
Suara teriakan Ganesa, Emely dan juga beberapa orang yang menyaksikan penembakan itu begitu nyaring.
Tampak Raymon dan Sinta tumbang karna penembakan yang dilakukan Tuan Wilson dan juga Tuan Shin.
Kedua orang paruh baya yang semula mengincar Dani dan Emely itu terkejut saat menyadari tembakannya malah melukai orang lain.
"Sinta,"
"Raymon,"
Keduanya berpandangan, saat melihat tangan kedua orang yang tumbang itu saling perpegangan.
Deg
"Dia putraku,"
"Dia juga putriku,"
Deg keduanya saling terkejut. Jadi putra dan putri mereka bersama? Saat itu polisi datang dan membekuk Tuan Wilson dan juga Tuan Shin. Belum sempat melihat kondisi putra putrinya kedua orang itu dibawa pergi. Penyesalan tampak dari raut wajah mereka, andai mereka tau bahwa putra putri mereka saling mencintai.Tapi penyesalan tinggalah penyesalan.
Suasana tampak haru, Ganes hanya bisa diam dan mematung melihat Raymon dan Sinta tak sadarkan diri. Papa Hendra mendekat dan memeluk putrinya.
Emely tampak duduk dan meletakan kepala Dani di pangkuannya. Dani tak sadarkan diri di dalam pelukan Emely, sepertinya tubuhnya sudah lagi tak kuat untuk menahan sakit di sekujur tubuhnya karna cambukan dan juga karna luka tembak.
Emely mengalirkan air matanya, menatap wajah suaminya yang pucat akan tetapi masih terlihat tampan itu.
"Mas, bangunlah. Aku sangat mengkhawatirkanmu. Aku sangat mengkhawatirkanmu mas, sadarlah. Ini aku Mas," ucapnya. Air matanya terus menerus menetes membasahi pipi Dani yang tak merespon apapun.
__ADS_1
Emely menggenggam tangan Dani dan terus menyebut namanya dalam doa. Mencium beberapa kali wajah Dani, berharap suaminya itu sadar. Akan tetapi tak sesikitpun meresponnya.
Vino yang baru saja memanggil ambulan untuk membawa tubuh Dani, Sinta dan juga Raymon ke rumah sakit kini menghampiri adik tercintanya.
Dia menepuk pelan pundak Emely dan meraih Emely dalam dekapanya.
"Percayalah, Dani akan baik baik saja," ucap Vino.
Papa Hendra dan Ganesa juga mendekat, mereka memberikan semangat pada Emely untuk tetap kuat.
"Dimana Lelyta?" tanyanya pada Vino.
"Dafa membawa Lelyta dan ibunya ke rumah sakit, kau tak perlu mengkhawatirkannya," ucap Vino dan membuat Emely merasa lega.
Tak berapa lama kemudian, ambulan datang. Para petugas medis berhamburan datang dan membawa korban tembak. Mereka di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
Sebuah mobil ambulance melaju kencang menuju ke rumah sakit, bunyi sirine yang terdengar nyaring memekak telinga. Sesaat setelah sampai di rumah sakit, tampak beberapa suster mendorong tiga brankar sekaligus.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin Tuan," jawabnya.
"Sus selamatkan suami saya," ucap Emely yang kini masih menangis tersedu sambil mengikuti Suster dan dokter yang sudah masuk ruang perawatan.
"Maaf, mbak. Anda bisa menunggu di luar dulu," ucap seorang dokter yang tampak tergesa menuju ke ruangan itu. Emely mengangguk dan duduk di depan. Mama Elyna dan Mama Nina datang bersamaan. Papa Pradikta juga sama. Mereka mendekati ke arah Emely dan bergantian memeluk Emely.
"Sayang, kuatkan dirimu," ucap Mama Elyna dan Mama Nina bersamaan.
Seorang dokter dan kedua suster tampak tergesa memberikan pertolongan pada lelaki yang tampak lemah itu. Untuk mengambil peluru di lengan Dani diperlukan orprasi.
__ADS_1
Beberapa jam berlalu, Dani sudah melewati oprasinya. Dokter sudah keluar dan memperbolehkan keluarga masuk satu persatu sehingga tidak mengganggu ketenangan.
"Apa boleh masuk dok?" tanya Emely.
"Boleh, ajak pasien untuk berkomukasi agar merangsang alam bawah sadarnya," ucap Dokter dan diangguki oleh Emely.
Semuanya merasa lega pada akhirnya Dani ditemukan dan selamat. Tuan Shien dan juga Wilshon dan juga keluarganya juga sudah ditangani polisi.
Raymon dan Sinta juga sudah membaik, Lelyta tidak papa, tetapi ibunya tidak bisa diselamatkan dan dikebumikan sore tadi. Vino sudah pulang karena istrinya juga dirumah sendirian
Kini Papa Hendra, Papa Pradikta, Mama Nina dan Mama Elyna berada di depan kamar Dani. Mereka menemani Emely menjaga Dani.
Emely menatap ke arah Dani, tangannya Menggenggam tangan Dani, mencium beberapa kali tangan lelaki yang sangat dicintainya itu. Matanya berkaca kaca menatap beberapa alat yang menemlel di tubuh suaminya.
"Mas, bangunlah," Emely memandang wajah tampan Dani lagi, menatapnya dengan perasaan yang campur aduk tak karuan.
"Aku sangat merindukanmu, merindukan senyumanmu, tingkahmu yang menyebalkan, galakmu, aku merindukan semua Mas," ucap Emely di tengah isak tangisnya.
"Sudah sepuluh hari kamu menghilang, menghilang dengan meninggalkan sebuah kesalah pahaman yang membuat aku dongkol. Tapi kamu tau mas, sekarang aku tidak lagi dongkol lagi, aku memaafkan semuanya. Bahkan kalau kamu mau membuang bubur sum sum lagi seperti dulu aku rela, tapi bangunlah mas, peluk aku. Cium aku, cium baby kecil kita di perut," ucap Emely sambil mengusap air matanya yang terus saja mengalir.
"Apa kamu tidak rindu mas? Apa kamu tidak mau memelukku? Lalu kamu maunya gimana? Aku dipeluk orang lain begitu?" tanya Emely di sela tangis dan tawa yang ada dalam bibirnya.
"Aku rindu mas, apa kamu tidak kasihan padaku? Jadi istrimu 3 bulan, dua bulan menderita karna kau tak cinta, sekali cinta malah malah ditinggal begini. Sebenarnya hatimu dimana mas?" Emely tampak uring uringan.
"Jangan biarkan aku jadi janda mas," Emely mencoba melawak untuk menghibur hatinya sambil mengusap tangan Dani.
Saat itu, tangan Dani menggenggam tangan Emely. Emely yang tampak terkejut dan bahagia kini hampir berteriak memanggil dokter. Akan tetapi, Dani bangun dan membungkam mulut Emely dengan ciuman hangatnya.
__ADS_1
Ciuman itu membuat Emely bahagia dan terkejut secara bersamaan. Sebenarnya Dani sudah sadar beberapa jam yang lalu. Bahkan Orang tuanya dan mertua sudah tau, saat Emely membersihkan dirinya dan ibadah shalat tadi. Dokter juga sengaja meminta Emely berkomunikasi juga atas permintaan Dani. Dia mau tau isi hati Istrinya, bukan curhat malah makian yang keluar dan malah membuatnya menahan tawa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...