
Dua hari berada di rumah sakit membuat Bu Diah sedikit bosan,tapi semua ini ia lakukan demi Mona dan Fikri. Akhirnya siang ini dokter menyatakan kondisi Bu Diah sudah pulih sepenuhnya dan bisa pulang,Pak Sam dan Mona senang sekali karena mereka bisa berkumpul lagi seperti biasanya. Sembari menunggu pak Sam mengurus administrasi Mona membantu Bu Diah membereskan barang-barangnya,setelah selesai merekapun kembali ke rumah.
Di sana sudah ada Fikri yang datang bersama orang tuanya untuk menyambut kedatangan bu Diah sekeluarga,Fikri nampak tersenyum melihat Mona yang akhirnya setuju dengan rencana Pak Sam dan istrinya. Ia tak sabar lagi meminang Mona setelah semua kondisinya normal nanti
"Hay Mon"
sapa Fikri
"Iyaa"
balas Mona sembari tersenyum
"Nak Fikri ayo masuk"
ucap Bu Diah
"Iya bulek"
Semua orang duduk di ruang tamu,menunggu Mona yang sedang membuatkan minuman untuk mereka di dapur,selagi menunggunya kedua orang tua Fikri bertanya bagaimana langkah selanjutnya
"Jadi gimana nih Sam? apa kamu berhasil meyakinkan putrimu?"
"Ya seperti kelihatannya dia setuju-setuju saja akan perjodohan ini"
"Baguslah,jadi kapan kira-kira?"
tanya Nyonya Jenny tak sabaran
"Kita tunggu Mona saja kalau masalah itu"
"Ya,lebih cepat sih lebih baik. Bukankah begitu Fikri?"
tanya papanya
"Emb iya pah,tapi semua itu terserah Mona nya saja. Fikri takut kalau ini semua terlalu cepat untuk dia"
Mona pun masuk ke ruang tamu sambil membawa teh dan beberapa camilan
"Duduk sini ndok"
ucap Bu Diah
Mona menurutinya dan duduk di sebelah Bu Diah dan pak Sam
"Nak Mona apa kabar?"
tanya tuan Bayu
"Baik pak Dhe"
"Pak Dhe?"
"Lho bukankah Anda kakak dari bapaknya Wira?"
"Iya benar"
"Lantas apakah salah saya memanggilnya dengan sebutan pak Dhe?"
"Oh tidak,tapi alangkah baiknya kalau di biasakan manggil papah mulai sekarang"
ucap tuan Bayu di ikuti lainnya yang tertawa
"Papah? Maksudnya?"
"Sebentar lagi kan kita juga akan menjadi orang tua kamu Mona"
imbuh nyonya Jenny
"Maksudnya ini semua apa sih Bu? Mona benar-benar gak paham"
ucap Mona kepada Bu Diah
__ADS_1
"Bukankah kamu sudah berjanji kalau ibu sembuh kamu akan menepati janji kamu untuk menerima pinangan siapapun yang menurut kami yang terbaik"
"Maksud ibu perjodohan antara aku dan Fikri?"
"Iya Mona,bapak rasa sudah saatnya kamu membina rumah tangga. Masalah Wira kamu tidak perlu khawatir,jika dia bisa mengatakannya pasti ia setuju atas hal ini"
"Tapi kenapa secepat ini pak? bukankah ibu baru saja pulang dari rumah sakit?"
"Iya bapak tahu ini terlalu cepat buat kamu,tapi mau menunggu berapa lama lagi? bapak dan ibu ini sudah tua ndok,siapa yang akan menjaga kamu nanti jika salah satu dari kami di ambil?"
"Bapak kok ngomongnya selalu begitu,Mona belum bisa membalas kebaikan kalian. Mona tidak ingin pergi begitu saja setelah apa yang kalian berikan kepada Mona"
"Ibu paham maksud kamu ndok,tapi dengan melihat kamu menikah bersama laki-laki terbaik pilihan kami itu adalah salah satu cara kamu membahagiakan bapak dan ibu"
"Apakah dengan seperti itu bapak dan ibu bahagia? apakah bapak dan ibu melepaskan Mona begitu saja?"
"Kami tidak keberatan jika setelah menikah nanti kamu dan Fikri mau tinggal disini"
imbuh tuan Bayu
"Iya Mona,lagi pula perusahaan kami yang ada di sini Fikri yang pegang. Jadi mau kemana lagi dia selain di kota ini?"
"Baiklah kalau memang itu yang terbaik menurut bapak dan ibu,Mona ikut saja"
"Jadi kamu setuju menerima perjodohan ini?"
Mona mengangguk
"Alhamdulillah akhirnya semuanya beres pak, semoga kedepannya ini adalah yang terbaik untuk mereka berdua"
"Iya Bu"
"Jadi gimana nih Sam? kapan kira-kira kamu siap aku datang melamar putrimu?"
"Bagaimana kalau Senin besok?"
"Okey"
"Loh kok nyonya dan tuan lagi,kan kita sudah sepakat buat manggil mama dan papa?"
"Embb ma maaf nyonya emb maksud saya mama saya belum terbiasa"
"Makanya kamu harus membiasakannya"
"Iya ma"
"Nah gitu dong"
"Oh ya saya ijin ke kamar dulu"
"Iya sudah"
Mona berjalan meninggalkan ruangan itu dan kembali ke kamarnya,ia mengambil foto Wira yang ada di meja samping tempat tidurnya. Ia tatap wajah laki-laki yang ada di foto tersebut sembari mengatakan maaf berulang kali.
"Maaf Wira,aku sungguh minta maaf. Aku bukan bermaksud untuk mengingkari janjiku untuk tidak menggantikan dirimu dengan siapapun,tapi karena aku sudah berjanji untuk mengiyakan apapun permintaan ibu kamu jadi aku terpaksa menerima perjodohan ini"
Air mata Mona menetes membasahi bingkai foto itu,tak berselang lama Bu Diah masuk dan menghampiri Mona.
"Ndok,kamu tidak terpaksa kan melakukan semua ini?"
Mona hanya tersenyum,Bu Diah mengambil foto Wira dari tangan Mona sembari mengelus lembut wajah putranya yang telah tiada itu.
"Wira pasti akan ikut bahagia jika melihat kamu bahagia,pasti dia juga setuju dengan ini semua. Justru jika kamu memilih untuk terus sendiri seumur hidup itu akan membuat Wira sedih di sana"
Mona hanya diam sembari terus menatap foto itu,Bu Diah memeluknya dan terus mengatakan bahwa semua ini adalah jalan terbaik bagi semuanya.
"Ya sudah kamu istirahat ya,besok mamanya Fikri akan kemari mengajak kamu berbelanja kebutuhan untuk lamaran kamu dan Fikri nanti"
"Iya Bu"
Mona langsung merebahkan diri di atas tempat tidur,Bu Diah mematikan lampunya dan menutup pintu kamar Mona.
__ADS_1
Saat Mona telah terlelap,Wira datang ke dalam mimpinya. Di sana Wira nampak gagah dan tampan mengenakan jas hitam dengan dasi yang senada,ia menghampiri Mona dan mengelus rambutnya
"Wira,kau kah itu?"
ucap Mona yang berdiri tepat di depan Wira
Wira mengangguk
"Aku senang kamu ada disini,kamu mau kemana? pakai pakaian Serapi ini?"
"Mona,tugasku kini sudah selesai. Kamu sudah menemukan seseorang yang mampu menjaga dirimu nantinya,aku senang karena dia adalah sepupuku sendiri. Aku percaya dia akan menjaga kamu sebagaimana aku menjagamu,belajarlah untuk membuka hati dan mencintai dia. Sekarang hatimu bebas untuk memberikan cinta sebanyak apapun padanya,aku merestui kalian"
"Enggak,di hatiku cuma ada kamu Wira. Meskipun nanti dia yang akan menjadi teman hidupku tetapi kamu tidak akan pernah mati di dalam hatiku"
"Stttt, jangan buat aku sedih hanya karena kamu menikahinya secara terpaksa. Aku ingin kamu setulus hati belajar mencintai dan menyayanginya seperti yang kamu lakukan kepadaku"
"Dia dan kamu berbeda Wira,kita melalui pahit manis bersama sedangkan aku dan dia hanyalah perjodohan saja lalu bagaimana mungkin aku dapat mencintai dia"
"Kamu pasti bisa, lakukan semua ini demi kebaikan bersama. Jika kamu tidak bahagia aku akan terus merasa bersalah karena pernah membawa dirimu kedalam kehidupan ku,dan aku tidak akan pernah tenang di alam sana nanti"
"Aku harus bagaimana Wira,aku sungguh tidak ingin menggantikan kamu dengan siapa pun"
"Percayalah padaku, semua ini yang terbaik. Berjanjilah kamu akan selalu membahagiakan orang tuaku dan juga saudaraku"
Wira melepaskan pelukannya dan sayup-sayup hilang dalam terpaan angin di alam bawah sadar itu,sedangkan Mona hanya dapat berteriak memanggil-manggil nama Wira yang meninggalkan dia dengan berjuta tanggungjawab terhadap keluarganya.
"Wira Wiraa jangan pergi jangan paksa aku untuk memilih Wira wiraaaa..."
teriakan itupun terbawa sampai ke alam sadar dan membuat Mona terbangun,Bu Diah dan pak Sam yang mendengar teriakan itu langsung menghampiri Mona di kamarnya.
"Ndok. ndok,, bangun ndokk"
ucap Bu Diah khawatir
Mona terbangun dengan keringat di sekujur tubuhnya,matanya mengalirkan air mata dan merah seperti habis menangis semalam suntuk
"Ibuuuu"
ucap Mona yang langsung memeluk Bu Diah
"Iya ndok ibu ada disini"
"Kamu bermimpi sesuatu?"
tanya pak Sam
Mona mengangguk
"Kamu pasti kelelahan karena seharian kematian mengurus ibu jadi kamu bermimpi buruk sampai seperti ini"
"Enggak Bu,aku bermimpi ketemu dengan Wira"
"Wira...???"
"Iya pak,dia memintaku untuk menerima perjodohan ini dan belajar menerima Fikri seperti aku menerima dia"
"Itu pertanda kalau Wira merestui hubungan kalian,jadi sudah tidak ada lagi keraguan yang akan membuat kamu melangkah kedepannya"
"Aku akan mencoba untuk membuka hati pada Fikri,aku akan mengikuti permintaan Wira untuk membahagiakan bapak,ibu dan sepupunya itu"
"Tanpa paksaan?"
imbuh pak Sam
"Iya,tanpa paksaan pak"
"Baguslah"
"Ya sudah,kalau begitu kamu lanjut tidur ya. Berdoa dulu supaya tidak mimpi buruk"
"Iya Bu"
__ADS_1
Bu Diah dan pak Sam keluar dari kamar Mona dan tersenyum ternyata Wira juga merestui rencana ini bahkan merubah pola pikir Mona agar bisa menerima Fikri dengan baik.