Dendam Sang Mantan

Dendam Sang Mantan
Hari Bahagia Mona dan Fikri Part 2


__ADS_3

Semua keperluan untuk lamaran sudah selesai,besok adalah hari paling mendebarkan untuk Mona apalagi pernikahan ini di landasi tanpa adanya rasa cinta. Namun semua ini Mona lakukan dengan ikhlas semata-mata untuk membahagiakan orang tua Wira dan mengabulkan permintaan mantan tunangannya yang sudah tiada itu.


Rumah Pak Sam ramai dengan para kerabat dekat yang ikut membantu,sedangkan tenda dan hiasan lamaran sudah hampir selesai. Mona yang ada di kamar hanya terdiam sambil terus memandangi foto Wira yang sampai sekarang masih tersimpan rapi di dalam kamarnya.


Tiba-tiba Mona mendapat pesan dari Fikri bahwa ia ada di belakang rumah menunggunya,Mona dengan pakaian ala kadarnya menemui Fikri yang duduk di ayunan dekat kebun kecil milik Bu Diah.


"Eemb"


Mona berdehem untuk memberitahu Fikri bahwa ia telah datang


"Eh kamu ngagetin aja"


"Ada apa?"


"Emb,ini mama minta aku buat kasihkan baju ini ke kamu"


ucap Fikri sambil memberikan tas berisi baju untuk acara besok


"Makasih"


"Oh ya Mon,aku mau tanya sesuatu sama kamu"


"Soal apa?"


"Soal perjodohan ini"


"Kenapa?"


"Kamu melakukannya bukan karena terpaksa kan?"


"Menurut kamu?"


"Ya kalau memang karena terpaksa aku pasti gak enak banget sama kamu, apalagi pernikahan itu sekali seumur hidup"


"Jujur sebenarnya aku sama sekali belum memiliki rasa ke kamu,bahkan hatiku saja terasa sulit untuk menerima kenyataan bahwa aku harus menikah tanpa rasa cinta"


"Lalu bagaimana?"


"Bagaimana apanya? aku sudah berjanji kepada ibu dan juga bapak,lantas mana mungkin aku mengingkarinya meski aku tahu yang sebenarnya"


"Yang sebenarnya? maksud kamu?"


"Aku tahu,ibu hanya pura-pura sakit waktu itu. Dia cuma ingin mempersatukan kita dan agar aku setuju akan perjodohan ini"


"Ja jadi kamu tahu semuanya?"

__ADS_1


"Awalnya aku percaya,tapi setelah aku selidiki apa iya penyakit ibu sembuh sebegitu cepat. Lalu aku tahu bahwa dokter yang menangani ibu adalah sahabat bapak waktu sekolah,aku tak menaruh curiga tentang semua itu namun hanya saja hatiku masih tak rela jika aku di bohongi dengan cara seperti ini. Kalaupun ibu dan bapak minta secara baik-baik ingin menjodohkan ku dengan kamu,aku gak menolak tapi sakit saja rasanya saat tahu kalian semua bersekongkol untuk membohongi aku"


"Maafkan aku Mon,aku sama sekali gak ada niatan buat ini semua. Aku tahu cara ini salah tapi aku juga kasihan terhadap bulek dan juga om Sam. Kamu berhak marah sama aku bahkan jika perjodohan ini dibatalkan aku akan terima,aku akan bilang ke mama dan papa ku tentang ini semua"


"Tidak perlu,semua itu hanya akan melukai ibu dan bapak. Lagipula hanya ini cara yang bisa ku lakukan untuk membalas kebaikan mereka selama ini"


"Tapi aku tidak mau Mon pernikahan ini terjadi tanpa di landasi cinta dan hanya keterpaksaan"


"Kamu jangan khawatir,aku sudah berjanji pada Wira dan juga diri ku sendiri bahwa aku akan belajar membuka hati dan menerima kamu setulus aku mencintai dan menyayangi Wira"


"Kamu yakin?"


"Bismillah semoga ini yang terbaik"


"Makasih Mon,makasih banyak kamu sudah memberi aku kesempatan untuk membahagiakan kamu"


"Oh ya, kalau tidak ada lagi yang ingin kamu sampaikan aku mohon ijin masuk ke dalam"


"Iya mon,silahkan"


Mona masuk kembali ke dalam kamarnya lalu meletakkan tas berisi baju itu di atas meja samping tempat tidurnya,pikirannya sekarang lega sudah mengungkapkan apa yang selama ini menjadi unek-unek di dalam benaknya.


Mona menghela nafas panjang sembari terus mengucapkan Bismillah agar dirinya kuat menghadapi hari esok.


"Mona,kamu mau kemana?"


"Emb,maaf anda siapa?"


"Astaga,kamu ini. Aku tuh bulek kamu adiknya bapak kamu"


"Oh maaf,ada apa bulek?"


"Kamu itu loh mau kemana?"


"Mau kedepan nyari ibu"


"Duh kamu ini harus stay di kamar sebentar lagi tukang Henna nya mau datang"


"Henna?"


"Iya yang gambar tangan kamu"


"Kok di gambar segala?"


"Ya memang begitu adatnya"

__ADS_1


"Bukannya kalau pakai Henna pas mau nikah ya bulek?"


"Duh kalau di sini itu semuanya di hias mulai dari tunangan,lamaran,pengajian,dan hari H. Pokoknya kamu di kamar saja,biar bulek panggilkan ibu kamu"


"Ta tapi bulek"


"Udah nurut aja"


Mona terpaksa mengikuti perintah dari adik bapaknya itu,ia menunggu di kamar sambil berdiri memandang ke arah luar jendela. Tiba-tiba Bu Diah masuk bersama dua orang wanita yang akan memasangkan Henna di tangan Mona nanti.


"Mona,ada apa?"


"Ibu,em boleh gak Mona keluar sebentar"


"Kemana?"


"Ke LP bu. Sebentar saja"


"Mau ngapain kamu? mau lihat laki-laki itu?"


"Mona hanya ingin tahu keadaan dia saja, bagaimanapun dia adalah...."


"Mantan kekasih kamu?"


"Ibu bagaimana ibu tahu?"


"Ibu tahu semuanya dari pengacara Fikri,sudahlah Mona kamu tidak perlu mengungkit masa lalu kamu. Setiap kamu mengingatkan ibu pada laki-laki itu rasanya hati ibu sakit sekali membayangkan Wira kehilangan nyawanya gara-gara dia"


"Ma maaf Bu,Mona gak bermaksud untuk mengingatkan ibu kembali pada kejadian itu. Mona hanya ingin meminta untuk tidak menggangu kehidupan Mona ke depannya,hanya itu"


"Perihal itu kamu gak usah khawatir,ibu janji kedepannya tidak akan ibu biarkan siapapun mengganggu rumah tangga kamu dan nak Fikri"


"Makasih ya Bu,maaf Mona gak bermaksud membuat ibu ingat akan Wira"


"Iya iya,ya sudah sekarang kamu Henna dulu nanti kalau ada apa-apa kamu panggil aja ibu"


"Iya Bu"


Bu Diah keluar dari kamar Mona sembari menyeka air matanya yang hampir jatuh di hadapan putrinya tadi, sedangkan dua orang tadi mulai menghenna tangan Mona. Tepat pukul 22.00 Henna pun selesai,Mona kecepaean hingga tertidur. Bu Diah kembali masuk ke kamarnya dan memastikan bahwa putrinya baik-baik saja


"besok adalah hari bahagia untuk kamu ndok,ibu harap kamu bisa melupakan Wira dan memulai kehidupan kamu yang baru bersama Fikri. Hanya ini yang dapat ibu lakukan agar keselamatan kamu kelak terjaga di tangan nak Fikri"


ucap Bu Diah sambil mengelus lembut rambut putrinya yang sudah tertidur itu


Tak lupa ia kecup keningnya dan mematikan lampu kamar Mona.

__ADS_1


__ADS_2