Dendam Sang Mantan

Dendam Sang Mantan
Kemarahan Mona yang berkelas


__ADS_3

Tak berselang lama Bella datang menemui Jeny dan Mona,ia sangat lembut dan baik memperlakuan orang di hadapannya itu.


"Nona Jeny,suatu kehormatan karena tempat saya kedatangan tamu seperti anda. Mari kita bicara di ruang khusus VVIP agar lebih enak untuk menentukan treatmen anda"


"Tidak,saya kesini bukan untuk treatmen"


"Lantas? apa kontrak bangunan saya sudah jatuh tempo?"


"Saya kesini untuk meminta kamu memecat wanita ini"


ucap Jeny sembari menunjukkan foto Lina yang ada di dalam handphonenya


"Maaf nona,itu Lina asisten saya bukan? Kalau boleh tahu apa kesalahan dia sehingga anda menginginkan saya untuk memecatnya"


"Apa klinik besar dan terkenal seperti ini mempekerjakan wanita murahan seperti dia?"


"Maksud nona Jeny apa ya? saya tidak paham"


"Bukankah kamu memiliki klient bernama Fikri Fransdinata?"


"Oh tuan Fikri,iya beliau memasan make up prewedding di sini,dan kebetulan tanggal prewednya hari ini"


"Dia putra saya satu-satunya,dan wanita di depan kamu ini adalah calon menantu saya"


"Wah cantik menantunya nona"


"Tentu,dan orang secantik menantu saya ini tidak pantas bersaing dengan karyawan kamu yang rendahan itu"


"Rendahan? sedari tadi nona menyebut karyawan saya murahan,rendahan. Sebenarnya ada apa ya?"


Tiba-tiba Lina,Guin,dan Irina telah kembali dari tugas mereka. Melihat kondisi yang ramai membuat mereka penasaran dan segera masuk.


"Ada apa sih ini kok berkerumun?"


celetuk Lina


Alangkah terkejutnya ia melihat Mona yang sudah berada di sana bersama atasannya,Guin dan Irina juga ikut terkejut karena ia tak menyangka masalah tadi pagi sampai kepada atasannya. Ia hanya berharap jika Lina siap menanggung semua konsekuensi atas perbuatannya tadi.


"Nah ini dia,perempuan murahan yang berusaha menggoda anak saya waktu acara preweddingnya tadi. Dengan santai dan tidak punya malu dia bertelanjang dan mencoba menggoda putra saya"


Ucapan Jeny terdengar begitu jelas di semua telinga,apalagi Mona sangat terkejut karena mama mertuanya tahu akan hal ini,padahal ia sudah menahan semuanya agar tidak bercerita kepada Jeny. Namun entah dari mana Jeny justru sudah tahu akan masalah ini.


"Lina,sini kamu"


teriak Bella


"Apa benar yang di katakan nona Jeny barusan?"


"Tidak semuanya benar nona,saya hanya melepas beberapa kancing baju saya karena basah tertumpah susu milik tuan Fikri tanpa sengaja"


"Tidak semuanya? bukan tidak semuanya tetapi kamu hampir melepas kemeja kamu itu dan membuat Fikri calon suami saya menunduk dihadapan kamu karena mengelap sepatunya yang terkena susu itu"


ucap Mona


"Apa??? bahkan kamu membiarkan anak saya menunduk di hadapan kamu? benar-benar perempuan gak tahu diri"


ucap Jeny sembari mengangkat tangan ingin menampar Lina


Untung saja Mona mencegahnya dan meminta Jeny untuk menahan emosinya


"Mama tidak perlu mengotori tangan untuk menampar wanita ini,biarkan saja ma. Mungkin hal seperti itu sudah menjadi kebiasaan dia saat bekerja,menggoda laki-laki dengan cara murahan. Tapi untung saja calon suami saya tidak tergoda dengan anda,karena ia tahu mana barang murahan dan mana yang bukan"


"Maafkan atas tindakan karyawan saya nona,saya berjanji akan memberikan dia sanksi yang berat atas masalah ini"


"Kira-kira sanksi apa yang pantas untuk wanita seperti dia sayang?"

__ADS_1


tanya Jeny pada Mona


"Sanksi kekerasan tidak akan membuat penggoda seperti dia jera ma,karena dia sudah terbiasa dengan kekerasan di atas ranjang. Namun saya ingin dia di pecat dan di cabut sertifikat serta izin prakteknya di manapun"


"Bagus juga ide kamu sayang,kamu dengar Bella apa yang menantu saya katakan?"


"Baik,segera saya akan memprosesnya nona"


"nona saya mohon jangan lakukan itu pada saya nona,saya bersekolah lima tahun lamanya untuk bisa sampai pada titik ini. Jadi saya mohon jangan cabut sertifikat saya serta izin praktek saya"


"Ma sepertinya aku lapar,kita pulang yuk ma?"


"Ayo sayang,Bella kamu tahu kan apa yang bisa saya lakukan pada bisnis kamu jika permintaan menantuku tidak kau inggahkan?"


"Baik nona,saya janji akan melaksanakannya"


Mona dan Jeny keluar dari tempat itu,nampak jelas air mata Mona tak dapat tertahankan lagi. Ia terpaksa mengeluarkannya di hadapan Jeny sembari jongkok di pinggir jalan karena tidak ingin mama mertuanya melihat.


Jeny dengan sangat lembut mengusap bahu menantunya itu dan mencoba menenangkannya


"Sudah sayang,sekarang di sini ada mama. Kamu tidak perlu takut ya"


"Makasih ya ma,sudah begitu perhatian pada Mona"


"Iya sama-sama,kalau begitu kita pulang sekarang"


Mona dan Jeny langsung masuk ke dalam mobil,terlihat ponsel Jeny terdapat lima belas panggilan tak terjawab dari Fikri.


"Kamu mau makan apa sayang?"


"Mona mau pulang saja ma"


"Loh katanya tadi lapar?"


"Iya,nanti Mona makan di rumah saja ya ma"


"Baik nyonya"


Sepanjang perjalanan menuju kediamannya,Mona hanya diam sembari menatap keluar jendela. Jeny yang ada di sampingnya merasa sedih atas hal yang baru saja menimpa menantunya itu,ia mengelus lembut rambut Mona sembari terus berusaha menguatkannya.


"Kamu tenang saja ya sayang,mama gak akan biarkan satu lalatpun mengganggu hubungan kamu dengan Fikri"


"Makasih ma"


"Mama jadi terharu dengan cinta kamu yang sangat besar kepada Fikri"


"Kalau boleh jujur,sebenarnya Mona sama sekali belum bisa mencintai Fikri ma. Tapi Mona berjanji pada diri sendiri kalau Mona akan berusaha sebisa mungkin untuk membuka hati dan menerima Fikri dengan tulus"


"Iya,mama paham sayang. Dulu mama juga di jodohkan seperti kamu ini. Namun mau gak mau karena mama sudah menjadi istri orang,jadi mama harus selalu patuh dan memenuhi kewajiban mama layaknya seorang istri"


"Lalu,apakah mama butuh waktu lama untuk bisa menerima kenyataan itu dan mulai mencintai suami mama?"


"Yah,awalnya mama mencoba untuk tulus dan ikhlas menjalani kehidupan setelah menikah. Namun seiring berjalannya waktu sikap papanya Fikri yang membuat mama jatuh cinta. Ketulusannya,kebaikannya,perhatian dia,bahkan dia only one laki-laki yang memperlakukan mama seperti ratu"


"Tapi saat itu apa papa juga menyetujui perjodohan itu tanpa cinta?"


"Yah seperti itulah,namun kembali lagi pada diri kita masing-masing dan tanggung jawab kita sebagai seseorang sudah menikah. Seiring berjalannya waktu kami akhirnya jatuh cinta dan saat itu mama sedang mengandung Fikri empat bulan"


"Jadi saat mama dan papa melakukan hal itu tanpa rasa cinta?"


"Ya begitulah,mama hanya melakukannya karena itu kewajiban mama dan papa melakukannya karena itu juga kewajibannya. Bukan atas rasa suka saling cinta melainkan itu kebutuhan dan kewajiban seorang suami istri"


"Oh jadi begitu ya ma"


"Iya,makanya hadirnya Fikri di kehidupan kami adalah suatu anugerah yang dapat menyatukan cinta mama dan papanya"

__ADS_1


"Kalau boleh tahu kenapa mama dan papa memutuskan untuk tidak memiliki anak lagi?"


"Setelah kelahiran Fikri dan timbulnya cinta itu,mama dan papa memutuskan untuk tidak memiliki anak lagi dan ingin sisa umur kami untuk bepacaran. Tapi sang pencipta berkehendak lain,mama hamil lagi saat Fikri menginjak usia tujuh tahun"


"Lalu sekarang dimana anak mama yang kedua?"


"Ada,dia Tania adik Fikri. Sekarang dia tinggal di Jepang dan sedang kuliah di sana,jadi sangat jarang ia kembali ke Indonesia"


"Pasti dia cantik ya ma?"


"Ouh cantik,cuma dia sangat terobsesi dengan belajar. Dia bahkan di usianya yang masih muda sudah menjadi asistes dosen"


"Wow hebat sekali,pasti mama sekelurga bangga punya putri seperti itu"


"Sebenarnya mama agak kecewa sih,karena dia jauh berbalik dari mama"


"Maksud mama?"


"Dulu mama kira memiliki seorang anak perempuan akan sangat menyenangkan karena ia bisa membantu bisnis kuliner mama yang kamu sukai itu,tapi sayangnya dia justru memilih pasion ke hukum"


"Oh jadi dia calon hakim dong ma?"


"Ya begitulah,tapi mama sangat bersyukur karena mempunyai menantu yang dapat meneruskan bisnis mama nanti"


"Maksud mama? mama minta aku buat nerusin bisnis mama?"


"Ya rencana setelah kamu resmi menjadi istri Fikri nanti,mama akan berikan bisnis De Amore ke kamu"


"Ke aku ma?"


"Iya,kamu mau kan nerusin bisnis mama?"


"Tapi Mona rasa itu terlalu berlebihan deh ma,Mona takut jika setelah bisnis itu di tangan Mona justru akan menurun"


"Hal seperti itu wajar sayang,naik turun omset dalam bisnis di perlukan untuk membuat terobosan baru jika memang masyarakat sudah agak kurang berminat"


"Mama kelihatannya pintar sekali dalam mengelola bisnis,pasti master fakultas management ya ma?"


"Loh kok kamu bisa tahu?"


"Iya,soalnya Mona juga Magister Management"


"Oh ya? dulu kuliah dimana?"


"Untuk S1 Mona ambil di UI, dan S2 nya di Columbia"


"Wah hebat dong kamu Magister Columbia loh,apalagi di usia yang masih muda seperti ini.Dulu mama kelar S2 itu setelah melahirkan Fikri,ya jadi selama Fikri lahir mama itu sibuk ngurus kuliah sementara Fikri ikut mertua mama di Amrik"


"Jadi Fikri gak besar di sini ya ma?"


"Fikri mama bawa pulang ke Indonesia saat berumur empat tahun,dan saat itu mama baru mnegandung Tania"


Tiba-tiba sopir nyonya Jeny memotong pembicaraan mereke


"Maaf nyonya kita sudah sampai"


"Wah gak kerasa ternyata,oh ya Mona mama langsung ya. Soalnya mama ada urusan"


"Mama gak mau mampir dulu?"


"Lain kali saja ya,lagipula ibu dan bapak kamu di resto kan?"


"Iya ma,ya sudah kalau begitu mama hati-hati ya"


"Iya sayang,bye see you again"

__ADS_1


"Bye ma"


Jeny pergi setelah melihat Mona masuk ke dalam rumah,sementara itu Fikri terus menghubunginya karena sangat lama.


__ADS_2