
Pagi-pagi sekali Arief meninggalkan kamar Mona,ia tidak ingin ibunya mengetahui jika semalam ia tidur di kamar Mona. Sebelum pergi tak lupa Arief memberikan ciuman mesra di kening kekasihnya itu.
Arief melihat bahwa ibunya belum bangun,ia pergi ke kamarnya dan mengambil sepatu kemudian keluar untuk jogging.
Tepat pukul 07.00 Arief kembali dari jogging nya,ia melihat Bu Siti seperti biasa sudah berada di dapur. Namun hari ini berbeda Mona juga berada disana dengan pakaian yang sudah rapi,Arief penasaran dan menghampiri mereka.
"Mon,kok tumben kamu udah rapi aja? katanya gak ikut ke resto hari ini"
"Iya aku ada acara pagi ini jam 07.30 jadi aku sudah bersiap-siap"
"Acara apa? Dimana? Sama siapa?"
"Arief,gak sopan nanya-nanya begitu"
ucap Bu Siti tiba-tiba
"Tapi kan Arief juga perlu tahu Bu Mona kemana dan sama siapa"
"Tidak semuanya kamu harus tahu meski kalian ini pacaran,nak Mona juga harus punya privasi sendiri"
"Ibu ini gak seru deh,nanti kalau Mona kenapa-kenapa gimana"
"Lagian aku bukan anak kecil Rif,kalau ada apa-apa aku bisa teriak"
"Bener tu apa yang di katakan nak Mona,udah sana kamu mandi bau asem kamu sampai sini"
"Ibu apaan sih, iya-iya Arief mandi"
Arief pergi meninggalkan mereka di dapur,saat Arief sedang mandi Mona memutuskan untuk segera berangkat karena tidak ingin jika pacarnya itu bertanya terus menerus.
"Bu kalau gitu Mona berangkat dulu ya"
"Lho kamu kan belum sarapan"
"Udah nanti Mona minum susu aja,udah mepet waktunya"
"Ya sudah hati-hati ya nak"
"Iya Bu"
Mona lekas mengendarai mobilnya menuju tempat pertemuannya dengan Dendra,sesampai di lobby Mona segera menelfon dendra untuk memintanya turun.
"Hallo den,aku udah di lobby cepetan turun"
"Ngapain di lobby? kan aku bilang ke kamar 203"
"Kamu gila ya,ngapain cewek sama cowok di dalam kamar berdua?"
"Menurut kamu?"
__ADS_1
"Jangan macam-macam ya"
"Ya sudah kalau gak mau,berarti kamu sudah siap ya kalau ayah kamu tahu semua ini?"
"Huuh okey aku kesana"
"Okey darling"
Mona masuk ke dalam lift dan segera menuju kamar Dendra,sampai disana Mona sama sekali tidak berfikir untuk mengetuk pintu terlebih dahulu karena sudah terbawa oleh emosi.
Alangkah terkejutnya Mona saat melihat Dendra yang sedang berganti baju dihadapannya, refleks Mona menutupkan kedua tangan ke wajahnya.
"Maaf aku gak lihat kok"
Melihat tingkah laku Mona yang salting justru membuat Dendra semakin tertarik,ia membereskan pakaiannya dan menghampiri Mona yang mematung di depan pintu.
"Kamu kenapa?"
"Udah deh buruan kamu pakai tuh baju"
"Mau sampai kapan nutup matanya aku udah selesai"
Pelan-pelan Mona membuka matanya dan melihat Dendra yang sudah berdiri tepat di hadapannya
"Aku cuma mau tanya apa bener laki-laki itu kekasihmu?"
"Berapa kali aku harus bilang,dia hanya karyawan ku dan mana mungkin aku ada hubungan dengannya"
"Lalu apakah aku tidak punya kesempatan sebentar saja untuk berada di hatimu?"
"Tolong dengerin aku ya Den,ini terakhir kali aku bilang bahwa sampai kapanpun aku tidak akan memiliki perasaan yang sama sepertimu"
"Okey,makasih kalau begitu"
"Udah gitu aja?"
"Iya,cuma itu yang ingin aku katakan"
"Lalu kenapa memaksaku datang kemari dan mengancam akan mengatakan semuanya kepada ayahku"
"Ya hanya saja aku ingin melihat kamu untuk terakhir kali"
"Terakhir kali? kamu mau kemana? Gak mungkin kan cuma gara-gara aku tolak kamu mau bunuh diri"
"Memangnya kalau iya kenapa?"
"Astaga Den kamu serius?"
__ADS_1
"Enggaklah,gila sekali orang yang sakit hati kayak aku mau bunuh diri."
"Lalu,kok kamu bilang gitu?"
"Jadi aku mau ke England,aku mau melanjutkan pekerjaan ku disana dan kemungkinan aku akan menetap disana juga"
"Ya bagus deh,semoga kamu sukses"
"Makasih Mon,sudah menjadikanku termotivasi untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Mungkin kalau bukan karena penolakan kamu aku gak sadar kalau selera ARTYCA MONA RAHARDJO ini begitu tinggi"
"Apaan sih kamu? Gak lucu. Ya sudah kalau gitu aku pergi dulu"
"tunggu Mon"
"Apalagi?"
"Boleh gak aku meluk kamu buat terakhir kalinya?"
"Memangnya harus gitu?"
"Ya kalau boleh sih,kalau nggak juga gak apa-apa kok"
Karena melihat kegigihan Dendra yang sudah berhasil ia robohkan akhirnya Mona memutuskan untuk menghargai semua itu dengan menuruti permintaan Dendra.
"Thanks ya Mon,pokoknya kalau kamu ada apa-apa atau butuh sesuatu kamu jangan sungkan bilang ke aku"
"Pasti kok,nanti kalau mau buka cabang resto aku telfon kamu deh buat bayarin semuanya"
"Hmm boleh juga,asal kamu jadi karyawan aku"
"Enak saja,kalau begitu aku pergi dulu ya see you next time"
"Bye Mon"
Mona keluar dari kamar tersebut dan pergi meninggalkan Dendra, sedangkan dibalik pintu itu nampak Dendra terduduk lesu di lantai dan menangisi akhir penuangan cintanya itu.
Ia merasa marah terhadap dirinya karena tidak dapat membuat dirinya menjadi kriteria laki-laki pilihan Mona,meski dengan begitu Dendra berusaha ikhlas kehilangan semuanya dan kembali menjadi sosok yang lebih gila kerja dari pada memikirkan perjuangannya yang tak berujung.
Setelah menemui Dendra,Mona memutuskan untuk pergi ke tempat biro perjalanan dan merencanakan liburan ya bersama para karyawan ke villa Jogja.
Hampir dua jam ia berada disitu,semua sudah selesai dan tinggal menunggu hari H saja,penginapan, transportasi,agenda dan yang lainnya sudah di urus oleh pihak biro.
Kali ini kehidupannya sudah benar-benar aman,ia hanya perlu memikirkan cara untuk memperkenalkan Arief kepada keluarga besarnya supaya mendapatkan restu bagi hubungannya.
Setelah selesai Mona langsung pergi menuju restoran,ia sangat bersemangat hari ini saking semangatnya semua karyawan begitu heran melihat Mona yang sedari tadi tidak bisa diam dan terus melakukan pekerjaan walau sekedar hanya menanyakan keluhan para pelanggannya.
Bahkan Arief tidak sempat untuk mengucapkan Hay kepadanya lantaran Mona yang mondar mandir mengecek apakah pelanggannya mendapatkan pelayanan yang terbaik.
__ADS_1