
Sesampainya di Jakarta Mona langsung dikurung di dalam kamar oleh ayahnya, iya tidak tahu lagi bagaimana cara melawan ayahnya itu.
Hampir sehari Mona hanya di dalam kamarnya,ia sudah berusaha meminta tolong kepada siapapun untuk membukakan pintu tersebut namun nihil, semua orang tidak berani membantunya termasuk ibunya sendiri.
"Sudahlah yah kasihan Mona,biarkan dia keluar"
ucap Nyonya Yekti
"jangan membelanya biar anak itu tahu apa kesalahannya iya sudah menyalahgunakan kepercayaanku sehingga lihat apa yang sekarang ia perbuat"
ucap Tuan Hardjo
"semua ini juga karena kita yang selalu menekannya untuk terlalu fokus kepada bidang bisnismu, bahkan kamu tidak memberinya waktu untuk memikirkan kesenangannya sendiri jadi jika sudah begini kamu tidak perlu menyalahkan anakmu ini semua terjadi juga karena mu"
"Saya tidak ingin mendengar pembelaan apapun dari siapapun atas kesalahan Mona bagaimanapun dia sudah mempermalukan Aku di depan keluarga Surya"
"dia terlahir bukan hanya untuk memenuhi tanggung jawabmu tetapi dia juga berhak untuk bahagia bagaimanapun kita sebagai orang tua tidak sepantasnya melarang pergaulan anak hingga seperti ini"
"sebab dia terlahir itu maka ia harus bertanggung jawab mengurus segala bisnis yang ada di keluarga kita,apalagi kamu tahu sendiri tidak ada seorang anak laki-laki di keluarga ini. Jadi tanggung jawab pemimpin perusahaan ada pada diri Mona dan itu sudah mutlak keputusanku"
"tapi kamu mengorbankan masa mudanya dia kehilangan masa dimana seharusnya ia memiliki kenangan indah dalam hidupnya di mana anak-anak seusianya sedang bahagianya menjalani kehidupan tetapi anak kita?"
"sudah di kantor jabatan ini aku tidak ingin bertengkar denganmu juga hanya karena anak pembangkang itu"
ucap Tuan Hardjo yang pergi meninggalkan istrinya
Nyonya Yekti menghampiri kamar Mona bersama pelayan yang membawakan makanan untuknya,untungnya nyonya Yekti berhasil meminta kunci cadangan pada satpam untuk membuka kamar anaknya tersebut.
Nyonya Yekti berteriak histeris melihat kondisi Mona yang tergeletak di lantai tak berdaya,ia berteriak meminta tolong sampai akhirnya pak Agus datang membantu mereka dan segera membawa Mona ke rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit dokter segera membawanya masuk ke dalam IGD untuk pemeriksaan lebih lanjut,nyonya Yekti hanya terduduk lemah didampingi oleh pak Agus dan adik Mona.
Hampir tiga puluh menit Mona berada didalam ruang IGD kemudian dokter yang memeriksa keluar dan memberitahu kondisi Mona
"Bagaimana kondisi anak saya dok"
ucap nyonya Yekti cemas
"pasien mengalami overdosis karena terlalu banyak mengkonsumsi obat obatan,apakah ada riwayat penyakit tertentu sebelumnya sehingga pasien bisa mendapatkan obat-obatan yang mungkin jika dikonsumsi terlalu banyak dapat membahayakan nyawanya"
Nyonya Yekti kembali melemas mendengar anaknya yang tengah berusaha bunuh diri dengan cara menenggak sekaligus obat-obatan
"lalu bagaimana kondisi pasien sekarang dok?"
tanya Pak Agus yang ikut cemas
__ADS_1
"kami sudah melakukan pertolongan pertama pada pasien dan melakukannya sebaik mungkin,kita tunggu saja semoga pasien lekas sadar"
"Terima kasih dok,kalau begitu bolehkah kami menemuinya?"
"Boleh,tetapi biarkan pasien dipindahkan ke ruang perawatan terlebih dahulu"
"Baik dok"
"Nyonya anda tunggu disini biar saya mengurus administrasi terlebih dahulu"
"Ya pak Agus terima kasih"
Pak Agus berlalu pergi, sementara itu terlihat suster membawa Mona yang terbaring tak berdaya menuju ruang perawatan.
Andini membantu ibunya berdiri dan mengikuti suster yang membawa Mona.
...------------ Di kediaman Tuan Hardjo ------------...
Tuan Hardjo kembali dari kantor bersama dengan sopirnya,saat masuk rumah ia tidak menemukan istrinya dan tiba-tiba seorang pelayan berlari menghampirinya
"Tuan"
"Ada apa? Kemana istri saya? Kenapa rumah begitu sepi?"
"Kenapa? Apa yang terjadi dengan Mona?"
"Tadi waktu nyonya ke kamar non Mona untuk membawakan sarapan justru menemukan non Mona yang tergeletak di kamar dengan wajah yang membiru"
Tuan Hardjo langsung mengambil ponselnya dan menghubungi pak Agus,setelah mengetahui keberadaan anaknya yang dirawat ia segera menghampirinya.
Sesampai di rumah sakit Tuan Hardjo melihat istrinya yang menangis sambil memegang tangan Mona,tuan Hardjo masuk dan mendapatkan penolakan dari istrinya.
"Keluar kamu pak,kamu tidak perlu mengkhawatirkan Mona. Lebih baik kamu urus saja bisnis yang begitu kamu banggakan itu sehingga harus mengorbankan anakku"
Andini mencoba menenangkan ibunya sedangkan pak Agus membawa Tuan Hardjo keluar dari kamar tersebut
"Pak Agus apa yang sebenarnya terjadi?"
"Sepertinya non Mona mencoba untuk mengakhiri hidupnya tuan,ia menenggak obat-obatan dan membuatnya overdosis. Untung saja nyonya tepat waktu menemukannya sehingga dokter masih bisa menyelamatkan non Mona"
Tuan Hardjo hanya diam dan terduduk didepan ruangan anaknya,ia menatap dari luar Mona yang terbaring tak berdaya.
Meski ia merasa sedih namun tuan Hardjo masih mementingkan bisnisnya,ia pergi meninggalkan rumah sakit untuk bersiap-siap terbang ke Palembang sore itu juga.
Malam itu akhirnya Mona sadar namun ia hanya seorang diri di kamarnya,nyonya Yekti pulang untuk mengambil beberapa perlengkapan Mona bersama pak Agus, sedangkan Andini pergi ke kantin untuk mencari makanan ringan.
__ADS_1
Mona terbangun dan mengambil ponsel adiknya yang berada di meja sebelah tempat tidurnya,ia menelfon nomer Arief namun tak ada jawaban. Hingga suatu ketika Arief mengangkatnya
"Hallo siapa ini?"
"Arief ini aku"
"Siapa?"
"Ini aku Mona Rif"
"Ada apalagi? belum puas kamu dan keluarga kamu menghinaku?"
"Rif tolong dengarkan dulu penjelasan ku"
"Sudahlah Mon,tidak ada lagi yang perlu kamu jelasin. Semua udah jelas,kamu selama ini menutupi asal usul mu agar dapat membantu kemudian menghina keluargaku"
"Rif tidak seperti itu aku ingin kita bertemu dan aku mau menjelaskan semuanya"
"Cukup Mon,jangan menghubungiku lagi"
Arief menutup telfon tersebut,Mona menangis dan mencoba menelfon lagi tetapi nomer Arief tidak aktif.
Mona mencabut selang infusnya dan pergi menemui Arief namun saat sampai di lobby dia menabrak pak Agus bersama ibunya.
"Non Mona,kenapa non keluar kamar?"
"Minggir,aku harus bertemu dengan Arief"
"Non tunggu,jangan nekat non"
teriak pak Agus yang memegang erat pergelangan tangan Mona.
Pak Agus meminta bantuan kepada para perawat yang ada untuk membawa Mona kembali ke kamarnya,karena terus memberontak akhirnya dokter terpaksa memberikan suntikan penenang kepadanya.
Setelah Mona tenang para perawat membawanya kembali ke kamar,nyonya Yekti kembali terpukul melihat putrinya yang begitu tersiksa akibat keegoisan ayahnya.
"Nyonya sebaiknya pulang saja istirahat dirumah,biar saya yang menjaga non Mona disini"
ucap pak Agus
"Tidak,aku ingin disini menjaganya"
"Ma,mama lebih baik pulang saja ya nanti kalau mama sakit siapa yang mau merawat kak Mona?"
mendengar penuturan Andini akhirnya nyonya Yekti mau pulang,pak Agus meminta sopir untuk menjemputnya dan membawa mereka berdua pulang ke rumah.
__ADS_1