
Pagi-pagi sekali Mona sudah terbangun dan segera mandi,setelah itu ia lekas menelfon pak Agus dan memintanya mengantarkan ke rumah Arief.
Pak Agus menghampiri Mona yang saat itu ada di lobby hotel
"Pak,ayo kita pergi menemui Arief"
"non,sebaiknya non Mona sarapan terlebih dahulu. Dari kemarin non Mona belum makan sama sekali"
"Sudah itu nanti saja bisa di jalan pak,yang terpenting aku ingin bertemu dengan Arief"
"Baiklah non,kalau begitu non tunggu didepan saya akan mengambil mobil terlebih dahulu"
Pak Agus dan Mona langsung pergi menuju perumahan tempat Arief tinggal,setelah sampai Mona segera turun dan mengetuk pintu rumahnya.
Beberapa saat menunggu tidak ada juga jawaban dari dalam rumah,salah satu tetangga menyapa Mona saat itu
"Mbak,cari siapa?"
"Maaf Bu,saya mencari Arief orang yang tinggal disini"
"Oh anak almarhumah Bu Siti?"
"Iya benar Bu"
"Tadi subuh-subuh sekali suami saya lihat dia pergi bersama seorang pria"
"Seorang pria? apakah dia tinggi dan berkumis Bu?"
"Iya benar mbak,sepertinya sih akan berpergian lama soalnya dia membawa tas besar"
Tanpa fikir panjang Mona langsung masuk menerobos ke rumah itu,dan ternyata benar tidak ada satupun orang didalamnya.
Ia masuk ke dalam kamar Arief dan barang-barangnya memang sudah tidak ada lagi,Mona kemudian pergi ke lantai dua melihat didalam kamarnya dan dia juga tidak menemukan apapun kecuali secarik kertas.
Didalamnya bertuliskan
"Terima Kasih telah memberikan kebohongan yang sangat menyakitkan ini,aku harap pengorbanan ibuku setara dengan apa yang telah kamu berikan selama ini. Aku hanya laki-laki miskin yang berharap cinta dari tuan putri sepertimu,tapi aku janji suatu saat aku akan kembali dengan luka yang lebih dari ini. Luka yang ibuku rasakan atas penghinaan keluargamu kepadaku,dan saat itulah Mon kamu akan meminta belas kasihan dari laki-laki miskin sepertiku
Arief"
Mona bergetar dan terduduk di tempat tidur,kini semua usahanya untuk memperbaiki hubungan bersama Arief sudah tidak ada gunanya lagi.
__ADS_1
Mona hanya dapat menangis mengingat semua kenangan yang ada didalam rumah tersebut,dia mengambil sisa barang-barangnya untuk dibawa pulang.
Pak Agus melihat Mona yang turun dengan membawa koper
"Pak,mari kita pulang"
ucap Mona pelan
"Non,non Mona baik-baik saja?"
Mona hanya mengangguk pelan
"Lalu bagaimana dengan Arief?"
"Dia sudah pergi pak,tidak ada lagi yang bisa aku pertahankan. Semuanya benar-benar sudah hancur"
"Baiklah non kalau begitu kita kembali ke Jakarta hari ini"
Saat perjalanan menuju bandara Mona teringat akan lingkungan tempat tinggal Arief yang berada di gang kecil,saat itu juga Mona meminta kepada pak Agus untuk memutar arah menuju lokasi itu.
Sesampai disana Mona berlari menuju rumah lama Arief namun hasilnya nihil,rumah itu sudah tidak ada lagi. Warga setempat mengatakan bahwa semenjak Bu Siti pindah tidak ada lagi kunjungan dari Bu Siti ataupun anaknya ke tempat itu.
Mona benar-benar putus asa,pak Agus membujuknya untuk kembali ke Jakarta saja dari pada Mona terlalu kalut.
Akhirnya hari itu juga Mona kembali ke Jakarta dengan penuh ke putusasaan
"Non,mau memesan sesuatu?"
"Tidak pak,saya tidak berselera"
"Tapi non dari kemarin belum makan,wajah non juga nampak begitu pucat"
"Aku hanya ingin Arief pak"
"Non, sudahlah mungkin dia bukan jodoh non Mona. Saya pesankan nasi goreng ya non"
Pak Agus begitu perhatian kepada Mona karena selama ini ia sudah menganggapnya sebagai anak kandung sendiri,meski pak Agus sendiri sampai sekarang belum memiliki seorang anak.
Setelah beberapa jam didalam pesawat akhirnya Mona dan pak Agus tiba di Jakarta, kedatangannya dirumah di sambut hangat oleh mama dan adiknya.
"Bagaimana Mon kamu menemukan dia?"
__ADS_1
Mona hanya menggeleng dan mamanya paham bahwa anaknya sedang tidak baik-baik saja,dipeluknya tubuh Mona. Seketika tangis Mona pecah di pelukan sang mama
"Mama tahu ini berat sayang,tetapi jika kalian berjodoh suatu saat pasti kalian akan dipertemukan kembali"
"Ma,semuanya hancur ma tidak ada lagi yang tersisa. Bahkan gara-gara aku Bu Siti meninggalkan Arief"
"Maksud kamu?"
"Jadi orang tua Arief meninggal dunia lantaran syok atas apa yang terjadi nyonya"
tutur pak Agus
"Innalilahi,sayang kamu yang sabar ya. Itu semua bukan kesalahan kamu,biarkan Bu Siti tenang disana kamu bisa bantu mengirimkan doa untuknya"
"Aku takut kalau Arief membenciku ma"
"Tidak sayang,jika ia sayang sama kamu pasti dia tidak akan membencimu. Din,bawa kakakmu ke kamar mama mau bicara sama pak Agus"
"Baik ma"
ucap Andini yang membawa kakaknya menuju kamar
"Apakah tidak ada petunjuk lain keberadaan laki-laki itu pak Agus?"
tanya nyonya Yekti
"Saya sudah menyuruh orang untuk mencari tahu nyonya,tetapi sampai sekarang belum ada kabar"
"Lalu urusan restoran Mona?"
"Saya sudah memberikan pesangon kepada para karyawan seperti yang nyonya minta"
"Baguslah,kamu tolong rahasiakan ini semua dari suamiku. Kamu tahu sendiri bagaimana kerasnya dia menghadapai situasi seperti ini,bahkan saat Mona masuk rumah sakit dia sama sekali tidak ada rasa penyesalan atas apa yang terjadi"
"Baik nyonya,kalau begitu saya permisi"
"Ya silahkan"
Hari-hari berlalu setelah kejadian itu,Mona hanya mengurung diri di kamarnya dan tak pernah mengobrol dengan siapapun.
Hanya ponselnya yang terus ia genggam untuk melakukan telfon kepada Arief berkali-kali,namun usahanya sia-sia nomer Arief tidak lagi aktif.
__ADS_1
Nyonya Yekti dan Pak Agus khawatir melihat kondisi Mona yang terus seperti itu,sudah sering ia memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Mona tetapi dokter hanya meminta agar keluarga sabar menghadapi kondisi tersebut.