
🌷 Kembali ke kediaman Hidayat 🌷
Waktu terus berlalu, hingga tanpa terasa hari pertunangan pun tiba. Setelah selesai berhias, Dinda pun mulai menuntun Nisa untuk segera turun ke lantai bawah.
"Kamu sudah siap, Nak?" tanya Dinda.
"Sudah, Bu." Nisa mengangguk pelan lalu tersenyum tipis.
"Ya sudah, ayo kita turun! Mereka sudah menunggu kita di bawah," seru Dinda sembari menggandeng lengan putri semata wayang nya.
"Baik, Bu."
Dinda dan Nisa melangkah keluar dari kamar dan mulai menapaki anak tangga satu persatu. Gadis itu mengayunkan langkah sambil terus menundukkan kepala. Jantung nya berdegup kencang dengan perasaan campur aduk tidak karuan.
Nisa terlihat sangat gugup sambil sesekali melirik ke arah ruang tamu. Ia menelan ludah kasar saat melihat orang-orang yang sudah duduk berkumpul disana untuk menunggu kedatangan nya.
"Duuuhh, kok makin deg-degan gini sih? Bikin malu saja," gerutu Nisa dalam hati.
Setibanya di lantai dasar, Dinda pun terus menggandeng lengan Nisa dan membawa nya ke hadapan Niko beserta keluarga nya.
"Maaf ya, Bu Clara, Nak Niko. Sudah membuat kalian menunggu lama," ucap Dinda kepada calon menantu dan besan nya.
Clara yang sejak awal tidak menyetujui perjodohan Niko dan Nisa pun, hanya tersenyum tipis dan mengangguk kan kepala. Kemudian ia pun menatap wajah calon menantu tiri nya itu dalam-dalam sembari membatin...
"Lihat saja nanti, aku pastikan kalau aku akan membuat mu hidup seperti di dalam neraka, hahahaha..." sorak Clara dalam hati seraya tersenyum miring.
Sementara Niko, ia terus memperhatikan wajah dan penampilan calon istri nya yang terlihat sangat cantik dan juga anggun di mata nya.
"Waaahh, kamu cantik sekali, Nisa."
Niko memuji gadis yang ada di depan nya, sambil terus menatap ke arah Nisa tanpa berkedip. Ia tampak begitu terpesona dengan kecantikan calon istri nya tersebut.
Sedangkan Nisa, ia sama sekali tidak berani untuk membalas tatapan Niko. Nisa masih terus tertunduk sambil menggenggam erat ujung kebaya putih yang dikenakan nya.
"Bagaimana, Nak Niko? Apakah sudah bisa di mulai acara nya?" tanya Hidayat.
"Sudah, Pak." Niko menjawab sembari menyunggingkan senyum termanis nya.
__ADS_1
Tanpa berlama-lama lagi, acara pertunangan Nisa dan Niko pun di mulai. Selesai bertukar cincin dan menentukan hari pernikahan, mereka semua pun mulai menyantap hidangan yang sudah di sediakan oleh Dinda. Setelah selesai, Niko beserta keluarga pun pamit untuk kembali ke rumah mereka.
"Kami permisi dulu ya, Pak!" ujar Niko sembari mencium punggung tangan Hidayat.
"Iya, Nak Niko. Sampai ketemu di hari pernikahan nanti," balas Hidayat dengan senyum mengembang di wajah nya.
Selesai berpamitan, Niko dan keluarga pun melangkah keluar dari rumah dan di ikuti oleh Dinda dan Hidayat dari belakang. Sedangkan Nisa, ia hanya berdiam diri di tempat duduk sambil terus memandangi kepergian calon suami nya dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan aku, Rey. Aku terpaksa menerima perjodohan ini. Aku terpaksa mengorbankan cinta kita demi memenuhi keinginan orang tua ku," gumam Nisa sembari mengusap air mata yang mulai mengalir di kedua pipi nya.
Setelah kepergian Niko beserta keluarga, Dinda dan Hidayat pun kembali menemui Nisa yang masih terduduk lemas di ruang tamu.
"Bagaimana menurut mu tentang Niko, Nak? Apakah kau menyukai nya?" tanya Hidayat sembari mendudukkan bokong nya di sebelah kanan Nisa.
"I-iya, Pa. Nisa menyukai nya," jawab Nisa terbata dan mengangguk pelan.
"Bagus lah kalau begitu, Papa senang mendengar nya. Dan Papa sangat berharap, kalian akan hidup bahagia selamanya," tambah Hidayat sambil membelai rambut panjang putri kesayangan nya.
"Amin amin ya rabbal a'lamin," sambung Dinda mengaminkan ucapan suami nya.
"Iya, Pa. Mudah-mudahan saja demikian," ucap Nisa dengan deraian air mata di wajah cantik nya.
Suasana haru menyelimuti mereka bertiga. Dinda yang sedang duduk di sebelah kiri Nisa pun mulai memeluk punggung putri nya, dan kembali berucap...
"Kamu jangan khawatir, Sayang. Niko itu anak yang baik. Mama yakin, dia pasti akan membahagiakan mu dan memberikan yang terbaik untuk masa depan mu, percayalah!" tutur Dinda meyakinkan.
"Iya, Ma. Nisa percaya, dan Nisa juga yakin kalau Mama dan Papa pasti akan memilihkan lelaki yang terbaik untuk Nisa," balas Nisa berpura-pura tegar menerima keputusan kedua orang tua nya.
"Bagus, itu lah yang Papa ingin kan dari mu, Nak."
Hidayat tersenyum lebar saat mendengar penuturan Nisa yang sesuai dengan keinginan nya.
Setelah suasana haru berakhir, mereka bertiga pun mulai beranjak dari sofa dan melangkah menuju kamar masing-masing.
Masih dengan kebaya putih yang melekat di tubuh nya, Nisa pun langsung menjatuhkan tubuh lelah nya ke atas ranjang. Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong, dan kembali memikirkan tentang kekasih hati nya Reyhan.
__ADS_1
"Maafkan aku, Rey. Maafkan aku karena tidak bisa mempertahankan hubungan kita, hiks hiks hiks..." gumam Nisa kembali terisak.
Gadis itu kembali meratapi nasib nya. Ia merasa sangat bersalah atas apa yang telah terjadi pada kisah asmara nya dengan Reyhan.
Setelah puas menangisi nasib percintaan nya, akhirnya Nisa pun tertidur lelap dengan posisi miring menghadap tembok.
* Di kamar Hidayat *
"Pa, apa Papa yakin akan meneruskan perjodohan ini?" tanya Dinda ragu.
Mendengar pertanyaan Dinda, Hidayat pun langsung menoleh dan menautkan kedua alis. Ia sama sekali tidak mengerti akan maksud perkataan istri nya tersebut.
"Maksud Mama apa? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Hidayat balik.
Dinda tidak langsung menjawab. Ia mendudukkan diri di sebelah Hidayat lalu menggenggam erat tangan nya. Dinda menyandarkan kepala di bahu lelaki itu, dan kembali bersuara.
"Apakah Papa tidak pernah menyadari, kalau sebenarnya Nisa terpaksa menerima perjodohan ini?" tanya Dinda dengan nada pelan.
Hidayat termangu seketika. Lelaki paruh baya itu menghela nafas dalam-dalam lalu mendongak ke atas. Ia bingung memikirkan perkataan Dinda yang kemungkinan besar benar ada nya.
Karena tidak mendapatkan respon apapun dari mulut suami nya, Dinda pun kembali melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang mampu membuat Hidayat pusing tujuh keliling memikirkan nya.
"Apakah Papa tidak merasa kasihan melihat keadaan anak kita, Pa? Seperti nya Nisa sangat terpukul dan tertekan dengan keputusan ini, Mama bisa melihat semua itu dari mata nya, Pa."
Dinda terus berceloteh panjang lebar sambil terus menggenggam tangan suami nya. Ia sengaja mengatakan hal itu kepada Hidayat, agar suami batu nya itu sadar dan mau membatalkan rencana pernikahan putri nya tersebut.
Hidayat tetap bungkam. Ia tampak semakin bingung memikirkan ucapan Dinda. Sebenarnya, Hidayat juga tidak tega melihat kesedihan putri nya itu, namun ia juga tidak rela jika Nisa menikah dengan lelaki miskin dan berandalan seperti Reyhan.
Setelah beberapa saat merenung, Hidayat pun akhirnya menjawab perkataan Dinda.
"Kamu tenang saja, Ma. Papa yakin, Niko pasti akan membahagiakan putri kita, percayalah sama Papa!" tutur Hidayat berusaha meyakinkan istri nya.
Mendengar penuturan suami nya, Dinda pun tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya bisa pasrah dan menerima keputusan Hidayat yang sudah tidak bisa di ganggu gugat lagi.
"Ya sudah, kalau memang itu sudah menjadi keputusan Papa, Mama tidak bisa berbuat apa-apa lagi," ucap Dinda.
"Tapi ingat, kalau seandainya Nisa tidak bahagia dengan pernikahan nya, orang pertama yang harus di salahkan adalah Papa, ingin itu!" lanjut Dinda dengan penuh peringatan.
__ADS_1
"Iya iya, Papa ingat kok. Apa pun terjadi nanti, Papa yang akan bertanggung jawab atas semua nya," balas Hidayat mengangguk mantap.
🌷 Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote, dan favorit nya untuk mendukung karya Author ya man teman makasih 🙏🌷