
Jeny masih saja mengabaikan telfon dari putranya,ia memang sengaja melakukan itu agar Fikri berusaha berfikir akan tindakannya tadi pagi yang ia sembunyikan dari mamanya.
Sesampai di Alamanda Cafe,Jeny langsung menghampiri Fikri yang tetap setia menunggunya. Fikri yang dari kejauhan melihat sang mama datang dengan muka marah membuatnya berfikir ada yang tidak beres.
"Loh ma,mama kok sendirian? Mona mana?"
Jeny masih tidak bergumam sedikitpun dang langsung memanggil waiters untuk memesan minuman,setelah selesai ia langsung membuka video rekaman cctv resto tempat Fikri dan Mona melakukan prewed tadi pagi. Wajah Fikri mendadak merah dan sangat malu kala mamanya mengetahui hal itu,ia terbata-bata seperti ketakutan untuk mejelaskan semuanya kepada Jeny
"Mama dapat ini dari mana?"
"Apa mama tidak pernah mengajarkan kamu sopan santun,bahwa laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya berada di bbawah satu atap bahkan satu kamar itu adalah zina"
"Fikri tahu mah,tapi itu tidak seperti yang mama pikirkan"
"Lantas menurut kamu apa yang ada di pikiran mama sekarang?"
"Ya Fikri harap mama dengerin dulu penjelasan aku,semua itu tidak benar. Bahkan aku dan wanita itu tidak terjadi apapun ma"
"Mama percaya kok,hanya saja kamu harus lebih berhati-hati. Kamu tahu sendirikan,hal seperti ini bisa membuat rencana pernikahan kamu dan Mona gagal"
"Iya ma,Fikri tahu kok. Dan Mona sendiri juga bilang kalau hal ini tidak akan membuat dia membatalkan pernikahan ini begitu saja"
"Tapi apa kamu tahu,Mona berkata demikian sambil menahan kekecewaan di hatinya"
"Jadi Mona ....??"
"Ya,tadi mama sama Mona ke Bella More untuk membereskan ini semua"
"Mama gak apa-apakan Bella kan ma?"
"Kenapa kamu jadi justru mengkhawatirkan wanita itu? harusnya kamu itu khawatir gimana perasaan Mona sekarang"
"Iya aku tahu ma,tapi Bella itu juga teman aku semasa kulliah dulu?"
"Teman kuliah?"
"Iya ma,kami satu kampus tapi beda fakultas. Aku dan dia tuh udah kayak sahabat,bahkan dia yang bantu aku buat desain logo minyak sawit kita"
"Cukup,mama tidak mau mendengar sedikitpun nama wanita lain dari mulut kamu. Saat ini wanita yang memang pantas ada di keluarga kita hanyalah Mona,dan ingat mama gak segan-segan buat menghancurkan siapapun yang mencoba mengganggu rencana pernikahan ini"
"Iya ma,Fikri minta maaf"
"Kalau sampai pernikahan ini batal,mama akan minta papa buat mencabut semua perusahaandan bisnis kamu dari perusahaan induk keluarga"
"Yah ma,kok langsung gitu sih. Fikri janji ma gak akan macem-macem"
"Mama pegang kata-kata kamu,kalau sampai mama lihat lagi Mona menangis karena kamu. Mama gak akan ada ampun"
"Jadi Mona tadi nangis ma?"
"Kalau bukan karena dia sayang sama kamu,mana mungkin dia tadi menangis"
"Astaga ma,ku kira dia mau menikah sama aku hanya karena terpaksa"
__ADS_1
"Seharusnya sih begitu,biar air mata Mona gak perlu terbuang sia-sia"
"Mama kok jadi belain Mona sih,sebenarnya yang anak mama itu aku apa dia sih??"
"Mama itu gak suka ya,lihat laki-laki ngebuat cewek nangis. Apalagi kamu anak laki-laki mama satu-satunya,pokoknya awas aja kamu sekali lagi buat Mona nangis"
"Iya-iya ma janji"
"Oh ya ma,Mona kenapa gak jadi ikut?"
"Dia capek,jadi mama antarkan pulang"
"Yah,padahal aku mau minta maaf sama dia"
"Besok aja kalau ketemu kan bisa"
"Ya sudah deh ma kalau begitu Fikri balik kantor ya"
"Hmmm"
Fikripun pergi meninggalkan Jeny di cafe itu,ia melajukan mobilnya dengan rasa sangat bersalah. Namun bagi dia ada untungnya juga kejadian tadi pagi sehingga ia bisa tahu bagaimana perasaan Mona terhadap dia sesungguhnya.
Sementara itu Mona selesai membereskan seluruh rumah,tiba-tiba ada kurir datang ke rumahnya. Mona yang merasa tidak berbelanja online sangatlah bingung.
"Permisi....???"
"Iya,maaf cari siapa ya?"
"Saya Andi kurir,mau mengantarkan paket untuk mbak Artyca Mona"
"Wah kalau itu sayang kurang tahu mbak,soalnya saya cuma di suruh mengantarkan ini"
ucap sang kurir sembari menunjuk ke arah kardus besar yang ada di depan rumah
"Besar sekali mas"
"Mohon untuk tanda tangan di sini mbak?"
Mona langsung menandatangani kertas yang di berikan si kurir kemudian kurir itu pergi,Mona masih saja bingung karena ia tidak merasa memesan sesuatu namun justru ada paket sebesar itu di depan rumahnya sekarang.
Ia langsung menarik pita yang ada di atas kardus dan sebuah balon besar dengan tulisan "IM SORRY" mengudara di hadapannya. Tak hanya itu di dalam kardus terdapat sebuah bucket bunga mawar dan beberapa coklat aneka macam.
Di dalamnya juga terdapat sepucuk surat bertuliskan
"Hay Mona,maaf atas kejadian tadi pagi aku benar-benar tidak bermaksud membuat kamu merasa sedih. Aku hanya mencintai kamu,you are the only one Mon
Fikri"
Mona tersenyum senang,tidak di sangka ternyata Fikri bisa romantis juga. Ia membawa kardus itu ke dalam kamarnya sembari terus memandangi bunga mawar yang ia letakkan di atas tempat tidur.
Malam harinya saat Pak Sam dan Bu Diah pulang ia melihat pemandangan yang tak biasa. Hari ini Mona memasakkan makan malam untuk mereka,biasanya Mona lebih memilih memasak di resto dan membawanya pulang ke rumah. Dengan rasa penasaran Pak Sam menghampiri Mona yang ada di dalam kamarnya
"Mona...."
__ADS_1
"Eh bapak udah pulang?"
"Iya,kamu masak hari ini?"
"Iya pak,Mona fikir kita akhir-akhir ini jarang sekali makan malam bersama"
"Benar juga kamu,kadang bapak juga sibuk mengurus petani sayuran dan pulang terlalu malam. Ya sudah kalau begitu bapak mandi dulu,habis itu kita makan malam bersama"
"Iya pak"
Mona tersenyum di ikuti Pak Sam yang keluar dari kamarnya.
"Mona di dalam pak?"
tanya bu Diah yang membawa cangkir berisi garam untuk di taburkan di sekitar rumah
"Iya bu,sepertinya Mona sedang bahagia sekali.Bapak lihat tadi di kamarnya ada bunga,coklat,bahkan balon."
"Mungkin dari nak Fikri pak,yah mereka pasti bahagia lah pak. Kan sebentar lagi mau menikah"
"Iya bu,semoga semuanya berjalan dengan lancar"
"Ya sudah,kalau begitu bapak mandi sana. Ibu mau menaburkan garam"
"Iya bu"
Bu Diah pergi ke halaman rumah untuk menabur garam yang dari bawanya sedari tadi,sementara itu Mona memandangi wanita setangah baya itu dari depan pintu. Mempperhatikan sembari mengulas rasa penasarannya kepada apa yang di lakukan oleh ibu angkatnya tersebut.
Bu Diah yang sudah selesai membalikan badan dan mendapati Mona yang sudah menunggunya di depan pintu
"Ibu naburin apa tadi?"
"Oh,garam ndok"
"Garam? buat apa bu?"
"Memang adat di sini begitu,kami selalu mempercayai untuk menaburkan garam saat hendak maghrib. Tapi berhubung tadi ibu gak di rumah jadi baru sempat menaburkannya barusan"
"O gitu ya bu,oh ya bu tadi Mona masak makanan kesukaan bapak loh"
"Iya ibu udah lihat tadi,makasih ya ndok udah mau buatkan sambel tumpang koyor buat bapak. Ibu jadi keingat sama Wira,dia suka sekali dengan tumpang koyor. Andai saja dia masih ada,pasti dia suka punya istri jago masak tumpang seperti kamu"
"Ibu pasti kangen banget ya sama Wira?"
"Iya ndok,tapi mau bagimana lagi. Ibu di sini hanya dapat mendo'akan dia semoga sang pencipta selalu memberikan tempat terbaik untuk dia"
"Amin bu,kalau begitu sekarang kita masuk ya bu. Anginnya mulai dingin,Mona gak mau ibu sakit"
"Iya ndok"
Malam itupun menjadi malam penuh kenangan Wira,karena makanan yang Mona masak adalah masakan favorit Wira dan ayahnya. Bu Diah menjadi begitu pendiam di meja makan sembari mnenikmati masakan Mona itu,padahal di luar sedang ada angin kencang dan hujan tetapi suasana rumah begitu hangat karena senda gurau darI Pak Sam dan juga Mona
Selepas makan malam dan mengobrol di ruang keluarga,Mona memutuskan untuk masuk kamarnya dan berpamitan untuk tidur. Pak Sam dan Bu Diah juga masuk ke dalam kamar mereka karena malam sudah hampir larut. Mona duduk di samping kasur dan memandangi ponselnya,terdapat empat panggilan tak terjawab dari Fikri dan beberapa pesan yang menanyakan sedang apa Mona sekarang.
__ADS_1
Mona hanya menghapus semua notifikasi itu dan langsung merebahkan diri,lambat laun matanya mulai terpejam karena hujan yang membuat suasana semakin gemuruh.