertiga serempak berucap sambil menoleh ke arah Hendra wijaya dengan tatapan yang tak bisa di jelaskan. Tentunya mereka kaget.


"Apa yang kalian bertiga lakukan? Kalian melihat apa? Kenapa mengintip intip seperti itu?" tanya Hendra wijaya lagi, pastinya dengan suara yang keras karna tak tau jika tiga wanita cantik itu tengah menjalani misi.


Tadinya, Mereka yang menghawatirkan Emely dan Dani segera menyusul dan tak mau hal yang buruk terjadi, akan tetapi setelah membuka pintu justru yang dilihat diluar dugaan. Mereka yang terlanjur kepo meneruskan melihat pemandangan yang romantis di sana.


"Ayo kita balik, mereka tidak beetengkar," ucap Mama Nina.


"Tante, sayang kan melewatkan pemandangan seperti ini. Kalo dilakukan pasangan halal liatnya adem ayem. Nala kan jadi pengen nikah, tapi sayang belum dapet jodoh," ucap Nala.


"Nala, jangan kenceng kenceng ngomongnya," protes Oma Rosy.


Hingga pada akhirnya Hendra wijaya menghampiri mereka bertiga.


"Apa tidak ada yang punya mulut?" tanya Papa Hendra. Tapi mereka bertiga tampaknya tak mau menjawab karena takut Papa Hendra marah. Yang benar saja, Papa Hendra sebenarnya hanya bertanya dan penasaran apa yang dilihat tiga orang itu kini membuka pintu dengan Lebar.


Deg


Mata papa Hendra kini melihat kemesraan sepasang suami istri. Dia terkejut, bahkan untuk menutup pintu lagi tak mungkin, karna Dani dan Emely yang tengah asik bertatapan dan bermesraan itu menoleh ke asal suara.

__ADS_1


Dani terkejut melihat orang orang rame rame ke kamar tamu. Segera dia melepaskan pelukannya.


"Astaga, apa yang mereka lakukan?" kesalnya. Dani segera melangkah ke arah pintu.


Emely yang malu dan pastinya kini wajahnya memerah tampak mengikuti langkah suaminya.


"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Dani dengan ketus. Tak ada jawaban dari mereka ber empat.


"Astaga, memalukan, apa kalian tak pernah muda? Kenapa mengganggu kami? Kau juga Nala, kau itu masih muda. Kenapa tak melakukan sendiri malah mengganggu orang lain," cerocos Dani yang merasa kesal dengan ke empat keluarganya.


Emely hanya diam, baru hari pertama dirumah mertua tapi dia sudah menggemparkan jagad raya.


"Dan, kenapa marah marah. Papa cuma penasaran dengan apa yang dilihat oleh Nala, mama dan oma. Mana tau mengganggu, lagi pula papa juga tidak berniat memandang pemandangan seperti tadi. Papa bisa melakukan sendiri," ucapnya sewot.


Tapi ucapan Papa justru membuat Mama Nina membelalakkan matanya. Dasar lelaki. Dani hanya memejamkan matanya, semakin geram pada mereka semua.


Emely menundukkan pandangan, astaga kenapa adegan tadi dilihat mereka. Malu kan jadinya? Kenapa juga Dani bertanya, sudah jelas mereka melihat malah diperjelas lagi. Emely tampak menggerutu. Tapi ternyata keluarga ini tidak sedingin yang dia kira. Keluarga ini sangat hangat.


Dani mencoba untuk tenang, ambil positifnya aja ternyata mereka mengkhawatirkan istrinya.


Papa Hendra kini menatap mereka semuanya bergantian. Apa tadi? Baby di perut Emely. Apa menantunya hamil? Apa dia akan segera jadi opa? Bahagianya, mengalahkan bahagia menjadi opa korea.


"Apa Emely hamil?" tanya Papa Hendra.


Mama Nina, Oma Rosy, Nala, Dani dan Emely menoleh bersama. Bahkan mereka lupa jika karna ini mereka sekarang ada disini. Dani menghela napas panjang, sepertinya ini adalah kesempatan untuk menghapus luka yang ada di hatinya karna kesalah pahaman tadi.


"Ya, Emely hamil lima minggu Pa. Buah cinta kami. Aku akan segera menjadi ayah," ucap Dani sambil menatap ke arah papanya.

__ADS_1


Papa Hendra maju, merangkul sejenak putranya. Tak menyangka secepat ini. pernikahan baru tujuh minggu, Emely sudah hamil lima minggu. Bukankah proses pembuahan dan terjadilah kehamilan itu selama kurang lebih dua minggu? Apa Dani tancap gas saat itu? Hebat sekali putranya. Menikah terpaksa tapi bisa melakukan adegan 1821 dengan sempurna.


"Menakjubkan," ucap Papa hendra lirih tapi mampu di dengar Dani.


"Apa Pa?" tanya Dani yang tak mengerti.


"Tidak, papa hanya ingin mengucapkan selamat pada putra papa. Selamat menjadi calon ayah Nak. Jadilah calon ayah yang baik, suami siaga untuk Emely." Papa Hendra menasehati kemudian melepas pelukannya.


Emely bahagia melihat kehamilan dan kehadiran di tengah keluarga ini tersambut dangan hangat. Bahkan Dani juga bahagia.


Dani menggangguk dan kini meraih pinggang Emely, merapatkan tubuhnya.


"Emang papa mau ngapain tadi? Kenapa ikutan kita kita?" Mama Nina masih saja sebal pada suaminya. Papa Hendra tersenyum dan menatap istrinya. Tadi memang papa hendra mencari mama Nina untuk memberitahu sesuatu. Mungkin dia harus memberikan kabar bahagia itu disini juga.


"Papa dapat telpon dari Pradikta, dia menceritakan bahwa ternyata kamu dan istrinya bersahat. Tadi Elyna sahabat kamu menelepon kamu, Emely dan juga Dani tapi tak ada yang mengangkat. Dia hawatir dan akhirnya Pradikta menelpon papa menanyakan apa ada Em dan Dani disini. Dan papa juga mengiyakan. Lalu, mereka meminta kita semuanya datang makan malam ke mansion Pradikta untuk makan malam bersama, dan pasti mereka akan bahagia mendengar kehamilan Emely," ucap Papa Hendra panjang lebar sambil tersenyum.


Mama Nina tampak mengambil ponselnya dan benar saja, panggilan dari Elyna hampir 5 kali tak terjawab.


Emely diam karna ponselnya memang tertinggal di mobil. Tapi Dani tampak melihat ponselnya dan melihat beberapa panggilan tak teejawab juga.


"Wah, alhamdulillah. kalo begitu sebaiknya kita bersiap. Ini sudah sore," ucap Papa pradikta.


"Bersiap kemana?" tanya seseorang yang baru saja datang.


Emely menoleh, melihat ke arah wanita cantik itu. Beberapa bayangan mengiang. Kemesraan yang sempat dia lihat antara wanita itu dengan Dani saat itu. Kedekatan mereka. Bayangannya juga terlintas saat dia berdebat hebat saat itu di kantor ARW dan pada akhirnya bisa mendapatkan alamat Mansion ARW.


Siapa wanita itu? Apa dia juga kekasih Dani? Kenapa dia bebas masuk ke mansion? Rasa sesak kembali menggelayut di otaknya. Emely melihat Dani yang kini tersenyum ke arah wanita itu dan menambah Emely semakin gelisah.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2