Dendam Sang Mantan

Dendam Sang Mantan
Sampai kapanpun aku hanyalah boneka


__ADS_3

Tiga hari sebelum kepulangan Kei keluarga Hardjo dan Surya berkunjung ke villa tempat Mona menjalani rehabilitasi.


Sesampai disana mereka tak mendapati Mona dan Dendra didalam rumah


"Pak Agus,dimana Mona dan Dendra?"


tanya nyonya Yekti


"Oh non Mona dan tuan Dendra sedang jalan-jalan mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang besok nyonya"


"Oh baguslah,kalau begitu kita beri kejutan mereka. Kamu tolong antar saya belanja ke pasar bersama jeng Rina"


Semua mempersiapkan kejutan untuk Mona dan Dendra,orang tua mereka berkumpul untuk memberi semangat kepada Mona yang telah berangsur-angsur pulih.


Siang itu semuanya sudah siap sedia,mereka menggelar makan siang bersama di taman belakang Vila,disana lah tempat biasanya Mona menghabiskan waktunya untuk sekedar melepas penat dan membaca novel.


Semuanya bersiap mendengar suara mobil pertanda Mona dan Dendra telah kembali


"Kok sepi banget Den?"


"Mungkin pak Agus sedang keluar"


Mereka masuk ke dalam rumah tanpa curiga sedikitpun,sesampainya didalam Mona langsung pergi menuju kamar dan membersihkan diri.


Sedangkan Dendra berkeliling rumah mencari keberadaan suster yang juga ikut menghilang,Dendra kaget dengan tarikan tangan dari papanya yang berada di samping pintu belakang.


"Papa"


"Sttt,kamu jangan teriak-teriak"


"Kok papa bisa ada disini"


Kemudian pak Surya membawa Dendra menuju taman belakang,melihat semua persiapan yang sudah dibuat akhirnya mereka memberitahu rencana kejutan untuk Mona.


Pak Surya meminta Dendra membawa Mona ke taman belakang,Dendra pun menyetujuinya. Dia hampiri kamar Mona dan sebelum masuk ia terlebih dahulu mengetuk pintu memastikan bahwa Mona ada didalam.


"Tok tok"


Terdengar suara langkah kaki Mona yang semakin mendekati pintu


"Ada apa Den?"


"Ikut aku yuk"

__ADS_1


"Kemana?"


"Udah ayok ikut aja"


"Aku capek Den"


"Nanti capek kamu bakal hilang setelah sampai disana"


"Memangnya kemana?"


"Udah,sini aku pakaikan ini"


"Kenapa pakai acara tutup mata segala sih?"


"Ya biar surprrise"


"Dendra,kamu bikin takut deh"


Setelah menutup mata Mona,Dendra menuntunnya menuju taman belakang rumah,semua orang tersenyum melihat Mona yang telah tiba. Dendra membuka penutup maya Mona dan menghitung satu hingga tiga,setelah mata Mona terbuka ia agak kaget karena keluarganya berada disana.


Nyonya Yekti menghampiri Mona dan memeluknya,ia tak henti mencium lembut pipi anaknya tersebut.


"Sayang,ibu rindu sekali denganmu"


"Bagaimana keadaanmu sayang? Sudah jauh lebih baik"


Mona mengangguk pelan,air matanya tidak dapat ia bendung lagi seketika Mona menangis didalam pelukan sang ibu.


Tuan Hardjo menghampiri Mona,namun mengetahui kehadiran ayahnya itu raut wajah Mona berubah menjadi tegang.


Saat ayahnya memegang bahu Mona dengan sangat kasar ia menepis tangan itu


"Jangan sentuh saya"


ucapnya pada Tuan Hardjo


"Mona,kamu masih marah pada ayah?"


Mona hanya diam tak bergeming,mengetahui kondisi Mona yang kurang baik Dendra menghampirinya dan mencoba membuat dia agak tenang.


Dendra mengajaknya duduk untuk makan bersama keluarga,Tuan Hardjo sedari tadi terus memperhatikan putrinya itu. Tak pernah sekalipun Mona memperlakukan dia secara kasar seperti tadi,hal itu membuat Tuan Hardjo bertanya-tanya apakah hal yang membuat putrinya sebegitu marah.


Selesai makan Mona langsung meninggalkan tempat itu dan pergi menuju kamarnya,suasana hati Mona benar-benar berubah setelah melihat ayahnya.Semua orang menyadari hal tersebut namun bagaimana juga Mona berhak marah kepada ayahnya,Bu Yekti jika memaklumi hal tersebut karena menurut dia sikap suaminya sudah melewati batas.

__ADS_1


Sore hari nyonya Yekti menghampiri Mona yang berada didalam kamarnya,ia berniat untuk mengajaknya keluar jalan-jalan di kebun teh sekitar vila.


Mona pun menyetujuinya karena sang ibu sudah lama tidak menghabiskan waktu bersamanya,sesampai disana mereka berdua duduk di sebuah kursi dibawah pohon. Udara yang sejuk mencairkan suasana antara anak dan ibu itu,ternyata nyonya Yekti merencanakan pertemuan antara Mona dan ayahnya untuk memperbaiki kondisi.


Tanpa sepengetahuan siapapun kecuali antara ayah dan ibu Mona sendiri,saat Mona asyik menceritakan kesehariannya selama di vila tiba-tiba tuan Hardjo muncul tepat di samping Mona.


Merasa terkejut Mona langsung berdiri dan sedikit menjauh dari sang ayah


"Mona,sayang tolong beri sedikit waktu untuk ayah bicara"


ucap nyonya Yekti lembut


Mona hanya diam tanpa ekspresi apapun,masih teringat jelas hal yang membuatnya begitu membenci sosok laki-laki dihadapannya.


"Nak,ayah cuma minta kesempatan untuk meminta maaf. Ayah tahu,selama ini ayah memperlakukan kamu secara berlebihan. Ayah terlalu mencemaskan masa depan kamu hingga ayah lupa kalau kamu juga memiliki masa muda yang sangat berkesan. Tapi bagaimanapun kamu adalah penerus ayah nak,ayah tidak mau kamu jatuh ke orang yang salah"


"Saya sudah besar dan saya bisa membedakan mana yang baik dan tidak. Menurut saya kecemasan anda itu terlalu berlebihan,bahkan sebagai seorang pekerja saya juga butuh waktu untuk libur walau hanya sekedar berkumpul bersama keluarga. Tetapi selama saya bekerja dengan anda apa yang saya dapatkan? Kesenangan yang bahkan sama sekali tidak membuat saya bahagia"


"Nak,mungkin memang benar adanya kalau kamu butuh seorang pendamping. Jadi lebih baik kamu dan Dendra segera menikah saja,kurang baik dimana dia sebagai seorang laki-laki? Dia mapan,tampan, berpendidikan tinggi,bahkan jelas bibit bebet bobotnya"


"Saya berhak memilih dengan siapa saya akan hidup,meski anda orang tua yang membesarkan saya tetapi anda sama sekali tidak berperan sebagai orang tua yang layak pada kehidupan saya"


"Cukup Mona,ayah mentolerir kamu yang membohongi ayah dengan membangun bisnis secara diam-diam tetapi tidak dengan hubungan kamu dengan laki-laki miskin itu. Mau sampai kapanpun keputusan ayah tetap mutlak,kamu dan Dendra harus menikah"


"Oke,jika itu yang anda inginkan. Lebih baik saya mati dari pada hidup harus terus menerus mengikuti kehendak anda"


Mona berlari meninggalkan orangtuanya,ia bahkan tidak ingin kembali ke vila dan bertemu Dendra. Ia berfikir selama ini Dendra membantunya hanya untuk mendekatinya kembali supaya ia setuju menikah dengan Dendra.


Nyonya Ningsih dan Tuan Hardjo berusaha mengejar putrinya hingga membuat posisi Mona terpojok. Hanya ada jurang disekelilingnya bahkan ia tidak tahu harus kemana lagi berlari.


"Mona stop,jangan berlari lagi itu berbahaya"


"Sayang kamu kesini jangan nekat seperti ini"


"Ibu sama saja seperti dia,ibu tidak bisa mengerti Mona. Ku kira ibu berbeda dengan dia tapi nyatanya sama saja"


"Mona,ibu tidak bermaksud begitu sayang. Ibu hanya ingin kamu dan ayah kembali berbaikan seperti dulu"


Tuan Hardjo berusaha menghampiri dan menangkap Mona yang sudah terpojok namun ia tak menyadari bahwa putrinya berada di zona berbahaya.


Karena kondisi tanah yang basah akibat diguyur air hujan semalam membuat tanah yang Mona pijak menjadi runtuh. Seketika Mona terjatuh ke dalam jurang yang sedikit dalam, Nyonya Yekti berteriak histeris melihat putrinya masuk kedalam jurang itu.


Tuan Hardjo semakin panik melihat istrinya yang menangis,ia menelfon Tuan Surya dan memberitahu apa yang telah terjadi.

__ADS_1


Semua orang shock bahkan Dendra langsung berlari pergi menghampiri mereka,sementara pak Agus mencoba mencari bantuan.


__ADS_2