Dendam Sang Mantan

Dendam Sang Mantan
Kisah Cinta Mona dan Fikri Part 4


__ADS_3

Mona terdiam dan terus memandangi Bu Diah,hatinya serasa jatuh berantakan melihat orang yang ia sayang terbaring tak berdaya di hadapannya. Pak Sam mencoba untuk menguatkan putrinya tersebut dan meminta agar Mona jangan terlalu memikirkan semua ini


"Pak,ibu sakit apa pak? kenapa tubuh ibu banyak alat-alat medis?"


"Bapak juga belum tahu,dokter belum memberi tahu apa-apa pada bapak"


Tiba-tiba seorang perawat masuk dan meminta agar kerabat pasien menemui dokter di ruangannya,Mona dan Pak Sam pergi ke sana dengan perasaan campur aduk. Setibanya di sana Dokter Robi pura-pura tidak mengenal Pak Sam begitu sebaliknya


"Silahkan duduk"


ucap dokter Robi


Pak Sam dan Mona duduk di hadapan dokter dengan raut wajah yang kacau


"Keluarga pasien atas nama nyonya Diah?"


"Iya benar pak,saya suaminya dan ini anak kami"


"Saya ingin menjelaskan tentang kondisi pasien,untuk saat ini kesehatannya menurun drastis kondisi jantungnya juga lumayan kurang bagus. Melihat ini saya harus katakan bahwa tidak ada jalan lain kecuali menunggu pasien untuk merespon obat-obatan yang telah saya berikan"


"Lantas apakah istri saya tidak dapat di sembuhkan dok?"


"Kemungkinan sembuh hanya 50% namun itu dapat meningkat apabila pasien mempunyai semangat hidup yang tinggi,penyakit jantung koroner ini bisa berakibat fatal bagi penderita yang berusia lanjut seperti istri bapak"


"Ini gak mungkin,ibu selalu mengontrol makanannya baik yang kolestrol,gula,ataupun minumannya. Sejauh ini ibu tidak memiliki tanda-tanda penyakit seperti yang dokter jelaskan tadi"


"Memang,penyakit ini tidak ada dalam gen bawaan namun bisa jadi penyakit ini menyerang pada usia renta seperti usia lanjut. Saya hanya meminta agar keluarga tabah dan siap jika suatu saat pasien tidak dapat mengontrol kondisinya dan drop sebab itu dapat memicu kembali serangan jantung hebat dan kemungkinan besar tidak akan selamat"


"Apa tidak ada alternatif lain dok? seperti pasang ring jantung,atau operasi"


"Saya takut jika kita memaksakan tindakan pasien tidak dapat meresponnya dengan baik setelah itu. Jadi jalan satu-satunya buat pasien agar memiliki semangat hidup tinggi dan kemungkinan bisa membantu meredakan stress dan juga penyakitnya lambat lain akan sedikit mereda"


Mona tak dapat berkata-kata lagi,air matanya hampir jatuh. Ia menahannya dan keluar dari ruangan dokter,kini ia menangis sesenggukan di depan ruangan Bu Diah sembari memeluk dirinya sendiri.


Tiba-tiba Fikri datang menghampirinya dan melihat kondisi Mona yang seperti itu ia pasti sudah menduga bahwa Bu Diah sedang tidak baik-baik saja.


"Mona ada apa?"


tanya Fikri pelan


Mona membalikan tubuhnya dan melihat Fikri yang berdiri tepat di belakangnya,karena tak kuat lagi menahan air mata kesedihannya tersebut ia langsung memeluk Fikri dan menangis tersedu-sedu.


Fikri bingung dengan apa yang Mona lakukan,haruskan ia senang ataupun ikut sedih


"Tenang Mon,kamu harus kuat ya. Aku yakin kamu wanita yang tegar dan dapat menghadapi ini semua"


tutur Fikri mencoba menenangkannya


Pak Sam yang melihat mereka dari kejauhan merasa senang karena rencananya berhasil,meski ia tidak tega melihat Mona seperti itu.

__ADS_1


"Maaf Fik sudah membuatmu melihat semua ini"


ucap Mona yang menyembunyikan wajahnya dari Fikri


"Tidak apa-apa Mon,sekuat apapun orang pasti ia akan menangis ketika melihat orang yang ia sayang terbaring di rumah sakit"


"Nak Fikri"


"Om..."


sahut Fikri yang kemudian mencium tangan pamannya itu


"Gimana kondisi bulek om?"


"Tidak memungkinkan"


"Apakah tidak ada cara lain?"


"Dokter hanya memberi saran bahwa semangat hiduplah yang bisa menyembuhkan"


"Om dan Mona yang sabar ya"


"Iya Fik,makasih"


"Oh ya Mon,ini aku bawakan baju ganti. Tadi om Sam telfon aku minta tolong untuk membawakan mu baju,tapi aku terburu-buru jadi gak sempat ambil baju kamu di rumah jadi aku belikan saja. Semoga cocok dengan selera kamu"


"Makasih Fik,kalau begitu aku ganti dulu"


Mona pergi ke kamar mandi yang ada di dalam ruangan tempat Bu Diah di rawat,sedangkan Fikri dan pak Sam berbicara di luar tentang rencananya.


"Om,aku benar-benar gak tega lihat Mona seperti tadi"


"Om juga gak tega,tapi mau bagaimana lagi dia keras kepala sih"


"Tapi gimana dokter bisa mau di ajak kerjasama?"


"Kebetulan dokter itu sahabat om waktu SD,ya sudah akhirnya om mintain bantuan sekalian. Untung saja dia mau dan tidak keberatan"


"Aku hampir gak percaya kalau Mona yakin ini semua beneran"


"Pokoknya jangan sampai Mona tahu atau dia akan membenci kita semua"


"Baik om,pokoknya Mona tidak akan tahu ini semua"


Setelah mengganti bajunya Mona duduk di samping tempat tidur Bu Diah dan memegang erat tangan perempuan di hadapannya tersebut. Sambil meneteskan air mata ia menatap penuh kasih ibu angkatnya itu.


"Bu,kenapa ibu gak pernah cerita kalau ibu sedang sakit keras. Kenapa ibu begitu keras kepala dan tidak ingin menceritakan apapun pada Mona,apa karena Mona ini hanya anak angkat? Mona sudah kehilangan keluarga Mona,lalu Wira,sekarang apakah ini juga akan meninggalkan Mona? Semuanya meninggalkan Mona satu persatu,sekarang Allah mau mengambil ibu juga? Apa sudah tidak ada kebahagiaan untuk Mona di dunia ini?"


ucap Mona dengan nada terisak

__ADS_1


Bu Diah menggerakkan tangannya pelan-pelan,Mona yang menyadarinya langsung berteriak memanggil dokter dan tidak lama dokter pun datang lalu memeriksa kondisi Bu Diah.


"Bagaimana dok?"


"Pasien sudah siuman,untung saja ia dapat melewati masa-masa sulitnya"


"Alhamdulillah"


Mona tersenyum melihat Bu Diah yang sudah membuka matanya,ia menghampiri ibunya dan mencium lembut tangan itu. Tiba-tiba pak Sam dan Fikri datang


"Mona,ibu sudah sadar?"


"Sudah pak barusan"


"Alhamdulillah Bu,ibu akhirnya sadar juga"


"Ibu,ibu jangan sakit-sakitan begini ya? Mona takut ibu kenapa-kenapa"


"Ibu gak apa-apa kok ndok"


"Ibu janji jangan tinggalkan Mona ya,Mona gak mau kehilangan orang yang Mona sayang untuk kesekian kalinya"


Bu Diah mengangguk


"Ibu pengen apa? Jalan-jalan? keluar negeri? atau kita jenguk makam Wira?"


"Ibu gak pengen apa-apa ndok,ibu cuma khawatir sama kamu"


"Khawatir kenapa Bu,Mona baik-baik saja"


"Ibu cuma takut,kalau nanti Allah mengambil ibu kamu tidak akan ada yang menjaga. Ibu tidak ingin ada orang jahat seperti kemarin yang mengganggu kamu"


"Ibu tenang aja ya,bapak selalu jagain kita kok"


"Usia bapak dan ibu sudah tidak muda lagi,mungkin besok ibu yang akan di ambil lebih dulu kemudian bapak. Apa kamu mau sendirian untuk selamanya?"


"Ibu jangan ngomong gitu ya,Mona gak mau ibu terus menerus seperti ini. Rezeki,hidup itu sudah ada yang mengatur,pokoknya Mona janji kalau ibu sembuh total Mona akan menuruti semua yang ibu katakan"


"Kamu serius dengan janji itu?"


"Iya Mona serius"


"Termasuk untuk mencari pengganti Wira?"


"Bu...."


"Ndok,ibu tahu kamu akan menolaknya. Ibu pengen lihat kamu bahagia dan hidup bersama laki-laki yang menjaga kamu dengan benar"


"Baiklah,asal dokter menyatakan ibu sembuh total maka Mona siap membuka hati untuk siapapun"

__ADS_1


Bu Diah,pak Sam dan Fikri tersenyum senang. Mereka agak terpaksa membohongi Mona seperti ini tetapi semua ini demi kebaikan putrinya itu.


__ADS_2