
Fikri yang masih sibuk dengan laptopnya tidak memperhatikan pak Sam yang tengah datang dan duduk di hadapannya,sambil tersenyum melihat etos kerja dan semangat Fikri dalam mengelola bisnis keluarga.
"Nak Fikri,ayo di makan dulu keburu dingin"
ucap Pak Sam yang mengejutkan Fikri sehingga perhatiannya pada layar laptop buyar
"Loh om Sam,dari tadi om?"
"Sayanya yang baru saja tapi makanannya yang dari tadi,udah di makan dulu keburu dingin"
"Baik om"
"Kamu hari ini gak ke pabrik?"
"Enggak om,soalnya papa minta aku buat meeting di kota hari ini"
"Oh kalau begitu hati-hati,om do'akan semoga pekerjaan kamu selalu berjalan lancar"
"Makasih om"
"Kalau begitu om kembali ke dapur dulu,kamu selesaikan makannya"
"Iya om"
Fikri makan sembari melihat ke sana kemari seperti mencari sesuatu, kemudian dia tersenyum saat hendak melihat Mona yang duduk di meja kasir bersama Bu Diah.
Setelah usai makan Fikri langsung pergi ke kasir di sana ia bermaksud untuk mengajak Mona berbicara namun siapa sangka respon Mona justru jutek terhadapnya
"Bulek,Fikri pamit mau kembali kerja dulu"
"Oh iya nak Fikri, hati-hati ya semoga lancar kerjaannya"
"Jadi berapa bulek?"
"Halah kayak sama siapa saja loh? udah sana gak usah"
"Tapikan bulek sama om itu jualan,saya beli"
"Udah sana"
"Ya sudah kalau begitu Fikri jalan dulu ya bulek,mari Mona"
Mona hanya terdiam sembari menyudutkan bibirnya,Bu Diah yang melihat itu tertawa kecil
"Ada apa sih Bu? kok ibu malah ketawa?"
"Kamu itu lucu,nak Fikri jarang sekali loh mau menyapa wanita. Dia itu terkenal cuek dan dingin"
"Ya mungkin karena aku anak angkat ibu kali,makanya dia mau nyapa"
"Hustt,gak ada anak angkat. Ibu sama bapak kan udan bilang kalau kami ini orang tua kamu,paham kan maksud ibu?"
"Iya Bu maaf"
"Kalau begitu kamu jaga kasir dulu,ibu mau sholat Azhar"
"Baik Bu"
Selama meeting di kota Fikri sempat mampir ke sebuah mall yang ada di kota tersebut untuk membeli sesuatu namun ia terkejut begitu melihat poster yang ada foto Mona di dalamnya disitu terdapat tulisan "DI CARI ORANG HILANG BARANG SIAPA YANG MENEMUKANNYA AKAN MENDAPATKAN IMBALAN" seketika Fikri mengambil ponselnya lalu memfoto poster itu dan mengirimkannya pada pak Sam.
Tak berselang lama ketika Fikri sedang melakukan mobilnya pak Sam menelfon,
"Hallo om"
__ADS_1
"Hallo Fikri,kamu dimana sekarang?"
"Saya perjalanan ke resto om"
"Baiklah kalau begitu om tunggu"
Sementara itu Pak Sam menghampiri istri dan putrinya yang berada di meja kasir,dengan raut wajah panik pak Sam memberitahukan hal tersebut pada mereka.
"Mona sebaiknya sekarang kamu pulang sama ibu"
"Memangnya kenapa pak?"
"Sudah pulang saja nanti bapak jelaskan kalau sudah sampai dirumah"
"Terus kasir?"
"Bapak masih bisa menghandelnya"
Mona dan bu Diah akhirnya memutuskan untuk mengikuti kata-kata pak Sam,mereka pulang bersama naik sepeda motor dan tidak ada yang tahu bahwa sedari Mona di resto ada seseorang yang mengikutinya. Di perjalanan Mona di hadang oleh dua mobil berwarna hitam,beberapa orang turun dari dalam mobil dan menghampiri mereka
"Mau apa kalian?"
teriak Mona
Bu Diah meminta agar Mona berhati-hati pada mereka
"Nak,sebaiknya kita abaikan saja mereka. Kita lanjut pulang saja"
"Baik Bu"
Ketika mereka berdua hendak menaiki sepeda motornya tiba-tiba Leo turun dari dalam mobil,Mona seketika terkejut dan keringat membasahi dahinya
"Hallo sayang,akhirnya kita bertemu lagi"
"Mau apa kamu ?"
"Jelas menjemput istriku pulang"
"Jangan mimpi kamu,aku bukan istri kamu"
"Sebaiknya kamu segera ikut aku atau aku akan memaksamu dengan cara kasar"
"Awas saja kalau anda berani membawa putri saya pergi"
ucap Bu Diah
"Putri anda,hahaha saya tahu siapa orang tua kandungnya jadi mana mungkin anda ibunya?"
"Saya memang bukan orang tua kandungnya tetapi saya sudah menganggap dia seperti anak kandungku sendiri"
"Lebih baik ibu mundur saja,saya tidak ingin kasar terhadap perempuan apalagi wanita tua seperti anda"
"Leo,jaga ucapan kamu ya"
teriak Mona
Leo tanpa basa basi lagi langsung menghampiri Mona dan menyeretnya untuk ikut dengannya Bu Diah berusaha mencegahnya namun anak buah Leo justru menghalangi hingga membuatnya jatuh
"Ibuuu...."
teriak Mona
Namun apa daya,Leo memegang erat pergelangan tangan Mona hingga ia tidak dapat menolong Bu Diah
__ADS_1
"Lepaskan aku,jangan sakiti ibuku"
teriak Mona dengan Isak tangis
"Diam,kalau kamu tidak ingin ibumu kenapa-kenapa maka jangan memberontak"
"Oke aku akan mengikuti mau mu,tapi jangan pernah sentuh ibuku"
Leo memberi aba-aba pada anak buahnya untuk melepaskan Bu Diah,kemudian Mona di paksa masuk ke dalam mobil. Mereka pergi meninggalkan Bu Diah yang duduk di jalan,untung saja tak lama kemudian Pak Sam dan Fikri datang. Melihat istrinya yang terduduk di samping kotor sambil menangis membuat Pak Sam cemas
"Bu,ibu gak apa-apa?"
"Pak,Mona pak"
"Mona dimana bulek?"
"Mona di bawa oleh pria jahat itu"
"Astaga,Om sebaiknya om bawa bulek pulang pakai mobil saja biar motor saya bawa"
"Baiklah Fikri"
"Ibu gak mau pulang sebelum Mona ketemu pak,Monaa...."
Isak tangis Bu Diah membuat Pak Sam tak tega melihatnya ini untuk kedua kalinya mereka kehilangan anak namun dengan cara yang berbeda
Akhirnya berkat bujukan dari suami dan Fikri Bu Diah mau di bawa pulang,sementara Fikri meminta bantuan polisi untuk ikut mencari Mona atas kasus penculikan.
Di dalam mobil Mona hanya diam dan menatap keluar jendela,sedangkan Leo berusaha mengajaknya berbicara namun tak mendapat jawaban sama sekali.
"Sudahlah,tidak perlu menangis lagian takdirmu itu bersamaku. Percuma saja mau kabur kemanapun aku akan menemukanmu kembali"
Leo dan seluruh rombongannya tiba di hotel kota,mereka memesan luxury room dengan penjagaan super ketat dimana-mana para bodyguard telah di atur Leo agar Mona tidak dapat melarikan diri lagi.
Leo membawa masuk Mona ke kamar dan dengan kasar memintanya untuk segera membersihkan diri
"Pergi mandi sekarang juga"
Mona hanya diam sambil menatap keluar jendela
"Mona,aku bilang mandi...!!"
teriak Leo lagi
Karena kesabaran Leo hampir habis akhirnya ia memutuskan untuk menyeret Mona masuk ke dalam kamar mandi
"Apa-apaan sih kamu Leo"
"Mandi kataku"
"Enggak,aku mau mandi atau tidak bukan urusan kamu"
"Cepat mandi dan jangan membantah"
"Aku gak mau..."
Kesabaran Leo telah habis,ia menghimpit Mona di bawah shower lalu menyalakannya mereka berdua basah bersamaan dan Mona berteriak-teriak memukul dada Leo yang bidang itu.
"Dingin Leo lepaskan.."
Leo tak bergumam sedikitpun meski Mona terus memberontak dan memakinya,dengan cepat Leo menutup mulut Mona dengan bibirnya. Mata Mona membelalak terkejut dengan sikap Leo,ia mencoba menghindar namun pelukan Leo terhadapnya justru semakin kencang.
Tangan dan mulut Leo menyusuri setiap inci tubuh Mona,dengan penolakan-penolakan dari Mona membuat Leo semakin bergairah untuk melakukan semua itu.
__ADS_1
Kini baju mereka telah tertanggal seluruhnya Mona dan Leo berendam di dalam buth up yang sama sembari air mata Mona yang terus menetes dari pelupuk matanya,ia ingin memberontak namun Percumah saja karena Leo tidak akan melepaskannya apapun yang terjadi,selama Leo tak memaksanya untuk berhubungan badan bagi Mona posisi sudah sedikit aman.