Dendam Sang Mantan

Dendam Sang Mantan
Kepergian Wira


__ADS_3

Sesampai di The Jurnal Cafe Wira segera menghubungi Adit,dengan bantuan pelayan Wira di antarkan ke sebuah ruangan privat pertemuan mereka. Di sana sudah ada Adit dan Ry yang duduk menunggu kedatangannya,alangkah terkejutnya Wira bahwa bukan hanya Adit yang ingin menemuinya tetapi juga tuan besar.


"Tuan Ry?"


ucap Wira kaget


"Silahkan duduk Wira"


sapa Ry ramah


"Terima kasih tuan, sebenarnya ada apa ini Dit?"


"Saya dengar-dengar kamu dan Mona akan menikah? Kapan?"


tanya Ry mencoba mencari tahu


"Iya tuan,Minggu besok"


"Oh,kurang lima hari lagi donk. Kok kamu gak ngundang aku dan tuan besar Wir?"


tanya Adit polos


"Tadinya aku ingin mengundangmu Dit,tapi sepertinya jika dengan tuan besar aku butuh pesta lebih megah"


"Bagaimana jika aku biaya pernikahan kamu dengan megah tapi ada syaratnya"


"Maksud tuan Ry?"


"Aku akan membiayai semua rincian pernikahan kamu tapi ada syaratnya"


"Tidak perlu tuan,lagi pula saya dan Mona sepakat menikah secara sederhana asal sah"


"Beneran kamu gak mau Wir? Tuan besar sedang berbaik hati ini"


"Tidak Dit,aku tidak ingin merepotkan siapapun"


"Okey,kalau begitu bagaimana jika aku memberikanmu ini dan kamu batalkan pernikahan itu"


ucap Ry sambil memberikan kertas cek senilai seratus juta


"Apa-apaan ini tuan? saya tidak akan membatalkan pernikahan saya dan Mona. Bukankah tuan sendiri sudah sepakat tidak akan mengganggu Mona lagi"


"Ya,tadinya seperti itu. Dan dengan kepergian mu mungkin Mona akan kembali dengan saya,tapi siapa tahu kalau dia justru akan menikah denganmu"


"Lalu maksud tuan ini?"


"Tentu,tuan ingin menyelesaikan semuanya secara baik-baik Wir. Kamu tahu sendiri sebelum menjadi milikmu Mona adalah milik tuan besar"


"Itu mungkin benar,tapi semua itu hanya masa lalu. Dan sekarang Mona dan Tuan Ry tidak memiliki hubungan apa-apa lagi,dan tuan tidak berhak melarang Mona dengan siapa ia menjalin hubungan"

__ADS_1


"Oke,kali ini terakhir aku tegaskan denganmu. Apakah kamu mau membatalkan pernikahan itu atau tidak?"


tanya Adit dengan nada tinggi


"Sampai kapanpun itu tidak akan terjadi,jika kamu mengundangku kesini hanya untuk membicarakan itu lebih baik aku pergi sekarang"


ucap Wira yang beranjak dari tempat duduknya dan melangkah keluar dari cafe tersebut. Adit menghampiri Wira yang telah sampai di taman cafe tersebut


"Tunggu Wira,jadi kali ini kamu memilih jalan kekerasan"


"Cukup Dit,aku tidak ingin berkelahi denganmu"


"Tidak usah banyak omong"


Adit segera menghampiri Wira dan terjadilah perkelahian di sana,suasana menjadi gaduh. Beberapa orang melihat kekacauan yang luar biasa, seorang pelayan mencoba menghentikan mereka namun Ry memberikan kode agar tak ikut campur.



"Aku sebenarnya tidak ingin melakukan ini padamu Wir,tapi apa daya semua ini adalah sebuah perintah dari tuan besar yang merupakan pekerjaan untukku"


"Lakukan saja Dit,aku yakin kamu tidak akan pernah bisa memaafkan dirimu sendiri jika sampai membiarkanku membatalkan pernikahan ini"


"Jangan banyak omong Dit,lakukan tugasmu atau peluru ini akan menembus jantungmu"


teriak Ry yang masih duduk di kursi taman


Wira memeluk tubuh Adit dan membisikkan sesuatu



Wira dan Adit sama-sama sudah babak belur,tetapi Adit masih menahan diri untuk tidak memukulnya lagi,meski hati nuraninya ingin berhenti menyakiti Wira ia pun terdiam. Melihat kondisi tersebut membuat Ry geram,ia langsung mengeluarkan pistol dari dalam jasnya dan menembak tepat mengenai dada Wira. Seketika Wira tergeletak dengan bersimbah darah,teriakan di sekitar begitu gaduh mendengar suara tembakan itu.


Adit semakin ketakutan melihat Wira yang meregang nyawa dan terus mengeluarkan darah dari bekas lukanya itu


"Tuan, apakah anda tidak keterlaluan"


"Diam kamu atau kamu sendiri yang berikutnya"


"Tapi tuan bagaimana dengan Wira?"


"Biarkan saja dia,sekarang kita pergi dari sini. Sebelumnya kamu tutup dulu mulut semua orang yang melihat kejadian ini termasuk pemilik cafe"


"Baik tuan"


Ry pergi lebih dulu meninggalkan lokasi,Adit membereskan beberapa orang yang menyaksikan hal tersebut dengan memberinya sejumlah uang. Sebelum pergi Adit sempat memanggil ambulance dan menelfon Mona


"Hallo Wira,ada apa?"


"Hallo Mona,ini aku Adit"

__ADS_1


"Pak Adit? kenapa ponsel Wira ada pada anda?"


"Ceritanya panjang,sekarang bisakah kamu datang ke cafe The Jurnal. Aku menemukan Wira terluka parah disini"


"Apa...?"


teriak Mona mengangetkan Bu Diah dan Pak Sam


"Ada apa nak Mona?"


tanya Bu Diah


"Tante Wira...."


"Ada apa dengan Wira?"


"Wira kecelakaan"


"Apa? Astaga? dimana dia sekarang?"


teriak pak Sam


"Di The Jurnal Cafe om"


Mereka bertiga langsung bergegas kesana,terlihat kerumunan orang di halaman depan cafe tersebut. Menunggu Pak Sam mencari parkiran membuat Mona tidak sabar,ia keluar dari mobil dan langsung menghampiri kerumunan itu. Di lihatnya Wira yang bersimbah darah di temani Adit



"Wira bangun,apa yang terjadi sama kamu?"


tanya Mona sambil menekan dada Wira yang terluka agar pendarahannya berhenti


"Mona aku minta maaf sama kamu karena tidak bisa menepati janji ku untuk mengajakmu jalan-jalan sore ini"


"Tidak tidak,kamu harus menepatinya. Kamu harus bertahan ya"


ucap Mona dengan isak tangis


"Tolong,tolong panggilkan ambulance"


teriak Mona


Beberapa saat kemudian ambulance datang dan segera menolong Wira,mereka memberikan pertolongan pertama dan segera membawanya ke rumah sakit. Mona dan Bu Diah menangis tanpa henti mengikuti Wira yang di bawa ke rumah sakit.


Sesampai di UGD dokter segera menangani kondisi Wira yang terluka parah,namun waktunya terlambat. Wira meninggal saat perjalanan menuju ke rumah sakit karena kehabisan darah dan shock.


Mona menangis sejadi-jadinya bahkan Bu Diah pingsan mendengar putra semata wayangnya menghembuskan nafasnya terakhir kali.


Kasus itu bahkan telah melakukan penyelidikan serius oleh pihak kepolisian,bahkan Pak Sam meminta atasannya untuk membantu mencari tahu penyebab kematian anaknya itu. Karena saksi dari kejadian tersebut mengatakan bahwa Wira terkena tembakan dari jarak jauh.

__ADS_1


Suasana rumah menjadi penuh haru setelah jenazah Wira di bawa ke peristirahatan terakhirnya,Bu Diah dan Mona saling berpelukan karena tidak sanggup melihat orang yang mereka sayangi pergi meninggalkan dunia ini.


Sejak kejadian itu Bu Diah mengalami stres dan Pak Sam memutuskan untuk pensiun dini mengurus istrinya,Mona yang juga shock akibat kematian Wira terpaksa tetap diam seribu kata. Sebulan setelah kematian Wira ia hanya dirumah membantu Pak Sam merawat Bu Diah,tetapi ia merasa menjadi tidak berguna berada disana tanpa adanya Wira. Rasanya dia hanyalah benalu dalam keluarga tersebut,bahkan ia malu hanya untuk memakan nasi hasil jerih payah keluarga Wira.


__ADS_2