
Di dalam ruang ganti milik Fikri,Lina dengan sangat lihai memoles wajah tampan milik clientnya tersebut. Dengan agak curi-curi pandang dengan ketampanan clientnya,ia mengajak Fikri mengobrol tentang sesuatu hal pribadi sebagai cara Lina mendekatkan diri pada Fikri. Namun tanggapan Fikri cukup acuh tak acuh,ia sama sekali tidak tertarik dengan Lina yang berusaha menggodanya.
Beberapa kali Lina mengibaskan rambutnya di hadapan Fikri seraya menggodanya namun hal tersebut justru membuat Fikri risih dan berkata kasar padanya
"masih butuh berapa jam lagi?"
celetuk Fikri
"Maaf tuan ini hampir selesai,lagipula mempelai wanita juga masih lama. Sebaiknya tuan tunggu di sini dan bersantai terlebih dahulu"
"kalau begitu kamu cek masih lama atau tidak Mona?"
"Baik tuan"
Di ruangan lain Mona sudah hampir selesai,tinggal menambahkan beberapa aksesoris untuk menambah kesan elegan pada gaunnya,tiba-tiba Lina nyelonong masuk ke dalam dan membuat yang lainnya terkejut.
"Mbak Lina,ada apa?"
tanya Guin
"Masih lama gak sih? make up gitu doang lama banget. Lagi pula kalian kan berdua masak gak bisa cepat sih"
"Maaf mbak,tadi mempelai meminta break sebentar untuk sarapan"
"Lebay banget"
celetuk Lina yang kemudian keluar dari ruangan tersebut
Mona menengok ke arah pintu melihat wanita itu keluar dan membuatnya sedikit emosi.
"Maafkan kelancangan senior kami nona"
ucap Irina merasa bersalah
"It's okey,kalian lanjutkan aja jangan hiraukan dia. Biar nanti aku yang mengurus kelancangan mulut wanita itu"
Setelah mengunggu kurang lebih lima belas menit,akhirnya Mona keluar dari ruangannya di dampingi Irina dan Guin,sementara itu Fikri masih belum terlihat di luar.
Saat Irina pergi mengecek ke ruangan satunya,ia melihat Fikri bermain ponsel sementara Lina sedang mengambil segelas air dan menyadari kehadiran juniornya itu.
"Ngapain kamu ngintip-ngintip? gak sopan sekali jadi orang"
__ADS_1
teriak Lina yang membuat Fikri ikut mengalihkan perhatiannya dari ponselnya.
"Maaf kak Lina,mempelai wanita sudah siap"
"Hmmm"
Irina keluar menghampiri Guin dan Mona,melihat Irina yang kembali seorang diri membuat Mona bertanya-tanya kemana Fikri
"Loh kak Irina kok sendirian? Kak Lina sama tuan Fikri mana?"
tanya Guin
"Ada kok di dalam,sebentar lagi juga keluar"
"Tapi sudah selesai kan make up nya?"
tanya Mona
"Sudah nona"
"Ini orang ngapain coba masih di dalam kalau udah selesai,gak tahu apa keburu matahari naik"
ucap Mona yang langsung melangkah menuju ruangan ganti Fikri
Nampak sekali terlihat bahwa Fikri seperti akan mencumbu Lina yang setengah telanjang di hadapannya,Mona langsung masuk dan megejutkan mereka berdua.
"Apa-apaan ini Fik?"
teriak Mona yang terdengar hingga keluar
"Mona,aku bisa jelaskan. Ini tidak seperti yang kamu lihat"
ucap Fikri sembari menghampiri Mona yang tengah tersulut emosi itu
Lina seraya mengambil kain dan menutupi tubuh bagian atasnya
"Jadi ini yang membuatmu untuk enggan segera keluar?"
"Mon sumpah aku tidak ada apa-apa dengan dia"
"Lalu yang baru saja terjadi itu apa? Jelas-jelas kamu menunduk di hadapan dia dengan kondisi dia yang setengah telanjang itu"
__ADS_1
"Tapi aku sama sekali tidak tahu kalau dia melepas kemejanya,aku hanya membantu dia membersihkan susu yang tumpah karena aku menabraknya"
"Susu?? Susu itu yang kamu maksud. Oh jadi jelas ya,semua laki-laki itu sama saja,gak akan menolak kalau masalah gratisan seperti itu"
Guin,Irina,dan beberapa tim fotografer yang mendengar keributan itu langsung menghampiri mereka. Terlihat situasi di sana sangatlah canggung. Apalagi Lina yang sedang membenahkan kemejanya setelah tragedi minumannya yang tumpah itu.
"Mon ini hanya salah paham,aku benar-benar gak tahu kalau dia akan senekat ini menggodaku"
"Yah aku paham kok,paham sekali malah. Penggoda dan pengkhianat memang cocok bukan,dan sepantasnya jika kamu menikah dengannya bukan denganku"
"Mon,jangan ngomong begitu, astaga harus bagaimana aku agar kamu percaya? "
"Entahlah,mungkin aku salah besar sudah memberikan kamu kesempatan untuk menggantikan Wira"
"Mon,Mona tolong pliss jangan seperti ini. Aku benar-benar cinta sama kamu,aku gak mau pernikahan kita batal hanya karena hal ini"
"Lagipula cuma hal seperti ini tidak akan membuatku membatalkan pernikahan ini,karena aku sudah terlanjur janji kepada ibu dan diri aku sendiri untuk tetap menerima perjodohan ini apapun yang terjadi.Oh ya terserah kamu mau main dengan wanita manapun karena itu adalah hakmu,cuma tolong selesaikan terlebih dahulu pemotretan ini supaya aku bisa cepat-cepat pulang. Lalu setelah itu kamu mau kemanapun dan mau ngapain saja dengan dia itu terserah kamu"
"Astagfirullah,apalagi ini Mon?? aku gak akan mengkhianati kamu"
"Oh ya satu lagi,setelah pemotretan ini selesai aku harap ini terakhir kalinya kita bertemu sampai nanti kita di pertemukan kembali di pelaminan"
"Monnn"
"Oh ya dan kamu"
tunjuk Mona pada Lina
"Segitu murahnya harga dirimu itu dan tanpa rasa malu kamu menggoda laki-laki dengan tubuhmu yang gak seberapa itu. Kalau tadi kamu memperlihatkannya padaku lebih dulu, mungkin aku bisa membayarnya dua kali lipat dari pada harus kamu sodorkan secara gratis pada dia"
ucap Mona dengan nada sinis
Kini semua orang disana sudah tahu akan masalah itu,Lina nampak malu karena perbuatannya membuat ia terkihat murahan di mata mereka.
Acara pemotretanpun di mulai,dalam kondisi pikiran yang ingin meledak Mona tetap terlihat profesional dan sangat anggun. Semua pengunjung wisata menatapnya dengan kagum,ada beberapa orang di sana mengambil gambar Mona juga yang kemudian menguploadnya ke media sosial masing-masing.
Banyak respon dari sosial media memuji kecantikan murni yang Mona pancarkan dalam tema foto prewedding ala Mafia itu,dan salah satu guru model ibu kota melihat unggahan foto Mona dan membuatnya tertarik.
Dia bernama Paul Laurent,seorang pembimbing model internasional dengan segudang penghargaan. Ia menilai jika Mona sangatlah anggun dengan tatapan tajam di foto itu,apalagi dengan konsep serba gelap dan hitam membuat wajah putih Mona terpancar bak sebuah lantera.
__ADS_1
Paul Laurent langsung meminta beberapa staff kantornya untuk mencari tahu siapa wanita yang ada di foto viral itu.