
Sementara itu Fikri yang sedang dalam perjalanan pulang dari kantor mengalami kecelakan di karenakan hujan yang cukup deras malam ini,pikirannya yang kacau karena masalahnya dengan Mona tadi pagi membuat ia gagal fokus dan hampir menabrak sebuah truck di hadapannya. Untung saja Fikri dapat menghindarinya,namun nahas mobil yang di kemudikan Fikri justru hilang kendali dan menabrak pembatas jalan. Fikri tak sadarkan diri,ia terluka parah dengan kondisi kaki yang terjepit. Untung saja ada sebuah mboil melintas dan membantunya menghubungi pihak kepolisian.
Proses efakuasi terjadi cukup lama,setelah Fikri berhasil di kelurkan dari dalam mobil ia langsung di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Sementara itu Jenny dan Bayu yang tengah bersantai di teras lantai atas mendapatkan kabar kecelakaan putranya.
Ponsel tuan Bayu berdering
"Siapa pa?"
"Gak tahu ma,nomer gak di kenal"
"Coba di angkat,siapa tahu penting"
"Iya ma"
Tuan Bayu mengangkat ponselnya,sementara nyonya Jeny meneguk tehnya yang masih hangat
"Hallo"
"Hallo selamat malam,dengan tuan Bayu Artadinata?"
"Iya benar saya sendiri"
"Saya dari pihak kepolisian,ingin mengabarkan bahwa outra anda yang bernama Fikri Fransdinata mengalami kecelakaan di tikungan Rambut Ayu. Sekarang korban sedang di larikan ke rumah sakit agar segera mendapatkan pertolongan"
"Apa.... anak saya kecelakaan dok?"
Cangkir yang di pegang oleh Jeny seketika terjatuh,ia terkejut dan tak menyangka atas apa yang ia dengar barusan
"Paa,Fikri kenapa pa?"
"Sebentar ma,sekarang anak saya ada di rumah sakit mana pak?"
"Rumah sakit Karunia pak"
"Terima kasih pak,saya akan segera kesana"
Bayu menutup telfonnya dan mendapati istrinya yang sudah histeris sedarin tadi
"Pa gimana Fikri pa?"
"Fikri sudah di bawa ke rumah sakit ma,sekarang kita kesana"
"Ayo pa,mama takut terjadi sesuatu pada Fikri"
Jeny dan Bayu segera meminta sopir mengantarkan mereka ke rumah sakit,sesampai di sana ia menemui polisi yang berada di depan UGD.
"Pak,kami orang tua Fikri"
"Oh ya,maaf bapak dan ibu sekarang dokter sedang menangani anak anda"
"Bagaimana kronologinya pak,bagaimana bisa anak saya kecelakaan"
ucap Jeny penuh histeris
"Ma sabar ma,kita nanti pasti tahu"
"Untuk sementara ini dari hasil pemeriksaan TKP korban di duga mengantuk dan menabrak pembatas jalan"
__ADS_1
"Gak mungkin,anak saya kalau perjalanan mengantuk dia pasti telfon supir untuk menjemputnya. Karena saya paham betul anakn saya tidak akan nekat mengendarai mobil jika sedang dalam keadaan mengantuk ataupun lelah"
"Mohon maaf bu,ini hanya dugaan sementara. Untuk hasil aslinya kami perlu mengecek cctv di sekitar TKP"
Beberapa saat kemudian dokter pun keluar dari ruang UGD,Jeny langsung berlari dan bertanya tentang keadaan putranya
"Dok,gimana keadaan anak saya?"
"Anak ibu mengalami cidera yang cukup serius,untung saja benturan di kepalanya tidak mempengaruhi otak maupun saraf motoriknya. Hanya saja....."
"Hanya saja apa dok??"
"Hanya saja anak ibu akan sulit berjalan kembali"
"Apa dok????"
"Ya karena saraf tulang belakangnya mengalami cidera"
"Dok,saya mohon tolong anak saya dok. Berapapun biayanya akan saya bayar"
"Maaf bu,kami sudah berusaha. Namun lambat laun anak ibu bisa berjalan kembali jika ia mau rutin melakukan terapi"
"Baik dok,saya akan meminta dia untuk mau terapi"
"Kalau begitu apa ada yang perlu di tanyakan lagi?"
"Oh ya dok,apa saya boleh bertemu dengan anak saya?"
"Boleh,tetapi tunggu pasien di pindahkan ke ruang perawatan terlebih dahulu"
"Terima kasih dok"
Jeny tidak ada hentinya menangis,ia tidak dapat membayangkan bagaimana hancurnya hati Fikri jika ia tahu dia akan lumpuh untuk sementara waktu.
Pagi harinya setelah selesai sarapan,seperti biasa Mona membantu Pak Sam dan Bu Diah di resto,namun hari ini ia meminta izin untuk pulang lebih awal karena ada janji bertemu dengan Fikri. Kondisi resto yang ramai membuat Mona mematikan ponselnya dan berusaha fokus membantu kedua orangtuanya.
Fikri yang baru saja siuman mendapati mama dan papanya ada di samping dia,ia tersenyum sembari bertanya apa yang terjadi padanya.
"Ma,Pa ini dimana?"
"Kita di rumah sakit sayang"
ucap Jeny dengan lembut
"Kenapa aku bisa ada disini ma?"
"Kamu semalam kecelakaan Fik"
sahut tuan Bayu
"Oh iya,aku baru ingat"
"Oh ya Fik,semalam waktu kamu mengendarai mobil kamu sedang ngantuk atau mabuk?"
tanya tuan Bayu lagi
"Ya mana mungkin Fikri mabuk pa,dia bukan tipe orang seperti itu"
__ADS_1
ucap Jeny tak terima
"Iya benar apa yang di katakan mama pa,aku tidak sedang mabuk ataupun mengantuk. Semalam aku menghindari truck dan menabrak pembatas jalan"
"Kamu yakin??"
"Paa... kenapa sih kamu ngomong seolah-olah anak kita itu buruk"
"Bukan gitu ma,kalau polisi sampai menemukan bukti seperti itu maka akan berat bagi Fikri"
"Aku ingat banget pa kalau aku itu gak mabuk"
"Ya sudah Fik papa cuma mau memastikan"
Fikri mencoba menggerakkan kakinya namun terasa tidak ada perubahan, Fikripun berteriak histeris
"Ma,Paa... kenapa kaki Fikri gak bisa di gerakin??"
Jeny dan Bayu saling tatap
"Ma apa yang terjadi???"
"Fikri,kamu sabar ya sayang"
"Kenapa ma?"
"Dokter bilang saraf tulang belakang kamu cidera,dan itu menyebabkan kaki kamu lumpuh untuk sementara waktu"
"Apaaaa??? gak,gak mungkin maa... aku gak mungkin lumpuh"
"Sayang,sayang kamu tenang ya. Kamu bisa kok jalan kembali asal rutin melakukan terapi"
"Ma aku gak mau cacat ma,akuu gak mau"
"Iya sayang mama tahu,kamu pasti bisa sembuh kok"
Fikri menangis melihat kondisinya yang tak seperti sedia kala lagi,ia terus menangis dan hanya diam sembari menatap kosong sudut kamarnya.
Dari siang hingga sore Fikri di sibukkan dengan berbagai pertanyaan dari pihak kepolisian dan juga pemeriksaan dari dokter,hingga ia lupa bahwa hari ini ia punya janji bertemu dengan Mona. Serangkaian pemeriksaan Fikri lakukan untuk mendapatkan jalan keluar mengenai alternatif penyembuhannya.
Sementara itu Mona sudah kembali dari resto dan bersiap untuk berangkat ke cafe Alamanda,tepat pukul 19.00 ia sampai disana namun ia belum berjumpa dengan Fikri. Akhirnya ia memutuskan untuk memesan tempat terlebih dulu sembari menunggu Fikri datang.
Satu jam lamanya Mona menunggu,ia juga sudah mencoba menghubungi Fikri berkali-kali namun ponselnya tidak aktif. Lalu Mona memutuskan untuk menghubungi Jeny dan menanyakan dimana Fikri berada,namun sayang ponsel milik Jeny juga tidak aktif.
Setelah menunggu hingga pukul 21.00 akhirnya Mona memutuskan untuk pulang,di perjalanan Mona terus bertanya-tanya apa maksud Fikri mengajaknya bertemu malam ini namun ia justru tidak datang.
"Apa Fikri hanya mempermainkan aku? atau dia sengaja membuatku menunggu untuk membalas perasaannya yang selalu ku gantungkan?atau karena memang dia sudah tidak berniat melanjutkan hubungan ini? Ah sudahlah,jika memang ini jalan terbaik untuk ku dan dia,mungkinkalau di fikir-fikir ada benarnya juga jika sesuatu hal yang kita perbuat buruk maka akan mendapatkan balasan yang buruk pula. Dan mungkin ini karmaku"
Gumam Mona dalam hati
Setiba di rumah,Pak Sam dan Bu Diah sudah tidur. Mona langsung membersikan diri dan istirahat juga.
Sementara itu Fikri yang sudah terlelap membuat Jeny sedikit lega,ia mengambil tasnya dan baru ingat kalau batu ponselnya telah habis. Maka dari itu ia meminta Bayu agar menyuruh sopirnya pulang dan membawa beberapa baju miliknya dan perlengkapan Fikri selama di rumah sakit.
"Oh ya pa,aku lupa ngasih kabar ke Sam dan keluarganya tentang kejadian ini. Apalagi Mona,pasti dia khawatir karena Fikri tidak menghubunginya"
"Ya besok kita beritahu mereka ma,kalau jam segini pasti mereka sudah tidur juga"
__ADS_1
"Iya pa"