Dendam Sang Mantan

Dendam Sang Mantan
Menuju hari H part 2


__ADS_3

Pagi-pagi sekali seperti biasa,Fikri sudah berada di teras bersama Pak Sam sambil menikmati segelas teh dan gemblong kesukaan pria berusia kepala lima itu. Mona yang baru saja bangun mendengar suara Bu Diah berbincang lembut dengan seseorang,merasa penasaran Mona pun keluar kamar dan menghampirinya. Namun siapa sangka kalau Fikri dan Pak Sam juga ada di dapur,Fikri melihat Mona yang baru bangun dengan rambut acak-acakan dan wajah yang tanpa make up sedikitpun.


Ia terkejut mendapati Fikri berdiri di hadapannya sekarang,Mona sontak menutup wajahnya dengan kedua tangannya itu dan kembali menuju kamar. Sedangkan Fikri tertawa sembari mengikuti Mona yang mencoba melepaskan diri.


"Hay Mon,ada apa dengan wajahmu? kenapa kamu menutupinya dariku?"


gumam Fikri dengan nada menggoda


Namun Mona tak menghiraukannya sama sekali,hingga saat Fikri memaksa menerobos masuk justru di tolak mentah-mentah oleh Mona dan mengunci pintu.


Mona merasa malu karena Fikri melihatnya dalam kondisi yang masih berantakan,di depan pintu kamarnya Fikri masih berusaha memaksa masuk sembari terus menggoda Mona.


"Ayolah Mon keluar,kamu mau sampai kapan di dalam? apa kamu tidak ingin mandi?"


Mona terdiam sambil terus berfikir bagaimana caranya supaya Fikri pergi,padahal saat ini Mona benar-benar merasa ingin buang air kecil.


"Mona ayo keluar"


panggil Fikri lagi dari luar pintu


Sementara Bu Diah dan Pak Sam tertawa melihat tingkah mereka


"Lihat pak,mereka mencoba salingmendekatkan diri masing-masing"


"Iya bu,biarkan saja. Supaya nanti Mona juga terbiasa ada Fikri setelah menikah nanti"


"Ya sudah kalau begitu kita berangkat ke resto duluan pak"


"Iya bu"


Mona yang masih di dalam kamar mendengar suara mobil Pak Sam,ia segera membuka pintu dan lari keluar rumah tanpa mempedulikan Fikri yang masih menunggu di dalam kamarnya.


"Mooon kamu mau kemana?"


Mona sama sekali tak mengindahkan Fikri,melihat Mona yang berada di depan pintu Fikripun menarik handuk dan menutupkannya tepat di pinggang Mona.


"Yah,kok bapak sama ibu ninggal Mona sih"


gumam Mona


Sontak Mona terkejut saat tangan Fikri melingkar di pinggangnya


"Prakkkk"


Mona melayangkan tangannya dan berhasil mengenai bahu Fikri


"Aduhh"


"Kamu jangan macem-macem ya,kurang ajar sekali kamu nyentuh-nyentuh aku"


"Astaga Mon,kamu jangan salah paham. Justru aku ini hanya ingin menolong kamu"


"Halah alasan"


"Coba deh kamu lihat,kamu itu keluar kamar dengan celana hot pants sedangkan apa kata tetangga nanti jika melihat kamu seperti ini"


Mona langsung melirik ke bawah,terlihat separuh tubuhnya telah tertutup handuk yang Fikri berikan tadi


"Beberarti dari tadi kamu lihat aku pakai celana pendek"


"Iya,maka itu aku langsung memberikan handuk itu ke kamu"


Mona langsung tersipu malu dan berlari menuju kamar mandi,ia tak menyangka bahwa hari ini akan menjadi hari memalukan sepanjang sejarah di hadapan Fikri.

__ADS_1


Fikri tersenyum sambil terus mengatakan bahwa dirinya tidak melihat banyak,namun hal itu justru membuat Mona semakin merasa malu untuk bertemu dengan Fikri lagi.


Sembari menunggu Mona selesai mandi,Fikri duduk di teras sembari meneguk teh yang telah di buatkan Bu Diah untuknya,ia menatap kedepan sembari terus tersenyum membayangkan Mona yang salah tingkah tadi. Untung saja Fikri bukanlah tipe lak-laki yang suka memanfaatkan situasi seperti kebanyakan pria pada umumnya.


Sementara itu,Mona yang telah selesai mandi sedang mengeringkan rambutnya di depan kaca,ia masih terus merutuki dirinya karena malu akan kejadian tadi pagi. Setelah selesai ia segera keluar menemui Fikri yang sedari tadi sudah menunggungya


"Ngapain kamu masih disini?"


celetuk Mona mengejutkan Fikri


"Hay,kamu sudah selesai?"


"Bukankah kemarin aku sudah bilang kalau kita akan ketemu lagi saat acara pernikahan nanti


"Mon,aku kan sudah minta maaf. Lagipula kamu sudah mengakui kan kalau itu semua murni bukan kesalahan aku"


"Oh jadi gitu"


"oh ya,hadiah yang aku kirimkan kemarin kamu suka gak?"


"Biasa aja"


"Kurang ya? apa kamu mau yang lebih besar?"


"Buat apa juga lagian,justru malah bikin kamar aku jadi sumpek"


"Hah,ternyata gak semua niat baik selalu di terima dengan baik juga ya"


gumam Fikri sembari menghela nafas


Mona hanya terdiam dan merasa sedikit bersalah,pada kenyataannya ia sangat senang dengan pemberian Fikri itu,hanya saja Mona masih merasa sedikit marah atas kejadian kemarin.


"Kamu mau ngapain kesini?"


"Jadi kamu mau jalan sama aku itu hanya karena mama kamu yang minta?"


"Ya bukan gitu,lagipula kamu mana mau sih jalan sama aku. Secara ya kita bukan pacaran dan mana nyaman juga kalau jalan tanpa ikatan apapun"


"Okey,aku mau. Ya semata-mata hanya untuk latihan kalau nanti mama kamu minta kita jalan bareng lagi"


"Okey,siap nona"


"Kalau gitu tunggu sebentar,aku ambil tas sama handphone dulu"


"Okey sayang"


"Apa kamu bilang?"


ucap Mona terkejut dengan panggilan Fikri kepadanya


"Emb maksud aku Mona"


Mona kemudian meninggalkan Fikri dan pergi mengambil tasnya,setelah itu mereka berdua pergi bersama menuju perusahaan yang ia pimpin.


"Fik,kita mau kemana?"


"Ke kantor aku"


"Mau ngapain?"


"Ada beberapa dokumen yang perlu aku tanda tangani"


"Harus sekarang ya?"

__ADS_1


"Iya,soalnya mau dikirim ke klient secepatnya"


"Ya sudah deh,kalau gitu aku tunggu di mobil aja"


"Loh,ngapain? kenapa gak ikut masuk aja?"


"Enggak apa-apa kok,mager aja"


"Ya sudah terserah kamu,aku juga gak mau kok maksa kamu"


Fikri keluar dari mobilnya dan segera masuk ke kantor,sementara itu Mona memainkan ponselnya sembari menunggu Fikri di mobil. Beberapa saat kemudian kurang lebih tiga puluh menit Fikri belum juga kembali,Mona merasa bosan dan terkurung. Belum lagi beberapa karyawan yang lewat memperhatikan mobil milik atasannya itu.


Akhirnya Mona terpaksa turun dan mematikan mobil Fikri,ia mencoba untuk mencari Fikri di kantornya. Namun baru saja masuk ke loby ia begitu bingung karena perusahaan itu sangat besar dan luas.


Mona langsunng bertanya kepada receptionis yang ada di sana,karena ponsel Fikri tetap saja masih belum bisa di hubungi


"Permisi mbak,mau tanya"


"Iya mbak,ada yang bisa saya bantu?"


"Saya mau ketemu sama Fikri"


"Fikri? maksud mbaknya tuan Fikri Fransdinata?"


"Iya itu"


"Maaf,mbaknya ini siapa ya? dan ada keperluan apa mau bertemu dengan tuan Fikri?"


"Saya Mona,tadi saya kesini bareng Fikri. Cuma dia katanya cuma sebentar di kantor. Karena kelamaan ya saya mau nyamperin dia aja"


Receptionis itu tersenyum sinis dan memanggil security


"Security,security..."


"Iya bu"


"Tolong kamu bawa orang gila ini keluar ya"


"Mbak sebut saya apa tadi?"


tanya Mona shock


"Loh memang benar kan,mbaknya kok halu sih kesini bareng tuan Fikri? terus pakai acara ngaku-ngaku segala kalau kenal sama tuan Fikri"


"Astaga,jadi kamu kira saya halu karena kenal Fikri dan datang kesini sama dia"


"Ya jelas lah,mana mungkin sih tuan Fikri jalan sama cewek. Apalagi ceweknya kayak mbak"


"Hati-hati ya kalau ngomong,memangnya saya salah apa dan orang seperti apa yang pantes jalan sama Fikri"


"Ya yang jelas bukan kamu lah,penampilan aja enggak banget. Jadi mana mungkin tuan Fikri mau sama situ"


"Gak habis fikir ya,di perusahaan sebesar ini ada aja karyawan yang julit kayak kamu"


"Idih gak terima,udah deh pak buruan usir dia"


"Baik bu"


Security itu hampir menyeret Mona keluar,namun karena tidak ingin di berlakukan seperti pengemis Mona akhirnya memilih untuk keluar sendiri.


"Jangan sentuh saya,saya bisa jalan sendiri"


ketus Mona yang berjalan keluar dan menunggu di halaman depan kantor Fikri.

__ADS_1


__ADS_2