
"Setelah ini aku tidak tahu, apakah aku masih bisa bernafas lagi atau tidak."
"Tenang, Nona. Kau berada dalam jaminan kami. Untuk saat ini kembalilah dulu ke tempatmu. Berikan alasan semasuk akal mungkin." Gavin meyakinkan.
"Tapi bagimana jika tadi ada yang mengikuti kemari?"
"Aku dan ayahku sudah menyusur seluruh lingkungan dan bagian rumah ini hingga ke ujung portal." Menggeleng. "Semua aman. Kau sudah ku pesankan taksi." Kenzie meyakinkan.
"Syukurlah. Kalau begitu aku harus pergi sekarang." Hera mulai berdiri.
"Ingat, Nona! Saat kau memberikan alasan, tenangkan nada bicaramu. Jangan sampai gemetar." Gavin mengingatkan dengan telunjuk yang mengacung-acung terarah pada wanita itu.
"Baik, Tuan."
Selepas kepergian Hera.
"Sekarang saatnya kita cari dimana Edrick menanam bom itu dirumah ini!" seru Kenzie mengajak.
"Oke. Tapi jangan sampai terdengar ibumu. Ayah khawatir dia akan ketakutan."
"Aku mengerti, Yah."
Menyapu pandang, mengitari setiap detail lingkungan luar dan dalam mulai dilakukan ketiganya. Semua sudut hampir mendapatkan tatapan dan sentuhan hingga hampir setengah jam lamanya kegiatan itu berlangsung.
"Bagaimana, Ken?" Apa ada yang mencurigakan?" tanya Kevin menghampiri Kenzie yang tengah menyibak-nyibak sekumpulan tanaman yang tertata di sekitar halaman.
"Belum, Yah."
Hingga suara dering ponsel menghentikan pergerakannya. "Ya, Gav.... Ok!" Menutup panggilannya. "Kita ke belakang, Yah."
"Ada apa?" Seraya mengikuti Kenzie yang mulai melangkah cepat.
"Aku tidak tahu. Sepertinya Gavin menemukan sesuatu."
Sesampainya.
"Apa yang kau temukan?" Bertanya tergesa.
"Kau lihat ini, Ken?" Gavin mengarahkan wajahnya pada sebuah panel listrik yang terpasang didinding belakang rumah besar itu, dengan pintu penutup yang sudah tersibak.
"Astaga! Ya, Tuhan! Ini jenis bom waktu- High eksplosive!" pekik Kenzie terkejut. "Kekuatannya tidak main-main. Jika ini meledak, maka bukan hanya rumah ini yang akan hancur." Memandang Gavin dan ayahnya bergiliran.
"Edrick benar-benar tidak main-main." Mata elang Gavin menatap tajam pada kotak persegi berukuran 20Γ20 cm yang diletakkan didalam panel listrik itu.
"Ayah akan menghubungi Gegana untuk menjinakannya segera."
"Tunggu, Ayah!"
Panggilan Kenzie refleks menggagalkan laju langkah Kevin. "Ada apa, Ken?"
"Aku sudah meminta bantuan seseorang. Dia memiliki kemampuan pemahaman dibidang peledak," ujar Kenzie. "Jika kita melibatkan Gegana, aku khawatir Edrick akan mencium pergerakan kita. Terlalu riskan. Karena masih ada tiga bom lainnya yang harus kita jinakkan."
"Kenzie benar, Om. Jika Edrick mengetahuinya, selain Nilam, kita juga akan membahayakan nyawa banyak orang."
Sejenak Kevin terdiam. "Kalian benar. Kalau begitu cepatlah!"
"Orang itu sedang dalam perjalanan kemari."
__ADS_1
"Ayah harap dia bisa cepat."
Selang beberapa waktu. Suara mesin dari dua jenis kendaraan berbeda, terdengar berderu dihalaman rumah.
Turunlah seorang lelaki berwajah kebarat-baratan, berperawakan tinggi dan tegap dengan kotak berjinjing ditangan kanannya, dari dalam robot pengangkut beroda empat.
Satu kendaraan bermotor jenis Ninja non Hatory ikut terparkir disamping kirinya. Dan nampaklah wajah Chaka dibalik helm yang sudah dilepasnya. "Mari, Tuan, ikut saya," ajaknya.
Dari kejauhan, sudah terlihat tiga orang lelaki yang berdiri dengan formasi serampangan, menatap langkah keduanya.
Setelah mendekat.
"Ken, maaf aku agak lama." Mengulurkan telapak tangannya ke arah Kenzie, pria bule itu terlihat menyesalkan.
"Tidak apa-apa, Mark. Aku cukup memaklumi," imbuh Kenzie. "Oiya, kenalkan, ini Ayahku." Mengarahkan telapak tangannya pada Kevin.
"Hallo, Tuan. Aku Mark." Mengulurkan jabat tangan tanda perkenalannya pada Kevin.
Menerima dengan segala karismanya. "Panggil saja Om Kevin."
"Oh, baiklah, dengan senang hati, Om." Tersenyum.
"Dan ini Gavin, sahabatku. CEO Pradana Group."
"Oh, hay, Tu ...." Belum selesai ucapan introduksi itu selesai, Mark sudah melebarkan bingkai melar kedua matanya. "K-kau ... bukankah, kau ...."
Gavin tersenyum simpul. "Hay, Tuan Mark. Kita bertemu kembali." Seraya meraih paksa telapak tangan Mark yang masih melayang lemas dihadapannya.
"Kalian sudah saling mengenal?" Kenzie dengan kerutan diwajahnya.
"Oh, tidak! Hanya bertemu sekilasan saja," kilah Gavin. "Kalau begitu, bisa Anda memulai pekerjaan Anda, Tuan Mark? Ini sudah lebih dari sekedar urgent."
"Ini dia, Mark." Kenzie menunjukkan letaknya.
"Ouh. Bom waktu. Benda ini akan meledak jika waktu yang bergerak di dalamnya mencapai limit." Mengangkat benda kotak itu lalu membawa dan menaruhnya diatas hamparan rumput hias dari species gajah mini yang memenuhi hampir seluruh bagian tanah dihalaman belakang rumah itu.
"Tapi sepertinya orang itu baru hanya memberi peringatan. Karena ia belum menekan tombol controlnya. Perhitungan waktunya belum berjalan," lanjut Mark yang kini mulai mengotak atik bagian detonator benda itu.
"Apakah bisa kau jinakkan?" Kevin dalam harap dan cemasnya.
Melirik Kevin sekilas, senyuman tipis Mark seolah memberi harapan. "Tentu, Om. Aku sudah menangani jenis ini puluhan kali." Mulai membuka dan mengobrak abrik bagian kotak jinjingnya.
"Owh, syukurlah kalau begitu."
"Maaf, Tuan Mark. Masih ada tiga bom lain yang terletak ditempat yang berbeda. Jadi, bisa lebih cepat?!"
Entahlah, apa yang membulat dalam pikirnya, Mark hanya mengangguk menanggapi kalimat Gavin, tanpa mengalihkan pandangnya dari titik pergerakkan tangannya.
"Jangan takut, aku akan membayarmu mahal untuk ini."
Kali ini, mata coklat Mark, teralih menatap pria yang berjongkok dengan tekukan kaki berzigzag dihadapannya. "Jika kau ingin pekerjaanku berhasil tanpa kesalahan, ku harap kau menutup mulutmu!" Sinisme!
Telak!
Gavin memaku layaknya kecoa yang terinjak.
Chaka! Pemuda yang sedari tadi hanya berdiri diam memperhatikan, memasang senyuman geli menanggapi perang dingin antara Mark dan Gavin. Dasar Boss gila!
__ADS_1
Juga Kenzie, menangkap kejanggalan di balik percakapan antara sahabat dan rekannya itu, sama menggeleng tak habis pikir. Ada apa dengan mereka? "Gav, aku rasa Mark benar, ini bukan urusan servis elektronik ataupun pembetulan kabel-kabel robot-robot transformer mainanmu. Jadi tenanglah. Kita tidak bisa gegabah."
"Baiklah." Dengan wajah malasnya, seraya berdiri mengambil langkah menuju sebuah pohon mangga tanpa buah yang berdiri tak jauh dari asal posisinya. Menyenderkan tubuhnya dengan lengan bersilang. "Aku disini saja."
Itu lebih baik, Boss. Chaka
Tak lama ....
"Selesai! Benda ini sudah kehilangan fungsinya," tutur Mark seraya menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya satu sama lain.
"Benarkah?" Kevin maju memastikan.
"Iya, Om."
"Syukurlah."
Semua sudah berdiri.
"Baiklah, Mark. Aku akan terus merepotkanmu dalam beberapa waktu kedepan. Masih ada tiga bom lagi yang harus kau jinakkan."
Menepuk pundak Kenzie, dengan pulasan senyum. "Tenang saja, semua pasti ku tangani."
"Aku ingin ini secepatnya selesai, Mark. Adikku dalam bahaya."
"Baiklah, walaupun aku belum mengetahui duduk masalahmu. Kita lakukan yang selanjutnya sekarang juga."
"Oke! Aku ambil kunci mobilku dulu." Kenzie turut tersenyum penuh harapan.
Usai membereskan seluruh peralatannya, Mark mulai mengikuti Kenzie yang mulai melangkah lebih dulu didepan.
"Tunggu, Tuan Mark," cegat Gavin menyusul langkah pria bule itu.
"Ada apa, Tuan Gavin?" Memutar tubuh menghentikan gerak langkahnya.
"Kenapa Anita kau tinggalkan?" Gavin sudah berdiri tepat dihadapan lelaki bule itu.
"Anita?" Mengernyit.
"Ya."
"Semenjak kejadian itu, aku tidak pernah menemuinya lagi. Dia juga tidak pernah mencariku. Dan sekarang aku sudah menikah. Sella, nama isteriku," terang Mark.
Oh, jadi mereka punya masalah sebelumnya. Pantas saja. Hmm....
Chaka! Pemuda itu sengaja memilih langkah belakangan untuk menjawab kekepoannya.
"Ouh begitu. Jika sekarang kau mulai penasaran tentang Anita, kau bisa menjenguknya dipenjara kota!" Gavin lalu melenggang pergi meninggalkan Mark yang cukup terkejut dengan kalimat akhirnya.
"Bos tunggu!"
"Hh?" Gavin menoleh. "Kau ...."
"Hehe...." Menggaruk kepala yang sama sekali tak berkutu. "Maaf." Mengangkat telunjuk dan jari tengahnya ke hadapan wajahnya membentuk huruf 'V', Chaka cengengesan kikuk.
"Dasar penguntit!!!" teriak Gavin.
"Lariiii...." Dan pemuda gesrek itupun melanting kocar dan kacir.
__ADS_1
...πππ...
...Hera _ Endπβ...