
Keduanya saling berpandangan tajam. Mengingat kejadian itu benar benar membuat Dokter Arfan dalam keadaan Emosi yang menggebu. Dia menatap tajam ke arah Ardani, manusia yang baginya sangat tidak berperi kemanusiaan.
Dani tersenyum dan mengulurkan tangannya. Walau sebetulnya dia sudah mengundurkan diri dari MRD grup beberapa hari yang lalu. Nyatanya pengalaman menjadi asisten Marvel masih menyisakan peemasalahan, yang kini membuatnya dibenci banyak orang. Tidak masalah baginya, dia memimpin perusahaan besar juga. Sifat tegas memang dibutuhkan di suatu keadaan.
"Selamat sore, Dokter Arfan. Senang bertemu dengan Anda," ucapnya sambil memandang kakak dari Nada Aira Azzahwa, atasan Sifa.
Masih jelas diingatannya, ketika Dani meminta bantuan untuk mendekatkannya dengan Sifa. Justru Nada mengatakan bahwa dia harus bersaing secara sehat dengan kakaknya untuk mendapatkan hati Sifa. Ya Dokter Arfan Muzayain Ali, orang yang berada di depannya.
Dokter Arfan membalas uluran tangan Dani, Dani menatap Dani dengan tenang.
"Ada yang salah dengan saya? Kenapa Dokter menatap saya seperti itu? Apa Dokter lupa dengan saya? Baiklah, perkenalkan nama Saya Ardani Rahardian Wijaya," ucapnya kemudian melepaskan uluran tangan Dokter Arfan.
"Jangan banyak bertanya, silahkan masuk jika anda mau mendonorkan darah, disana ada jarum level lima kusus untuk anda Tuan Ardani," ucap Dokter Arfan sehingga membuat Sifa terkekeh menahan tawa. Astaga, kenapa dua manusia di depannya membuat dia begini? Bahkan dia lupa pada rasa sakit yang tadi menderanya.
"Apa kau tidak berminat mengantarku ke dalam, Dokter Arfan? Sepertinya berduaan dengan lawan jenis sangat berbahaya, karna yang ketiga ada setannya," ucap Dani kemudian melenggang pergi.
Dokter Arfan tersedak udara, menatap Sifa kemudian melangkah pelan.
"Mari Sifa, kita ke dalam. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan nantinya setelah donor d*rah," ucap Arfan. Keberadaan Dani dan Sifa di sini masih mengganjal di benaknya. Tak mau ada salah paham, dirinya ingin tau jawaban dari Dani dan Sifa sendiri.
🎀🎀🎀🎀
Emely mengganti bajunya dengan gamis yang dibawakan oleh Sifa tadi. Emely juga memoles wajahnya dengan make up yang ada di tasnya. Tangannya terulur mengambil sebuah pasmina berwarna moca senada dengan gamis yang dipakainya.
Terdengar suara ketukan pintu, Emely menautkan alisnya.
"Apa itu Dani? Cepat sekali dia datang," lirihnya.
Tok tok tok
Ketokan pintu kembali terdengar, membuat Emely buru buru merapikan pasminanya.
__ADS_1
"Iya, sebentar. Kenapa kau tidak sabar sekali Dan?" teriaknya sambil merapikan pasmina yang sesekali berantakan itu.
Segera Emely berlari menuju ke arah pintu, dibukanya pintu rumah dinas itu.
"Apa kau tak bisa sabar Tuan Ardani," ucapnya ketus.
Emely membelalakkan matanya, karna yang ada di depannya bukan Ardani, melainkan beberapa orang beserta pak lurah. Pak lurah dan beberapa orang tampak terbengong melihat kecantikan wajah yang kini berada di depannya. Sangat cantik, seperti bidadari.
"Maaf pak lurah, saya pikir tadi Dani," ucap Emely sambil tersenyum malu.
"Oh, tidak papa Nona. Saya kesini ada keperluan bersama dengan Nona Emely dan juga Mas Ardani, apa Mas Daninya ada?" tanya Pak Lurah sedikit gugup, pasalnya Emely yang dilihat saat ini terlihat berbeda dengan Emely di malam itu.
"Dani tadi ke pesantren, mendonorkan d*rahnya pak. Bapak boleh duduk dulu sambil menunggu Dani, saya akan membuatkan minuman untuk bapak," ucapnya.
"Oh, tidak usah Nona. Terimakasih, apa Nona Emely tidak keberatan jika saya mengajak anda ke pesantren juga? Sekalian bertemu dengan pak kiai," ucap pak lurah dengan tenang.
"Oh, begitu. Saya tidak keberatan sama sekali pak. Kalau begitu sebaiknya kita kesana sekarang saja," ucap Emely dan diangguki oleh pak lurah. Emely keluar dari rumah, menutup rapat pintu rumah dinas itu.
Sangat menawan, para santri putra yang berada di sekitaran pesantren sepertinya sedang cuci mata dengan kedatangan Emely yang tampak mempesona dari kejauhan.
Huru hara, bisik bisik terdengar membicarakan wanita cantik yang kini berjalan ke adah ndalem Kiai Yusup.
"Masya Allah, seperti bidadari masuk pesantren ya. Dia tampak mempesona seperti Neng Sifa," ucap salah satu santri dan diangguki oleh yang lainnya.
"Iya, cantik sekali," sahut yang lainnya lagi.
"Ya Allah, jika boleh meminta sisakan satu bidadari cantik dan solehah seperti dia untukku," celetuk yang lain lagi.
Dani yang masih menunggu antrian tampak penasaran dengan apa yang dibicarakan santri putra di depan sana. Seperti apa wanita yang dibicarakan itu? Jiwa keponya meronta.
Dani menoleh ke arah dimana santri putra itu menatap. Netranya membelalak sempurna saat melihat Emely begitu mempesona dengan balutan gamis berwarna moca di depan ndalem pak kiai, Emely berbincang dengan beberapa lelaki itu. Sebentar kemudian, Pak Kiai tampak baru saja keluar dari rumah dan mempersilahkan tamunya masuk ke ndalem.
__ADS_1
Dani berdiri, entah rasa apa yang menyelimutinya. Yang jelas saat ini Dani tak suka melihat Emely berada diantara pak lurah dan beberapa lelaki yang mungkin seusia dengannya itu. Dani mengepalkan tangannya, berjalan meninggalkan antrian dan akan melangkah ke arah Emely berada.
Akan tetapi, saat Dani hendak melangkahkan kaki, suara candaan seorang santri di belakangnya yang membicarakan Emely tampak mengusik hatinya dan membuatnya berhenti.
"Lihat, ukty itu benar-benar cantik. Cari informasi tentangnya dari mbak Hani nanti. Kita tirakati dengan doa, mungkin saja ukty itu mau jadi milik salah satu dari kita," ucap salah satu santri.
"Selain cantik, senyumnya juga mempesona. Sangat beruntung orang yang mendapatkannya nanti," sahut yang satunya lagi.
"Mana tau kalau sudah ada yang punya,"
"Pasti belum ada yang punya, dekati saja. Nanti cari informasinya,"
"Kalau dia jadi milikku akan ku jaga sampai maut memisahkan,"
Deg
Jantung Dani seakan terbakar rasa emosi, ucapan santri itu benar-benar membuatnya emosi. Bahkan sebenarnya mana tau jika wanita itu adalah istrinya. Aish, kenapa jadi emosi seperti ini?
Entah, ucapan santri muda itu malah membuat Dani kesal dan sesak sehingga merutuki Emely. Apa yang dia cari? Apa sengaja dia mau mencuri perhatian banyak orang dengan berdandan seperti itu? Dani mengepalkan tangannya.
Dengan pelan dia melangkah ke arah ndalem kiai Yusuf.
🎀🎀🎀
"Asalamualaikum pak kiai, jadi kedatangan saya kesini ingin bermusyawarah dengan pak kiai," ucap Pak lurah.
"Waalaikumsalam, musyawarah tentang apa?" tanya pak kiai.
"Jadi, mereka adalah beberapa tenaga pengajar untuk mengajar di sekolah dekat lapangan. Saya bingung harus bagaimana pak yai, seharusnya mereka tinggal di rumah dinas. Dan sekarang disana ada sepasang pengantin baru, bagaimana kalau sepasang pengantin baru kita pulangkan saja, Pak Yai?" ucap pak lurah.
Ucapan pak lurah bagai angin segar bagi Emely, dirinya tersenyum senyum bahagia.
__ADS_1
🎀🎀🎀🎀