
Leo tak tinggal diam atas apa yang Dara lakukan,meski ia juga mendukung Ry untuk membalaskan dendamnya tetapi ia masih punya hati nurani walau dirinya seorang Mafia. Tak seharusnya Dara mengotori tangannya dengan cara ingin membunuh Mona karena kecemburuan. Padahal Ry sama sekali tidak memiliki perasaan padanya dan semua yang ia lakukan selama ini hanya untuk membuat Mona cemburu tapi justru Dara sendiri yang cemburu.
Leo memanggil kakak Dara yang bernama Erwin,dengan tangannya sendiri Leo menghajarnya habis-habisan
"Apa salah saya bos?"
"Kau tahu apa yang telah kamu lakukan dengan adikmu?"
"Saya sama sekali tidak paham yang bos maksudkan"
"Beberapa waktu lalu kamu menyuruh anak buah mu untuk menculik seorang wanita bukan?"
"Maksud bos wanita bernama Mona?"
"Ya dia"
"Saya hanya membantu Dara karena dia berusaha mengganggu jalannya"
"Kau tahu siapa dia?"
"Tidak bos,yang hanya saya tahu dari Data dia wanita murahan yang mencoba menggoda kekasihnya"
"Kekasihnya? apa yang dimaksud Dara adalah Ry?"
"Ry? maksud bos tuan muda?"
"Ya"
"Saya tidak mengetahui jika Dara kekasih tuan muda"
"Memang bukan,hanya saja adikmu salah mengira bahwa Ry menyukainya dan mencoba menyakiti wanita yang ia cintai"
"Apa? jadi wanita bernama Mona itu?"
"Iya,dia adalah wanita yang di cintai adikku,dan dengan beraninya kamu mencoba menyakiti dia bahkan adikmu berusaha untuk membunuhnya"
"Sumpah tuan besar,saya tidak tahu jika Data akan melakukan hal senekat itu. Dia hanya bilang ingin memberikan wanita itu pelajaran"
"Aku tidak bisa memaafkan tindakan Dara yang kelewat batas itu"
"Saya mohon tuan besar,tolong maafkan atas apa yang adik saya lakukan"
"Saya tidak bisa mentolerir perlakukan seperti itu,pekerjaan kita memang kotor tetapi aku tidak pernah membunuh orang yang tidak bersalah"
"Saya paham tuan,tolong maafkan saya dan adik saya"
Leo memanggil beberapa anak buahnya dan memintanya mengurung kakak Dara dan menjemput Dara sendiri untuk mendapatkan pelajaran dari Leo.
Di lain tempat saat Ry mendengar bahwa Mona telah di bawa pulang oleh keluarga Wira membuatnya semakin geram,pasalnya dia meminta Adit untuk menjaganya bukan malah meminta Wira untuk menjemputnya.
__ADS_1
"Maafkan saya tuan,saya kira anda tidak ingin berurusan lagi dengan wanita itu"
"Aku memintamu untuk menjaganya selama aku pergi,bukan malah membiarkannya pergi bersama Wira dan keluarganya"
"Saya minta maaf tuan"
Selama beberapa hari Mona dirawat oleh keluarga Wira,Pak Sam dan Bu Diah memberikan kasih sayang kepada Mona seperti putrinya sendiri. Sudah hampir seminggu kesehatan Mona juga telah pulih dan ia sudah bisa kembali bekerja,namun demi kebaikannya Wira meminta agar Mona berhenti bekerja dan tetap di rumah.
"Mon,karena kondisimu yang seperti ini. Lebih baik kamu mengambil cuti beberapa hari lagi"
ucap Bu Diah
Sementara itu Wira mengajak papanya untuk berbicara di luar
"Kenapa Wira? sepertinya ada sesuatu yang begitu penting ingin kamu katakan sama papa?"
"Iya pa,aku ingin meminta pendapat papa soal aku dan Mona"
"Kenapa?"
"Sekarang aku kan sudah bekerja,dan aku sebentar lagi akan di promosikan me jabatan yang lebih tinggi lagi. Jadi aku bermaksud untuk meresmikan hubunganku dengan Mona ke jenjang pernikahan,dan aku juga ingin Mona berhenti bekerja agar menemani mama di rumah sementara papa bisa kembali bertugas"
"Sebenernya papa setuju dengan apa yang kamu katakan,lagi pula papa juga tidak enak terus menerus meminta tugas di wilayah sendiri. Tapi bagaimana dengan Mona sendiri? apakah dia setuju dengan hal ini?"
"Aku akan mencoba membujuknya pa,lagi pula ini semua demi kebaikan bersama"
Selang sebulan sejak kejadian itu,Wira telah di promosikan ke tingkat yang lebih tinggi. Mona dan orang tuanya merasa bangga atas pencapaiannya,belum ada satu tahun Wira mampu membuktikan bahwa ia pantas berada di sana. Sepulang kerja kedua orang tua Wira dan Mona bermaksud merayakan kenaikan jabatan Wira,setelah semuanya siap mereka memberikan kejutan untuknya.
Sebelumnya papa Wira Pak Sam,telah memberitahukan hal ini padanya dan menyarankan bahwa saat itu adalah hal yang tepat untuk Wira melamar Mona,ternyata semua ini sudah mereka rencanakan tanpa sepengetahuan Mona. Ini semua justru bukan pesta kejutan kenaikan jabatan untuk Wira melainkan pesta untuk melamar Mona.
Mona mendengar suara motor Wira yang tengah terparkir di depan pintu,ia segera memberi kode pada kedua orang tua Wira untuk bersiap. Wira masuk ke dalam rumah dan berpura-pura terkejut saat Mona tengah mengambilkan sebuah cake kecil sebagai simbol perayaan justru Wira malah mengejutkan Mona dengan hal yang tidak di duganya.
Wira berlutut di depan Mona dan membawa kotak berisi cincin di tangannya
Pak Sam dan Bu Diah tersenyum melihat itu,tetapi Mona justru terkejut karena ia tak menyangka Wira akan melakukan hal tersebut.
"Wira kamu apa-apaan?"
ucap Mona sembari memintanya untuk bangun
"Will you marry me Mona?"
ucap Wira dengan lembut
"Wir bangun,aku malu sama papa dan mama kamu"
"Gak perlu malu nak Mona,om dan Tante juga pernah muda"
"Jadi gimana Mon?"
__ADS_1
"Ayo nak Mona di jawab,jangan biarkan anak Tante menunggu"
"Ya aku mau Wira"
Wira memakaikan cincin di jari manis Mona ia bangun dan memeluk tubuh mungil Mona itu,suasana menjadi haru penuh bahagia. Pasalnya selain menjadi sebuah kebahagiaan hal ini juga membawa sebuah kesedihan untuk Mona sendiri,ia di lamar seorang laki-laki tanpa satu keluarganya yang mengetahui hal tersebut.
"Jadi kapan kalian akan meresmikan hubungan ini?"
tanya Pak Sam
"Secepatnya Pa"
"Bagaimana jika di percepat sebelum papa berangkat tugas?"
"Ide bagus itu pa"
"maaf om,Tante,bukan maksud Mona tidak setuju akan hal tersebut. Tetapi om dan Tante juga tahu kau Mona tidak memiliki siapa-siapa lagi selain ibu dan adik Mona yang sudah tidak menginginkan kehadiran Mona"
"Nak Mona,kamu tidak usah khawatir. Om dan Tante sudah menganggap kamu sebagai putri kami sendiri,selain menikahkan Wira putra om satu-satunya Kami juga menikahkan putri kami yaitu kamu"
ucap Pak Sam yang membuat mata Mona berkaca-kaca
"Terima kasih om dan Tante telah begitu baik kepada saya"
"Jadi nak Mona,Tante harap kamu tidak menunda lagi hal baik ini. Lebih cepat lebih baik karena papanya Wira tidak bisa lama-lama dirumah"
"Kalau masalah itu saya serahkan pada Wira saja Tante"
"Wah kalau aku sih setuju saja Mon,apalagi kalau kita sudah menikah nanti aku inginnya kamu tidak bekerja dan menemani mama dirumah, sementara papa tugas di luar kamu bisa menjadi teman sekaligus putri yang baik untuk mama ku"
"Jadi,kamu ingin aku jadi pengangguran setelah menikah"
"Ya itu pun kalau nak Mona setuju,Tante harap setelah kalian menikah dan suami Tante tugas luar Tante tidak akan kesepian lagi"
"Mona belum bisa memberikan keputusan itu sekarang Tante,karena Mona juga butuh waktu"
"Astaga Mona kamu kurang percaya apa sama aku? aku pasti sanggup kok memenuhi semua kebutuhan kamu"
ucap Wira yang tak sabaran
"Bukan begitu juga maksud aku Wira"
"Sudah-sudah,Wira mungkin nak Mona benar ia butuh waktu untuk menjawab masalah sebesar ini. Apalagi nak Mona seorang perempuan,dia perlu memikirkan matang-matang masalah pernikahan"
"Iya Wira,yang slow gitu. Lagian kamu ngapain sih terburu-buru papa masih bisa minta mundur untuk tugas luarnya"
"Ah papa,kayak gak pernah jadi muda saja"
Mereka berempat saling tertawa melihat Wira yang ingin cepat-cepat menikahi Mona,pasalnya Pak Sam juga mengetahui bahwa anaknya itu sudah tidak tahan tidur sendirian. Suasana malam itu benar-benar membahagiakan bagi keluarga Pak Sam dan Bu Diah.
__ADS_1