
Setelah kelulusan Dendra keluarga Surya membawa kembali Mona ke Indonesia,saat itu sesampai di Indonesia tuan Surya baru mendengar bahwa ayah Mona sedang dirawat dirumah sakit. Mereka langsung menuju tempat ayah Mona dirawat,sesampai di sana tuan Surya dan Nyonya Rina melihat Nyonya Yekti yang duduk mendampingi suaminya.
Kedua orang tua Dendra memintanya untuk menunggu dengan Mona di luar,karena mereka takut jika Mona masih belum bisa menerima tuan Hardjo.
"Jeng Rina,tuan Surya kapan kalian kembali? kenapa tidak memberi kami kabar?"
"Maaf ya jeng,kami sudah mencoba menghubungi kalian tetapi tidak ada jawaban sama sekali"
"Saya tidak sempat memegang ponsel setelah musibah yang menimpa keluarga kami"
"Ada apa dengan tuan Hardjo?"
"Perusahaan kami bangkrut karena ditipu oleh rekan bisnis kami,suami saya saat itu juga tidak bisa berbuat apa-apa ketika harus menyerahkan seluruh asetnya kepada bank"
"Astaga,bagaimana bisa?"
"Suami saya berambisi untuk exsport barang ke luar negeri,namun siapa tahu setelah barang di kirimkan mereka malah menghilang bahkan mereka hanya memberikan 20% dari harga yang telah di sepakati"
"Kami turut prihatin jeng,maaf saat itu kami tidak bisa membantu"
"Tidak apa-apa jeng,lagian saya sudah berterimakasih sekali karena jeng telah merawat Mona selama masa sulit ini"
"Oh ya jeng,Mona ada diluar bersama Dendra. Kami tidak berani membawanya masuk karena takut depresinya akan kambuh kembali"
"Biar saya keluar menemuinya"
Nyonya Yekti keluar menemui Mona yang duduk sambil membaca sebuah buku,melihat putrinya yang tumbuh begitu baik dan kembali dengan ceria membuat beban yang dipikul nyonya Yekti sedikit ringan
"Mona"
ucap Nyonya Yekti
"Ibu"
Mona menghampiri ibunya dan memeluk lembut,perpisahan yang cukup lama antara mereka membuat nyonya Yekti begitu rindu dengannya
"Kamu sehat sayang?"
"Mona sehat kok Bu,ibu sendiri bagaimana?"
"Ibu juga sehat,eh nak Dendra"
"Tante,bagaimana keadaan om Hardjo?"
"Dia masih belum sadarkan diri Den,dokter hanya meminta kami menunggu"
"Semoga om Hardjo segera pulih Tante,Mon kamu gak mau masuk?"
__ADS_1
"Memangnya siapa yang sakit? kok mama papa kamu dari tadi gak keluar-keluar?"
"Ituu pa..."
"Nak Dendra,jangan"
"Kenapa Tan?"
"Biarkan Mona tahu sendiri sesuai keinginannya. Tante takut dia akan terkejut melihat ayahnya didalam"
"Ayah? ayah siapa Bu?"
"Oh itu suami ibu kamu Mon"
"Suami ibu berarti ayah aku?"
Nyonya Yekti hanya mengangguk pelan,mencoba menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya itu.
"Andin mana Bu?"
"Andin dirumah pak Agus"
"Dendra aku mau masuk,mau ngajak mama papa kamu pulang"
"Jangan Mon,biar aku saja yang memanggilnya"
"Om Surya sama Tante Rina lagi jengukin siapa sih? kok lama banget"
Mona mencoba melihat sosok orang yang terbaring di tempat tidur pasien,namun reaksinya biasa saja. Pikirannya seperti telah menghapus memori tentang sosok tuan Hardjo dari hidupnya.
"Siapa orang tua itu? Dia sakit apa?"
"Mona,Mona keluar yuk kita pulang ya"
ajak Nyonya Rina dan membawa Mona keluar
"Sepertinya kondisi Mona belum sepenuhnya stabil,meski depresi yang ia derita telah sembuh namun memorinya tentang ayahnya belum juga kembali"
tutur tuan Surya
"Saya takut Mona tidak dapat kembali mengingat ayahnya"
"Kamu tenang saja,ingatannya pasti kembali hanya membutuhkan sedikit waktu lebih lama. Bukankah dulu dia juga samar-samar mengingat mu dan Andin"
"Iya,tadi dia sudah mau menyebutku dengan panggilan ibu lagi. Rasanya senang sekali mendengar ia memanggilku seperti itu lagi"
"Oh ya,apa kata dokter soal kondisi Hardjo?"
__ADS_1
"Dokter bilang serangan jantung itu membuat ia mengalami kelumpuhan bahkan merusak beberapa sistem sarafnya"
"Tetapi kenapa dia belum sadar? bukankah katamu dia sudah hampir satu bulan dirawat?"
"Dokter hanya bilang ia akan sadar jika berhasil melewati masa kritisnya dan juga akan kembali normal jika ada keajaiban dari tangan Tuhan"
"Kita berdoa saja semoga keajaiban itu ada,kalau begitu aku permisi untuk sementara aku akan bawa Mona ke rumahku"
"Terima kasih mas Surya,aku begitu merepotkan mu dan jeng Rina"
"Tidak perlu merasa begitu,kami senang dengan kehadiran Mona di keluarga kami. Rina jadi tidak kesepian bahkan hari-harinya semakin ceria"
"Aku permisi dulu"
"Iya hati-hati"
Tuan Surya dan Nyonya Rina membawa Mona kembali di kediamannya sampai semua situasi kembali normal,apalagi ia mendengar bahwa dalam jangka waktu yang tidak lama rumah tuan Hardjo akan disita oleh bank. Ia tidak ingin Mona mengetahui hal tersebut dan membuat pukulan berat bagi pikirannya,pasalnya dokter meminta agar membuat Mona senang supaya mudah mengingat memori-memori yang telah hilang dari otaknya.
Sepanjang perjalanan pulang mereka tidak lagi membicarakan keluarga Hardjo,bahkan Dendra ikut diam karena tidak ingin membuat Mona mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Mona juga sangat tenang waktu itu ia hanya menanyakan perihal adiknya Andini yang tinggal bersama keluarga pak Agus. Ia berencana untuk mengunjunginya besok pagi dan berniat untuk mengajaknya tinggal bersama mereka.
Keluarga Surya tidak keberatan akan hal itu,mau bagaimanapun mereka telah bersahabat dengan keluarga Hardjo sejak masih duduk di bangku sekolah.
"Oh ya Tante,nanti kalau sampai rumah Dendra tidur juga di rumah Tante?"
tanya Mona polos
"Iya dong,kan Dendra juga anak om dan Tante"
"Tapi kan kata orang kalau perempuan dan laki-laki dari keluarga yang berbeda tidak boleh tinggal satu atap,dan Mona juga Dendra bukan keluarga Tante"
"Sebentar lagi kita akan jadi keluarga sayang"
ucap Tante Rina
"Kalau begitu kita cepetan nikah aja Den,biar aku bisa tinggal bareng sama mama papa kamu terus. Aku bosen sendirian,jadikan kalau kita sudah menikah tetap bisa tinggal satu rumah iya kan Tante"
"Iya sayang"
Dendra sangat senang mendengar Mona yang sudah sepenuhnya bisa menerimanya,apalagi selama ini cinta Dendra ke Mona tidak pernah berubah sedikitpun. Hanya karena kecelakaan itu yang membuat Dendra sedekat ini dengan Mona,raut wajah bahagia Dendra terbaca oleh kedua orangtuanya mereka setuju-setuju saja mengenai pernikahan mereka namun hal itu harus di tunda sampai masalah di keluarga Mona selesai dan Tuan Hardjo kembali sehat seperti sebelumnya.
Setelah tiba di rumah Dendra membantu Mona membawakan barang-barangnya dan tak sengaja Mona tersandung dan menimpa tubuh Dendra.
Jantung mereka berdetak begitu kencang wajah mereka saling tatap,namun hal itu tak berlangsung lama saat tuan Surya berdehem dan membuat Dendra berdiri kembali.
"Dendra maaf Mona gak sengaja"
"Iya gak apa-apa,kamu masuk dulu biar ini semua aku yang bawa"
__ADS_1
Semenjak saat itu mereka hidup bahagia didalam keluarga Surya,kepolosan Mona membuat semua orang tenang. Hal itu di sebabkan oleh kondisi Mona yang belum stabil serta pikirannya yang masih dalam tahap pembenahan.