
Emely berhenti sejenak. Dani kini menatap Emely seolah mengatakan bahwa akan baik baik saja.
"Sebaiknya kita masuk." Dani menggenggam tangan Emely dan mengajak wanita cantik itu masuk ke dalam mansion mewah itu.
Tanpa menolak, Emely mengikuti langkah Dani yang kini melewati pintu masuk. Beberapa pelayan berjejer rapi menyambut kedatangan kedua orang itu. Tuan mudanya membawa wanita? Siapa itu? Kenapa sepesial sekali? Dani tak pernah sekalipun membawa seorang wanita ke rumah ini.
"Dimana orang orang? Kenapa sepi sekali?" tanya Dani saat melewati para pelayan itu.
"Nyonya besar ada di ruang santai, bersama Tuan Hendra dan Nyonya Nina," jawab yang paling ujung.
"Oke," jawab Dani.
"Oh ya, perlu kalian tau, dia adalah Nona Emely. Istriku, mulai hari ini dia akan tinggal disini. lakukan apa yang dia minta. Sekali saja aku melihat kalian kurang ajar, kalian bisa berhadapan denganku," ucapnya.
Emely memejamkan matanya, tinggal disini? Apa dia sanggup? Bagaimana jika keberadaannya tidak diterima dengan baik? Entahlah.
"Baik Tuan Muda," jawab mereka serempak.
"Bagus," ucap Dani.
"Mas, tidak perlu begitu juga," bisik Emely.
Dani tampak mengabaikan protes Emely, dia malah membawa Emely melewati beberapa ruangan yang begitu megah dengan arsitek yang indah. Jantung Emely kembali berdetak tak beraturan saat Dani membawanya ke arah tiga orang yang tengah berbincang hangat di ruang keluarga.
"Selamat siang," Dani menyapa sehingga tiga orang yang tengah berbincang itu menoleh bersamaan.
Ketiga orang itu berdiri menyambut kedatangan Dani dan Emely, Emely menghela napas, sejenak dia menatap ke arah oma yang pernah bertemu dengannya. Dan dia mengedar pandangannya ke arah papa Hendra dan Mama Nina yang sudah ganti baju dan berdiri di samping papa Hendra.
"Assalamualaikum, selamat siang, Ma, Pa, Oma," ucap Emely sambil mendekat. Mengarahkan tangannya pada Mama Nina, Papa Hendra dan juga Oma Rosi. Uluran tangannya disambut hangat.
__ADS_1
Deg
Jantung Emely seakan bermaraton ketika bersalaman dengan Mama Nina, pandangan matanya bertemu dengan pandangan mama Nina. Mama Nina tampak tenang, tapi dia masih bisa merasakan hawa kecanggungan.
"Waalaikumsalam," jawab Mama Nina sambil mengusap pundak Emely.
Mama Nina, wanita itu menatap Emely. Kilasan beberapa kejadian berputar di otaknya. Benar benar masih sulit untuk diterima bahwa Emely adalah menantunya. Bahwa Emely putri sahabatnya.
Kemudian Emely berjabat tangan dengan Papa Hendra, walau belum akrab. Tapi Nama Hendra Wijaya sangat familiar di telinganya. Bahkan, dirinya ingat bahwa Papa Hendralah yang saat itu menjadi saksi pernikahan dirinya dengan Dani.
"Siang Pa," ucapnya.
"Siang Nak, kamu baik baik saja? Mama bilang kamu muntah. Lanjut istrirahat, biar cepat enakan," ucap Papa Hendra dan mampu membuat kebekuan dalam hati Emely mencair.
"Halo sayang, kamu baik baik saja kan? Pasti kamu kecapean, kenapa sering sekali kamu begini? Pertemuan awal kita juga karna kamu pingsan, apa Dani tak membawamu ke dokter?" tanya Oma Rosy panjang lebar.
Oma memandang Emely, ada rasa kagum pada kecantikan paras wajah cantik itu. Wajah cantik wanita yang telah menjadi cucu menantunya itu sangat tenang.
"Kenapa tidak dari kemarin kemarin? Sehat itu mahal lo Dan, bagaimana kalau terjadi sesuatu sama cucu menantu Oma ini?" sentak omanya.
Dani hanya bisa menghela napas panjang, apa sesayang itu pada Emely? Emely tersenyum indah. Dia bahagia melihat kehangatan keluarga ini saat menyambut kedatangannya.
"Sebaiknya kamu istirahat, mamamu yang akan mengantarmu ke kamar. Oma mau menghukum suamimu," ucap Omanya.
Mama Nina terkejut, ibunya benar-benar menyebalkan. Kenapa harus memintanya? Emely terdiam, kekamar bersama mama mertua? Astaga.
"Nin, tunggu apa lagi? Sana antar cucu oma. Layani dia dengan baik, awas saja kalo sampai terjadi apa apa kamu berhadapan dengan mama," ucap Oma Rosy pada Mama Nina.
Mama Nina yang sedikit kesal kini menatap Emely.
__ADS_1
"Ayo Nak, mama antar ke atas," ucap Mama Nina. Emely mengangguk pelan.
Dani menatap omanya, dia tau ini akal akalan omanya untuk mendekatkan anak dan cucu menantunya.
Papa Hendra hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Ma, Dan. Papa ke ruang kerja, ada yang mau papa kerjakan," ucap Papa Hendra.
"Ndra, jangan lupa istirahat juga," sahut oma Rosy.
"Iya Ma, bentar saja kok," ucapnya kemudian melenggang pergi. Hanya ada Oma Rosy dan Dani saja di ruang keluarga. Mereka duduk bersamaan.
"Kapan oma datang?" tanya Dani sambil menatap ke arah omanya.
"Sejak tadi, oma merindukan istrimu? Oma langsung saja ke sini. Kenapa tak membawanya ke rumah?" tanya oma Rosy. Oma yang semula terdiam kini menatap Dani dengan tenang.
"Maaf Oma, kami baru saja mengambil ini," ucap Dani sambil menunjukkan dua buku nikah yang berbeda warna itu.
Oma Rosy antusias mengambil buku nikah itu kemudian membukanya. Oma Rosy tersenyum melihat tanggal pernikahan yang sudah hampir dua bulan lalu, putri tercintanya Nina sempat mengomel tadi karna bajunya terkena muntahan Emely yang barus saja datang.
Senyuman indah terbit di sudut bibir Oma Rosy.
"Selamat siang, maaf aku terlambat lima menit," ucap seorang yang kini memakai jas putih. Kedatangan wanita itu membuat Oma Rosy semakin bahagia.
"Nala, Oma mau kau memastikan sesuatu," ucap omanya.
Nala, adik dari Dafa itu kini menatap ke arah kakak sepupunya dan omanya.
"Memastikan apa?" tanya Nala.
__ADS_1
❤❤❤❤