
Tepat pukul 15.00 seluruh dagangan Pak Sam telah habis terjual,mereka akhirnya pulang lebih awal dan segera bersiap menghadiri acara tasyakuran keluarga Fikri. Sesampainya dirumah Mona langsung pergi ke kamarnya dan
merebahkan diri.
"Hufttt ternyata begini pekerjaan bapak sama ibu selama pindah ke Kalimantan,senang sih bisa punya usaha seramai dan seterkenal itu namun tentu saja membuat mereka menguras tenaga apalagi usia mereka yang tak lagi muda. Masa iya aku yang masih muda menyerah begitu saja,come on Mona ini baru permulaan dari pada kamu harus hidup enak di kota namun hati serta perasaanmu tertekan"
celoteh Mona dalam hati
Tak tersadar ia terlelap dalam keadaan belum mandi,Bu Diah dan Pak Sam yang sudah selesai bersiap menghampirinya. Melihat putri angkat mereka yang pulas tertidur seperti kelelahan membuat mereka tidak tega untuk membangunkannya
"Kalau begitu biarkan dia tidur saja Bu,kasian jika harus di bangunkan"
"Tapi bagaimana kalau nanti Mona mencari kita"
"Kan tadi kita sudah beri tahu kalau akan ke rumah Fikri"
"Ya sudah pak,kalau begitu kita berangkat"
Bu Diah meninggalkan sepiring nasi dan air minum di meja samping tempat tidur Mona dengan sepucuk surat berisikan pesan bahwa mereka menghadiri tasyakuran di rumah Fikri.
Pukul 19.00 Mona terbangun dan mendapati nampan berisi makanan di sampingnya,ia membaca isi pesan yang di tinggalkan Bu Diah lalu tersenyum. Di ambilnya handuk dan segera pergi mandi,setelah selesai sembari menyantap makanannya Mona iseng menyalakan ponsel yang sudah dua hari ini ia matikan.
Terkejut melihat pesan yang terus menerus masuk dari Ry ataupun Leo,selang beberapa menit terdapat panggilan dari Andini adik perempuannya,tanpa pikir panjang Mona langsung menjawabnya
"Hallo Din?"
"Mbak,kamu dimana sih? merepotkan tahu gak?rencana apalagi sih yang kamu buat? capek tahu gak keluarga kita ngurusin kamu"
"Wait wait,ada apa sih Din? kamu telfon mbak dan tiba-tiba marah-marah kayak gini"
__ADS_1
"Udahlah mbak,udah cukup kamu merepotkan kami semua sekarang pakai acara drama kabur-kaburan lagi. Harusnya loe tuh bersyukur masih ada laki-laki yang mau sama kamu,dulu Ry loe tinggalin saat udah tunangan,sekarang Leo yang kamu tinggalin di atas pelaminan. Loe tuh tahu diri kek mbak gausah sok nolak-nolak laki-laki kek gitu"
"Maksud kamu apasih Din, tiba-tiba ngatain aku begini? kamu udah gak punya sopan santun ngomong sama mbak kayak gini?"
"Buat apa aku harus sopan sama orang yang punya etika saja tidak"
"Cukup ya Din,kali ini apalagi yang mbak perbuat sampai kamu semarah ini?"
"Sekarang katakan mbak dimana?"
"Buat apa?"
"Katakan saja mbak dimana?"
"Itu bukan urusan kamu"
"Emang ya loe tuh selain gak tahu diri juga gak punya otak"
"Mbak yang harusnya jaga sikap,kami tuh udah banyak masalah mbak,sekarang di tambah lagi calon suami kamu itu menekan keluarga papa Surya untuk mengaku bahwa kami menyembunyikan mbak"
"Apa? maksud kamu Leo...."
"Iya, laki-laki songong itu datang ke perusahaan papa Surya dan mengancam akan menganjurkan usaha kami jika kita tidak memberitahukan dimana mbak berada"
"Astaga,kenapa sih dia nekat banget?"
"Ya mana aku tahu,udah deh pokoknya sekarang mbak jawab aja kamu dimana dan semuanya selesai"
"Aku benar-benar gak bisa ngasih tahu aku ada dimana"
__ADS_1
"Oke,berarti benar keputusan mama buat gak ngakuin lagi mbak sebagai anaknya,nyusahin tau gak punya anak kayak loe"
"Emang dari dulu kan ibu udah gak nganggap aku anaknya lagi"
"Terserah loe deh Mbak,semoga loe bahagia aja deh dimana loe berada. Tapi ingat ya mbak hidup kamu gak tenang"
Penggilan itu berakhir dengan perselisihan antara kakak dan adik tersebut,Mona gak habis fikir kalau adik kandungnya sendiri tega mengatainya seperti itu.
Beberapa saat kemudian Leo menelfonnya,kebetulan sekali Mona juga ingin memberinya teguran untuk tidak mengganggu keluarganya lagi.
"Hallo"
"Hallo Mona,astaga kamu kemana aja sih?"
"Gausah sok khawatir deh sama aku"
"Sayang,kamu kenapa sih? kok jadi galak banget kayak gini. Sekarang coba kamu bilang sama aku,kamu ada dimana sekarang?"
"bukan urusan kamu lagi pula aku mau kemana itu hahaha aku kamu bukan siapa-siapa aku dan kamu nggak berhak melarang aku"
"oh jadi begitu oke aku ikuti permainan kamu tapi jangan menyesal kalau nanti kamu dengar kabar laki-laki yang kamu cintai sudah pergi untuk selamanya"
"apa maksud kamu kamu bunuh siapa sekarang siapa lagi yang mau kamu jadikan bahan Sandra untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan itu"
"kira-kira cukup nggak sih bunuh raya untuk buat kamu keluar dari persembunyian atau butuh satu korban lagi dari keluarga kamu biar kamu mau kembali ke aku?"
"kamu tuh gila ya Leo, kamu tuh psikopat tau nggak sih semudah itu kamu korban nyawa manusia untuk dapetin apa yang kamu mau gitu enggak semuanya apa yang pengen kamu punya harus kamu dapetin"
"come on Mona sayang aku ini Leonardo, kamu mau kayak apa aja kamu bakalan kalah. Yang jelas semuanya sekarang sudah ada ditangan aku, tinggal ikutin kamu aja sih maunya kayak gimana. Kalau kamu masih suka lama-lama buat sembunyi ya aku harus korbanin satu persatu orang yang kamu cintai"
__ADS_1
"stop ya Leo,hentikan untuk terus mengancam aku supaya dapetin apa yang kamu mau. Aku udah nggak peduli dan lagi pula aku udah enggak ada hubungan apa-apa lagi sama Ry, kamu mau bunuh dia silahkan karena dia pantas dibunuh atas kejahatannya merenggut kekasihku dulu dan soal keluargaku mereka dan aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi kalau gitu pembicaraan kita aku akhiri sekarang juga, karena menurutku sudah tidak ada lagi gunanya"
Mona menutup ponselnya dengan jantung yang berdetak cepat, kali ini semuanya sudah jelas dia memutuskan untuk melupakan segala sesuatu yang membuat beban bagi dirinya dulu dan memulai melangkah hidup baru di Kalimantan bersama orang tua Wira.