
Mona mencari kesibukan pasca di tinggal pergi oleh orang tua Wira,ia ingat belanjaannya dan berencana untuk memasaknya. Semua bahan sudah tersedia,Mona sibuk sendiri di dapur,tak terasa satu jam berlalu semua masakan sudah siap tersaji di meja. Namun sudah hampir pukul 10.00 Wira belum juga bangun,ia ingat kata-kata Bu Diah untuk membangunkannya. Mona menuju lantai atas untuk membangunkan Wira,sesampai didepan kamarnya Mona mengetuk pintu itu berkali-kali namun tak juga ada jawaban dari dalam. Terpaksa Mona masuk untuk membangunkan Wira,sesampai didalam kamar ternyata memang Wira masih molor.
Segala macam cara telah Mona coba untuk membangunkannya,mulai dari memanggil namanya hingga menarik-narik tangan Wira. Namun sikap kebo nya itu sungguh mendarah daging hingga membuat Mona kwalahan, akhirnya ia memutuskan untuk membiarkan Wira dan pergi keluar kamar. Namun saat Mona bangun dari tempat tidur Wira,justru tangannya di tarik oleh laki-laki itu dan tersungkur ke atas tubuh Wira.
Mona adalah wanita pertama yang menyentuh dada bidang milik Wira,ia jatuh ke dalam pelukannya dan membuat Wira semakin lelap.
"Wira lepaskan, apa-apaan sih kamu"
teriak Mona sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Wira
"Wira bangun,lepaskan aku"
"Sttt,diamlah Mon. Tetap seperti inilah selama lima menit,aku ingin kamu disini"
"Tapi Wir"
"Stttt"
Suasana menjadi hening,Mona yang berada dalam pelukan Wira hanya dapat terdiam sambil memandang ke arah pintu. Dada bidang itu menempel tepat pada punggung kecil Mona,suhu tubuh Wira bahkan dapat Mona rasakan saat itu. Jantung Mona berdetak tak beraturan,bagaimana mungkin ia bisa menolak situasi itu bahkan saat hatinya ingin menolak tetap saja tubuhnya menginginkannya.
Selama lima menit Mona hanya terdiam tanpa kata,hingga akhirnya Wira melepaskan pelukan itu dan bangun dari tempat tidurnya. Ia turun ke bawah dan mengambil handuk untuk segera pergi mandi, sementara Mona masih tetap pada posisinya sembari terbengong.
Sampai akhirnya Wira kembali ke dalam kamarnya ia masih mendapati Mona yang duduk di tepi tempat tidurnya sembari menatap kosong.
"Mon,kamu ngapain masih disini?"
Berkali-kali Wira memanggilnya namun Mona tak sedikitpun bergeming
"Mon..."
sampai akhirnya Wira menyentuh bahu Mona dan membuatnya tersadar
"Iya mas"
ucap Mona Reflek
"Mas...??? siapa mas?"
tanya Wira bingung
"Emb,maksud aku Wira. Ada apa?"
"Oh,kamu gak mau keluar gitu?"
"Memangnya kenapa?"
"Aku mau ganti baju loh,yakin kamu mau tetap didalam?"
Mona kembali fokus dan menatap Wira yang berdiri di depannya hanya dengan membalutkan handuk dari pinggang ke bawah.
"Ihhh apa-apaan sih kamu Wir,dasar mesum"
teriak Mona sambil berlari keluar kamar
__ADS_1
"Lho eh kok jadi aku yang di kira mesum?"
teriak Wira yang tak terima
Mona turun ke bawah sambil memukul-mukul kepalanya,ia menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu memikirkan sesuatu yang menjijikan di otaknya.
Setiba di bawah ia segera mengambil air minum dan duduk di meja makan,Wira yang turun dari lantai atas memandang Mona dengan penuh gelak tawa. Ia menghampiri gadis pujaannya tersebut sembari menggodanya
"Kamu kenapa Mon? Pasti masih terpesona ya sama aku?"
"Apaan sih,dasar mesum"
"Lah kok jadi aku yang mesum? yang ada kamu kali,ngapain masih di kamarku? udah tahu aku mandi dan habis itu cuma pakai handuk aja"
"Tetap aja kamu sengaja melakukan itu biar kamu dapat memamerkan tubuhmu itu kan"
"Ngapain pamer? kalau kamu sendiri menginginkannya"
"Hih apaan najis"
"Tapi kamu suka kan? apalagi waktu ku peluk tadi kayaknya kamu menikmati banget"
"Hiih udah deh gausah dibahas lagi,semua itu gara-gara kamu yang gak mau bangun"
ucap Mona sambil menutup kedua telinganya
"Lain kali jika kamu menginginkannya aku mau kok Mon menunjukkannya secara gratis"
Suasana di dapur menjadi hangat dengan kehadiran mereka berdua,selang beberapa saat Bu Diah dan suaminya datang. Melihat keakraban putranya dan Mona membuat mereka begitu bahagia,apalagi saat Mona berhasil membujuk Wira agar pulang ke rumah,hal itu menjadi sebuah nilai plus dirinya di mata kedua orang tua Wira.
"Kalian ngapain disini?"
tanya Bu Diah yang mengagetkan mereka
"Mama,mama dari mana?"
"Dari kumpulan biasa hari Senin"
"Tante sama om sudah sarapan?"
"Sudah tadi disana,kalian sendiri kenapa gak makan? ini Mona yang masak semuanya?"
"Oh iya tante,tadinya mau nunggu om sama Tante biar barengan tapi yasudah deh"
Tiba-tiba pak Sam masuk ke dapur seperti seorang kucing yang mencium aroma ikan asin
"Aromanya seperti sayur asem ni,enak kali ini. Masakin dong ma"
ucap Pak Sam pada istrinya
"Ini udah di masakin sama calon menantumu"
__ADS_1
ucap Bu Diah sambil melirik ke arah Mona
"Wah,kayaknya enak tuh. Mau dong ma tolong ambilkan"
"Papa bukannya udah sarapan tadi?"
"Nyium bau ikan asin dan sayur asem jadi lapar lagi nih ma"
"Ya udah deh,mama ganti baju dulu habis ini kita sarapan bareng-bareng sama Mona dan Wira"
Sembari menunggu Bu Diah berganti pakaian Mona menyiapkan piring dan alat makan lainnya,pak Sam yang sudah tak sabar menunggu melirik ke arah Wira yang tengah sibuk memainkan ponselnya.
"Sut sut"
kode pak Sam pada Wira
"Apaan sih pa?"
"Lihat tuh calon istrimu,ternyata pinter masak"
"Papa memangnya sudah setuju sama aku dan Mona kok manggil dia calon istriku?"
"Yah tergantung"
"Tergantung apalagi pa?"
"Ada apa sih ini kok ribut-ribut"
ucap Bu Diah yang kembali ke dapur
"Ini loh ma,tadi mama sama papa manggil Mona calon mantu dan calon istriku. Memangnya papa sama Mama sudah setuju kalau aku dan Mona menikah?"
"Kamu ini nikah mu yang difikirkan,cari kerja di sana. Lagian kalau Mona nikah sama kamu mau kamu kasih makan apa?"
ucap Bu Diah
"Pokoknya kamu jangan mau Mon sama Wira kalau dia belum punya pekerjaan yang mapan"
imbuh pak Sam
Mona hanya terdiam sambil tersenyum kecil,ia merasa hal ini bukanlah keputusannya sendiri
"Mari om,Tante"
"Iya-iya ayo makan"
ucap Bu Diah
"Aku mau sayur asemnya yang banyak ya mah"
imbuh pak Sam
Suasana begitu damai,keluarga kecil itu menikmati makanan dengan wajah yang bahagia. Kesederhanaan itu membuat keluarga pak Sam dan Bu Diah semakin di gemari oleh keluarga-keluarga lain di asrama itu. Selain harmonis pak Sam dan Bu Diah tidak pernah menunjukkan cara hidup glamor,meski pangkat suaminya bisa di banggakan dan gajinya pun bisa untuk bergaya sosialita namun hal tersebut justru tidak pernah Bu Diah lakukan.
__ADS_1
Berkat kesederhanaannya itu keluarga mereka menjadi contoh bagi keluarga-keluarga lain,meski mereka gagal dalam mendidik anak tapi setidaknya pak Sam berhasil dalam mendidik istri dan membina rumah tangganya.