
Hari ini Mona dibawa keluar rumah untuk menjalani terapi penyesuaian diri terhadap lingkungan barunya.
Kondisi Psikis Mona kian membaik setelah kehadiran Dendra,beberapa kata sudah mau ia ucapkan meski Mona hanya mau berbicara kepada Dendra saja.
Bagi Mona,ayahnya adalah sosok yang membuat dirinya seperti seorang boneka yang hanya mengikuti kemauan tuannya.
Maka tak heran jika Mona memendam sebuah ambisi untuk melawan sang ayah agar mendapatkan kebebasan.
Selama perjalanan Mona hanya diam sambil menatap keluar jendela,Dendra yang berada disampingnya sedari tadi hanya memantau perkembangan interaksi Mona.
"Mon,kamu suka kita ke Vila?"
Mona hanya mengangguk
"Oh ya,nanti sampai disana kita piknik di bawah pohon seperti waktu kecil yuk. Kamu masih ingat kan?"
Setiap pertanyaan yan Dendra lontarkan hanya mendapatkan anggukan dari Mona sebagai balasannya,bahkan Dendra tak jarang menawarkan makanan namun tetap Mona tolak.
"Den,aku mau nasi warteg"
ucap Mona yang seketika membuat Dendra terkejut
"Apa Mon? Kamu mau nasi warteg?"
"Iya,aku lapar dan ingin makan nasi warteg"
"Non,sebaiknya kita cari restoran saja ya. Kan lebih bersih dan higenis lagian non masih rentan buat makan di tepi jalan"
ucap suster mencoba memberikan pendapat
"Pokoknya aku mau nasi warteg titik"
teriak Mona
"Okey,okey pak Agus kita cari warteg ya"
ucap Dendra mencoba menenangkan Mona
Akhirnya mereka sampai disebuah warteg sederhana pinggir jalan
"Tuan Dendra yakin mau makan di tempat seperti ini?"
tanya Pak Agus
"Memangnya kenapa pak?"
__ADS_1
"Ya nanti tuan Dendra tidak terbiasa makan di tempat seperti ini,jadi sakit perut deh"
"Astaga pak,makanan apapun itu semuanya berkah tidak ada satupun yang membawa penyakit"
"Ya sudah kalau begitu mari tuan"
Melihat Mona yang makan dengan begitu lahap membuat Dendra senang,ia belum pernah melihat Mona makan selahap itu sebelumnya.
"Kamu suka Mon?"
"Huum,aku suka"
jawab Mona dengan mulut penuh makanan
"Non Mona pernah memiliki restoran bertema masakan Jawa tuan,dan mungkin itu yang membuat non Mona begitu suka masakan seperti ini"
"Ya,aku juga sempat mendengarnya pak. Bahkan beberapa orang bilang restoran Mona tergolong ramai dan terkenal"
"Iya,bahkan non Mona begitu mencintai pekerjaan itu sampai akhirnya tuan Hardjo menghancurkan semuanya"
"Saya rasa sikap om Hardjo begitu berlebihan,ya memang Mona salah karena berbohong apalagi hingga mengesampingkan bisnis ayahnya demi mengurus resto miliknya. Tetapi tidak seharusnya ia sekaligus menghancurkan mimpi anaknya itu"
"Ya begitulah tuan,sedari kecil non Mona di didik begitu keras hingga ia tak memiliki waktu untuk sekedar bermain. Setelah lulus kuliah ia langsung mengurus perusahaan hingga tak di berikan waktu mengenal dunia luar"
"Mungkin Om Hardjo ingin yang terbaik untuk Mona tetapi caranya memang salah. Sudahlah pak kita tidak bisa berbuat apapun saat itu,tetapi jika Mona sudah seperti ini pasti om Hardjo orang yang paling pertama menyesalinya"
Suasana yang sejuk dan pemandangan yang begitu memanjakan mata,tak heran jika itu yang menjadi tempat pilihan terapi bagi Mona.
"Bagaimana Mon,kamu suka?"
"Suka banget,bahkan aku merasa lebih ringan berada di tempat ini"
"Wett kamu boleh merasa ringan tapi jangan terbang"
"Andaikan aku punya sayap Den,aku ingin sekali terbang mengelilingi angkasa"
"Kamu ajak aku gak?"
"Enggaklah kamu berat"
"Ya kalau begitu aku aja yang punya sayap,nanti kamu aku gendong ku ajak keliling dunia"
"Kalau keliling dunia bisa naik pesawat gak perlu nunggu punya sayap"
Mereka berdua tertawa bahagia di teras,suara tawa itu membuat pak Agus ikut bahagia. Bagaimanapun ia merasa sedih melihat Mona yang terpuruk terus menerus.
__ADS_1
"Mon kita masuk yuk"
ajak Dendra
"Iya non,kamar non Mona dan tuan Dendra sudah di siapkan oleh penjaga villa"
ucap Pak Agus
Dendra mengantarkan Mona ke kamarnya agar ia segera berisitirahat,Mona memandangi sekeliling kamar yang penuh nuansa biru. Ia berjalan ke arah jendela yang ada di kamar itu,dan tiba-tiba ia menangis.
Dendra segera menghampirinya
"Mon kamu kenapa?"
Mona memeluk Dendra erat dan menangis tersedu-sedu di pelukan laki-laki yang begitu menyayanginya.
"Kamu tenang ya Mon"
Dendra memberikan kode pada pak Agus yang sedari tadi berdiri di dekat pintu agar memanggil suster untuk memberikan obat pada Mona.
Suster segera datang dan memberikan beberapa obat pada Mona,setelah Mona meminumnya ia terlihat agak tenang.
Beberapa saat kemudian Mona terlelap di pelukan Dendra,dengan sangat hati-hati ia memindahkan Mona ke tempat tidur dan meninggalkannya.
"Sus tadi Mona kenapa?"
"Non Mona sedikit shock tuan,mungkin ia teringat sesuatu yang membuatnya begitu sedih sehingga memancing saraf ingatannya dan menimbulkan reaksi seperti menangis"
"Tapi itu tidak apa-apa kan sus?"
"Tidak apa-apa tuan,selama ada orang didekatnya yang membantu menenangkan maka ia akan cepat stabil"
"Kalau begitu besok aku akan coba mengajak Mona untuk berjalan-jalan keliling agar memori masa sulitnya memudar"
Malam itu Dendra begitu bahagia,seharian ini dia bisa berada didekat Mona. Sosok perempuan yang sangat ia cintai,meski sempat Mona menolaknya tetapi rasa sayang yang Dendra miliki tidak pernah luntur.
Dendra begitu siap siaga menemani Mona di masa pemulihan itu,hingga tak terasa sudah hampir satu bulan mereka berada disana.
Berangsur-angsur kondisi mental Mona mulai stabil,bahkan ia sudah menjadi Mona seperti sedia kala. Bahkan selama berada di Vila Dendra dan Mona menjadi sangat dekat dan akrab,tak jarang masyarakat sekitar mengira bahwa mereka berdua adalah pasangan suami istri.
Kedekatan mereka terdengar hingga ke telinga Hardjo dan Surya yang membuat dua keluarga tersebut menjadi sangat senang.
Bahkan tak terasa Mona mulai merasakan binih-binih cinta tumbuh pada hatinya,ia sudah merasa nyaman berada di dekat Dendra bahkan sebaliknya.
Seringkali mereka bermesraan di bawah pohon seperti pasangan yang sangat berbahagia,Dendra merasa bahwa pengorbanannya selama ini tidaklah sia-sia.
__ADS_1
Kini ia yakin bahwa Mona telah memiliki rasa yang sama seperti dirinya,bahkan ia berencana melamar Mona ketika pulang dari vila nanti.