Dendam Sang Mantan

Dendam Sang Mantan
Awal sebuah pembalasan part 2


__ADS_3

Hari ini toko kue nyonya Rina tidak begitu ramai,hal itu bisa membuat nyonya Yekti,tuan Surya dan istrinya lebih leluasa mengobrol. Nyonya Yekti memberitahu kemajuan Mona belakangan ini,mulai dari caranya memperlakukan Dendra hingga pasangan itu yang tak segan-segan memperlihatkan kemesraan dihadapannya. Hal itu menjadi sebuah berita membahagiakan bagi kedua keluarga,bahkan keluarga Surya menyetujui rencana pernikahan mereka yang akan dilaksakan sesegera mungkin.


"Jadi bagaimana jeng,kalau bulan depan mereka menikah?"


ucap Nyonya Rina


"Kalau saya sih ngikut anak-anak saja jeng,karena mereka yang menjalani"


"Sudah pasti Dendra setuju kan pah,apalagi sekarang kita lihat Mona juga sudah sepenuhnya dapat menerima Dendra"


"Iya benar apa kata mamanya,apalagi diam-diam dendra sudah menyiapkan rumah untuk mereka setelah menikah nanti"


"Masak sih pa,kok Dendra gak pernah cerita sama mama?"


"Iya,papa juga baru tahu beberapa hari yang lalu. Rumahnya lumayan besar dan bagus apalagi letaknya di dataran tinggi pasti udara disana sejuk sekali"


"Bagus dong pa,lagian udara dingin akan sangat mendukung bagi pengantin baru seperti mereka"


"Jeng Rina bisa aja"


ucap nyonya Yekti yang tertawa


"Loh,kan betul loh jeng biar kita bisa segera menimang cucu"


"Betul sekali jeng,tidak sabar melihat mereka memberi cucu buat kita"


"Kalau begitu buruan deh pa,kamu minta Dendra buat tentukan Tanggalnya"


"Iya ma,nanti papa sampaikan ke Dendra"


Hari-hari terus berjalan,kini tanggal pernikahan Dendra dan Mona sudah di tentukan,namun siapa sangka mendekati hari bahagia perusahaan Dendra memiliki masalah besar. Para investornya satu persatu mundur dan membuatnya diambang kebangkrutan, ternyata dokumen yang sempat ia tanda tangani beberapa bulan yang lalu adalah dokumen jebakan yang berisi petisi penaikan harga saham perusahaannya, pantas saja para investor mundur karena hal tersebut.


Dendra bersusah payah menangani itu semua begitu pula Mona yang berusaha membantunya,beberapa saat kemudian dendra ingat bahwa dokumen tersebut adalah pemberian Mona yang memintanya untuk segera di tanda tangani. Dengan pikiran yang semrawut dan emosi Dendra menghampiri Mona di ruangannya,ia menggebrak meja kerja Mona dan membuatnya begitu terkejut


"Dendra apa-apaan sih kamu"


"Kamu yang apa-apaan,ini semua rencana kamu kan?"


"Maksud kamu apa Den?"


"Halah,aku ingat betul Mon waktu itu kamu meminta seseorang mengantarkan beberapa dokumen ke ruangan ku dan memintanya untuk segera menandatangani semua itu"


"Apa yang kamu katakan Den,aku sama sekali gak ngerti"


"Halah,gausah pura-pura bodoh. Aku tahu saat itu kamu marah kepadaku karena aku menggoda mu,setelah itu kamu meminta seseorang mengantarkan dokumen-dokumen tersebut"


"Aku sama sekali tidak pernah meminta siapapun mengantarkan dokumen ke ruangan mu,buat apa? lagian itu sudah tugasku"


"Udahlah Mon gausah ngelak,saat itu kamu marah sama aku bahkan sampai pulang kantor pun kamu menolak untuk ku antarkan. Apa masih kurang jelas sekarang?"


"Den,aku benar-benar gak pernah melakukan itu,ya memang benar waktu itu aku marah tapi aku tidak meminta siapapun untuk mengantarkan sembarangan dokumen ke ruangan mu"


"Cukup ya Mon,mungkin kamu memang terlihat polos tapi kamu tidak bisa membohongiku"


ucap Dendra sembari membanting pintu ruangannya


Mona menangis karena tak menyangka Dendra yang selama ini baik dan lembut padanya bisa melakukan hal sekejam itu, terlebih lagi ia menuduh dirinya melakukan hal yang sama sekali tidak ia perbuat.


Keadaan kantor begitu berantakan selama seminggu ini, bahkan Dendra sudah kehabisan akal untuk membangkitkan kembali perusaahan yang ayahnya rintis sejak dulu. Ia merasa gagal menjadi seorang anak yang tidak dapat diandalkan. Kabar tersebut telah terdengar hingga ke telinga Tuan Surya,bersusah payah ia mencari bantuan kesana kemari hingga ia bertemu kembali dengan Arief berkat temannya yang sudah lebih dulu bekerja sama dengan Arief.

__ADS_1


"Aku paham yang kamu hadapi sekarang Sur,tapi aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa"


ucap teman tuan Surya bernama Bram


"Tolonglah Bram,bantu aku meyakinkan yang lain bahwa itu semua adalah jebakan"


"Aku benar-benar gak bisa Sur,tapi kalau kamu mau aku bisa menemukanmu dengan seseorang yang berpengaruh dan dia bisa membantumu untuk mengembalikan para investor mu yang telah hilang"


"Siapa Bram?"


"Kamu ikut aku"


Tuan Surya ikut ajakan temannya itu hingga ia tiba disebuah hotel dan bertemu dengan banyak orang yang mengenakan jas hitam seperti mafia.


"Sebenarnya kita mau ketemu siapa sih Bram,kok banyak banget orang-orang menyeramkan seperti ini?"


"Udah kamu tenang aja,mereka gak akan nyakitin kita"


Sesampai lah mereka disebuah ruangan,disana tuan Surya dan temannya menunggu seseorang yang akan membantunya. Tuan Surya begitu terkejut saat melihat siapa yang masuk dan duduk dihadapannya.


"Kamu...?"


ucap Tuan Surya


"Masih ingat dengan saya?"


tanya laki-laki itu yang tak lain adalah Arief


"Bram,apa maksudmu? kenapa ada dia disini?"


"Sttt,jaga bicaramu Sur. Dia adalah orang yang akan membantu menyelamatkan perusaahan mu"


"Lalu"


"Maksud kedatangan kami kemari ingin meminta bantuan dari tuan Rhysaka untuk membantu kami memulihkan keadaan perusahaannya yang diambang kebangkrutan"


"Oh,masalah kecil. Asalkan dia sanggup memenuhi persyaratannya"


"Apa persyaratannya tuan"


ucap tuan Surya


"Tolong kalian tinggalkan kami berdua"


"Baik tuan"


semua orang yang ada diruangan itu keluar dan sekarang hanya tersisa Arief dan Tuan Surya


"Akhirnya kita berjumpa lagi ya"


ucap Arief


"Apakah anda laki-laki yang beberapa tahun lalu bekerja di resto milik Mona?"


"Ya,sungguh ingatan yang bagus. Tidak saya sangka Anda masih mengingat hal itu"


"Maafkan saya,karena waktu itu saya telah merendahkan anda dan keluarga anda"


"Oh tidak masalah,justru hinaan anda yang membuat saya bisa menjadi seperti sekarang"

__ADS_1


"Jadi apa persyaratan yang anda minta?"


"Oke,saya akan membantu anda mendapatkan kembali investor-investor tersebut asalkan anda mau membatalkan pernikahan Mona dan anak anda serta meninggalkan keluarga Mona jauh-jauh"


"Ta tapi,apa salah mereka?"


"Apa anda tidak ingat,waktu itu kalian mengambil Mona secara paksa dan membuat kami terpisah. Jadi sudah sepantasnya saya meminta hal ini"


"Tidak,saya tidak bisa mempertaruhkan kebahagiaan mereka"


"Lantas apakah and ingin jika perusahaan yang sudah lama terbangun harus hancur dalam sekejap,apa anda ingin nasib anda seperti orang tua Mona?"


"Ja jadi,yang membuat perusahaan Tuan Hardjo bangkrut itu semua ulah anda?"


"Betul sekali,bukankah hukuman itu setimpal dengan penderitaan saya"


"Benar-benar keterlaluan,anda benar-benar tidak punya hati"


"Lalu apa kabar dengan kalian waktu itu?"


"Saya tidak akan mengikuti permainan ini"


"Oke baiklah jika itu keputusannya"


Tiba-tiba handphone tuan Surya berbunyi,itu adalah panggilan dari anaknya


"Hallo Den ada apa?"


"Pa,papa dimana? Perusahaan kita akan disita bank pa"


"Apa?"


"Iya pa, sekarang pihak bank sedang berada didepan dan sudah bersiap menyita seluruh aset kita"


"Tidak,tidak hal itu tidak boleh terjadi. Perusahaan itu tidak boleh hancur begitu saja"


"Lalu gimana pa?"


"Kamu tenang saja,papa akan usahakan yang terbaik"


Tuan Surya menutup telfonnya dan menatap wajah Arief,terlihat Arief yang tersenyum kepadanya


"Jadi bagaimana? saya juga akan memberikan suntikan dana untuk perusaahan anda jadi pilihan ada ditangan anda. Oh ya satu lagi,pihak bank tidak pernah mau menunda-nunda waktu untuk masalah hutang"


"Oke oke,saya akan lakukan itu. Asalkan anda segera membebaskan perusahaan saya dari bank"


"Pilihan yang bijak,ternyata orang seperti anda lebih menghargai uang dari pada kesetiaan"


Arief terlihat sedang menghubungi seseorang dan terdengar memintanya untuk membayar beberapa hutang perusahaan tuan Surya. Beberapa saat datang seorang perempuan membawa dokumen.


"Silahkan tanda tangan disini"


ucap perempuan itu


"Apa ini?"


"Itu adalah dokumen perjanjian kita,dimana tidak ada pihak ketiga yang boleh mengetahui hal ini. Jika ada yang tahu saya dengan senang hati mengambil paksa perusahaan yang anda miliki sekarang tanpa peringatan terlebih dahulu"


Tuan Surya segera menandatangi dokumen itu dan pergi,ia merasa bersalah karena telah mengkhianati putranya sendiri demi menyelamatkan hartanya.

__ADS_1


__ADS_2