
Flashback on
Suara dentaman musik, hingar-bingar memekakkan telinga. Para penikmat itu menari meliuk-liuk bak medusa. Seolah memperlihatkan, bahwa hidup mereka ringan tanpa beban.
Belaian tangan gemulai dari para wanita pemburu rupiah keruh itu, terus memaksa sang Tuan untuk menyambutnya. Namun sial, tepisan kasar dari si calon mangsa yang menurut mereka empuk itu, menunjukkan penolakkan yang tak bisa di bantah.
Para kupu-kupu liar itu akhirnya pergi menghentak kaki dengan wajah memberengut masam. Totalitas penampilan yang super seksi itu tak menggoda apalagi membius pria itu sama sekali.
Kenzie! Dia bukanlah tipe lelaki yang welcome dengan godaan receh semurah itu.
Memilih satu kursi jangkung untuk didudukinya dihadapan pria bartender. Segelas tinggi minuman berwarna orange tanpa alkohol, tergenggam tanpa malu ditelapak tangannya.
Masa bodo!
Meskipun tempat itu syarat akan bau khamar yang menyengat, maksiat, dan para tubuh wanita yang hampir mendekati bugil itu, sama sekali tak di indahkannya.
Ia datang ke tempat haram itu untuk satu tujuan. Yang entah apa.
Kepalanya berputar mencari-cari. Sapuan setiap detail tempat itu, tak luput dari pandangannya.
Hingga....
"Itu dia!"
Menaruh gelas itu ke meja, lalu berjalan ke arah satu titik yang dilihatnya.
Seorang wanita, duduk di sebuah sofa. Disamping kanan dan kirinya, para lelaki hidung loreng menatapnya bak singa kelaparan yang siap menerkam. Lekuk tubuhnya yang menonjol tak lepas dari sentuhan tangan-tangan nakal itu.
"Mona!"
Suara panggilan dengan oktaf sedikit tinggi itu, sukses membuat si pemilik nama mendongak.
Entah mengapa senyuman nakal dan cekikikan yang semula terumbar penuh godaan itu tiba-tiba berubah tegang, kala melihat sosok tinggi tegap nan tampan berdiri menatap lurus ke arahnya, tersekat sebuah meja di hadapannya. "Kenzie," suara pelannya. Matanya menatap terkejut.
"Bisa kita bicara?" tanya Kenzie.
Andai ia tak ada kepentingan pada wanita itu, sangat anti baginya datang ke tempat semacam itu.
Terlebih pemandangan imitasi di hadapannya. Memuakkan!
Bukan karena munafik, namun baginya, ada banyak tempat yang lebih menarik dan menyenangkan dibanding tempat itu, untuk dikunjungi.
Ke Ragunan misalnya. Wkwk.
"Ada apa?" tanya wanita bernama Mona itu.
"Bisa kita bicara?" Kenzie mengulang pertanyaan.
__ADS_1
"Ak--"
"Hey, Bung! Kau ini mengganggu sekali. Mona ini sudah kita bayar mahal untuk menemani kita bersenang-senang sampai puas malam ini. Jadi enyahlah dari sini!" pungkas salah satu lelaki disamping Mona.
"Iya, atau kau ingin kami buat babak belur?" timpal lainnya.
Namun ancaman cilik itu malah berbalas senyuman miring di wajah Kenzie. "Aku tidak ada urusan dengan kalian!"
Salah satu mulai berdiri. "Tentu ada. Dia ini wanita kami. Kami sudah membookingnya. Kau harus rela menunggu giliran."
Cuihh !! Menunggu giliran .... Menjijikkan!
"Kalau aku ingin membawanya sekarang?" tantang Kenzie.
Mona sudah dalam mode cemas.
"Apa katamu ...? Berani sekali kau anak muda! Kau tidak akan bisa membawanya seenak jidatmu!"
Ia mulai maju mendekat ke arah Kenzie. Untuk melayangkan satu pukulan. Namun ....
GEPP!!
Laju telapak tangan itu terpotong gerak tangkas Kenzie. "Baiklah. Aku tidak ingin mencari keributan dengan kalian." Mengambil sesuatu dari dalam saku boomber yang dikenakannya, kemudian meraih telapak tangan lelaki itu, dan menaruh sesuatu di dalamnya. "Aku rasa jumlahnya lebih banyak dari yang kalian berikan pada wanita itu."
Setelah melihat jumlah uang ditelapak tangannya, kedua lelaki pelanggan Mona itu saling melempar pandang. Lalu .... "Baiklah. Kau boleh bawa dia bersamamu," ujarnya.
Pemuda itu ... apa maunya sebenarnya?
"Cepat! Kau sudah berpindah tangan Mona," titah lelaki itu.
Meskipun ada sirat enggan di wajahnya, namun tatapan intimidasi Kenzie membuat Mona tak kuasa untuk menolak. Dengan ragu ia mengangkat tubuhnya untuk bangkit. Dan mulai mengikuti Kenzie yang telah melenggang lebih dulu ke arah pintu keluar.
"Masuk!" titah Kenzie tegas. Ia meminta Mona untuk menyusupkan tubuhya kedalam mobilnya. "Di depan! Kau pikir aku supir!"
Kalimat sarkas itu membuat Mona mendelik sebal. "Iya." Ia menutup kembali pintu kedua yang telah salah disibaknya. Dan black lamborghini itupun mulai melaju, dengan Kenzie dibalik kemudi.
Di perjalanan.
Bisakah gelisah itu enyah?
Sungguh ... Mona kini dalam bahasa resahnya.
"Sebenarnya kau akan membawaku kemana, Kenzie?" Pertanyaan hasilnya mengumpulkan keberanian.
Fokus pada kemudi tanpa menoleh.
Tak ada balasan ataupun jawaban untuk pertanyaan Mona itu. Bayangan ketika ia melihat wanita itu di ***** dan diraba tubuhnya tanpa penolakkan apalagi perlawanan, oleh para lelaki loreng itu, sungguh sangat mengganggu pikirannya.
__ADS_1
Dan disini, suara Author mengudara, Hey Kenzie! Mona itu seorang *****! Mana mungkin ia menolak. Itu profesinya. Otor tepuk jidat lagi.
Namun bukan! Bukan karena Kenzie menaruh rasa mulia pada wanita itu.
Bukan juga ia perduli.
Namun ada satu hal yang mengganjal di pikiran dan hatinya.
"Kenapa kau membohongi ibumu, tentang pekerjaanmu?" Akhirnya, ganjalan itu tersembul keluar.
Dan tersentak! Begitulah Mona kini. "Darimana kau tahu?"
"Apakah itu penting menurutmu?"
Menjambak rambut ataupun mencakar wajah pria yang empat tahun lebih muda darinya itu, sungguh sangat ingin di lakukan Mona saat ini. Mengesalkan!
"Tidak!" Dan raut wajah memberengut di jadikannya penutup.
Kenzie menoleh sekilas pada wanita disampingnya. "Aku datang kerumah ibumu. Dan jawaban saat aku bertanya kau bekerja dimana, Beliau bilang ... kau bekerja di tempat ini sebagai petugas kebersihan. Tapi nyatanya ...." Tersenyum masam. "Aku rasa masih banyak pekerjaan lain yang lebih baik dari yang kamu geluti sekarang, Mona."
Wajah oval dengan hidung mancung itu di hadapkan pada Kenzie."Hidupku sudah terlanjur hancur. Semua perusahaan tidak ada yang mau menerimaku. Bahkan untuk menjadikanku pembantupun, tidak ada yang sudi. Jadi hanya pekerjaan ini, yang bisa membantuku menyambung hidup," tutur Mona bermuram durja.
Kalimat panjang itu cukup menyentuh titik hati Kenzie. "Kenapa tidak datang padaku? Aku bisa memberimu pekerjaan."
Pedal rem sudah di injaknya. Dan mobil itu kini sudah terhenti di sebuah tempat.
Danau kota!
"Aku sudah terlalu banyak menyusahkanmu."
Tanpa menggubris jawaban wanita itu, Kenzie memutar tubuhnya. Meraih sesuatu dari kursi bagian belakang mobil mewahnya. "Ini pakailah." Sebuah jaket hoody berwarna biru di sodorkannya pada Mona.
Turun lebih dulu dari mobilnya. Melangkahkan kakinya dengan lambat, dan saku celana menjadi tempat terhangat untuk kedua telapak tangannya yang telanjang.
Menghadap lurus ke depan. Hamparan Danau buatan dihadapannya itu, memenuhi netra hitam Kenzie. Mona sudah berdiri berjarak dua jengkal disampingnya. Hoody biru miliknya sudah terbalut hangat di tubuh langsing wanita itu.
Dalam hati Mona.
Andai lelaki muda yang berdiri disampingnya itu adalah miliknya, mungkin ia akan menjadi wanita paling beruntung dan bahagia di muka bumi ini.
Namun jelas ia sadar, itu hanyalah sebuah pemikiran muluk yang kosong tanpa harapan setitikpun. Pria sesempurna Kenzie, sudah pasti memilih wanita yang juga sempurna, bukan kotoran burung seperti dirinya.
Ah sudahlah ....harapan bodoh, menyingkirlah darinya!!
โกโกโกโก
๐๐๐๐
__ADS_1