Dendam Sang Mantan

Dendam Sang Mantan
Kepergian sang Ayah menyisakan Luka


__ADS_3

Tepat pukul 22.00 malam itu saat Mona sedang pulas tertidur ia kembali bermimpi bertemu dengan sang ayah,namun di mimpi kali ini sang ayah mengucapkan berkali-kali kata maaf dan meminta Mona untuk menjaga ibu dan adiknya. Mona terus memohon agar ayahnya segera pulih namun saat itu kondisi ayahnya terlihat jauh lebih baik bahkan ada cahaya mengelilinginya.


"Mona,Mona harus janji buat jaga ibu dan adik jika ayah tidak ada. Mona juga harus jadi anak yang berbakti dan menuruti semua ucapan ibu,jangan kecewakan ayah ya Mon"


"Ayah mau kemana memangnya? bukankah ayah sakit?"


"Ayah sudah sembuh nak,Allah membantu ayah menebus dosa-dosa yang selama ini sudah pernah ayah perbuat terutama membuat anak ayah sendiri merasa tidak bahagia"


"Ayah jangan ngomong begitu,Mona selalu bahagia sepanjang hidup Mona yah,bahkan Mona sudah setuju untuk menikah dengan Dendra jika ayah bangun"


"Kembali atau tidaknya ayah semoga kamu dan Dendra benar-benar menikah,dia adalah laki-laki terbaik yang pantas mendampingi kamu"


"Maafkan Mona yah,selama ini Mona tidak tahu jika apa yang ayah lakukan demi kebaikan Mona sendiri. Mona janji akan menuruti perkataan ayah untuk menikah dengan Dendra"


"Ayah senang mendengarnya"


Dalam mimpi itu tuan Hardjo mencium lembut kening putrinya itu dan memeluknya,namun beberapa setelahnya terlihat ayahnya memudar bersama cahaya yang sedari menyinari tubuhnya kemudian tuan Hardjo hilang dari pelukan putrinya.


Mona berteriak histeris terus memanggil-manggil sang ayah,namun hal itu justru membuatnya tersadar ke alam nyata.


Dendra yang saat itu masuk ke dalam kamar Mona dengan raut wajah sedih terkejut melihat Mona telah terbangun.


"Mona,kenapa kamu bangun?"


"Aku tadi mimpi ketemu ayah lagi Den,dan dalam mimpi itu ayah hilang begitu saja"


Air mata Dendra terjatuh mendengar penuturan Mona, ternyata beberapa menit yang lalu Tuan Hardjo telah meninggalkan dunia ini.


"Kamu kenapa Den? kenapa kamu menangis?"


"Enggak,gak ada kok Mon ini tadi hanya kelilipan"


"Oh ya,aku mau ke kamar ayah. Kamu anterin aku ya"


"Mon, sebaiknya kamu istirahat saja ya kita jenguk ayah kamu besok pagi"

__ADS_1


"Enggak,aku mau sekarang. Kalau kamu gak mau nganterin yaudah aku kesana sendiri"


Mona nekat melepas selang infusnya dan turun dari tempat tidur


"Mon,apa yang kamu lakukan?"


"Aku mau ketemu ayah Den,jangan halangi aku"


"Mon tunggu"


Mona berlari menuju kamar ayahnya namun sesampai disana kamarnya telah kosong,hanya ada dua orang perawat yang sedang membersihkan kamar tersebut.


"Sus,dimana ayah saya?"


tanya Mona panik


"Maaf,mbak siapa pasien?"


"Saya anaknya"


"Ruang jenazah? apa maksud suster? ayah saya itu sedang sakit"


"Maaf mbak,pasien di kamar ini bernama Tuan Hardjo memang baru saja dipindahkan ke ruang jenazah,pasien telah menghembuskan nafas terakhirnya tiga puluh menit yang lalu"


"Gak,gak mungkin"


Dendra yang tengah sampai menyusul Mona berusaha menguatkannya


"Mon,Mona tenang ya"


"Den,mereka salah kan Den. Gak mungkin ayah meninggal"


"Mona kamu tenang dulu ya"


"Dendra antar kan aku bertemu ayah den"

__ADS_1


"Okey,okey kita ketemu ayah kamu ya. Kamu harus tenang dulu"


Sesaat setelah Mona sedikit tenang dendra memapah Mona menuju kamar jenazah,disana sudah terdapat kedua orang tua Dendra beserta nyonya Yekti dan Andini.


"Mama,Andin. Kalian ngapain didepan ruang jenazah?"


ucap Mona


Semua yang ada disana mencoba menahan tangis agar tidak membuat Mona terkejut,sang ibu menghampiri Mona dan memeluknya.


"Sayang,Mona. Ayah sekarang udah istirahat,Mona gak boleh kayak gini lagi ya"


"maksud ibu apa? maksud ibu ayah istirahat kenapa?"


"Mbak,ayah udah gak ada mbak"


ucap Andini yang ikut memeluk kakaknya itu


Mona melepaskan pelukan itu dan terlihat tegang di wajahnya


"Gak,gak mungkin. Ayah gak mungkin ninggalin aku,bahkan barusan aku ketemu dengan ayah dan dia berjanji bakal sembuh"


"Mona,Mona kamu harus kuat sayang. Biarkan ayah pergi dengan tenang"


"Enggak Bu,Ayah tadi baru saja menemui Mona dan bilang dia bakal sama-sama dengan kita lagi kumpul bareng"


Tangis Mona pecah ia tak dapat lagi membendung air matanya,tubuhnya goyah dan terduduk dilantai. Ia histeris mendengar bahwa ayahnya mengingkari janji untuk tidak kembali lagi.



Dendra mencoba menenangkan Mona,ia peluk tubuh mungil yang rapuh itu sambil berkata


"Mon,maafkan aku tidak bisa menepati janjiku. maafkan aku tidak bisa membawa ayahmu kembali"


Semua menangis tetapi mencoba tetap kuat didepan Mona agar ia tak begitu histeris,untung saja kondisi Mona bisa di tangani dengan mudah oleh Dendra ia sedikit tenang didalam pelukannya dan tak tersadar Mona pingsan karena begitu histeris.

__ADS_1


Dendra memutuskan membawa Mona kembali ke kamarnya sedangkan yang lain mengurus kepulangan tuan Hardjo.


__ADS_2