
Setelah makan malam Pak Sam mencoba berbicara dengan Mona terkait pernyataan cinta Fikri,di sela-sela mereka duduk di teras rumah sembari menikmati sejuknya angin malam.
"Mona,bapak mau tanya sama kamu"
tutur pak Sam pelan
"Tanya apa pak?"
"Apa sampai sekarang kamu masih belum bisa melupakan Wira?"
"Kok bapak tiba-tiba tanya begitu?"
"Ya bapak hanya ingin tahu apakah kamu masih memiliki dia dalam hati kamu"
"Sampai kapanpun Wira akan selalu ada dalam hati Mona pak,walau sulit untuk melupakannya namun Mona tidak ingin membuangnya dari hati ini"
"Tetapi kamu sudah sangat dewasa Mona,umur kamu juga sudah saatnya untuk menjalin hubungan yang lebih baik. Bapak tidak ingin kamu terus menerus hanyut dalam kesedihan menunggu Wira pergi dari hati itu"
"Maksud bapak,bapak ingin Mona mencari pengganti Wira?"
"Iya bukan pengganti,lebih pantasnya seseorang yang dapat menyelesaikan tugas Wira dalam menjaga kamu. Kamu tahu sendiri usia bapak dan ibu sudah tidak muda lagi,suatu saat jika Allah mengambil salah satu di antara kami bapak takut jika tidak ada yang menjaga kamu"
"Kok bapak ngomongnya begitu,sellama Mona hidup tidak ada yang memberi Mona perhatian sebaik bapak dan ibu. Mona harap jangan memaksa Mona untuk segera mencari pengganti Wira dan menikah,Mona hanya ingin membalas Budi bapak dan ibu dengan menemani kalian hingga maut memisahkan"
"Bapak tahu,tapi kamu juga harus memikirkan masa depan kamu. Bapak rasa selama kamu menikah kamu juga masih bisa menjaga bapak dan ibu"
"Tapi,apakah ada laki-laki yang rela istrinya tetap merawat kedua orangtuanya sedangkan dia memiliki jalan hidupnya sendiri"
"Pasti ada ndok,kamu pasti akan menemukannya. Oh ya mengenai nak Fikri tadi.."
belum selesai Pak Sam berbicara raut wajah Mona seketika berubah
"Bapak tahu kan kalau Fikri itu sepupu Wira"
"Iya,lantas?"
"Bagaimana perasaan Wira nanti melihat aku justru menikah dengan sepupunya"
"Astaga,kamu masih memikirkan tentang perasaan anak bapak yang udah tidak ada? Justru sebaliknya,Wira akan senang dan tenang jika ada laki-laki yang bisa menjaga kamu apalagi dia adalah orang yang ia kenal baik sejak kecil"
"Namun Mona cukup sadar diri juga pak,Mona hanyalah anak angkat bapak dan ibu lalu apakah pantas jika Fikri mendapatkan saya dengan latar belakang saya yang hancur?"
__ADS_1
"Sttt,kamu tidak boleh ngomong begitu. bapak sudah cerita semuanya ke nak Fikri,dia tidak masalah dengan hal tersebut. Justru dia ingin merubah pola pikir kamu tentang masa lalu kamu yang suram dan membahagiakan kamu di masa depan"
"Mona takut sekali pak,jika suatu saat nanti setelah aku dan dia menikah justru ia akan mengungkit masa laluku. Mona akui,diri Mona tidak pantas untuk Fikri yang serba sempurna itu"
"Ndok,kami percaya kan sama bapak?"
"Mona percaya pak,tapi apakah Fikri yakin jika ia bisa menerima diri Mona yang seperti ini"
"Pasti tekadnya sudah bulat,ia berulang kali meminta bapak untuk memberinya restu. Tentu saja bapak merestui kalian apalagi kalian sudah sama-sama dewasa"
"Maaf pak,tapi Mona butuh waktu"
"Baiklah kalau begitu,kamu bisa memikirkannya sampai nak Fikri benar-benar kembali untuk meminang kamu"
"Baiklah pak,kalau begitu Mona permisi masuk ke dalam kamar dulu"
"Iya"
Bu Diah melihat Mona yang berjalan dengan gelisah masuk ke dalam kamar,ia mengetahui apa yang menjadi kegelisahan hati putrinya tersebut. Tak banyak yang dapat ia lakukan selain hanya dapat mendo'akan semoga apa yang putrinya pilih ke depannya adalah keputusan yang terbaik.
Ia berjalan menghampiri suaminya yang berada di teras,sembari membawa segelas teh hangat dan gemblong goreng kesukaan pak Sam.
"Pak,ini teh sama gemblongnya"
"Bapak tadi habis ngomong apa sama Mona? tadi ibu lihat ia berjalan dengan gundah ketika masuk ke kamar"
"Ya soal lamaran nak Fikri Bu,bapak bingung mau sampai kapan ia akan memilih untuk menutup pintu hatinya"
"Ibu punya rencana meski sedikit konyol sih pak,tapi apakah mungkin itu akan berhasil membuat Mona percaya dan mengikutinya?"
"Rencana apa Bu?"
Bu Diah berbisik tentang rencananya yang tengah ia susun,setelah itu pak Sam terdiam sejenak dan mengangguk setuju.
"Tapi apa ibu yakin Mona tidak akan curiga dengan ini semua Bu?"
"Semoga saja tidak pak,lagipula kita coba dulu siapa tahu berhasil"
"Baiklah,bapak akan berunding dengan nak Fikri terlebih dahulu"
"Baik pak,ya sudah kalau begitu kita masuk pak angin malam semakin hari makin dingin ibu gak kuat"
__ADS_1
"Mari Bu"
Keesokan harinya seperti biasa Bu Diah pergi ke pasar bersama Mona,membeli sayur segar untuk keperluan restoran. Biasanya Bu Diah memilih sendiri para pemasok yang akan menyetock sayur-sayuran di restonya,sedangkan pak Sam pagi-pagi sekali sudah ke resto untuk menemui Fikri sebelum dia berangkat ke kantor.
Pak Sam menceritakan semua rencananya kepada Fikri,dan memintanya untuk memberitahukan rencana tersebut kepada kedua orangtuanya. Fikri mengangguk setuju dan mengikuti semua apa yang telah di rencanakan,sebelum Mona dan istrinya sampai di resto. Pak Sam meminta Fikri lebih dulu kembali ke kantor tanpa sepengetahuan Mona,namun siapa sangka saat ia mau pergi ke parkiran ia justru bertemu dengan Mona yang tengah kerepotan membawa kantong berisi sayur-sayuran.
"Mona,sini biar ku bantu"
ucap Fikri yang tiba-tiba sudah berada di depan Mona
"Fikri? kamu ngapain pagi-pagi udah sampai sini?"
"Oh kebetulan tadi aku mau pesan makan siang untuk kantorku dari restoran om Sam"
"Oh begitu,jadi sudah pesan?"
"Belum sih,kan kamunya saja baru datang"
"Oh,okey kalau begitu kita masuk"
"Okey,sini biar aku aja yang bawa"
"Gausah Fik,aku bisa kok"
"Udah Mon biar aku saja,nanti apa kata orang melihat kamu bawa belanjaan segini banyak justru aku hanya diam dan melihatnya"
"Yaudah deh,makasih ya"
"Iya sama-sama"
Setiba di dalam resto pak Sam terkejut melihat Fikri dan Mona yang datang bersama,ia segera menghampiri mereka bersama sang istri.
"Loh Fik,kamu kembali lagi??"
"Iya om,kan mau pesan makan untuk kantor nanti siang"
"Oh begitu,kok bisa bareng Mona?"
"Iya kebetulan tadi ketemu di parkiran"
"Oalah,yaudah Mona kamu tuliskan nota buat Fikri biar bapak suruh karyawan bawa belanjanya ke dapur"
__ADS_1
Mona dan Fikri berjalan menuju meja kasir,setelah semuanya selesai Fikri segera pamit kepada pak Sam dan Bu Diah sedangkan Mona sendiri kembali sibuk di dapur.