Dendam Sang Mantan

Dendam Sang Mantan
Kebohongan demi kebaikan


__ADS_3

Hari ini Jeny ada acara kunjungan ke rumah sakit milik keluarganya untuk mengisi acara santunan kepada para anak yatim dan fakir miskin di beberapa panti asuhan. Setelah acara selesai dan akan pulang,Jeny bertemu dengan Ilyas manager yang mengurus rumah sakit itu.


"Nyonya Jenny"


"Hey pak Ilyas,apa kabar? lama loh kita gak ketemu"


"Kabar saya baik nyonya,kabar anda dan keluarga saya harap juga baik"


"Oh tentu,saya sekeluarga sehat kok pak"


"Oh ya nyonya Jeny,kemarin tuan Fikri kemari"


"Fikri? kemari? buat apa?"


"Emb katanya beliau menemani istrinya konsultasi ke psikiater"


"Psikater? menantu saya baik-baik saja kok"


"Kalau untuk itu saya kurang tahu nyonya,hanya saja tuan Fikri mengantakan itu pada saya"


"Kalau begitu bisa saya minta tolong cek nama menantu saya di daftar pasien psikiater"


"Bisa nyonya,mari keruangan saya"


Jeny akhirnya pergi ke ruangan ilyas,tak butuh waktu lama ia langsung mengetahui bahwa adanya nama Mona di daftar pasien psikater.


"Ini atas nama Artyca Monadinata dengan pasien prioritas dalam perawatan Psikiater dokter Winda"


"Makasih pak Ilyas atas bantuan dan informasinya,kalau begitu saya permisi"


"Baik nyonya"


Jeny merasa curiga,kenapa nama Mona bisa ada di dalam daftar pasien psikater,setelah ia tiba di depan ruangan dokter Winda. Jeny tak banyak berfikir dan langsung menemuinya,dokter Winda yang sedang menulis resep untuk pasiennya terkejut dengan kehadiran pemilik rumah sakit itu.


"Nyonya Jeny?"


"Kamu sibuk?"


"Oh tidak nyonya,hanya setelah pasien ini saya tinggal menuliskan resep saja"


"Okey saya tunggu"


Setelah mengunggu kurang lebih lima menit akhirnya merekapun mempunyai waktu untuk mengobrol


"Silahkan duduk nyonya,saya sangat senang anda bisa ada di ruangan saya"


"Saya kesini bukan untuk berkonsultasi,saya hanya ingin tahu kenapa nama menantu saya bisa ada dalam daftar pasien kamu?"


"Oh,untuk nona Mona maksudnya. Memanf beliau adalah pasien saya"


"Sejak?"


"Baru kemarin nyonya"


"Kemarin? jadi dia kemarin kesini?"


"benar nyonya"


"Dengan siapa?"


"Tuan Fikri nyonya"


Jeny sejenak terdiam dan memejamkan matanya,ia tidak habis fikir anak dan menantunya tega membohongi dia seperti ini


"Untuk apa mereka kemari?"


"Kalau untuk itu mohon maaf saya tidak bisa memberitahunya karena itu adalah privasi pasien"


"Tapi kamu tahu kan siapa saya?"


"Iya nyonya,tapi itu akan melanggar kode etik kedokteran"


"Saya janji,hanya antara kita berdua yang tahu"


"Baiklah nyonya jika anda memaksa"


Akhirnya dokter Winda menceritakan semua yang Mona alami,hal itu membuat Jeny merasa sakit karena hal seburuk itu telah menimpa menantunya di masa lalu. Namun ia juga merasa marah kenapa harus dengan membohongi dirinya seperti ini. Akhirnya Jeny memutuskan untuk pulang dengan perasaan campur aduk,sesampainya dirumah Mona yang baru saja memotong buah menyapa Jeny yang melaluinya.


"Mama udah pulang,mama mau buah?"


"Enggak"


jawab Jeny ketus


"Atau mau Mona buatkan jus?"


"Kamu bisa diam gak"

__ADS_1


bentak Jeny pada menantunya itu


Sontak Mona terkejut karena ini pertama kalinya Jeny membentaknya


Mona hanya terdiam melihat Jeny yang pergi ke kamarnya,sementara ia seperti shock atas kejadian barusan. Moodnya untuk makan buah di taman jadi hilang,asisten rumah tangga yang melihat Mona mengembalikan buah ke dapur merasa bingung


"Loh non,kok di kembalikan lagi?gak jadi di makan?"


"Enggak mbak,aku mau istirahat saja"


"Ya sudah saya bikinkan jus ya non,saya antarkan ke kamar"


"Makasih mbak"


Saat Mona masuk ke kamar,ia terkejut Jeny ada di sana sembari memegang botol obat penenanangnya. Dengan mulut bergetar Mona mencoba menjelaskan kepada mama mertuanya itu


"Ma,mama ngapain di kamar Mona?"


"Ini apa?"


"Itu obat Mona ma"


"Obat apa?"


"Hanya vitamin biasa kok ma"


"Mama tanya sama kamu,ini obat apa?"


"Vitamin ma"


"Kamu mau bohong sama mama? kamu sudah berani bohongin mama?"


Tiba-tiba keringat dinginmemenuhi dahi,dan juga leher Mona. Ia mengalami panik attack lagi,dan hanya obat itu yang bisa menenangkannya. Nafasnya perlahan begitu berat,namun Jeny masih saja terus menatap menantunya itu dengan tatapan rasa marah. Asisten rumah tangga yang mengantarkan jus masuk dan melihat kejadian itu


"Ma,Mona bisa jelaskan semuanya"


"Gak perlu,mama kecewa sama kamu"


"Ma,Mona gak maksud buat mama kecewa. Mona sungguh minta maaf Ma"


ucap Mona dengan nafas yang mulai berat


Asisten rumah tangga itupun tidak berani meneruskan langkahnya melihat situasi yang sangat tidak memungkinkan,akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke dapur.


Saat akan pergi ke arah dapur ia bertemu dengan Fikri dan tuan Bayu yang baru saja kembali dari kantor,melihat asistennya seperti ketakutkan Fikri mencoba mencari tahu


"Bi,kok rumah sepi sekali. Mama sama Mona kemana? Terus kenapa wajah bibi kayak ketakutan gitu"


"Bertengkar? bagaimana bisa?"


"Saya kurang tahu den"


"Fik,sebaiknya kita langsung ke atas. Gak biasanya mama marah-marah"


Setibanya Fikri dan Bayu di atas ia melihat Mona yang sudah pucat dan penuh keringat dingin,Fikri langsung lari menghampiri istrinya yang hampir pingsan itu


"Ma,mama apain Mona?"


teriak Fikri


"Mama gak ngapa-ngapain dia kok,mama cuma tanya obat apa ini?"


"Berikan obat itu ma"


"Enggak,sebelum kalian jawab apa yang sudah kalian tutupin dari mama"


"Ma,sebenarnya ini ada apa?"


tanya Bayu yang ikutan khawatir melihat kondisi Mona


"Fik,mama .... mama sudah tahu sebenarnya..."


ucap Mona sembari mengatur nafasnya yang terengah-engah


"Iya sayang gak apa-apa biar aku yang jelaskan nanti"


"Ma,berikan obatnya cepat"


"Enggak,sebelum kamu ceritakan semuanya sama mama"


Mona sudah tidak tahan lagi,nafanya sudah tidak beraturan karena begitu panik akhirnya ia tak sadarkan diri di pangkuan Fikri


"Monaaa Monaaa....."


teriak Fikri


Tuan Bayu dan Nyonya Jeny begitu terkejut melihat Mona yang pingsan

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Fikri segera menyahut obat yang ada di dalam genggaman mamanya dan berusaha membuat Mona bangun


"Biiiii bibi ambilkan air segelas air"


teriak Fikri


Tak berselang lama salah satu asisten rumah tangga datang dengan segelas air,Fikri langsung berusaha memberikan obat dan air itu pada Mona.


"Mona sayang,buka mata kamu sebentar. Kamu minum obat dulu ya"


Berkali-kali Fikri berusaha membangunkan Mona untung saja Mona terbangun dan segera meminum obat itu,setelah selesai Fikri langsung memindahkan Mona ke atas tempat tidur.


"Pa,sebaiknya papa bawa mama keluar"


"Enggak,mama mau dengar penjelasan kalian"


"Mama gak lihat apa yang terjadi sama Mona? mama itu hampir ngebunuh Mona"


teriak Fikri yang membuat Jeny terkejut


"Sekarang mama keluar dan jangan khawatir aku akan menjelaskan semuanya nanti"


ucap Fikri


"Maaass..."


lirih Mona yang mencoba menghentikan Fikri supaya tidak membentak mamanya


Akhirnya Jeny keluar bersama sang suami,dengan raut muka yang sedih karena ini pertama kalinya Fikri membentaknya.


"Ma,sebenarnya ada apa sih? biasanya mama dan Mona akur sekali seperti anak kandung sendiri"


"Pa,anak dan menantu kita itu sudah membohongi kita. Dia kemarin bilang mau ketemu sama temannya ternyata dia ke rumah sakit kita untuk konsultasi ke psikiater,untung saja pak Ilyas kasih tahu aku tadi. Dan obat yang mama pegang tadi itu adalah obat penenang yang di konsumsi Mona"


"Mereka pasti ada alasan untuk melakukan ini semua ma"


"Tapi tetap saja mereka sudah membohongi kita pa"


Fikri terus menemani Mona yang terbaring lemas di atas tempat tidur,ia merasa bahwa semua ini tidak akan terjadi jika dia selangkah lebih awal untuk kembali ke rumah.


"Sayang,maafkan aku ya karena aku gak bisa jaga kamu,maafkan mama juga sudah membuat kamu panik attack kayak gini"


"Aku gak apa-apa kok mas,justru kalau bukan hari ini kapan lagi kita punya keberanian buat ngomong jujur ke mama dan papa"


"Aku tahu,kalau saja waktu itu aku ngomong apa adanya pasti kebohongan ini tidak akan berlarut-larut"


"Sekarang,lebih baik kita kasih tahu mama dan papa yang sebenarnya mas"


"Iya,nanti aku cerita semuanya ke mereka. Sekarang kamu istirahat ya


Mona tertidur lelap setelah mengkonsumsi obat tersebut,sementara itu Fikri bersiap untuk menjelaskan semua ini kepada orang tuanya. Fikri menghampiri kamar orang tuanya


Tokk.tokkk...tokkkkk


"Masuk"


"Pa,ma aku mau bicara sama kalian di taman"


"Iya"


"Aku tunggu sekarang"


Setelah semuanya hadir Fikri mulai menjelaskan semuanya


"Apa yang ingin mama tahu dari aku dan juga Mona?"


"Semuanya? terutama kenapa kalian berbohong soal Mona yang mengalami depressi"


"Maaf ma,pa jika memang kami terpaksa berbohong.Fikri dan Mona memang sebenarnya kemarin tidak bertemu siapa-siapa,kami pergi ke rumah sakit keluarga dan berkonsultasi ke dokter psikater. Mona butuh pertolongan psikater untuk melupakan trauma masa lalunya,setelah kami menikah trauma itu menjadi penghalang untuk Mona dalam melayani kewajibannya. Bayang-bayang itu selalu hadir dan membuat Mona merasa jijik pada dirinya sendiri,akhirnya ia ingin berusaha sembuh dari semua itu hanya demi untuk memenuhi kemauan mama"


"Kemauan mama?"


"Bukankah mama terus-menerus membicarakan masalah keturunan?mama ingin Mona segera memberi cucu,sedangkan setiap kali kami ingin melakukan hubungan suami istri,trauma Mona selalu kambuh. Akhirnya kami memutuskan untuk berobat supaya trauma itu lekas hilang dan Mona bisa segera memberikan apa yang mama mau"


Jeny hanya diam dan menangis mendengar penjelasan Fikri,kini ia merasa bersalah atas sikapnya terhadap Mona tadi.


"Mama minta Fik,mama gak tahu kalau semuanya akan jadi seperti ini. Mama terlanjur marah karena kalian tega membohongi mama"


"Ma,kebohongan itu semua demi kebaikan ma. Mama tahu jika saja Mona tidak dapatt mengontrol kepanikannya tadi dia bisa kehilangan nyawanya. Karena tekanan yang mama berikan bisa memicu sakit jantung Mona yang ia derita belum lama ini"


"Jadi Mona punya sakit jantung?"


"Iya,dan itu baru ketahui belum lama ini sebelum kami menikah,dia berusaha menyembunyikan dari siapapun termasuk aku,untung saja kemarin waktu aku mendaftarkan dia ke rumah sakit. Bagian administrasi sudah memilik data Mona sebagai pasien jantung"


Jeny menangis sejadi-jadinya sementara Bayu berusaha memenangkan istrinya itu,Fikri yang juga tidak dapat menahan emosinya mencoba memeluk mamanya.


"Fikri harap,setelah kejadian ini kita semua bisa saling menjaga Mona dan membantunya sembuh. Fikri berusaha sebaik mungkin menjadi suami yang bisa membahagiakan dia dan merubah bayangan masa lalunya menjadi masa depan yang tidak akan pernah Mona lupakan"

__ADS_1


"Iya Fik,mama dan papa janji akan menjadi mertua dan orang tua yang selalu ada untuk kamu dan Mona"


Mereka akhirnya saling memahami kondisnya,saling bahu membahu membantu Mona untuk sembuh dari trauma itu. Seiring berjalannya waktu Jeny juga sering menemani Mona berkonsultasi ke psikiater hingga tak terasa enam bulan sudah ia menjadi pasien dokter Winda,dan hari ini Mona di nyatakan sembuh. Jeny juga menunda keberangkatannya ke Jepang hanya demi membantu menantunya supaya sembuh,Tania yang wisuda hanya di temani oleh papanya merasa tenang jika ketidak hadiran kakak dan mamanya semata-mata untuk kesembuhan kakak iparnya itu


__ADS_2