Dendam Sang Mantan

Dendam Sang Mantan
Move On Part 1


__ADS_3

Untuk membantu ekonomi keluarga Wira,Mona mencoba kembali bekerja tetapi Pak Sam meminta agar Mona memakai gajinya untuk mencukupi kehidupan pribadinya. Karena Bu Diah yang tak kunjung membaik,Pak Sam memutuskan untuk pindah ke rumah ibunya yang ada di Kalimantan. Ia meminta Mona untuk ikut bersamanya tetapi Mona tidak bisa karena faktor pekerjaannya.


"Nak Mona,karena sekarang om sudah tidak bertugas lagi rasanya tidak ada hak om tinggal di rumah dinas ini"


"Lantas,om mau tinggal dimana?"


"Demi kebaikan Tante juga,om memutuskan untuk pulang ke rumah ibu om"


"Dimana itu om?"


"Kalimantan,mungkin dengan begitu sedih atas kepergian Wira dapat berkurang dan mengembalikan istri om seperti sedia kala lagi. Kamu mau kan pindah kesana bersama om dan Tante?"


"Tapi om,Mona tidak bisa meninggalkan pekerjaan Mona disini"


"Baiklah jika itu memang tidak bisa di tinggalkan,kalau begitu kamu tidak keberatan bukan jika sementara ini mengekos dulu?"


"Tidak apa-apa om,dan maaf jika selama ini Mona terlalu merepotkan keluarga Om"


"Tidak sama sekali,lain kali jika kamu ada waktu senggang mainlah kesana. Pintu rumah om akan selalu terbuka untuk kamu"


"Terima kasih om,kalau begitu biar Mona bantu packing barang-barang"


"Iya"


Mona membantu pak Sam membereskan beberapa barang bawaan,dengan bantuan dari kantornya Pak Sam mendapatkan fasilitas transportasi pulang. Kepergian orang tua Wira sudah di putuskan Senin depan,mereka meminta Mona untuk mencari kos terdekat dengan kantornya agar aman ketika pulang dari lembur.


Setelah menemukan kos yang cocok untuknya,Mona segera berberes untuk pindah,di bantu anak buah pak Sam Mona pergi meninggalkan rumah tersebut. Senin pagi Mona meminta izin untuk mengantarkan kedua orang tua Wira ke bandara,perpisahan menjadi sangat haru ketika Mona bersujud meminta maaf kepada Bu Diah karena tidak dapat menjaga putranya. Bu Diah hanya diam tanpa reaksi sedikitpun karena masih dalam kondisi depresi berat. Pak Sam memeluk Mona untuk terkahir kalinya sebagai tanda perpisahan


"Mona,om minta tolong. Kamu sering-sering jenguk makam Wira ya"


"Baik Om,om tenang saja. Meski Wira sudah tidak ada,tapi ia tetap tinggal di hati Mona"


"Makasih nak Mona,kalau begitu om dan Tante berangkat dulu. Sampai ketemu lain waktu"

__ADS_1


Mona melepas kepergian orang tua Wira dengan tangisan,kini ia benar-benar sendiri dan tak memiliki siapa-siapa lagi. Ia hanya bisa pasrah dan tetap menjalani kehidupannya seperti biasa, pekerjaannya membuat ia sibuk dan sedikit lupa tentang Wira. Banyak rekan kerjanya memberikan ucapan duka atas kepergian Wira tersebut dan banyak juga yang memberikan dukungan terhadap Mona untuk tetap kuat dan tabah menjalani cobaan ini.


Sudah tiga bulan setelah kepergian Wira,Mona hanya bisa memandang fotonya di layar ponsel sembari menceritakan kesehariannya. Lewat itu semua Mona dapat mengobati rasa rindunya pada sang kekasih yang tak bisa lagi ia sentuh.


Di lain tempat Ry merasa senang karena akhirnya ia bisa membatalkan pernikahan Wira dan Mona walau harus menggunakan cara sadis. Berkat pengaruhnya polisi menghentikan kasus penyelidikan kematian Wira,bahkan sampai sekarang kasus ini di tutup dengan alasan tembakan yang menyasar. Meski Pak Sam sendiri tidak dapat menerima hal tersebut,mau tidak mau ia harus menerimanya dan fokus menyembuhkan sang istri.


Adit sendiri merasa sangat bersalah atas kematian Wira,meski keberaniannya mendapatkan hasil yang memuaskan yaitu mendapatkan kepercayaan Leo dan menjadi kaki tangan Ry membuatnya tak henti merasa bersalah,demi sebuah kekuasaan ia harus membunuh teman seperjuangannya.


Malam ini Mona terlelap karena terlalu sibuk mengerjakan tugas-tugasnya,ia tertidur sambil merindukan Wira dalam hatinya. Namun malam itu ia bermimpi bahwa Wira datang di dalam tidurnya,ia menghampiri Mona yang terlelap sembari memandanginya dengan penuh kasih sayang.



Keesokan harinya Mona terbangun dan menyadari bahwa apa yang terjadi semalam hanyalah sebuah mimpi untuknya,tetapi semua terasa begitu nyata apalagi saat Mona menemukan setangkai bunga mawar di sebelah bantalnya.


"Siapa yang menaruh bunga disini?"


ucap Mona dalam hati


Ia menghirup bunga tesebut dan samar-samar tercium bau parfum Wira yang biasanya ia kenakan,hal tersebut membuat Mona terkejut dan terdiam sesaat. Tak terasa air matanya jatuh dan mulutnya bergumam memanggil-manggil nama Wira.


ucap Mona dengan suara serak dan mata yang bengkak karena terlalu banyak menangis.


Mona benar-benar merasa terpukul kaki ini,kepergian Wira bukan hanya sebuah luka tetapi juga menyulut amarah pada siapa yang melakukannya. Terbesit di pikirannya waktu itu Adit yang memberitahunya bahwa Wira mengalami kecelakaan,ia segera mengambil ponselnya dan menghubunginya.


"Hallo Pak Adit"


"Mo Mona,ada apa?"


"Bisa kita bertemu sekarang?"


"Ada perlu apa?"


"Aku hanya ingin bertanya sesuatu pada anda?".

__ADS_1


"Tentang apa?"


"Sudah,kita bertemu dulu nanti anda juga akan tahu sendiri"


"Baiklah, dimana?"


"Di green cafe pukul 12.00"


Adit menyetujui pertemuan tersebut namun sebelumnya ia bilang kepada Ry bahwa dirinya akan menemui Mona.


"Tuan,saya minta izin keluar pukul 12.00"


"Kamu mau kemana Dit?"


"Saya mau bertemu dengan Mona tuan"


"Mona? untuk apa?"


"Saya tidak tahu pastinya,tetapi dia barusan menelfon saya dan meminta bertemu. Sepertinya ada hal serius yang ingin ia bicarakan kepada saya"


"Ingat Dit,kamu tidak boleh membocorkan pada siapapun jika aku yang telah membunuh Wira"


"Baik tuan,saya ingat betul"


"Kalau begitu kamu boleh bertemu dengannya tapi dengan satu syarat"


"Apa tuan"


"Kamu harus melaporkan padaku setelah kembali kemari,apa saja yang kalian bahas"


"Baik tuan,kalau begitu saya permisi dulu"


"Hmmm"

__ADS_1


Adit benar-benar menjadi takut karena jika sampai Mona tahu hal ini,keluarganya akan terancam. Bagaimanapun ia memutuskan untuk tidak memberitahukan pada siapapun atas hal yang menimpa Wira.


__ADS_2