
Setelah acara ijab kabul dan beberapa acara adat,kini mereka memasuki acara resepsi dengan tema gaun yang membuat Mona tampil begitu cantiknya. Fikri menatapnya dengan tulus sembari mencium kening istrinya itu,Tania dan Christin bersorak ria
"Cie mentang-mentang udah sah,gak lihat gitu kita yang jomblo disini menderita"
teriak Christin yang membuat semua tamu yang hadir tertawa
Acarapun berlangsung meriah,tepat pukul 21.00 semua tamu sudah pulang. Fikri dan Mona juga sudah selesai berganti baju tiba-tiba Jeny menghampiri mereka
"Fikri,Mona mobil sudah menunggu"
"Memangnya mau kemana ma?"
"Kita mau ke vila yang udah mama pesanin"
"Vila? untuk apa kesana?"
"Ya malam pertama lah sayang"
"Haaaa..."
"Udah sana kalian berangkat,barang-barang yang kalian butuhkan sudah mama siapkan di bagasi"
"Iya ma,makasih ya ma"
"Sama-sama,selamat senang-senang ya kalian"
Fikri dan Mona berjalan ke mobil kemudian mereka pergi ke Vila yang sudah kelurga Fikri siapkan,sesampai disana sopir penjaga Vila membantu membawakan barang-barang mereka.
"Selamat datang tuan dan nona Fikri,perkenalkan saya mbok Iyem dan ini suami saya Darsiman yang menjaga vila ini"
"Oh iya bu"
"Panggil saja saya mbok Iyem dan suami saya mang Dar"
"Iya mbok iyem"
"Kamar tuan dan nona sudah saya siapkan seperti permintaan nyonya Jeny,mari saya antar"
"Gak usah mbok,saya sudah tahu kok"
"Kalau begitu saya permisi mau ke dapur membuatkan minuman untuk tuan dan nona"
"Barang-barang tuan dan nona sudah saya letakkan di kamar"
"Makasih mang"
"Monggon ini minumannya"
ucap Mbok Iyem yang sudah membawa nampan berisi minuman
Tak tanggung-tanggung Fikri langsung meminum habis,berbeda dengan Mona yang agak enggan karena mencium bau berbeda
__ADS_1
"Ini apa mbok? kok baunya seperti jamu"
"Ini jamu singset nona supaya nona cepat jadi juga"
"Haah jadi apa?"
"Udah sebaiknya kamu minum aja"
pinta Fikri
Akhirnya Mona terpaksa meminum jamu itu untuk menghargai mbok iyem yang sudah susah payah membuatnya untuk Mona.
"Kalau begitu saya dan suami saya permisi tuan,besok pagi-pagi kami sudah kemari untuk membuatkan sarapan untuk tuan dan nona"
"Baik terima kasih mbok"
Setelah mbok Iyem dan suaminya pergi,Fikri langsung menggendong Mona masuk ke dalam kamarnya,Mona terkejut dan hampir berteriak membangunkan ayam bertelur.
"Aaaaaa Fikriiiiiiiii......."
Fikri langsung merebahkan istrinya di atas tempat tidur yang di penuhi dengan kelopak bunga mawar itu,sembari membelai rembut wajah sang istri
"Monn....."
"Kamu kenapa Fik?"
"Kenapa jadi panas gini ya?"
"Apa karena efek jamu kuat tadi ya?"
"Haaa? jadi tadi yang kamu minum jamu kuat?"
"Iya sayang"
"Fik,kamu baik-baik aja kan?"
"Sayang,kenapa kamu cantik sekali?"
"Fik sadarrr....."
Fikri semakin menjadi-jadi,ia melepaskan bajunya satu persatu dan membuat Mona merinding.Jujur saja saat ini Mona belum siap jika harus melakukan hubungan suami istri meski mereka berdua sudah sah,hanya saja ia terbayang oleh masa lalunya dan membuatnya takut.
Tetapi kali ini Fikri berada dalam pengaruh nafsu karena jamu tadi,dengan buas ia mencumbu Mona secara paksa. Meski Mona berteriak ia sama sekali tak perduli,akhirnya pertahanan Mona roboh dan membuatnya lemas.
Keesokan harinya subuh-subuh sekali Mona terbangun dalam keadaan telanjang,Fikri berada di sebelahnya dan masih terlelap. Mona menyelinap turun masuk ke kamar mandi,ia menatap tubuhnya di depan cermin sembari mengelus lehernya yang penuh dengan tanda ****** yang semalam Fikri berikan. Ia menangis dan berusaha melupakan kenangan buruk di masa lalunya yang membuat ia di posisi yang sama seperti sekarang.
Mona duduk di buth up sembari mengucurkan shower yang membasahi tubuhnya,ia menangis sesengukan di bawah derasnya air shower sembari terus membasuh tanda yang di berikan Fikri dileher dan dadanya.
Hampir satu jam Mona berada di kamar mandi,sampai Fikri tersadar bahwa istrinya tidak ada di sampingya lagi. Fikri terbangun dan mencari Mona namun saat ia mengetahui Mona di kamar mandi ia berusaha membuka pintu namun Mona telah menguncinya dari dalam.
"Mon,Mona kamu mandi ya?"
__ADS_1
Tak terdengar jawaban dari Mona
"Mon,kamu masih lama gak?"
Masih tak ada jawab dari Mona,Fikri kembali ke tempat tidur dan mendapati baju yang Mona kenakan semalam robek. Terdapat noda darah di sprei tempat tidurnya yang membuat Fikri semakin panik,ia memutuskan kembali ke kamar dan mencari Mona
"Mon,Mona jawab aku"
dalam buth up dengan keadaan setengah tenggelam,Fikri buru-buru mengambil handuk dan menggendongnya menuju tempat tidur
"Mon,mona apa yang terjadi sama kamu.Bangun Mon,jangan buat aku khawatir"
Mona masih belum sadarkan diri,akhirnya ia keluar kamar dan meminta bantuan Mbok Iyem dan suaminya
"Mbokkk"
"Tuan,ada apa? sepertinya tuan terlihat khawatir"
"Mbok,mbok tahu gak dokter di sekitar sini?"
"Loh ada apa tuan?"
"Istri saya pingsan di kamar mandi mbok"
"Astagfirullah Nona,pak pakkk tolong panggilan bu Dian"
teriak mbok Iyem kepada suaminya
Mbok Iyem dan Fikri kembali ke kamar untuk melihat kondisi Mona,sementara itu Mbok Iyem mengoleskan minyak kayu putih ke seluruh tubuh Mona yang dingin.Tak berselang lama dokter pun datang dan memeriksa Mona.
"Bagaimana kondisi istri saya dok?kenapa dia bisa pingsan?"
"Istri anda mengalami shock yang cukup hebat sehingga membuatnya pingsan pak,saya harap sebaiknya istri bapak segera di bawa ke psikiater untuk mendapatkan pertolongan mentalnya"
"Tapi dia gak sakit atau apa kan dok
"Kalau untuk sakit sepertinya tidak,hanya saja itu yang dapat menejlaskan hanya dokter khusus mental"
"Baik dok terima kasih,oh ya untuk pembayarannya bisa saya minta no rekening anda?"
"Tidak perlu pak,keluarga pak Fikri sudah banyak membantu klinik saya"
"Dokter kenal dengan keluarga saya?"
"Kurang lebihnya seprti itu,kalau begitu saya permisi dulu pak"
"Terima kasih dok"
"Sama-sama"
Fikri mendampingi Mona sampai ia sadar,ia menyadari semalam dia sudah kelewat batas dan membuat Mona seperti ini. Kalaupun waktu bisa di ulang Fikri lebih memilih untuk menunggu sampai Mona siap menghadapi ini semua.
__ADS_1