Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Sebuket Bunga Gerbera


__ADS_3

"Edrick! Ku mohon ... jangan ... jangan lukai mereka. Angkat kembali semua bom itu. Aku mohon, Edrick." Berlutut memohon dibawah kaki Edrick, Nilam terus meraung, berharap lelaki itu bisa merubah segala settingnya. "Kamu akan melukai banyak orang, Edrick!"


"Bangkitlah." Mengangkat pundak Nilam. "Aku tidak suka kau seperti ini. Aku ngin kau menjadi pendampingku, bukan budakku!"


"Tidak! Sebelum kamu mengabulkan apa yang aku minta. Aku akan lakukan apapun yang kamu inginkan, asalkan kamu lepaskan mereka dan angkat semua bom yang telah kamu taruh itu."


Menurunkan tubuh, menyetarakan posisinya dengan Nilam. Diangkatnya dagu manis itu sedikit mendongak. "Janji, kamu akan lakukan apapun?" tanya Edrick memastikan.


Tak ada waktu lagi untuk berargumen dengan pikirannya sendiri, Nilam mengangguk cepat. "Aku berjanji."


Akan lebih menyakitkan jika suatu hari ia mendengar kabar kematian orang-orang yang dicintainya, karena ledakkan bom itu. Jadi biarlah seperti ini. Mengorbankan yang seharusnya!


Seperti bunga yang sampai pada waktu mekarnya, mendengar bait kalimat Nilam, senyuman Edrick mengembang seketika. Di belainya pipi halus itu lembut, lalu mulai memajukan wajahnya.


Sumpah demi apapun, hembusan nafas Edrick yang semakin dekat, membuat Nilam semakin merasa jijik selain jiwa setan pria itu.


Dan akhirnya, kecupan itu berubah mengambang, setelah Nilam lebih dulu memalingkan wajahnya.


"Kenapa? Bukankah kau siap melakukan apapun asalkan aku menarik kembali bom-bom itu?"


Terlalu bodoh!


Nilam membalik wajah kembali menatap Edrick. "Nikahi aku!"


JRENGG!


Terkejut? Jangan tanyakan lagi. Dengan mulut sedikit menganga, mata yang terpicing, dan kepala yang dimiringkan. "Apa katamu? Bisa kau ulang kembali, Nilam?" tanyanya lagi-lagi memastikan.


Dengan air luka yang masih setia mengaliri wajah, teriring dentaman yang semakin tak terkendali jauh didalam dadanya. Sungguh, ini adalah pilihan yang sangat berat. "Nikahi aku!" Lalu semakin keras menyuarakan tangisnya.


"Benarkah? Kau ingin aku nikahi?" Dengan senyum merekah. Air mata Nilam seolah hanya tampilan tak kasat mata dalam pandangan Edrick. Tak perduli! "Kau sangat mengagumkan! Aku bahkan belum memikirkan opsi semacam itu dalam rencanaku."


Hanya itu satu-satunya cara!


Menikahi lelaki itu. Membelenggu dirinya agar tak ada perasaan ingin kembali. Menjadi isterinya mungkin akan lebih baik, dibandingkan dijamah tanpa ada ikatan. Dan yang paling utama... demi keselamatan orang-orang yang dicintainya.


Segores luka dan kesakitan akan ia tahan.


Sepahit kisah membulat akan ia telan.


Sehancur kehidupan akan ia jalani.


Biarlah!


Gavin ... maafkan aku ....


Ibu, Ayah, Kak Ken, semuanya maafkan aku....


...••••...


Siang hari di rumah utama.

__ADS_1


BMW i8 milik Gavin baru saja masuk kepelataran halaman luas, rumah tempat dimana Kenzie dibesarkan. Dan kini Nilam juga menjadi Nona Muda dirumah bergaya klasik itu.


Setelan kasual t-sirt putih polos, berbalut kemeja denim yang tak dikancing diluarnya, berpadu slim fit jeans, dan kets putih menutup telapak kakinya, membuatnya terlihat bak model sekelas Serge Rigvava.


Dengan penuh semangat ia melangkahkan kaki menuju daun pintu utama yang menjulang 50 centi melewati tinggi tubuhnya. Sebuket bunga Gerbera dengan empat varian warna berbeda terselip manis mengisi telapak tangan kirinya, yang sesekali diciumnya.


Pintu tersibak setelah dua kali ia menekan bell.


"Gavin." Melihat sosok pemuda tampan calon menantunya itu, kening Dalia berkerut tebal dengan kedua alis nyaris saling bertemu. Memutar kepalanya ke kiri, ke kanan dan belakang tubuh Gavin, seolah mencari. "Dimana Nilam?"


"Nilam?" Tertular! Gavin ikut mengernyit terheran, mengikuti pandangan Dalia yang masih meliuk melihat kesana kemari. "Maksud Ibu?"


"Bukankah Nilam bersamamu?"


Semakin tak mengerti. "Bersamaku?" Mengulang pertanyaan. "Ibu jangan bercanda, aku kan baru saja datang. Dan tentu saja untuk bertemu Nilam," terang Gavin.


DEG


"Lalu kemana Nilam? Dia pergi pagi-pagi sekali tadi. Dan dia bilang, dia akan bertemu denganmu."


"Apa?!" Gavin dalam kejutnya.


"Iya, Gav. Kamu bahkan mengirimkan supir untuk menjemputnya."


"Bu ... aku tidak mengutus siapapun." Cemas seketika melanda.


"Ya, Tuhan. Lalu siapa yang menjemputnya tadi pagi?" Menggigit ujung kukunya, dengan tangan lain dilipatnya dibawah perut, Dalia mulai dirayapi resah.


Dalia menggeleng. "Tidak! Ibu juga tahu Nilam dijemput supir itu dari Bik Ningsih."


Gavin mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi nomor Nilam. Namun naas, nomor itu dalam keadaan diluar jangkauan dan sudah jelas tak bisa dihubungi. Berulang kali mencoba, namun hasilnya tetap sama, nihil !


Tanpa babibu lagi, ia melesat kedalam rumah menuju dapur untuk menemui Bik Ningsih, asisten rumah tangga yang pagi tadi menemani Nilam membuka surat kiriman itu.


Dapat!


Setelah tak menemukannya didapur, akhirnya wanita paruh baya itu dilihat Gavin dibelakang rumah dengan kain basah dan tiang jemuran dihadapannya.


"Bik ... Bibik," panggilnya tergesa.


Pemilik sebutan itu menoleh. "Tuan Muda Gavin."


"Bibik tahu siapa yang menjemput Nilam tadi pagi?!"


Sejenak berpikir, lalu menggeleng kemudian. "Tidak, Tuan Muda."


"Ya, Tuhan.... Kemana dia?"


"Tapi, Nona bilang, Tuan Muda yang mengirim supir itu untuk menjemputnya."


"Bukan, Bik. Bukan aku!"

__ADS_1


"Lalu surat itu?"


"Surat? Surat apa, Bik?" Dengan wajah jelas terheran.


Dalia sudah berdiri tepat disamping Gavin.


"Surat yang Tuan kirimkan tadi pagi-pagi buta, melalui seorang perempuan bertopi. Nona bilang, surat itu kiriman Tuan Muda Gavin," beber wanita itu.


Gavin dan Dalia saling bertukar pandang.


"Kita periksa cctv," usul Dalia.


"Ide bagus, Bu. Ayo."


Beberapa saat kemudian. Layar berlipat itu sudah berada dihadapan mereka. Slide kejadian itu mulai terputar. Menunjukkan aktifitas Nilam pagi tadi, hingga tubuhnya ditelan pintu mobil yang kemudian membawanya pergi.


"Itu bukan mobilku, Bu. Dan wanita itu, aku tidak mengenalnya sama sekali."


Apa mungkin Dahlan? Terka hati Gavin. Tapi rasanya tidak mungkin. Sementara dia sudah terputus dengan segala koneksinya.


Dalia menutup mulutnya tak percaya. Menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa dengan isakkan yang mulai menyeruak. "Puteriku. Tidak...." Menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak mungkin!"


Terlihat Gavin berkutat dengan ponselnya, lalu menaruhnya dibagian telinga. Ia menghubungi seseorang. "Ken... hallo, Ken."


"Ya, ada apa?" Diseberang line, Kenzie menyahuti dengan nada malas.


"Nilam diculik, Ken!" Tanpa si basa dan si basi.


"Apa katamu? Diculik?!" Sepertinya Kenzie terperanjat.


"Iya, Ken. Seseorang memakai namaku untuk menjebaknya."


"Kau dimana sekarang?!"


"Dirumahmu!"


Sambungan ditutup Kenzie.


"Gav... tolong temukan Nilam, Gav. Ibu mohon." Dalia terus meraung seraya mengguncang pundak Gavin.


Menarik tubuh tua itu kedalam rengkuh peluknya. Mengusap punggung yang berguncang itu lembut. "Tenang, Bu. Kita pasti akan menemukannya. Kenzie sedang dalam perjalanan kemari. Kita tunggu dia, baru kita pikirkan caranya."


Sungguh....


Cerita hati yang saling bersambut itu baru saja akan menjejaki sakralnya pernikahan. Melakukan penyatuan dihadapan Tuhan. Namun mengapa, ujian kembali merundungnya? Mungkinkah ia dan Nilam memang tidak ditakdirkan bersama?


Ditatapnya buket bunga gerbera yang tergeletak disampngnya, seolah mengolok dan menertawakannya.


Cinta dan kepahitan ... mungkin akan selalu berdampingan, menggoda atau mungkin ....


Menghancurkan!

__ADS_1


Bisakah tak sekejam ini?


__ADS_2