Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Menguji Ardani


__ADS_3

Bukan melerai, justru Papa Pradikta malah menyedekapkan tangannya ke arah sana sambil menatap Emely yang menatapnya dengan hawatir.


"Em, coba tunjukan rasa sayangmu padanya, papa ingin tau," batin papa Pradikta sambil mengamati Emely yang tegang sekali menyaksikan dua lelaki itu bertarung.


"Pa, kenapa papa jadi penonton? Apa papa tidak bisa melerai mereka?" Emely menatap papanya dengan panik.


"Ini masih biasa Em, belum ada yang babak belur juga kan?" sahut papanya dengan senyuman sinisnya.


Jawaban papanya bukan menentramkannya justru membuat Emely memejamkan matanya dan menggeleng pelan. Sangat tidak terpuji.


"Pa, papa jangan keterlalaluan dong! Ini tidak lucu," ucap Emely sambil melangkahkan kakinya menuju ke arah Dani dan Raymon yang kini sedang saling mencengkram kerah baju mereka.


Papa Pradikta mengukir senyuman, mau tau apa yang akan dilakukan Emely disana.


"Hentikan," tegas Emely sambil mendekat ke arah dua orang yang sedang bertarung. Dani dengan mata membulat mengarahkan pandangannya ke arah Emely yang hampir saja terkena satu pukulan dari Raymon.


Dengan sigap lelaki tampan itu meraih Emely, menghindar dari pukulan Raymon, sehingga saat ini Emely yang terkejut berada dalam rengkuhan Dani ala bridal style.


Emely diangkat sempurna oleh Dani, tangannya melingkarkan di leher Dani, wajahnya menempel sempurna di dada bidang Dani. Desiran halus merayap di hati Dani, membuat jantung Dani ikut bermain drum band.


Seketika Dani melirik Emely yang masih terkejut dengan senyuman smirknya.


"Apa kau sangat merindukan pelukan dariku, Baby. Terimakasih telah memberikan semangat saat aku harus menghadapi mantanmu yang tak berguna itu," bisik Dani.


Emely mendengar dengan jelas ucapan Dani. Dirinya bingung harus bagaimana, pasalnya jantungnya seperti genderang yang dag dig dug tak karuan juga. Kenapa Dani melawak disaat yang tidak tepat? Dasar manusia aneh, pikirnya.


Raymon yang tadinya mau menyerang sempat menghentikan tangannya, tapi hatinya merasa panas melihat adegan romantis pasangan suami istri di depannya. Alhasil, dia melayangkan satu tendangan.


Mata waspada Dani dengan cekatan mengerti pergerakan Raymon. Tak tinggal diam dia menjigal langkah tendangan Raymon sehingga membuat lelaki itu tersungkur di dipan Tuan Wilson dan juga Nyonya Wilson.


Papa Pradikta menyunggingkan senyuman indahnya, bangga pada Dani? Pastinya, tapi tidak semudah itu rintangan untuk mendapatkan putrinya. Dia harus tau dan memastikan sebesar apa usaha Dani mendapatkan putrinya.

__ADS_1


Tuan Wilson menarik tangan Raymon untuk berdiri, Tuan Wilson mendekatkan langkahnya menuju ke arah Dani yang kini dengan tenangnya menatapnya. Raymon menyeka sudut bibirnya, wajahnya masih menatap ke arah Emely dan Dani yang semakin tampak romantis.


Tuan Wilson mengamati wajah Dani, mencoba mengingat wajah familiar yang kini semakin mengusiknya. Merasa di tatap Dani kini menurunkan tubuh Emely dengan pelan, Emely berdiri dengan tegak disamping Dani. Tangan Dani meraih pinggang Emely dengan posesif.


"Selamat malam, Tuan. Apa kau tak pernah melihat orang tampan sepertiku? Ternyata daya pikatku memang sangat kuat. Sehingga kau menatapku dengan romantis," ucap Dani sambil mengamati wajah tegang orang di depannya.


Tuan Wilson mengepalkan tangannya, mengeratkan rahangnya. Ucapan Dani benar-benar membuatnya emosi.


Emely menatap wajah Dani yang baginya semakin narsis itu, dia juga menatap Tuan Wilson yang semakin emosi mendengar ucapan Dani. Emely menggeleng pelan, disaat seperti ini Dani malah bertindak tidak jelas?


"Jangan tegang seperti itu, Tuan. Rileks saja, aku takut kau terkena serangan jantung dan mati sebelum aku melakukan apapun padamu. Itu sangat tidak lucu bagiku," ucap Dani sambil tersenyum mengejek.


"Kau, berani sekali mencari perkara denganku anak muda, catat diingatanmu. Aku Wilson Malaskay Ardiansyah. Kau telah bertindak kelewatan pada putraku, padaku dan juga pada keluarga Ardiansah, jangan harap kau bisa hidup dengan tenang," sentak Tuan Wilson.


Deg


Jantung Dani mendadak berdesir, nama yang diucapkan lelaki paruh baya itu adalah nama yang disebutkan Rudi dalam laporanya. Apa maksudnya? Mata Dani terarah pada Raymon dan kedua orang tuanya.


"Oh, jadi anda Tuan Wilson? Senang bertemu dengan Anda Tuan, suatu kehormatan bagi saya bertemu dengan orang sukses seperti anda," ucap Dani.


Tuan Wilson mengepalkan tangannya, hampir saja dia melayangkan satu pukulan. Akan tetapi Nyonya Wilson memdekat ke arahnya.


"Pa, sebaiknya kita pulang," ucapnya.


Tuan Wilson menatap istrinya dan melangkah meninggalkan kerumunan itu sambil menatap Emely, Dani dan juga menatap Tuan Pradikta dan Nyonya Elyna yang menyaksikan semua ini dari depan pintu utama sana.


Tinggal Emely, Raymon dan Dani yang ada di tempat itu.


"Em, tolong pertimbangkan lagi hubungan kita," ucap Raymon pada Emely yang kini menatap ke arahnya. Raymon berusaha membujuk Emely kembali.


"Hentikan Ray, kau tau aku tidak istimewa. Bahkan aku tidak patut dibanggakan. Lalu apa yang kamu cari? Tidak ada bagusnya bukan? Mungkin ini yang terbaik untuk hubungan kita," tanya Emely dengan tenang.

__ADS_1


"Berbulan-bulan kita menunggu dan sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk kita menikah, lalu kenapa seperti ini akhirnya," ucap Raymon.


"Menikahlah dengan orang yang patut dibanggakan olehmu dan juga keluargamu, bukankah aku hanya seorang penghianat? Pergilah Ray, terimakasih atas kebaikanmu selama ini," ucap Emely.


"Kau mengusirku?" tanya Ramon.


Emely tersenyum dan menghela napas panjang. Suasana tampaknya tidak baik baik saja. Udara semakin sesak dirasakannya. Bukan hal yang mudah melupakan kebersamaan mereka, tapi luka yang dibuat Raymon dan keluarganya baginya sulit untuk di sembuhkan.


"Aku hanya menghindari hal yang tidak diinginkan," ucap Emely tegas.


"Raymon hentikan, kita pulang sekarang," ucap Tuan Wilson dari dalam mobil.


"Tapi pa," sanggahnya.


"Tidak ada gunanya berbicara dengan wanita sepertinya. Tidak ada ruginya melepaskan penghianat sepertinya. Masih banyak wanita di luaran sana yang jauh lebih baik darinya," ucap Tuan Wilson. Emely menghela napas panjang.


"Kau dengar itu Ray? Cukup sampai disini Ray, pergilah. Cari kebahagiaanmu," ucap Emely sambil mengusap air mata yang mengalir tanpa di minta.


Raymon tampak mendekat, tapi tangan Dani kini menahanya.


"Kau tidak dengar apa kata istriku? Pergilah mantan kesayangan," ucap Dani dengan senyum menangnya.


"Tunggu pembalasanku Ardani," ucap Raymon sambil mengepalkan tangannya, kemudian melangkah ke arah mobilnya berada.


Dani menatap kepergian Raymon kemudian menatap ke arah Emely yang tampak bersedih. Hatinya benar benar tak rela melihat wanita itu bersedih.


"Apa yang kau tangisi darinya? Harusnya kau bahagia bisa lepas dari manusia sepertinya," ucap Dani dengan tenang.


"Lalu, manusia seperti apa yang boleh ditangisi? Sepertimu?" tanya suara seseorag yang kini terdengar sangat dekat. Bahkan suara itu mampu membuat Dani kesusahan menelan ludah.


😆😆😆😆😆

__ADS_1


__ADS_2