
Dafa menautkan alisnya saat melihat dengan jelas seorang gadis di depannya kini menatapnya dengan tatapan jutek.
"Apa kau bilang?" tanya Dafa dengan gaya tenangnya.
"Apa kau t*li? Antarkan aku ke rumah sakit sekarang juga, Tuan Dafa yang terhormat," ucap Lelyta sambil menatap papan Nama yang beetuliskan Deyren Dafara Federik itu.
"Masuk," ucap dafa sambil menatap ke arah pintu mobil yang kini telah terbuka.
Lelyta menoleh dan segera melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu mobil. Dafa melangkahkan kakinya menuju ke dalam kemudi kemudian segera menancap gas mobilnya menuju ke arah sana.
🎀🎀🎀🎀
Dani yang berkutat dengan komputer hanya tersenyum saat mengingat wajah cantik istri sirinya, gadis cantik yang selalu saja membuat dirinya geram dan bahagia secara bersamaan.
Terlintas juga bayangan Sifa yang tersenyum. Kenapa Emely dan Sifa selalu berperang dalam otaknya? Apa saat ini masih juga begitu? Dia rasa tidak lagi, bahkan saat ini hanya ada bayangan Emely yang menari nari dalam otaknya.
Emely, mencoba melupakan wanita itu? Akhh, bahkan semakin Dani mencoba untuk melupakan, wajah Emely semakin muncul dalam ingatannya.
Masih saja teringat Emely, meskipun dia mencoba mengalihkan perhatiannya pada hal lain. Sedang apa wanita cantik itu? Apa yang dia lakukan, kenapa dia ingin berada di depannya, memeluk erat tubuhnya?
Tangan Dani terulur untuk menghubungi Rudi. Selalu tidak tepat sasaran, nomor ponsel Rudi kini tak dapat dihubungi. Dani mengepalkan tangannya. Ditekannya nomor ponsel Dafa. Asisiten pribadinya yang saat ini sedang ditugaskannya mencari tau tentang Tuan Wilson.
Terdengar suara deringan ponsel yang sebentar kemudian diangkat pemiliknya.
"Halo, ada apa Dan?" tanya Dafa dengan tenang di sebrang sana.
Lelyta yang saat ini melirik ibunya yang tampak tertidur hanya diam, dia menyimak pembicaraan Dafa dengan orang yang ada di sebrang sana.
"Daf, apa kau masih lama? Aku hampir menyelesaikan pekerjaanku, tapi masih ada beberapa berkas lagi yang harus kita pelajari," ucapnya sambil melirik berkas yang ada di atas meja.
"Aku masih akan menyelidiki suatu hal, apa kau butuh bantuan Dan?" tanya Dafa lagi.
"Aku merindukannya," ucap Dani lirih sambil memejamkan matanya yang justru malah membuat Dani terbayangi wajah Emely.
"Apa?" Dafa tampak syok dan kini malah menghentikan mobilnya dengan mendadak di pinggiran jalan, membuat Lelyta bergerak maju. Untung saja tak ada mobil lewat, untung juga ibunya tidak kaget karna ulah Dafa.
Dani tersenyum sinis kemudian membenahi duduknya di kursi putar itu.
__ADS_1
"Kau carikan nomer ponsel Emely sekarang juga, dalam waktu tiga menit kau harus sudah memberikannya padaku," ucap Dani kemudian mematikan ponselnya.
"Dan, Dani, kau pikir aku robot?" sentaknya dan baru menyadari ponselnya sudah tak tersambung lagi dengan panggilan Dani.
"****," umpatnya sambil menatap ponsel yang sudah tidak tersambungkan. Lelyta menatap Dafa yang kini tampak geram.
"Ada apa? Mungkin saja ada yang bisa aku bantu," ucap Lelyta tampak hawatir.
Dafa menatap wanita disampingnya itu, wanita yang sempat sedikit cekcok dengan dirinya itu.
"Kau tak akan bisa memmbantu, diamlah!" sentaknya pada Lelyta.
Lelyta menatap lurus ke depan sana kemudian mengambil ponselnya. Kalau tidak salah dengar, orang di sebrang meminta nomer ponsel seseorang. Panggilan terakir Dafa tadi memanggil nama Dan, apa itu Dani? Apa yang diminta adalah nomor Emely?
Segera Lelyta menatap Dafa yang masih berkutat dengan ponselnya, mencoba menghubungi seseorang hingga pada akhirnya Lelyta mengarahkan ponselnya pada Dafa.
"Kau mencari nomor ponsel Nona Emely?" tanyanya. Dafa tampak menatap ke arah Lelyta dan menatap tajam ke arahnya. Siapa wanita ini? Kenapa dia tampak seperti ahli kunci tentang Emely? Apa benar begitu?
Lelyta mengarahkan ponselnya pada Dafa kemudian menunjukan nama Nona Emely disana.
Bagaimana bisa Lelyta mempunyai nomor ponsel Emely? Entahlah, itu dipikir nanti saja. Pikir Dafa. Yang penting saat ini dia segera mengirimkan nomor Emely karna satu pesan diterimanya dari Dani.
Tamat riwayatmu jika tak segera memberikan nomor ponsel itu. isi pesan wa itu.
Dafa menghela napas panjang kemudian mengetik nomor ponsel Emely dan mengirimkan pada sepupunya.
Setelah selesai mengirim nomor itu, segera Dafa kembali menancap gas mobilnya menuju ke arah rumahsakit yang tak jauh dari tempatnya berada.
🎀🎀🎀🎀
Dani yang menerima satu pesan WA dari Dafa tersenyum bahagia. Diraihnya ponselnya kemudian menyimpan satu nomer yang dinamai Istri siri.
Dani membuat panggilan untuk Emely, lama berdering akan tetapi wanita itu tak kunjung mengangkat ponselnya.
"Apa yang dilakukannya? Kenapa mengabaikan panggilanku?" geram Dani
"Selamat sore Kak," ucap Ganesa yang baru saja masuk ke ruangan Dani dan memberikan beberapa berkas penting.
__ADS_1
"Sore Nes," ucapnya sambil meletakan Ponselnya di atas meja.
"Sedang apa Kak? Kenapa tampangmu jelek sekali?" tanya Ganesa sambil duduk di kursi yang berada di depan Dani dan meletakan berkas itu di depan Dani. Dani masih saja terdiam sampil mengamati tumpukan. berkas yang masih harus diselesaikannya.
"Tidak apa apa, kakak hanya sedikit capek," ucap Dani sambil mengusap kasar wajahnya. Kenapa Emely tak menjawab panggilannya. Ada apa? Kenapa dia tampak gelisah dan tampak menghawatirkan wanita itu?
Dani menulis satu pesan WA unruk istrinya.
Apa yang kau lakukan? Jangan membuatku marah. Aku akan menghukummu jika kau masih saja mengabaikan aku. kirim.
Beberapa saat menunggu, pesan itu belom terbaca.
"Kak, kerjasama dengan perusahaan X sudah teejalin, kita hanya butuh mensurvenya," ucap Ganesa.
"Persiapan untuk besok, kita upayakan yang terbaik. Kita harus ke proyek malam ini untuk memastikan semuanya aman, nyaman dan terkendali," ucap Ganesa dengan tenang lagi.
"Hem, kita harus semangat dan harus waspada. Mana tau ada musuh di antara kita," ucap Dani dengan tenang.
"Kakak ada masalah?" tanya Ganesa pada Dani yang kini tampak terdiam dan tampak gelisah.
"Kakak memikirkan Emely?" tanya Ganesa lagi sambil menautkan alisnya. Dani masih juga terdiam.
"Sepertinya kau harus segera menuntaskan sesuatu di hatimu, entah bagaimana hasilnya. Yang pasti aku setuju jika kau dengan Emely. Bukan dengan Sinta yang sepertinya mempunyai rencana yang tak baik," ucap Ganesa kemudian menepuk pelan pundak kakaknya.
Dani tersenyum tipis, sebenarnya dirinya sudah sangat kepikiran dengan keadaan Emely saat ini, bahkan bayangan wanita itu berada di pelupuk matanya. Apa dia benar benar sedang jatuh cinta?
"Astaga, ada apa dengan wanita itu," ucap Dani sambil menatap panggilan untuk Emely yang tak kunjung di jawab.
Dengan mencoba menekan hatinya dan bersabar, Dani kembali fokus pada berkas. Menatap Ganesa dan menghela napas panjang.
"Kita selesaikan pekerjaan kita, perasaanku tak nyaman. Aku harus segera menjemput Emely," ucap Dani dengan tenang.
🎀🎀🎀
Like, komen, hadiah.
🎀🎀🎀🎀
__ADS_1