
Malam ini bulan bersinar terang di atas langit,Mona yang duduk di teras memandangnya dengan senyuman. Pak Sam menghampiri putrinya yang duduk seorang diri itu sembari membawakan manisan khas orang menikah yang di bawa oleh keluarga Fikri.
"Ndok,kok ngelamun"
sapa pak Sam
"Eh bapak,enggak kok pak"
"Kamu ngapain sendirian disini? Pasti lagi mikirin nak Fikri ya?"
"Enggak kok pak,cuma Mona merasa seperti Wira sedang tersenyum saat melihat bulan itu"
"Bapak tahu,ini semua pasti berat buat kamu. Tapi kamu juga harus tahu kalau ini memang yang terbaik buat kamu kedepannya"
"Iya pak makasih"
"Kamu tidak terpaksa kan dengan pernikahan ini?"
"Enggak kok pak, lagipula Mona kan sudah berjanji kalau akan membuka hati pada siapapun yang memang mempunyai niat baik terhadap Mona"
"Ya sudah jika memang begitu,oh ya ini kamu makan"
"Ini apa pak? kok Mona seperti baru lihat ini"
"Ini namanya manisan manalagi"
"Mana lagi? kayak semacam ketagihan gitu ya pak?"
"Bukan itu,itu nama buah"
"Oh nama buah ya pak, kirain apa"
"Kamu makan ya,ini namanya Fikri yang bawa khusus buat kamu"
"Bapak sama ibu gak makan?"
"Udah tadi,yang terpenting ini kamu makan masak yang punya acara tidak mencicipinya"
"Iya pak,oh ya ibu dimana?"
"Ibu di dalam sama bulek kamu yang lain, lagi bongkar barang-barang bawaan keluarga Fikri tadi"
"Oh,keluarga Fikri itu orang terpandang ya pak?"
"Ya bisa di bilang begitu,mas Bayu kakak bapak itu adalah satu-satunya pewaris tunggal almarhum bapaknya"
"Maksud bapak?"
"Ya jadi si Mbah kakungnya Wira itu adalah ayah tiri pak Dhe Bayu"
"Jadi,Mbah Putri itu menikah dua kali ya pak?"
"Iya,suami pertamanya itu meninggal karena sakit keras dan waktu itu hanya papanya Fikri anak satu-satunya jadi seluruh aset kekayaan peninggalan suami pertama nenek Fikri itu jatuh ke tangan papanya Fikri"
"Oh setelah itu berarti Mbah Putri menikah lagi?"
__ADS_1
"Iya,dan dia dapat kakeknya Fikri dan dari bapaknya bapak itu punya tiga orang anak yaitu bapak, bulek Ika dan om Burhan"
"Om Burhan? kayak pernah dengar"
"Pengacara yang menangani kasus kamu itu"
"Oh iya benar,kok om Burhan bisa jadi pengacara keluarga Fikri pak?"
"Ya awalnya pendidikan om Burhan itu semua di biaya oleh papanya Fikri dan bulek kamu yang jadi dokter itu juga"
"Tapi kenapa bapak milih jadi anggota TNI?"
"karena itu memang impian bapak sedari kecil,pengen melindungi adik-adik bapak"
"Oh begitu,wah pasti keren banget dong. Lalu bapaknya bapak dulu kerja apa?"
"Dia itu orang kepercayaan kakeknya Fikri,kebetulan sebelum meninggal beliau meminta agar ayahnya bapak menikah dengan neneknya Wira"
"Kok bisa ya orang menyerahkan sesuatu yang ia cintai sepenuh hati kepada orang lain"
"Semua itu kan demi kebaikan orang yang ia cintai juga"
"Hmmm pengorbanan sekali ya pak"
"Iya,makanya kamu harus belajar seperti kakeknya Wira,merelakan orang yang ia cintai bersama orang lain demi kebaikan orang itu sendiri kedepannya"
"Tapi mungkin akunya saja ya pak yang kurang bersyukur memiliki Fikri sebagai calon suami aku,sedangkan sebelumnya ada yang lebih besar pengorbanannya dari pada ini"
"Mungkin kamu belum terbiasa saja nak"
Keesokan harinya seperti biasa keluarga Pak Sam berangkat ke resto untuk beraktivitas seperti biasa,baru saja Mona dan bu Diah sampai dari pasar Mona langsung di minta pak Sam untuk mengantarkan adik pak Sam yang bernama Ika ke terminal. Baru saja Mona melangkah keluar resto,Fikri datang menghampirinya.
"Mona kamu mau kemana?"
"Ini mau nganterin bulek"
"Bulek Ika mau pulang sekarang?"
"Iya Fikri,lagi pula pasien bulek kasihan harus menunggu lama-lama"
"Hmm iya juga sih, yaudah kalau gitu kalian aku antar aja sekalian pakai mobil aku"
"Gak usah Fik,memangnya kamu gak kerja? ntar yang ada malah aku ngrepotin kamu lagi"
"Eh enggaklah ngapain harus repot"
"Iya benar kata Fikri Mona, lagipula dia itu kan calon suami kamu jadi sudah kewajibannya mengantarkan kamu kemanapun"
"Tapi kan aku belum resmi menjadi istrinya bulek"
"Ya sebut saja latihan"
"Yaudah deh nanti malah kesiangan lagi"
"Nah gitu dong,bulek duduk di belakang aja ya"
__ADS_1
"Lah kok gitu,yaudah kalau gitu aku juga di belakang"
"Memangnya nak Fikri itu sopir taksi di depan sendirian"
"Kamu kenapa sih Mon? masuk canggung sama aku?"
"Ya aku gak terbiasa aja"
"Makanya di biasain"
"Hmm yasudah deh,dari pada nanti bulek malah ketinggalan pesawat"
"Yaudah kamu tinggi sini ya,biar aku ambil mobil dulu"
"Iya"
Mereka bertiga langsung pergi menuju bandara,hampir saja bulek Ika ketinggalan pesawat gara-gara perdebatan Fikri dan Mona. Mona sedikit kesal karena Fikri yang sengaja membuatnya jengkel,di perjalan pulang Mona hanya diam tanpa berkata apapun sementara Fikri mencoba mencairkan suasana dengan bernyanyi mengikuti irama lagu di dalam mobil.
"Bisa diem gak? suara kamu itu udah bagus,tapi lebih bagus lagi kalau kamu diem"
celetuk Mona dengan nada jengkel
"Jadi kamu ngakuin nih kalau suara aku bagus"
"Haiss apaan sih"
"Kamu itu kalau manyun jadi tambah cantik tahu"
"Halah gausah gombal deh,mendingan kamu fokus ke jalan. Awas aja kalau sampai ada apa-apa"
"Ya janganlah,kita kan belum menikah. Oh ya Mon mama sama papa minta aku buat nyiapin semuanya mulai dari sekarang"
"Kan masih ada 30 hari"
"Lagipula 30 hari itu gak banyak lho Mon untuk menyiapkan sebuah pernikahan"
"Yah tinggal sewa WO biar gak ribet"
"Ya itu harus tapi tetap saja harus ada campur tangan dari kita"
"Aku ikut aja pokoknya apa pilihan keluarga kamu"
"Ya gak bisa gitu lah Mon,ini kan pernikahan kita"
"Terus mah kamu gimana?"
"Gini aja deh Mon,keknya kamu perlu sarapan dulu deh. Sedari tadi kayaknya kamu pengen banget makan aku"
"Sial tahu sekali dia kalau aku lapar"
gumam Mona dalam hati
"Yaudah deh,aku pengen bubur ayam"
"Oke Bu bos"
__ADS_1
Mereka berdua akhirnya mencari warung bubur ayam terdekat untuk menuntaskan rasa lapar Mona,sementara Fikri mencoba untuk lebih mendekatkan diri lagi kepada Mona dan mencari tahu kesukaan dan tidak kesukaan Mona selama ini.