
Kehidupan Mona yang seorang diri membuatnya nampak kesepian,tak jarang ia diam-diam mengunjungi toko roti tempat ibunya bekerja. Disana ia bisa melepaskan rasa rindunya yang selama ini di pendam,apalagi ia tak bisa sekedar menyapa wanita setengah baya itu. Pernikahan Dendra dan Andini akan di gelar dua bulan ke depan,hal itu semakin membuat Mona merasa sedih. Semua yang ia punya kini telah hilang dan pergi,tidak ada lagi yang tersisa untuknya bahkan laki-laki yang sempat ia cintai harus pergi meninggalkannya.
Siang itu ia bertemu dengan Pak Adit di cafe yang tak jauh dari kantornya,Adit lebih dulu datang dan tersenyum melihat Mona yang berjalan ke arahnya
"Maaf sudah membuat pak Adit menunggu lama"
"Tidak sama sekali,saya juga baru saja sampai. Kira-kira apa yang membuat Mona ingin bertemu dengan saya?"
"Oh,saya hanya ingin menanyakan sesuatu soal Wira pada bapak. Karena saya sempat ingat bahwa pak Adit lah yang menghubungi saya saat Wira kecelakaan"
"Oh iya memang benar saya yang menghubungi anda,tetapi saya tidak berada disana waktu itu. Saya hanya mendapatkan informasi dari teman saya saja"
"Oh jadi begitu"
"Sebelumnya saya turut berduka atas apa yang menimpa Wira,saya sendiri juga merasa kehilangan dan waktu itu tidak sempat takziyah"
"Tidak apa-apa pak,saya justru ingin mengucapkan terima kasih telah memberitahu saya waktu itu"
"Sama-sama,oh ya lalu sekarang bagaimana dengan kamu sendiri? Saya dengar-dengar kamu dan Wira akan menikah waktu itu?"
"Ya,bahkan seharusnya saat ini saya dan Wira sudah menjadi suami istri. Tetapi apa boleh buat jika takdir tidak mengizinkan kami bersama,mungkin di dunia lain kami akan di pertemukan kembali"
"Lalu bagaimana dengan keluarganya?"
"Orang tua Wira sangat terpukul atas kepergiannya,apalagi ibunya sekarang dalam kondisi depresi berat. Ayah Wira terpaksa membawa istrinya kembali ke kampung halamannya di Kalimantan"
"Berarti sekarang kamu tinggal sendiri?"
__ADS_1
"Hmmm"
"Apa tidak sebaiknya kamu kerja di rumah tuan besar lagi?"
"Emb,tidak terima kasih pak. Saya rasa sebaiknya saya melanjutkan hidup dengan pekerjaan saya sekarang"
"Kalau boleh tahu kamu sekarang tinggal dimana?"
"Saya kost di daerah sini saja pak,ya biar lebih dekat saja"
"Oh jadi begitu. Apa ada yang ingin kamu tanyakan lagi pada saya?"
"Tidak pak Adit,saya rasa cukup. Terima kasih telah berkenan datang menemui saya"
"Sama-sama Mona,kalau butuh bantuan apa-apa kamu bisa hubungi saya. Tidak perlu sungkan,mau bagaimanapun Wira adalah teman saya dan kamu pun juga sudah saya anggap sama"
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu"
Adit pergi meninggalkan Mona yang masih duduk dan menatap kosong pada jendela di sebrangnya,sekarang tidak ada harap lagi untuknya.Dunia seperti tak adil bagi seorang Mona,tapi dia berusaha untuk tetap kuat dan bertahan demi membuktikan bahwa ia tak bersalah. Malam itu sepulang dari kantor Mona merasa ada yang mengikutinya,meski ia tak merasa takut namun ia waspada jika itu adalah orang jahat yang ingin menyakitinya.
Tanpa fikir panjang Mona langsung berlari menuju kostnya,dan benar saja memang ada yang mengikutinya yaitu salah satu anak buah Ry.Mona langsung masuk ke dalam kost dan mengunci pintunya rapat-rapat,jantungnya berdetak kencang ketakutan karena merasa orang itu akan menyakitinya.
Keesokan harinya Mona seperti biasa berangkat kerja sendirian,hari ini ia diminta oleh atasannya mengurus dokumen-dokumen yang di perlukan dan mengantarkannya ke pengadilan. Saat hendak mengantar dokumen tersebut Mona bertemu dengan Andini adiknya
"An,kamu ngapain disini?"
"Loh kamu sendiri ngapain disini?"
__ADS_1
"Mbak mau mengantarkan dokumen ke kepala pengadilan,kamu sendiri?"
"Oh,aku mau menemui pengacaraku untuk mengurus surat wasiat ayah yang ternyata beliau masih memiliki sebuah vila di puncak dan aku yang berhak mendapatkannya"
"Oh,kalau begitu syukurlah itu bisa menjadi investasi kamu di masa depan"
"Ngapain juga aku capek-capek investasi kalau sebentar lagi aku bakal jadi istri orang kaya seperti Kak Dendra"
"Kamu beneran jadi nikah sama dia An?"
"Kenapa enggak? lagian tanggal pernikahan kami sudah di tentukan kok"
"Kalau begitu selamat ya,semoga kalian bahagia dan langgeng hingga tua"
"Ya sudah pasti bahagia karena kami saling cinta,apalagi hidup kami pasti serba kecukupan"
"Iya mbak juga ikut senang mendengarnya"
"Oh ya kamu gak perlu repot-repot datang ke pesta pernikahan aku karena aku tidak ingin kehadiran mbak justru membuat caraku berantakan"
"Iya An,mbak gak akan datang. Lagian mbak tahu diri karena kehadiran mbak memang sudah tidak di inginkan lagi"
"Baguslah kalau mbak sadar diri,mbak itu udah gak pantes lagi berada di kalangan kita. Ya udah ya mbak aku gak ada waktu buat ngobrol sama kamu aku sibuk"
"Iya An, hati-hati"
Meski perkataan sang adik membuatnya sangat sedih,namun ia berusaha untuk tetap tegar dan menerima kenyataan bahwa antara Mona dan keluarganya sudah tidak ada ikatan lagi. Bahkan sekarang ia sudah membuat kartu keluarga yang hanya berisikan dirinya sendiri demi dapat meneruskan hidupnya.
__ADS_1