Dendam Sang Mantan

Dendam Sang Mantan
Pertemuan Singkat


__ADS_3

Tak berapa lama Fikri keluar bersama sekretarisnya,ia melihat Mona yang mengipas wajahnya dengan tangan dan langsung menghampirinya.


"Mona,kok kama di luar sih? kenapa gak masuk aja?"


tanya Fikri yang melihat Mona sudah kepanasan


"Menurut kamu aku gak masuk tadi? hanya karena aku gak berpakaian layaknya pekerja kantoran,aku di usir seperti pengemis"


"Siapa yang berani ngusir kamu"


"Ah udahlah,pagi-pagi udah bikin mood ku hancur aja"


"Enggak,ini gak bisa di biarkan gitu aja. Siapa yang berani mengusir kamu calon istri aku?"


"Udah ya Fik,aku itu udah di bikin malu sama karyawan kamu. Sekarang kamu dateng malah ngajak aku berdebat"


"Ya maaf Mon,jadi karyawan aku ngusir kamu?"


"Lalu siapa lagi? aku masuk dan bertanya dimana kamu justru aku di bilang halu dan ngehayal kalau aku ini kenal kamu"


"Fely"


panggil Fikri kepada sekretarisnya


"Iya tuan"

__ADS_1


"Cari tahu siapa yang berani mengusir calon istri saya tadi"


"Baik tuan"


"Mau kamu apain?"


"Ya aku kasih pelajaran lah,enak aja ngusir calon istri aku yang jelas-jelas adalah Nyonya perusahaan ini"


"Hahh serah kamu deh,aku haus"


"Ya sudah kita cari sarapan ya,kamu kan belum makan dari tadi"


Mona dan Fikri akhirnya pergi dari sana,dengan muka yang masih cemberut Mona hanya menatap kosong keluar jendela. Melihat perempuan di sebelahnya sedang bete,Fikri mencoba mencairkan suasana dengan bernyanyi menirukan suara musik di mobilnya. Sontak raut wajah Mona berubah dan menatap tajam ke arah Fikri.


"Kenapa Mon? pasti suara aku bagus ya?"


"Loh,kenapa? katanya bagus?"


"Iya,karena lebih bagus lagi kamu itu diem"


"Hadeh,niat aku mau cairin suasana. Malah respon kamu kayak gini,gimana sih Mon supaya kamu itu bisa care sama aku"


"Apa aku harus kayak Wira,biar kamu bisa mencintai aku"


"Apa-apaan sih kamu Fik,gak usah bawa-bawa Wira. Dia itu sudah tenang disana,lagipula sampai kapanpun kamu itu gak akan bisa seperti dia"

__ADS_1


"Aku tahu,setiap orang punya cara sendiri-sendiri untuk ngebahagiain pasangannya. Tapi selama ini,sepertinya semua yang aku lakukan ke kamu tidak pernah bisa membuat kamu bahagia."


"Aku gak minta kamu buat berusaha nyenengin aku,aku gak minta itu Fik"


Fikripun menepikan mobilnya di tempat yang sepi dan berbicara serius kali ini


"Apa segitu gak sukanya kamu sama aku Mon? sampai-sampai semua yang aku lakukan itu salah,apa perjodohan ini memang sama sekali gak kamu inginkan? kalau iya jujur saja sekarang sebelum semuanya terlanjur. Aku gak mau kalau karena perjodohan ini,kamu jadi terpaksa nikah sama aku dan seumur hidupmu kamu gak akan pernah bahagia"


"Fik,aku sama sekali gak ngomong kalau aku melakukan semua ini karena terpaksa"


"Lalu? lalu apa ini semua Mon? aku berharap kamu bisa mencintai aku suatu saat nanti seperti aku mencintai kamu. Meski aku tahu di hati kamu akan selalu ada Wira,aku gak nyalahin kamu kok Mon kalau memang kamu tidak bisa mencintai aku sebesar kamu mencintai Wira. Karena aku sadar,menjadi pemeran pengganti itu tidak selamanya bisa menerima apa yang di miliki oleh pemeran yang hilang itu"


Mona pun terdiam mendengar ucapan Fikri barusan,dia hanya dapat menundukkan kepala sampai akhirnya ia melihat Fikri keluar dari mobil. Dari kaca nampak sekali Fikri seperti mengangis dan menyembunyikan itu semua dari Mona,tetapi sebagai wanita yang pernah merasa di kecewakan ia paham betul seperti apa perasaan Fikri saat ini.


Mona ikut turun dari mobil dan menghampiri Fikri,ia menepuk pundak Fikri seraya meminta maaf


"Maaf Fik,aku tahu rasanya bagaimana mencintai seseorang yang gak tahu hatinya untuk siapa. Aku tahu perasaan kamu saat ini pasti sangat sulit,ingin melepaskan tapi kamu mencintainya. Ingin terus berjuang tapi kamu tahu pasti itu akan sia-sia"


"Jika nanti pada akhirnya akan seperti itu,aku ikhlas. Yang terpenting aku sudah berjuang meski kenyataannya perjuanganku tidak ada hasilnya. Sekarang terserah kamu Mon,aku pasrahkan semua keputusan di kamu,jika memang kamu mau pernikahan ini lanjut. Aku tunggu kamu besok di Alamanda Cafe jam 19.00,jika tidak kamu abaikan saja. Nanti biar aku ngomong ke orang tua aku untuk membatalkan pernikahan ini. Sekarang aku antarkan kamu pulang"


Ucap Fikri sembari menatap Mona penuh dengan perasaan lalu memintanya untuk kembali masuk ke dalam mobil.


Selama perjalanan pulang Mona dan Fikri memilih untuk diam,suasana di dalam mobil menjadi sangat hening. Kini semuanya sedang tidak baik-baik saja,perasaan Mona menjadi sangat tidak enak dan merasa bersalah telah berkata seperti tadi kepada Fikri.


Kini ia harus memikirkan dengan matang-matang pilihannya yang menentukan kehidupannya di masa depan,selangkah saja ia salah akan membuat impian keluarga angkatnya kecewa. Namun jika ia tetap memaksakan keputusn dan terus berfikiran seperti ini maka hidupnya tidak akan pernah bahagia.

__ADS_1


Sesampai di depan rumah Mona langsung turun,ia hanya mengucakan Terima Kasih sebagai tanda perpisahannya bersama Fikri. Sebaliknya Fikri hanya diam dan langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumah pamannya itu.


Sejak kejadian itu sedari pulang hingga malam tiba Mona hanya berdiam diri di kamarnya,ia merenungkan semua kata-kata Fikri sebelum akhirnya ia memutuskan pilihannya. Pakn Sam dan bu Diah yang baru saja pulang dari resto segera membersihkan diri dan istirahat,karena tidak ingin mengganggu Mona yang sedang ingin sendiri. Sudah berulang kali bu Diah menghampirinya dan menanyakan apakah ada masalah dengan dirinya dan Fikri,namun Mona hanya mengatakan semua baik-baik saja lalu bu Diah merasa bahwa Mona hanya butuh istirahat karena terlalu lelah mengurus pernikahannya.


__ADS_2