Dendam Sang Mantan

Dendam Sang Mantan
Kebohongan itu


__ADS_3

Keesokan harinya setelah sarapan,Fikri berpamitan kepada Mona untuk pergi ke kantor. Suasananya berbeda dari biasanya,yang tadinya hanya Jeny seorang diri mengantarkan suami serta putranya ke depan rumah untuk berangkat kerja,sekarang jadi ada Mona yang menemaninya.


"Mon,aku berangkat ke kantor dulu ya? kamu baik-baik sama mama dirumah


"Loh kok manggilnya masih nama aja sih kalian ini,di biasakan dong dengan panggilan mesra. Kalian ini sudah menikah,gak enak kalau sampai di dengar orang"


"Iya ma,mungkin Mona masih belum terbiasa saja"


"Ya kalau begitu biasakan dong,kamu harus ajarin dia"


"Ya udah sayang,mas berangkat kerja dulu ya"


ucap Fikri sambil mengelus rambut Mona


"Iya mas"


"Nah gitu kan enak di dengar"


"Oh ya,cium kening dulu dong"


sahut Fikri memanfaatkan situasi


"Embb ta tapi mas"


"Tuhkan ma,Mona tuh belum terbiasa"


"Mona,kamu itu harus membiasakan diri seperti itu. Apalagi di depan mertua kamu,seharusnya kamu bisa lebih mesra sama Fikri"


"I iya ma"


Fikripun mencium kening Mona dan langsung berangkat kerja bersama tuan Bayu,tak lama mereka pergi Jen mengajak menantunya masuk ke dalam rumah.


"Kalau mereka sudah berangkat ke kantor seperti ini,rumah pasti sepi banget. Makanya mama harap kamu dan Fikri bisa secepatnya memberi mama cucu,jadi rumah ini akan terasa ramai nanti"


"Iya ma,kalau begitu Mona mau kembali ke kamar dulu ma"


"Iya sayang"


Mona kembali ke kamarnya sembari merenungkan perkataan mertuanya barusan,ia merasa bersalah karena tidak dapat segera memenuhi keinginan keluarga suaminya itu. Mau bagaimanapun Mona sudah berusaha yang terbaik untuk pernikahannya,hanya saja ia belum begitu siap untuk terbayang dengan masa lalunya lagi.


Tepat pukul 12.00 Fikri menjemput Mona di rumah,Mona yang sedari tadi sudah siap sangat senang mendengar suara mobil Fikri.


"Loh Fik kamu pulang sama siapa?"


"Sendirian ma"


"Kamu bawa mobil tanpa sopir?"


"Iya ma"


"Bukannya papa dan mama sudah melarang kamu untuk tidak mengendarai mobil sendiri"


"Tapi ma,masak iya aku sama Mona mau ada keperluan pribadi harus dengan sopir sih ma. Kan gak enak juga kalau nanti teman Mona ikut nebeng harus duduk dekat sopir"

__ADS_1


"Ya gak masalah,yang penting kalian itu selamat"


"Udah Fik,kita ikutin aja saran mama. Ada baiknya juga kok supaya kamu gak capek"


"Ya udah deh,kalau gitu Fikri sama Mona berangkat dulu ya ma"


"Iya,hati-hati kalian"


"Iya ma"


Akhirnya Mona dan Fikri di antarkan oleh sopir Jeny ke rumah sakit keluarganya,sesampai disana mereka bertemu dengan dokter psikiater yang akan membantu Mona nanti.


"Selamat siang tuan Fikri dan nona Mona"


"Siang dok"


"Jadi bagimana,istri tuan sudah siap untuk melakukan terapi?"


"Saya sudah siap dok"


"Kalau begitu bisa kita mulai ya,nona Mona buat diri anda senyaman mungkin dan ceritakan secara perlahan. Tidak perlu di paksa,yang terpenting nona Mona tahu kapan harus stop jika merasa sudah tidak nyaman lagi"


"Baik dok"


Mona mulai menceritakan semua yang membuatnya merasa takut selama ini,mulai dari pertemuannya dengan Arief yang kemudian muncullah dendam saat mereka di pertemukan kembali sebagai Ry dan faktor paling mempengaruhi psikis Mona adalah ketika Leo dan Ry mencoba merubah dia menjadi orang lain dengan memaksa Mona mengkonsumsi obat-obatan yang membuat dia kehilangan kesadaran dan bahkan menjadi seperti orang lain.


Fikri yang mendampingi istrinya begitu kasihan dan juga sedih atas apa yang Mona alami di masa lalu,mulai dari keluarganya yang menuntut dia agar selalu menjadi yang terbaik dan sampai perjodohan yang membuat dia masuk di kehidupan masa lalunya itu.


"Setelah mendengar cerita nona Mona saya begitu merasa khawatir jika anda dulu tidak dapat lepas dari kedua laki-laki jahat itu. Tetapi saya ikut bersyukur karena sekarang ada tuan Fikri yang akan menjaga nona dengan baik. Saya yakin,dengan hadirnya tuan Fikri lambat laun semua memori buruk itu akan hilang dan terganti dengan kebahagiaan. Saran saya anggaplah tuan Fikri iniberbeda dari mereka,anggaplah suami nona ini adalah seorang super hero yang akan selalu ada ketika anda dalam bahaya. Mungkin dengan begitu lambat laun trauma karena ketakutkan itu akan pudar seiring berjalannya waktu"


"Terima kasih dok sudah mau membantu istri saya"


"Sama-sama tuan,cepat atau lambatnya kesembuhan seseorang dalam menghadapi trauma itu tergantung dari kemauan diri kita sendiri. Kalau begitu saya hanya bisa memberikan resep berisi obat penenang yang hanya boleh di konsumsi saat trauma itu muncul saja,jika tidak maka tidak perlu di konsumsi"


"Terima kasih dok"


"Sama-sama"


Dokter mengakhiri acara sesi konsultasi mereka,setelah itu Fikri dan Mona segera menuju ruang Farmasi untuk menebus obat. Kebetulan disana Fikri bertemu dengan Manager rumah sakit itu


"Tuan Fikri?"


"Eh pak Ilyas"


"Ada keperluan apa tuan Fikri kemari?"


"Ini pak,saya mengantar istri konsultasi ke psikiater"


"Psikiater? istri tuan mengalami masalah apa?"


"Hanya trauma kecil saja pak"


"Oh kalau begitu saya doakan semoga lekas sembuh"

__ADS_1


"Terima kasih pak Ilyas,kalau begitu saya permisi dulu"


"Baik,silahkan-silahkan tuan"


Setelah mengambil obat,Fikri dan Mona kembali ke rumah.


Dengan perasaan yang sedikit tenang mereka akhirnya menemukan solusi untuk masalah ini.


Eh kalian udah pulang?"


"Udah ma baru saja"


"Oh ya Fik,tadi papa telfon katanya ponsel kamu tidak bisa di hubungi"


"Oh iya ma,tadi lupa kan Fikri silent waktu meeting.Memangnya ada apa ma?"


"Papa tanya dokumen yang dari pak Broto kamu taruh mana? soalnya barangnya sudah siap tinggal kirim aja,tapi berhubung dokumennya kamu yang pegang jadi papa tunda dulu"


"Oh iya, aku lupa ngasih tahu papa. Kalau begitu aku balik kantor dulu ya sayang? kamu dirumah saja sama mama"


"Iya mas hati-hati"


"Gimana tadi acara ketemuan sama temen kamu Mona?"


"E emb lancar kok ma"


"Dia kerja apa disini?"


"i itu dia di kirim dinas kemari untuk dua hari,jadi kami ketemuan di hari terakhir dia dinas"


"Oh gitu,kamu udah makan?"


"Sudah kok ma,tadi sama mas Fikri kita makan gudeg"


"Gudeg?"


"Iya ma"


"Tumben,biasanya Fikri makan gudeg hanya mau di depan rumah sakit kita"


"Iya memang tadi kami makan disitu ma"


"Makan disitu? memangnya kalian ketemuan sama temen kamu dimana? bukannya rumah sakit keluraga jauh dari rumah?"


"Oh kebetulan dia dinasnya di dekat rumah sakit itu jadi sekalian aja mampir"


"Oh giitu,ya udah sekarang kamu masuk kamar. Istirahat ya"


"Iya ma,kalau gitu Mona ke kamar dulu ya ma"


"Iya sayang"


Mona merasa sedikit tenang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mamanya,dia takut jika salah ngomong dan kemudian mamanya curiga. Untung saja ketakutannya tidak terjadi,Mona memutuskan untuk meminum satu pil obat penenang yang di berikan dokter untuk mengatasi kepanikannya itu.

__ADS_1


__ADS_2