
Keesokan harinya sebelum berangkat ke rumah sakit,Tania memutuskan untuk pergi ke rumah pamannya untuk bertemu dengan Mona. Ia meminta sopir kakaknya untuk mengantarkannya ke rumah dimana Mona tinggal. Sementara itu seperti biasa Pak Sam dan Bu Diah sedang bersiap-siap untuk berangkat ke resto,tiba-tiba tersengar suara ketukan pintu
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
sahut bu Diah yang berjalan menuju pintu
"Taniaaaa...."
"Bulek,apa kabar?"
"Alhamdulillah baik,eh kamu kok bisa sampai disini?"
"Iya bulek"
"Siapa bu?"
sahut pak sam dari dalam rumah
"Lihat pak siapa yang datang"
Pak Sam keluar dan melihat istrinya bersama Tani di ruang tamu
"Loh Tania,kamu kapan pulang"
"Om,kemarin sore om. Om apa kabar?"
"Om baik kok,kamu sendiri bagaimana?"
"Baik juga om"
"Oh ya,gimana pendidikan kamu di Jepang?"
"Alhamdulillah lancar om,sebentar lagi juga selesai"
"Wah gak nyangka ya dulu yang sering ngikutin Wira sama Fikri main,sekarang udah segede gini. Sudah berapa lama kita gak ketemu coba?"
"Emb kurang lebih 13 tahun"
"Wah lama sekali ya,oh ya kamu pulang karena ingin jenguk kakakmu bukan?"
"Iya om,Tania khawatir banget waktu dengar kak Fikri kecelakaan. Apalagi sekarang kak Fikri harus pakai kursi roda karena lumpuh"
"Astagfirullah,Fikri lumpuh?"
"Iya bulek,dokter bilang butuh waktu lama untuk kak Fikri bisa berjalan normal kembali"
"Loh pak,kenapa Mona gak cerita sama kita kalau kondisi nak Fikri separah itu"
"Iya bu,bapak juga gak tahu. Akhir-akhir ini Mona jadi sangat pendiam. Maaf Tania,om dan bulek belum bisa jenguk karena resto dapat pesanan catering terus"
"Iya gak apa-apa kok om,dan bulek. Oh ya om kak Monanya ada?"
"Ada,dia sepertinya baru mandi tadi"
"Aduh bulek sampai lupa menawarkan kamu minum karena saking asyiknya kita ngobrol"
"Gak apa-apa kok bulek"
"Ya udah bulek tinggal ke belakang dulu ya"
"Iya bulek"
Mona yang sudah selesai bersiap langsung pergi menuju ke depan untuk segera berangkat ke resto,namun saat sampai di ruang tamu ia melihat Tania yang ada di sana.
"Itukan perempuan yang kemarin di kamar Fikri,ngapain dia disini?"
"Mona,ayo duduk sini. Ini ada calon adik ipar kamu"
"Calon adik ipar?"
"Iya,ayo sini"
Mona pun mengikuti perintah Pak Sam dan duduk di sampingnya
"Kenalin,ini Tania adik perempuan Fikri"
"Ja jadi... kamu adiknya Fikri? yang tinggal di Jepang itu?"
"Iya benar kak"
__ADS_1
"Loh kok kamu bisa tahu kalau dia tinggal di Jepang?"
"Mama Jeny pernah bilang pak"
"Oh,iya benar dia Tania yang tinggal di Jepang"
"Jadi kemarin aku cuma salah paham ke kamu"
Tania tersenyum
"Salah paham apa Mona?"
"Cuma salah paham kecil kok Om,jadi kak Mona ini lihat aku meluk kak Fikri dan dia mungkin salah paham dan mengira kalau kak Fikri selingkuh"
"Oalah,kamu ini Mon. Wajar saja jika kakak memeluk adiknya"
"Ya namanya juga Mona gak tahu kan pak kalau dia adiknya Fikri"
celetuk Bu Diah yang kembali dari dalam dapur sembari membawa nampan berisi minuman.
"Oh ya kak Mona hari ini sibuk gak?"
"Em,kenapa?"
"Kak Fikri minta aku buat bawa kak Mona ke rumah sakit"
"Tapi di resto sedang banyak pekerjaan"
"Sudah kamu temui saja Fikri,biar resto bapak sama ibu yang handel"
"Iya benar kata bapak Mona,kamu harusnya ada di samping nak Fikri di saat-saat seperti ini"
"Lagipula kamu sudah tahu kan kondisi nak Fikri sekarang,jadi bapak harap itu tidak akan merubah sedikitpun keputusan kamu untuk menikah dengannya"
"Iya pak,Mona akan selalu mendampingi Fikri sampai dia sembuh"
"Nah gitu,ibu sama bapak jadi senang mendengarnya"
"Kalau begitu om dan bulek berangkat ke resto dulu ya Tania,kamu disini dulu sama Mona yahh sambil mengakrabkan diri sama kakak ipar"
"Siap om"
"Bapak sama ibu berangkat dulu ya Mona"
Sekarang hanya ada Mona dan Tania di rumah,karena masih merasa malu akan kesalahpahaman kemarin.
"Kak,jadi kakak mau kan ke rumah sakit bertemu kak Fikri"
"Iya,tapi kamu tunggu dulu ya aku pengen masakin sesuatu buat Fikri"
"Oh boleh banget kak,aku akan nungguin sampai kak Mona selesai asal Tania juga kebagian ya"
"Tenang saja"
"Soalnya mama,papa,dan kak Fikri itu bilang kalau masakan kakak itu is the best"
"Kamu ini bisa aja"
"Loh serius loh kak,tapi maaf ya kak aku gak bisa bantu karena aku gak pernah masak"
"Iya gak apa-apa"
"Oh ya kak,aku boleh numpang kamar mandi gak?"
"Oh boleh,ayo aku antar"
Mona berada di dapur kurang lebih tiga puluh menit,setelah selesai ia mandi lagi dan segera bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Sementara itu Tania yang berada di kamar Mona begitu terkejut karena kamar itu jauh lebih rapi ketimbang miliknya.
"Wah kak,aku tuh suka banget sama desain kamar kakak. Rapi,aesthetic,dan yang penting nyaman banget"
"Aku itu jarang menghabiskan waktu di kamar dan lebih memilih untuk di resto,jadi mana sempat buat ngeberantakin kamar"
"Ah kakak bisa aja,eh itu pasti dari kak Fikri ya"
tunjuk Tania pada balon yang di kirimkan Fikri tempo lalu
Mona hanya tersenyum
"Jadi kita mau ke rumah sakit atau mau rebahan aja disini?"
"Eh iya kak aku lupa,terlanjur nyaman disini sih"
__ADS_1
Mona dan Tania pergi ke rumah sakit di antarkan sopir,sesampai disana ia melihat Fikri sedang di periksa oleh dokter di temani mama dan papanya.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam,eh Tania kamu dari mana aja?"
Tania dan Mona sepakat memberi kejutan untuk Fikri, sementara itu Mona menununggu di luar sembari Tania memberika kode. Setelah dokter selesai memeriksa Fikri seperti sedang mencari sesuatu
"Kamu cari apa Fik?"
tanya Jeny
"Tania,kamu tadi sendirian?"
"Iya,lah memang harus sama siapa kak?"
"Kamu pasti gak berhasil ya ngebujuk dia?"
"Maaf ya kak"
"Sebenarnya ini ada apa sih?"
"Yang aku ceritakan semalam ma"
"Soal Mona?"
"Iya ma"
"Fikri,kamu sendiri kan sudah bilang kalau kamu akan ikhlas apapun yang terjadi. Jika memang Mona gak bisa menerima kondisi seperti ini,ya kamu harus memakluminya. Pasti berat buat Mona menerima kenyataan kalau dia harus menikah sama kamu dengan kondisi kamu yang seperti ini"
"Iya Fik,kamu sebagai laki-laki juga harus berpegang teguh dengan apa yang sudah kamu ucapkan. Jika memang kamu meminta Mona untuk mundur,maka kamu harus terima kenyataan kalau akhirnya Mona memang betul-betul mundur"
"Haduh ini apaan sih,kok jadi melow drama begini?"
celetuk Tania
"Tania,kamu itu lagipula kakakmu sedang bersedih"
"Kalau aku berhasil bawa kak Mona kesini,kakak akan ngasih aku apa sebagai imbalannya?"
"Kakak akan kabulin keinginan kamu untuk trip ke Eropa"
"Serius kakk???"
"Fikri,kamu ini malah bikin adik kamu jadi keinget itu lagi"
"Yee,lagipula mama sama papa mana ngijinin aku?"
"Kalau masalah itu biar kakak yang tangani"
"Fikriiiiii......"
"Okey,kak Mona silahkan masuk"
Semua terkejut dengan ucapan Tania barusan terutama Fikri dan mamanya,melihat Mona yang masuk ke dalam kamar perawatannya membuat Fikri begitu semangat.
"Monaaa...."
"Hay Fik,apa kabar?"
Jeny membantu putranya untuk duduk sementara itu ia juga sangat senang karena Mona mau datang menjenguk Fikri.
"Pah,Tania kita keluar yuk. Lagipula papa kan harus ke kantor buat gantikan Fikri meeting"
Tania,Jeny,dan Bayu keluar meninggalkan Fikri dan Mona berdua. Suasana di dalam terlihat begitu canggung apalagi saat Mona berusaha mengungkapkan perasaannya kepada Fikri.
"Mon,makasih ya udah mau datang. Aku mau kamu dengar penjelasan aku
"Semua sudah jelas Fik,Tania sudah cerita semua ke aku. Maaf karena aku sudah salah paham ke kamu"
"Aku juga minta maaf Mon,malam itu aku tidak bisa menemuimu"
"It's okey,malam-malam seperti itu tidak perlu adalagi. Di saat kamu menunggu sebuah jawaban tentang niatku untuk menjadi istri kamu"
"Jadi gimana Mon,kamu mau kita lanjut atau tidak. Sekarang kamu tahu kan kondisi aku seperti apa?"
"Fik,mau kamu lumpuh aku tidak akan merubah keputusanku. Aku akan tetap menikah denganmu,menemani hari-harimu dan membantumu untuk bisa pulih seperti sedia kala. Aku akan menjadi wanita paling beruntung bisa bersama kamu saat susah maupun senangmu,kalau kamu bisa menerima kekurangan aku kenapa aku harus punya alasan untuk gak bisa menerima kekurangan kamu?"
"Jadi,kamu tetap mau melanjutkan pernikahan ini?"
"Iya Fik,aku mau menikah sama kamu"
__ADS_1
Air mata Fikri jatuh mendengar ucapan Mona,sektika mimpi buruk yang hadir selama beberapa hari terakhir ini hilang begitu saja. Mona bahkan bersedia menemani Fikri terapi sampai ia bisa pulih kembali seperti sedia kala.