Dendam Sang Mantan

Dendam Sang Mantan
Awal kebahagiaan Mona


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Mona keluar dari kamarnya dan mendapati mama Diah tengah bersiap untuk berangkat ke pasar,Mona menghampirinya bermaksud untuk menemani beliau


"Ibu mau kemana?"


"Nak Mona kamu sudah bangun?"


"Iya Bu"


"Ini ibu mau ke pasar,biasa belanja sayuran"


"Boleh Mona temani?"


"Tapi ibu jalan kaki lho,nanti nak Mona capek"


"Sudah biasa Bu,tunggu bentar ya Bu biar Mona ganti baju dulu"


"Iya ibu tunggu di depan ya"


Mona segera bergegas ke kamarnya dan berganti baju,selang beberapa menit kemudian ia turun menemui Bu Diah yang tengah berada di teras depan.


"Ayo Bu"


"Oh iya ayo nak Mona"


Bu Diah dan Mona berjalan kaki ke pasar,banyak para tetangga menyapa mereka dan menanyakan siapa wanita yang bersama Bu Diah tersebut. Apalagi Bu Diah dan Pak Sam tinggal di perumahan khusus anggota TNI jadi tak jarang banyak para ibu-ibu pagi begini sudah didepan rumah bersih-bersih. Belum lagi nanti ketika di depan melewati kompi para tentara,pasti Mona akan menjadi pusat perhatian para laki-laki di sana.


"Eh Bu Diah,tumben ke pasar sendiri. Pak Sam nya kemana?"


"Enggak kok jeng,ini ada temennya. Kebetulan suami saya belum bangun jadi saya ke pasar bareng calon menantu"


"Waduh ini menantu ibu?"


"Iya,cantik kan?"


"Cantik bukan main Bu, ngomong-ngomong memangnya Wira anak ibu sudah pulang kok bisa bilang ini menantu ibu?"


"Sudah jeng,baru saja kemarin. Eh pulang-pulang bawa calon mantu"


"Waduh gak sabar ya Bu, sebentar lagi bakal mantu"


"Iya jeng,kalau gitu kami permisi ke pasar dulu"


"Iya mari-mari"


Mona dan Bu Diah melanjutkan perjalanan menuju pasar,saat melewati pos penjagaan mereka melapor keluar. Banyak pasang mata memperhatikan Mona dan tak jarang yang menanyakannya pada Bu Diah.


"Siapa tuh bu? anak perempuan ibu ya?"


ucap salah satu anggota


"Iya, anak ibu"


"Boleh dong Bu kenalin ke saya"


"Sok atuh kalau berani ngomong ke Pak Sam"


"Wah Bu kalau itu saya kurang berani Bu"

__ADS_1


"Ya sudah,mangga atuh ibu duluan"


"Iya Bu hati-hati"


Selama di pasar Bu Diah merasa senang karena baru kali ini ia pergi ke pasar di temani oleh seorang wanita,itu adalah impian Bu Diah sejak lama. Selain ia tidak memiliki anak perempuan,segera mempunyai menantu adalah impiannya sedari dulu. Namun apa daya jika masa depan putra semata wayangnya jauh dari apa yang orang tuanya inginkan.


"Nak Mona kira-kira apa ya yang cocok untuk di padukan dengan sayur asem?"


"Banyak kok bu,biasanya Mona padukan dengan tempe,tahu,atau ikan asin. Apalagi jika masaknya pakai sambel terasi"


"Nak Mona suka juga dengan sayur asem?"


"Iya Bu"


"Wah cocok sekali dengan papa nya Wira,selain sayur asem dia juga suka sambal tumpang. Namun sayang ibu tidak bisa memasaknya"


"Kalau begitu biar Mona yang masak Bu"


"Kamu bisa?"


"Mona pernah memasaknya sih bu,tapi soal rasanya Mona belum yakin"


"Ya sudah kalau begitu nak Mona ajarkan ibu cara masaknya ya"


"Baik Bu"


"Kalau begitu kita belanja bahannya sekarang"


"Bapak menghindari kolesterol tidak bu?"


"Tidak,selama ini papa nya Wira itu gak begitu suka dengan yang namanya daging"


"Oh ya kalau memang begitu ya tidak apa-apa kan nanti ada Wira juga pasti dia suka"


"Baik Bu"


"Ya sudah mari kita beli bahan-bahannya"


Bu Diah dan Mona menghabiskan waktu hampir satu jam untuk sekedar berbelanja,kali ini Bu Diah membeli banyak sekali makanan dan sayuran. Berkat hadirnya Mona Bu Diah merasa dirinya tidak sendirian lagi,selama kepergian Wira Pak Sam tidak pernah mau mengambil tugas luar kota dan meninggalkan istrinya sendirian. Ia memilih tinggal di asrama dan hidup sederhana sebagai pasukan biasa,padahal pangkat pak Sam sudah tergolong tinggi sebagai seorang Letnan.


Setelah lelah berbelanja Bu Diah dan Mona segera pulang menaiki bentor,mereka berhenti di pos penjagaan dan jalan kaki hingga ke rumah. Meski rumah asrama tergolong sederhana pasangan suami istri tersebut lebih senang tinggal di sana dari pada rumah dinas yang mewah. Bagi Bu Diah dan Pak Sam dimanapun mereka tinggal asalkan hidup rukun akan lebih bahagia dari pada kehidupan begitu mewah namun terasa hampa.


Setelah sampai di rumah,mereka langsung mengeksekusi bahan-bahan masakan. Pak Sam yang tengah berseragam rapi mengejutkan mereka


"Om Sam mau kemana?"


tanya Mona


"Mau ke acara bulanan rutin kompi Mon"


"Astaga pa,mama lupa kalau hari ini Senin"


"Mama gimana sih,ini sudah hampir jam delapan loh"


"Iya pa,mama mandi dulu kalau gitu. Mona kamu tolong bereskan ini semua ya"


"Iya Bu"

__ADS_1


Bu Diah pergi meninggalkan suaminya dan Mona di dapur,ia kerepotan karena lupa hari ini adalah jadwal rutin menghadiri acara bulanan para anggota TNI.


"Om mau kopi?"


tanya Mona melihat pak Sam berdiri di belakangnya


"Boleh,saya tunggu di teras ya"


"Baik Om"


Mona membawakan kopi hitam dan beberapa makanan ringan yang ia beli bersama Bu Diah di pasar tadi.


"Ini om kopinya"


"Hmm terima kasih,oh ya Mona bisa kamu duduk disini sebentar?"


"Iya om"


Mona duduk di kursi sebelah pak Sam,jantungnya berdegup kencang karena tampang pak Sam semakin garang ketika memakai seragamnya.


"Sebenarnya om mau tanya sama kamu"


"Tanya soal apa ya om?"


"Kamu sudah yakin sama Wira anak om?"


"Maksud om yakin bagaimana?"


"Ya kemarin Wira minta izin sama om dan Tante untuk memberikan restu pada hubungan kalian,dan setelah kami fikir-fikir ada baiknya juga jika kalian segera menikah. Apalagi sekarang kamu tinggal bersama kita,dari pada menimbulkan fitnah bukankah pernikahan adalah jalan terbaik?"


"Emb kalau Mona sendiri yakin Wira adalah laki-laki yang baik dan sangat tulus,tetapi Mona sendiri belum yakin apakah diri saya ini lantas untuk mendampinginya"


"Kamu jangan berfikir apakah dirimu pantas,justru yang om khawatirkan apakah anak om pantas untuk bersanding dengan kamu. Kamu tahu sendiri kan masa depan Wira tidak ada,pekerjaan juga tidak ada. Om takutnya jika kamu dan dia menikah hidup kalian akan dipenuhi dengan masalah"


"Om, pernikahan itu bukan soal apa pekerjaan pasanganmu,apa latar belakangnya,atau bahkan bibit bebet bobotnya. Yang terpenting itu ada kemauan dimana keduanya mau saling membangun, tolong menolong,setia,dan yang terpenting saling mengerti dan melengkapi. Materi akan ada seiring berjalannya waktu,meski Wira sendiri sekarang tidak memiliki masa depan tetapi saya yakin kedepannya dia bisa menjadi seseorang yang mengubah segalanya"


Pak Sam terdiam mendengar ucapan Mona,baru kali ini ia menemui wanita secerdas pemikiran Mona. Wanita cantik yang mampu mengubah gagasannya bahwa seorang wanita yang cantik akan menghabiskan banyak harta untuk mendapatkannya.


"Om kenapa diam,apa ada kata-kata saya yang salah?"


"Tidak,tidak sama sekali. Om salut sama kamu,dulu orang mati-matian mendapatkan wanita cantik maka ia perlu kerja kerasa dan mengangkat derajatnya. Tetapi kamu seorang wanita cantik,cerdas justru mendapatkan laki-laki yang tidak ada apa-apanya"


"Om,percayalah apa yang sekarang Wira tidak dapat lakukan. Suatu hari pasti akan ia taklukkan"


"Makasih Mona sudah membuat anak om berubah bahkan mau pulang, sekarang om dan Tante tidak ragu lagi jika kamu menjadi menantu di keluarga ini"


Saat mereka selesai mengobrol Bu Diah keluar dan menyapa mereka.


"Papa,mama cariin dari tadi gak ada ternyata didepan sama Mona"


"Iya ma,ini Mona buatin kopi hitam"


"Ya sudah kalau begitu ayo kita berangkat. Mona ibu sama bapak pergi dulu ya,kamu di rumah sendiri tidak apa-apa kan? nanti kalau jam sembilan Wira belum bangun,kamu siram aja pakai air"


"Iya,kamu gak usah sungkan-sungkan sama dia. Kamu kan calon istrinya,kamu harus tegas menghadapi dia"


"Iya om, Tante"

__ADS_1


"Kalau begitu kita pergi dulu. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


__ADS_2