Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Anak pungut


__ADS_3

Nilam bangkit perlahan sambil memegangi kepalanya yang terasa pening. "Aku haus sekali," ucapnya lirih.


Ia mengedar pandangan ke sekeliling.


"Ya, Tuhan, aku harus kemana. Dan aku tidak tahu, aku berada dimana?"


"Kau sudah sadar, Nak?" suara seseorang yang muncul dari arah belakang Nilam.


Nilam menoleh ke asal suara. "Nenek siapa?"


"Panggil saja aku Nenek Samiah. Sekarang minumlah. Kamu pasti haus sekali," ucapnya sembari menyodorkan sebuah benda berbentuk gelas memanjang yang terbuat dari bambu, berisi air, kepada Nilam.


Nilam menerima gelas bambu itu, kemudian meminum air di dalamnya, perlahan, hingga tandas. "Terima kasih, Nek."


"Sama-sama, Nak. Sekarang akan kemana tujuanmu?"


"Aku tidak tahu, Nek. Sebenarnya aku ingin pulang. Tetapi aku tidak bisa. Orang itu pasti akan terus mengejarku."


"Dahlan maksudmu?"


Nilam terperanjat kaget. "Nenek tahu?"


Nenek menatap nyalang ke sembarang arah, kemudian beralih menatap Nilam.


"Iya, Nenek sangat tahu."


Nilam menatap heran ke arah Nenek Samiah.


"Nenek tahu darimana? Apa Juragan Dahlan mengejarku sampai ke sini?"


Nenek menggeleng. "Tidak, Nak. Kalau dia berhasil mengejarmu, pasti kau sudah di bawanya pergi dari sini. Sudahlah. Sebaiknya kamu ikut Nenek."


"Kemana, Nek?"


"Bangunlah. Ikuti saja Nenek."


"Baiklah." Nilam bangkit kemudian melangkah mengikuti Nenek Samiah yang sudah berjalan lebih dulu.


Beberapa saat kemudian...


"Masuklah," pinta Nenek Samiah.


"Ini rumah Nenek?" tanya Nilam mengedar pandangannya ke sekeliling.


"Ini tidak pantas di sebut rumah. Hanya gubuk bambu yang entah siapa yang membuatnya."


"Nenek sudah lama tinggal di sini?" tanya Nilam, ia mulai melangkah memasuki gubuk tua itu.


"Dari tujuh tahun yang lalu."


Nilam terkejut. "Benarkah? Seorang diri?"


"Iya."


"Lalu bagaimana cara Nenek bertahan hidup selama disini?"


"Tuhan tidak pernah tidur, Nak. Setiap makhluk yang hidup di dunia ini, segala sesuatunya sudah di atur dengan sangat apik oleh-Nya. Termasuk urusan rezeki."


Nilam tersenyum. "Nenek benar." Ia sudah terduduk di sebuah dipan bambu tua beralas kain yang sudah terlihat usang.

__ADS_1


"Ini makanlah," kata Nenek Samiah menyodorkan sebuah singkong bakar yang di ambilnya dari tungku api tempatnya memasak.


"Terima kasih, Nek."


***


Di rumah sakit


"Bagaimana keadaan kakek saya, Dokter?" tanya Hana cemas.


"Sepertinya kakek Anda mengalami stress berat. Kondisi tubuhnya sangat lemah. Ia butuh perawatan yang intens, untuk memulihkan kesehatannya kembali," jelas dokter wanita paruh baya itu.


"Lakukan saja yang terbaik untuk kakek, Dok." Kenzie mengambil suara.


"Tapi kami tidak punya uang untuk biaya perawatannya, Tuan Muda," kata Murni.


"Anda tidak usah khawatir Nyonya, saya yang akan urus semuanya," ucap Kenzie lugas. "Dan satu lagi, panggil saja saya, Kenzie."


"Terima kasih... Nak Kenzie . Panggil juga aku Bibi," kata Murni.


Kenzie tersenyum. "Baiklah Bibi." Ia lalu menoleh ke arah Hana. "Hana, bisa kita bicara di luar sebentar?"


Hana mengangguk pelan. "Baik, Tuan."


Hana dan Kenzie melangkah keluar meninggalkan Murni beserta seorang dokter dan perawat di dalam ruang rawat kakek Usman.


Setelah di luar, keduanya duduk di antara deretan kursi tunggu yang tersandar pada dinding ruangan itu.


"Apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya, Tuan Kenzie?"


"Hana, jangan bicara dan memanggilku terlalu formal. Panggil saja aku Ken. Bisa?"


Kenzie tersenyum. "Begitu lebih enak di dengar."


"Lalu, apa yang ingin kamu bicarakan, K-Ken?" tanya Hana masih terlihat kaku.


"Tidak usah sungkan, santai saja." Kenzie kembali memasang senyumnya.


"Oiya, aku ingin bertanya. Maksud ucapanmu di rumahmu tadi, Nilam d paksa menikah oleh ibumu?"


Hana menunduk, dengan jari-jemariny yang saling meremas. "Ibu menjual kak Nilam pada Juragan Dahlan, lelaki tua pemilik perkebunan teh, tempat kak Nilam bekerja."


"Menjual?" tanya Kenzie kaget.


Hana mengangguk lemah. "Ibu memang sangat membenci kak Nilam. Dan sangat menginginkan kak Nilam keluar dari rumah kami. Tapi kakek selalu berhasil menghalangi ibu. Hingga akhirnya...." Hana mulai meneteskan air matanya.


"Akhirnya ibumu berhasil menyingkirkan Nilam. Dengan menjualnya pada Juragan itu. Begitu, Hana?" terka Kenzie.


Hana mengangguk lemah. "Iya, Ken." Hana kemudian mendongak menatap wajah Kenzie. "Tolong cari kak Nilam, Ken. Dia hilang dari rumah Juragan tua itu. Aku sangat mengkhawatirkannya. Dia pasti takut untuk kembali ke rumah," pinta Hana penuh harap.


"Aku akan berusaha membantu. Tapi aku ingin tahu satu hal terlebih dahulu darimu, Hana."


"Apa?"


"Kenapa ibumu ingin menyingkirkan Nilam?"


Hana mengubah pandangannya ke arah depan. "Karena ibu bilang, kak Nilam sudah merebut kasih sayang semua orang, yang seharusnya di berikan kepadaku."


"Lalu kau percaya?" tanya Kenzie. "Aku memang baru mengenal Nilam beberapa saat saja. Tapi aku tahu, dia gadis yang tulus," lanjutnya.

__ADS_1


"Kamu benar, Ken. Dia selalu mendapatkan perlakuan buruk dari ibuku. Tetapi dia tidak pernah sedikitpun membencinya. Bahkan dia sangat menyayangi aku," ujar Hana tersenyum menatap Kenzie.


Kenzie membalas senyuman Hana. "Aku akan berusaha mencarinya sampai dapat."


"Terima kasih, Ken. Aku percaya padamu," ucap Hana tulus. "Maaf, kalau aku boleh tahu, ada keperluan apa kamu datang ke desa ini?" lanjutnya bertanya.


"Aku ada kepentingan bisnis di sini."


"Bisnis? Bisnis semacam apa, Ken?" tanya Hana. Kemudian ia mengerjap salah tingkah. "Emm, maaf, jika aku terlalu lancang."


"Tidak apa-apa, Hana. Tidak masalah. Aku datang ke desamu karena di utus perusahaan temanku di kota, untuk melakukan kerjasama dengan seorang pembisnis di desa ini."


"Kerjasama? Dengan pembisnis di desaku?" Hana bertanya Heran.


Kenzie mengangguk. "Benar. Dan kamu tahu, siapa orang itu?" tanya Kenzie memberi teka teki.


Hana menggeleng.


"Juragan Dahlan."


Hana tersentak tak percaya. "Ju-juragan Dahlan? Benarkah? Ta-tapi kenapa dia?" tanya Hana terbata.


"Karena perusahaan tempatku bekerja, membutuhkan pasokan daun teh yang cukup banyak, untuk keperluan industri produksi kami. Dan teh Juragan Dahlan itulah, yang paling memenuhi syarat kualitas dan kuantitas produk kami."


"Begitu," ucap Hana singkat.


"Kenapa, Hana?"


"Tidak apa-apa. Aku hanya bingung. Kenapa orang sekaya Juragan Dahlan, sampai mau menikahi paksa seorang gadis miskin seperti kak Nilam. Padahal dia sudah memiliki tiga orang isteri. Yang ketiganya berasal dari golongan yang sama dengannya."


"Benarkah, tiga orang isteri?" tanya Kenzie sedikit terkejut.


"Iya, yang lebih parah lagi, setiap orang yang meminjam uang padanya, harus menggantinya berkali-kali lipat. Bahkan dari yang ku dengar, dia juga tega membawa paksa para gadis di desa ini, untuk di jadikan budak nafsunya. Bila orang tua mereka tidak mampu membayar hutang padanya."


Kenzie membulatkan matanya mendengar penuturan Hana. "Sekejam itukah, dia?"


"Benar, Ken."


"Lalu Nilam? Apakah kakek atau ibumu juga memiliki hutang pada Juragan itu?"


Hana menggelengkan kepalanya. "Tidak seperti itu, Ken. Juragan tua itu memang menginginkan kak Nilam sejak lama. Karena kecantikan kak Nilam yang memikat banyak lelaki di desa ini, yang menyebabkannya terobsesi untuk memiliki kak Nilam dan menjadikannya isteri."


Kenzie terdiam sesaat. "Biar aku tebak, keinginan Juragan itu memiliki Nilam, membuka jalan untuk ibumu, menyingkirkan Nilam dengan jalan menjualnya. Benar begitu, Hana?"


Hana menutupi mulutnya dengan telapak tangannya. Ia mulai menyuarakan tangisnya pelan. Kemudian mengangguk. "Kamu, benar Ken. Ibuku memang sekejam itu," ucapnya dengan air mata yang mulai menganak sungai.


"Maaf Hana, aku tidak bermaksud menggunjing ibumu. Aku hanya ingin tahu. Bukankah Nilam itu keponakannya, dan kalian itu bersaudara? Tapi kenapa ibumu bisa sekejam itu pada Nilam?" tanya Kenzie penasaran.


Nilam menarik nafas dalam. Kemudian menghembuskannya perlahan.


"Aku baru tahu akhir-akhir ini dari Kakek. Bahwa kak Nilam bukanlah cucu kandungnya. Dia hanyalah seorang anak pungut dari bibi Marni, kakaknya ibuku."


"Anak pungut?"


"Iyan, Ken. Kakek bilang, sekitar 21 tahun yang lalu, paman Wisnu, suami dari bibi Marni, menemukan seorang bayi berusia sekitar kurang dari satu tahun, tergeletak di pinggir jalan menuju kota. Dan bayi itu adalah kak Nilam, Ken."


Kenzie terdiam, berusaha memcerna setiap bait kalimat yang di sampaikan Hana. Matanya menatap tajam ke sembarang arah.


"21 tahun yang lalu...?"

__ADS_1


__ADS_2