
Ternyata Mona siang itu pergi menemui Dendra,ia berkunjung ke kantor cabang yang di kelola oleh Mona.
Sesampai di kantor ternyata Dendra sudah lebih dulu berada disana,ia menghampiri Mona di lobby
Dendra memegang lembut tangan Mona dan menciumnya,beberapa karyawan menatap mereka dengan tatapan aneh.
Mona mencoba menjelaskan kepada karyawannya bahwa Dendra adalah patner bisnis ayahnya,namun Dendra menepis itu semua
"Kami bukan hanya patner bisnis tetapi juga sepasang kekasih"
Seluruh karyawan tidak percaya mendengar perkataannya,karena selama disini Mona terkenal dengan sikap tertutupnya kepada lawan jenis.
"Ah jangan hiraukan kami,sudah teruskan pekerjaan kalian"
ucap Mona
Mona lalu mengajak Dendra menuju ruangannya dan menanyakan maksud kedatangannya kemari.
"Apakah rindu itu butuh alasan? Dan apakah salah aku mengunjungi calon istriku"
ucap Dendra
"Apaan sih kamu Den,lagian siapa yang mau jadi istri kamu?"
"Ya kamu lah,orang tua kita sudah setuju akan hal itu"
"Tapi bukan berarti aku juga menyetujuinya kan?"
"Maksud kamu? Bukankah kamu kemarin bilang setuju di hadapan orang tua kita?"
"Memang,tapi itu hanya sebagai alasan agar aku bisa kembali ke sini,dan bukan berarti itu sepenuhnya aku menyetujui perjodohan konyol itu"
"Jadi kamu anggap semua itu main-main?"
"Ya seperti itu lah kurang lebihnya"
"Tega kamu Mon,kamu tidak hanya membohongi semua orang tetapi juga menyakiti aku dan keluargaku"
"Lagian mana bisa dua orang yang tidak saling mencintai harus dipaksakan menikah"
"Tapi aku mencintaimu Mon,bahkan sejak perjodohan itu belum terjadi"
"Maaf Den tapi sayangnya aku tidak bisa menerima perjodohan dan cintamu ini"
"Kenapa?? ada apa?? atau karena ada yang lebih dari aku??"
"Itu bukan urusan kamu,jadi mulai sekarang stop menghubungi aku atau memintaku untuk menemui mu. Dan jangan sekali-kali kamu datang lagi ke kantorku ini"
Dendra hanya terdiam,ia tak menyangka Mona akan memperlakukan dia seperti itu. Padahal maksud hati Dendra kemari untuk memberi tahu bahwa pertunangan mereka akan di tunda sampai ia kembali dari USA.
Namun perkataan Mona membuat hatinya sakit dan menaruh sedikit dendam pada perempuan yang baru saja menolak cintanya.
Dendra kemudian pergi untuk kembali pulang ke Jakarta sebelum menangis di hadapan mona.
Setelah urusannya dengan Dendra selesai ia segera pergi ke resto untuk menemui Arief,ia datang saat jam makan siang telah usai jadi resto sedikit longgar.
Mona menghampiri Arief yang ada di dapur membantu beberapa karyawan lainnya mencuci piring.
__ADS_1
Ia memeluk Arief dari belakang di depan para karyawan
"Maaf jika kalian harus melihat ini,tapi kalian pasti tahu harus berbuat apa kan?"
tanya Mona pada para karyawannya
"Pura-pura tidak tahu"
jawab mereka serentak
"Bagus kalau gitu kembali bekerja,oh ya Rizki tolong gantikan pekerjaan pak Arief ya,saya ada perlu dengannya"
"Baik Bu"
Mona membawa Arief menuju ruangannya,dan mereka langsung beraksi menuntaskan rasa rindu di sela-sela resto yang sudah lumayan sepi.
Mona sangat menikmati setiap belaian dari Arief ia seperti wanita yang jarang di sentuh. Memang benar sedari lulus sekolah hingga bekerja Mona sama sekali belum pernah berpacaran,namun ia paham betul apa saja yang dilakukan oleh orang yang berpacaran karena dirinya selalu menjadi tempat curhat para sahabatnya saat masih duduk di bangku kuliah dulu.
Maka tak heran jika Arief jatuh cinta atas kepolosan Mona itu,meski begitu ia tidak ingin memanfaatkan kondisi Mona yang masih virgin dan belum tersentuh tersebut.
Hampir setengah jam Arief berada diruangan Mona,hingga akhirnya kegiatan mereka harus terhenti karena ada karyawan yang membutuhkan Arief di dapur.
Arief meninggalkan Mona yang penuh rasa frustasi ia membuat Mona seakan terbang namun setelah itu ia jatuhkan begitu saja.
Tiba-tiba ponsel milik Mona berdering dan itu adalah telfon dari ayahnya,ia segera mengangkat sembari membereskan bajunya yang tertanggal.
"Hallo yah"
"Hallo sayang kamu apa kabar?"
"Baik kok yah,ayah sendiri gimana ? Ibu dan adik?"
"Emb udah kok yah,tadi siang dia mampir ke kantor"
"Oh terus sekarang Dendra mana,ayah mau bicara"
"Emb itu yah anu Dendra itu"
"Dendra kenapa Mon?"
"Itu yah Dendra katanya gak bisa lama-lama karena harus pergi ke suatu tempat"
"Oh ya? bukankah dia ada rapat besok siang?"
"Rapat?"
"Iya,Dendra besok ada rapat di Semarang jadi dia berangkat lebih awal agar bisa meluangkan waktunya untuk jalan-jalan sama kamu dulu"
"Oh gitu ya yah"
"Apa Dendra gak cerita sama kamu?"
"Emb enggak tu yah,mungkin dia lupa"
"Ya udah nanti biar ayah telfon dia biar ngajak kamu dinner malam ini"
"Ohh gausah yah gausah"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Malam ini Mona ada acara"
"Acara? Kemana?"
"Mona sore ini mau mengunjungi panti asuhan untuk berbagi sedikit rejeki buat mereka"
"Bagus dong,anak ayah makin dewasa sekarang ya sudah kalau gitu biar di temani sama Dendra"
"Tidak usah yah,tadi Dendra bilang kalau dia capek makanya Mona suruh dia pulang kan besok dia ada rapat jadi tubuh harus fit"
"Ya sudah kalau begitu,makasih sudah pengertian ke Dendra"
"Sama-sama yah"
"Ya udah kalau begitu ayah tutup telfonnya ya,kamu jaga kesehatan jangan lupa makan".
"Baik yah"
Hati Mona merasa tak karuan,dia lagi-lagi berbohong kepada ayahnya untuk menutupi kegiatan yang dia lakukan disini.
Sampai kapan dia harus begini menutupi tentang kehidupannya yang baru serta kekasihnya yang amat ia cintai.
Mona mencoba untuk menenangkan diri sambil merapikan bajunya,ia meminta kepada salah satu karyawan untuk membuatkannya teh panas.
Mengetahui hal itu Arief berfikir jika Mona sakit,karena baru kali ini ia melihat Mona minum panas.
Ia meminta gelas berisi teh itu dan membawakan sendiri ke ruangan Mona,sesampai disana ia melihat Mona yang tertidur di kursi kerjanya.
Arief menghampiri kekasihnya itu,meski kecantikan Mona terlihat memancar karena sinar matahari yang masuk melalui jendela. Tetapi kekhawatirannya tidak dapat disembunyikan dari Arief.
Saat Arief akan pergi dari ruangan tersebut tiba-tiba Mona berteriak
"Dendra jangan"
Arief menghampirinya dan mencoba membangunkan dengan lembut
"Hay sayang bangun,kamu kenapa"
Mona seketika membuka matanya dan samar-samar melihat Arief yang ada di depannya.
"Kamu kenapa Mon?"
tanya Arief lagi
"Aku tidak apa-apa Rif,hanya mimpi buruk"
"Siapa Dendra ? dan apa kaitannya dengan mimpi kamu?"
"Emb itu eh anu"
"Kenapa Mon? coba cerita"
"Anu Dendra itu sahabatku dari kecil tadi aku bermimpi ketemu dengannya"
"Oalah,mungkin kamu kangen dengannya kan sudah lama tidak bertemu"
"Sudahlah lupakan"
__ADS_1
"Oh ya ini teh kamu,tadi kamu minta dibawakan teh panas"
"Iya makasih sayang"