
Keesokan harinya saat keluarga pak Sam bersiap untuk berangkat ke resto,tiba-tiba ia mendapat telfon dari Jeny
"Hallo mbak Jeny"
"Eh kok kamu yang angkat Sam,ku kira Diah"
"Oh mbak mau ngomong sama istriku? Dia ada kok mbak di sebelah ini"
"Speacker aja pak"
pinta bu Diah
"Ada apa mbak,ini aku Diah"
"Oh iya Diah,aku cuma mau minta tolong sama kamu"
"Tolong apa mbak?"
"Tolong kamu sampaikan sama Mona,kalau saat ini Fikri sedang di rawat di rumah sakt"
"Astagfirullah,kok bisa mbak? memangya Fikri sakit apa?"
"Kemarin lusa Fikri kecelakaan,dan keadaannya saat ini sangat tidak memungkinkan"
"Ya Allah,sekarang Fikri di rawat di rumah sakit mana mbak?"
"Di rumah sakit Karunia kamar VVIP no 102"
"Ya sudah mbak,begitu kami selesai membuka resto akan segera kesana"
"Terima kasih ya Diah,tolong sampaikan ke Mona"
"Baik mbak"
Mona yang sedari tadi berdiri di belakang kedua orang tuanya hanya dapat menangis dalam diam,bu Diah dan pak Sam terkejut mengetahui putri mereka sudah berlinang air mata.
"Ndok,Fikri..."
"Mona pergi dulu bu"
"Kamu mau kemana?"
"Ke tempat Fikri"
Pak Sam dan bu Diah tidak dapat mencegah Mona yang langsung berlari dengan masih menggunakan baju berlogo restoran mereka,sesampai di rumah sakit Mona segera menemui Fikri. Sesampai di depan pintu kamarnya Mona melihat Fikri yang duduk di atas kursi roda sembari menatap ke luar jendela.
Kedatangan Mona begitu membuat Fikri terkejut,apalagi dengan kondisinya yang seperti itu.
__ADS_1
"Monaa"
"Fik,apa yang terjadi sama kamu? apa ini alasan yang membuat kamu tidak datang semalam?"
"Mon,maaf kalau semalam aku membuatmu menunggu. Tetapi sekarang kamu sudah tahu keadaan aku gimana,jika memang sekarang kamu mau mundur dari pernikahan ini aku gak keberatan kok Mon"
"Stttt,itu tidak penting untuk sekarang. Yang terpenting adalah kesembuhan kamu. Kamu baik-baik saja kan Fik?"
"Mona dengarkan aku,aku sekarang ini lumpuh Mon. Aku lumpuh,ini bisa menjadi alasan untuk kamu menolak perjodohan ini. Dan yang pasti orang tua aku dan orang tua kamu juga akan memahaminya"
Mona sangat terkejut begitu mengetahui kondisi Fikri yang sesungguhnya,semua ini karena dia yang terlalu kekeh untuk menolak Fikri sehingga membuatnya begitu marah kemrin. Tetapi semuanya sudah terlanjur terjadi,kata-kata yang terucap dari mulut Mona telah membuat Fikri berulang kali berfikir bahwa seperti apapun Fikri memaksa dan meminta Mona untuk mencintainya,semua itu akan percuma.
Mona menatap wajah Fikri yang sudah kehilangan semngat hidupnya,ia hanya dapat menyesali ucapannya kemarin. Tak terasa air matanya mulai jatuh membasahi pipi,Mona berharap Fikri tak melihatnya dan ia memutuskan untuk pergi.
"Maafkan aku Fik"
ucap Mona sembari keluar dari ruangan itu
Di depan pintu Mona berjumpa dengan nyonya Jeny,ia melihat Mona yang sedang menangis dan berusaha menyembunyikan semuanya.
"Monaaa...."
panggil Jeny seraya mencegah Mona pergi
"Maaf ma,saya tidak bisa seperti ini"
ucap Mona yang kemudian melepaskan tangannya lalu pergi
"Sayang,kamu harus sabar ya?"
"Ma,Mona memutuskan untuk tidak melanjutkan pernikahan ini"
"Apa dia berkata demikian ke kamu?"
"Dari kata-katanya tadi ia sungguh tidak bisa menerima kondisiku yang sekarang,jika memang itu keputusannya Fikri harap mama dan papa ataupun om Sam dan bulek Diah tidak menghalangi Mona untuk keputusannya"
"Apa kamu yakin melepaskan Mona seperti ini? apa kamu tidak mau berjuang untuknya lagi?"
"Untuk apa ma,kalau pada akhirnya perjuanganku akan sia-sia dia mata dia. Bahkan sampai sekarang Mona masih belum bisa menerima kenyataan kalau ia akan menikah denganku"
"Ya sudah jika memang itu keputusan kalian berdua,mama menghormatinya. Memang tak semua cinta bisa di paksakan,kamu yang sabar ya sayang"
"Iya ma"
Keluarga Jeny merasa sangat sedih akan dua musibah yang sekaligus mematahkan semangat putranya itu,semua harapan mereka untuk kebaikan bersama harus terpaksa berhenti di tengah jalan hanya karena kondisi ini. Kini sudah tidak ada harapan lagi untuk Fikri memperjuangakan cintanya,hatinya sudah sangat sakit untuk menerima kenyataan bahwa ia harus hidup dengan kursi roda. Untung saja Jeny dan Bayu selalu setia menemaninya,meski Fikri masih saja terlihat sangat murung karena Mona mematahkan hatinya begitu saja.
Sore ini Tania adik perempuan Fikri akan tiba di Indonesia,ia sangat khawatir kepada kakaknya setelah mendengar berita kecelakaan itu. Dengan di jemput Bayu dan sopirnya Tania tiba di rumah sakit,melihat kakaknya yang terbaring di tempat tidur ia hanya bisa menangis
__ADS_1
"Kakak...."
"Tania...."
"Kakak,bagaimana ini bisa terjadi?"
ucap Tania sambil menangis tersedu-sedu
"Sudahlah Tania,kakak baik-baik saja"
"Tania,kamu disini jaga kakak kamu ya. Mama sama papa mau pergi dulu"
"Mama mau kemana?"
"Mama mau pulang sebentar mengambil beberapa baju ganti untuk kakak kamu,sedangkan Papa harus menemui dokter untuk konsultasi terapi kakak kamu"
"Oh ya sudah ma,pa hati-hati di jalan"
Jeny dan Bayu pergi meninggalkan rumah sakit,sementara Tania dan Fikri saling bercerita kehidupan mereka setahun belakang ini. Tania bercerita tentang pendidikannya yang akan selesai sebentar lagi,sementara Fikri menceritakan tentang Mona kepada adiknya itu.
Sementara itu Mona yang sedari tadi sibuk di dapur membuat makanan untuk ia bawa ke rumah sakit telah selesai,saat ini ia sedang menuju rumah sakit bersama taksi. Ia terus memikirkan bagaimana caranya menyampaikan bahwa ia ingin menemani Fikri dalam keadaan apapun,akhirnya Mona memutuskan untuk menerima Fikri apa adanya seperti Fikri yang menerima dia dengan masa lalunya yang kelam. Ia berniat membawakan makanan kesukaan Fikri dan menemaninya hingga sembuh,sesampai di rumah sakit Mona langsung pergi menuju ruang VVIP tempat Fikri di rawat.
Namun sesampai di sana betapa terkejutnya Mona saat melihat ada seorang perempuan yang berada di pelukannya yang tak lain adalaha Tania,sontak kotak makan yang Mona bawa terjatuh dan mengejutkan mereka
"Mona..."
panggil Fikri
Namun belum sempat Fikri memanggilnya Mona sudah terlebih dulu pergi dari ruangan itu,Tania yang sudah tahu bahwa itu Mona ia langsung mengejarnya.
"Kak Mona tunggu...."
Namun Mona lebih dulu pergi menggunakan taksi dan pulang ke rumahnya lagi,Tania merasa terlambat dan kembali ke kamar kakaknya sembari memasang muka kecewa.
"Tania,mana Mona?"
"Maaf kak,aku tidak berhasil mengejarnya"
"Pasti dia memikirkan yang bukan-bukan"
"Kakak tahu rumah kak Mona? biar aku susul dia kesana"
"Dia tinggal serumah dengan Om Sam"
"Oh iya,Kak Mona kan anak angkat om Sam. Kalau begitu biar Tania susul kesana kak"
"Gak usah Tania ini sudah hampir malam,besok saja kamu kesana dan tolong jelaskan semua kesalahpahaman ini"
__ADS_1
"Siap kak,kalau begitu aku panggil pperawat buat beresin ini semua"
"Hmmm"