
Perlawanan itu justru membuat Ry geram terhadap Mona,tak tanggung-tanggung Ry memaksa Mona untuk memenuhi hasratnya yang telah memuncak itu. Mona mencoba memberontak dan memohon agar Ry menghentikan semua itu,tetapi nasi telah menjadi bubur. Pertahanan Mona hancur bahkan Ry merenggutnya dengan cara kejam seperti itu,air mata mengucur deras di mata Mona melihat kejadian yang harus merenggut keperawanannya itu. Setelah puas dengan Mona,Ry mengecup lembut kening wanita di hadapannya itu sembari mengucapkan kalimat yang membuat Mona semakin hancur
"Terima kasih sayang,malam ini begitu indah. Kenikmatan yang tiada duanya membuatku hampir mabuk kepayang"
ucap Ry yang membuat air mata Mona semakin deras
Mona mendorong tubuh Ry dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang tanpa sehelai benangpun,Ry memeluk tubuh mungil Mona sembari tidur di sampingnya.Mona hanya terdiam sambil terus menangis dan lama kelamaan ia terlelap sendiri dalam kesedihannya itu.
Keesokan harinya Ry bangun terlebih dahulu dan membersihkan diri,setelah selesai ia segera turun ke bawah dan melihat kondisi. Pesta berjalan dengan baik dan lancar,setelah itu Ry meminta pada Sita untuk menyiapkan makanan Mona dan mengantarkannya di kamar. Ry pergi ke ruang kerjanya dan membereskan beberapa dokumen yang perlu di tanda tanganinya.
Di dalam kamar Mona terbangun dengan kondisi yang masih tanpa busana,ia merasa jijik pada dirinya sendiri. Mengingat kejadian semalam ia merasa tidak ada gunanya untuk hidup kembali,harga dirinya sudah di renggut secara tragis bahkan ia tak di beri kesempatan untuk bebas. Ia hanya bisa menangis dan menangis menyesali semua yang telah terjadi,di pungutnya pakaian di lantai dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sesampai disana ia melihat ke arah cermin dan betapa jijiknya Mona terhadap tubuhnya yang telah ternoda itu,pikirannya sudah campur aduk antara dendam dan juga kesedihan.
Di lihatnya sebuah pisau cukur di rak penyimpanan barang,Mona pun mengambilnya dan berniat untuk mengakhiri hidupnya. Ia berfikir tidak ada gunanya lagi dia hidup,dengan kondisi sekarang pasti semua orang akan memperlakukan dia dengan rendah bahkan jika ia mati pasti Wira tidak mau padanya dengan kondisi seperti itu.
Mona mengambil handuk kimono dan pisau cukur itu,setelah merapikan handuknya ia menghadap ke cermin dan sekali lagi melihat dirinya yang tengah berantakan itu. Dia sayat pergelangan tangannya sambil menahan sakit,tetapi sakit itu tak seberapa di bandingkan hati dan hidupnya yang tengah berantakan. Darah mengucur deras dari tangan Mona,ia berjalan menghampiri bath up yang telah berisikan air. Tak hanya mencoba bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya,Mona juga berencana menenggelamkan diri di bath up agar lebih cepat.
Tak butuh waktu lama,air dalam bath up berubah menjadi warna darah, pelan-pelan Mona mulai kehilangan kesadarannya. Di sisi lain Sita telah bersiap mengantarkan sarapan di kamar Ry,setelah melewati izin dari penjaga ia masuk ke dalam kamar dan meletakkan nampan berisi makanan itu di meja depan tv. Ia berniat membangunkan Mona yang masih tertidur tetapi tak di dapati siapapun di dalam kamar hingga Sita berjalan ke arah kamar mandi dan terkejut setelah membuka pintu. Ia berteriak histeris melihat Mona yang tengah berada di dalam bath up penuh darah dan tak sadarkan diri.
Teriakan Sita membuat penjaga di luar masuk dan menemuinya
"Ada apa?"
"No no nona Mona"
"Ada apa dengan nona Mona?"
"Nona Mona dia bunuh diri di bath up"
sontak perkataan Sita membuat kedua penjaga itu terkejut,melihat Mona yang sudah tak sadarkan diri di dalam bath up. Salah satu penjaga menggendongnya keluar dari bath up dan mencoba memberikan pertolongan pertama sedangkan Sita di minta untuk mencari handuk kering dan membungkus luka Mona agar berhenti mengeluarkan darah. Sementara penjaga satunya di minta untuk memberitahukan ini pada tuan besar,penjaga bernama Rehan itu menemui Ry di ruang kerjanya dengan panik
"Tu tuan"
"Ada apa?"
"Nona Mona tuan"
"Ada apa dengan Mona?"
"Nona Mona bunuh diri di kamar mandi"
"Apa....?"
__ADS_1
Ry langsung berlari menuju kamarnya dan melihat seorang penjaga berusaha mengeluarkan air dari tubuh Mona,Sita yang telah selesai menggantikan Mona dengan handuk kering berusaha menjauh dari tempat kejadian.
"Kalian cepat siapkan mobil,kita bawa dia ke rumah sakit"
"Baik tuan"
Ry menggendong tubuh mungil yang tak berdaya itu sambil terus menekan erat pergelangan tangan Mona yang terus mengeluarkan darah,ia tak menyangka Mona akan senekat itu setelah apa yang terjadi.
Sesampai di rumah sakit,Ry langsung menggendong Mona keluar menuju UGD kemudian seorang perawat menghampirinya dengan kasur dorong dan membawanya ke ruang UGD. Ry di minta untuk menunggu diluar sementara dokter memeriksa keadaan pasien,hampir satu jam setelah Mona tiba dokter kemudian keluar dari ruangan.
"Bagaimana kondisinya dokter?"
tanya Ry panik
"Pasien telah kehilangan banyak darah dan ada banyak air di dalam paru-parunya,kami harus melakukan torakosentosis untuk mengeluarkan airnya agar pasien bisa bernafas dengan baik"
"Lakukan,lakukan yang terbaik untuknya dok. Berapapun biayanya akan saya bayar asal dia kembali seperti sedia kala"
"Kami akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkannya,kalau begitu saya permisi"
Dokter kembali ke dalam ruangan UGD untuk melakukan tindakan selanjutnya,setelah hampir dua jam akhirnya Mona berhasil di selamatkan. Ia di bawa keluar menuju ruang perawatan bersama perawat dan dokter,Ry yang melihat Mona yang terbaring tak berdaya semakin lemas.
"Mon,Mona"
"Anda keluarga pasien?"
"Iya sus,saya tunangannya"
"Silahkan ikut saya ke ruang dokter"
"Baik"
Saat hendak kesana tiba-tiba Sony datang menghampiri Ry
"Tuan"
"Sony"
"Bagaimana kondisinya?"
"Dokter sudah melakukan semua yang terbaik dan semoga Mona lekas membaik"
"Saya berharap juga seperti itu tuan"
__ADS_1
"Kalau begitu saya ke ruang dokter dulu son,ku tolong urus administrasinya"
"Baik tuan"
Ry meninggalkan Sony yang masih menatapnya kemudian pergi ke ruangan dokter,sesampai di sana dokter menanyakan sesuatu yang membuat Ry sedikit waspada
"Apakah ini percobaan pembunuhan,atau kecelakaan semata?"
ucap Dokter itu
Ry terdiam sejenak karena jika ia menjawab percobaan bunuh diri ia akan mendapatkan masalah
"Apa maksud dokter? dia adalah tunangan saya mana mungkin saya membunuhnya"
"Saya tidak mengatakan bahwa pasien akan di bunuh oleh anda,tetapi dengan pernyataan anda barusan akan menjadi bukti kuat bahwa memang terjadi percobaan pembunuhan disini"
"Saya benar-benar tidak membunuhnya,bahkan saya menemukan tunangan saya dengan keadaan seperti itu di kamar mandi"
"Baiklah,sepetinya hal ini harus segera di laporkan ke polisi untuk mendapatkan bukti yang spesifik"
Ry semakin bingung bagaimana menghadapi dokter sok tahu ini,ia menggunakan cara pertama seperti biasa yaitu menawarkan sejumlah uang
"Baiklah,kalau memang itu mau anda. Tetapi sebelumnya saya ingin memberikan anda hadiah karena telah membantu saya"
Ry menelfon Sony dan memintanya datang ke ruangan dokter,sesampai disana Sony telah paham maksud Ry dan meletakkan selembar kertas di hadapan dokter itu.
"Ini mungkin tidak seberapa tapi bisalah untuk menghentikan niat anda ikut campur dalam urusan pribadi saya"
Dokter itu melihat kertas cek yang bertuliskan seratus juta rupiah sebagai uang tutup mulut yang Ry berikan padanya.
"Jadi bagaimana?"
"Maksud anda,anda menyogok saya?"
"Hmm apa boleh buat"
"Baiklah,kalau begitu saya anggap masalah ini selesai dan saya hanya seorang dokter yang mengobati pasien"
"Harusnya memang seperti itu sedari tadi"
ucap Sony
"Saya ingin kondisi tunangan saya tidak menjadi konsumsi publik,bahkan saya bahwa tunangan saya pernah dirawat dan mendapatkan perawatan medis di sini harus hilang atau saya tidak segan-segan berkunjung ke rumah anda"
__ADS_1
ucap Ry yang berdiri meninggalkan ruangan dokter
Kini satu masalah mengenai Mona yang mencoba bunuh diri telah beres,sekarang Ry tinggal menunggu Mona pulih dan segera membawanya kembali. Bukan hanya licik tetapi Ry selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia mau.