Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Romansa di pagi hari


__ADS_3

Pagi dengan gagah bertahta pada porosnya. Ayam jantan berdiri membusungkan dada, bersiap menyemburkan teriakannya, membangunkan lelap manusia.


Guyuran air hujan semalam, menyisakan tetesan yang menjatuhkan diri dengan manja, di ujung dedaunan yang meruncing.


Meskipun gelap masih enggan untuk menyingkir, namun Nilam memaksa untuk membuka matanya, hanya untuk suasana seperti ini.


Dan di sinilah ia, di halaman belakang rumah sederhana milik kakek Usman, ia berdiri memeluk tubuhnya sendiri. Pendaran udara dingin menjalar hingga lapisan terdalam kulitnya. Suguhan sepetak kebun sayuran nan subur milik sang kakek, menjadi sejurus penglihatannya.


Bibirnya mungilnya tak henti menarik senyuman, bayangan ketika dirinya dan Hana berlari-lari saling melempar tanah, mengusik kegiatan sang kakek yang tengah asyik dengan cocok tanamnya. Gelak tawa keduanya menggema dalam lingkaran kebahagiaan. Menyenangkan!


Ketika terlarut dalam kembara jiwanya menyusur kenangan, sepasang tangan kekar merayap perlahan di pinggang kecilnya.


Terkejut? Sudah pasti. Hingga refleks ia menolehkan wajahnya ke belakang. Namun yang terjadi, pipi halusnya malah membentur hidung mancung milik Gavin. Lelaki itu tersenyum senang. Meskipun dengan wajah layu khas bangun tidur, namun tak di pungkiri, wajah tampan itu nyata adanya.


Nilam membelalakkan kedua bola matanya. "Ga- Gavin ..." gumamnya.


"Hay," sapa lelaki itu parau, lalu mendaratkan dagunya di pundak Nilam. Kedua tangannya telah melingkar sempurna di pinggang gadis itu. "Sudah hangat?" tanyanya dengan mata terpejam.


Nilam mengembalikan wajahnya menghadap lurus ke depan. "I- iya," jawabnya kaku.


"Hmm, syukurlah. Kenapa sepagi ini, sudah berdiri di sini? Matahari saja masih malu untuk keluar. Kamu malah rela di sapu dingin seperti ini?"


"Aku hanya rindu. Sebulan tak di sini, sudah seperti satu abad rasanya." Nilam tersenyum.


Bukan membalas, Gavin malah merekatkan pelukannya semakin erat.


"Ga- Gavin ... lepaskan. Jangan seperti ini. Nanti ada yang lihat." Nilam sedikit meronta.


"Biarkan seperti ini dulu," balas Gavin.


Dan mataharipun perlahan mulai menyibakkan tirainya. Namun Gavin masih bergeming di posisi ternyamannya. Nilam mulai di rayapi resah. Khawatir kakeknya akan melihat nuansa romantis mereka itu.


Sebenarnya ada dua sisi dalam dirinya yang saling berebut tahta. Antara rasa takut, dan juga kenyamanan.


Takut di pergoki sang kakek, dan kenyamanan di balik pelukan lelaki itu. Entahlah, ia bahkan tak bisa mengatur perasaannya sendiri.


Baginya,


Gavin adalah melodi yang menghanyutkan.


Gavin adalah irama yang menenangkan.


Dan Gavin ... adalah 'sihir'.


"Jangan takut, meskipun kakek melihatnya, aku tidak akan melepaskanmu," ujar Gavin, kini ia menggunakan kepala Nilam sebagai sangga dagu runcingnya.

__ADS_1


"Gav ... lepas. Aku mohon."


"Kenapa, kamu tidak suka?"


"Bu- bukan seperti itu. Tap- tapi ...."


"Kalau suka, biarkan saja."


"Ga--"


"Menikahlah denganku, Nilam," pungkas Gavin cepat. Ia membalikkan tubuh gadis itu, menghadapkan ke arahnya. "Apa kamu bersedia?" lanjutnya seraya memegang kedua pundak Nilam, dan menatap netra yang membulat terkejut itu lekat-lekat.


"Ti- tidak, kah, ini terlalu cepat? Ki- kita baru saja bertemu, Gav."


"Lalu apa bedanya? Lama atau baru, yang pasti kita sudah saling mengenal. Bahkan kita sudah bersama sedari kecil. Hanya saja waktu yang memisahkan kita beberapa saat. Tapi sekarang, kita sudah saling berhadapan kembali," ujar Gavin menggebu. "Nilam ... aku mencintaimu," ungkapnya melembut.


Nilam menatap kedua bola mata Gavin bergiliran. Mencoba mencari kejujuran dari netra yang kini penuh harap itu. Tapi telak, tak ada setitikpun kebohongan yang di temukannya di sana. "Gavin ...."


"Aku sungguh-sungguh, Nilam. Aku tak ingin kehilanganmu lagi." Lalu mencium punggung tangan Nilam lembut dan dalam.


"Ta- tapi Anita ...."


"Berhenti bicara tentangnya. Tidak ada lagi dia di hatiku. Aku sudah menemukanmu, Peri kecilku."


"Kalau itu yang kamu takutkan, jangan khawatir. Aku bisa mengurusnya. Jadi bagaimana, apa kamu bersedia, menikah denganku?" ulang Gavin penuh harap.


Nilam terpaku. Mencoba menggali hatinya, mungkin ada setitik saja alasan yang menyangkal kesungguhan lelaki itu. Namun sungguh, yang ia dapat hanyalah binar ketulusan yang nyata.


Sesaat kemudian... ia mulai menaik turunkan kepalanya, lalu tersenyum. "Aku mau, Gav. Aku mau menikah denganmu."


Senyum Gavin merekah seketika.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih." Ia lantas menarik Nilam ke dalam pelukannya. "Aku mencintaimu. Sungguh-sungguh cinta. Aku juga bahagia. Mulai hari ini, aku pastikan, kamu akan menjadi Ratu dalam hidupku."


****


"Kakek! Aku pulang."


Suara Hana berhasil mengusik sang Kakek yang tengah berjalan tersenyum-senyum menuju kamarnya. Seperti ada yang baru saja di lihatnya. Ia lalu menoleh. "Hana. syukurlah kamu baik-baik saja, Nak," ucap Kakek seraya menerima tubuh Hana yang berhambur ke pelukannya. "Dimana kamu bersembunyi? Kakek sangat mengkhawatirkanmu."


"Ak--"


"Hana berada di rumah saya, Kek," potong Danu seraya melangkah ke arah Hana dan Kakek Usman. "Semalam, tadinya saya akan mengantar Hana pulang. Tapi hujan turun sangat deras, hingga terpaksa kami tunda hingga pagi ini," ungkapnya.


"Ya, Tuhan, kenapa Kakek tidak kepikiran tentang kamu, Danu. Kemarin kakek sudah keliling desa mencari Hana. Tapi tetap tak menemukannya. Kalau begitu terima kasih sudah menolong Hana."

__ADS_1


"Sama-sama, Kek."


Hana melepaskan diri dari pelukan sang kakek. "Oiya, Kek, yang di depan itu mobil siapa?" tanyanya.


"O- o itu ...." Seketika wajah Kakek berbinar. "Itu mobil Nak Gavin." Ia tersenyum kembali.


"Gavin... siapa itu? Lalu Kakek ada apa? Kenapa senyum-senyum seperti itu?" Hana terheran.


"Kakakmu Nilam sudah pulang, Nak?"


"Apa?! Kak Nilam sudah pulang?!" Hana terkejut.


Tak terkecuali Danu. Rasa rindu mulai menaiki tahta jiwanya kembali. Nilam pulang. Apakah ini artinya aku masih memiliki kesempatan? Batinnya. Ia tersenyum penuh harapan.


"Dimana Kak Nilam, Kek? Dimana?!" Hana tak sabar.


"Ada di belakang." Lagi-lagi, senyum kakek menyiratkan sebuah misteri.


Tanpa perduli dengan keanehan sang kakek, Hana berlari menuju ke arah belakang rumahnya, di ikuti Danu yang juga di liputi ketidak sabaran.


Dan beberapa detik kemudian, langkah mereka terhenti di ambang pintu yang menghubungkan dapur dan halaman belakang rumah itu. Pemandangan tak biasa mereka tangkap dari dua makhluk yang tengah berdiri berpelukan dengan mesra membelakangi mereka.


Jantung Danu berdebar sangat kencang, sangat sinkron dengan hatinya yang ikut berdesir perih. Nilam ..." gumamnya getir.


"Danu, siapa lelaki yang memeluk Kak Nilam itu?" bisik Hana polos.


Danu terdiam tak menjawab. Merasakan sakit yang mulai merayap secara perlahan memenuhi kekosongan jiwanya. Lelaki itu, siapa...? Pertanyaan yang sama dengan Hana di ucapkannya dalam hati.


Nilam yang merasakan ada yang memperhatikannya, menggerakkan kepalanya melihat ke belakang. "Hana, Danu ...." Seketika ia melepaskan diri dari pelukan Gavin.


"Ada apa?" tanya Gavin heran, lalu mengikuti arah pandang Nilam yang menjurus ke belakang. "Eh, siapa mereka?"


"Kak Nilam ...." Hana berjalan menghampiri gadis yang dianggapnya kakak itu.


Nilam merentangkan kedua tangannya, siap menerima terjangan tubuh Hana. Dan sekejap saja, kedua gadis ayu itu saling berpelukan melepas rindu. "Kakak sangat merindukanmu, Hana."


"Aku juga, Kak," balas Hana manja.


Gavin memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celananya. Tersenyum melihat kedua gadis di hadapannya yang saling berpelukan layaknya teletubhis. Sungguh harmonis, pikirnya.


Namun tidak bagi Danu. Fokusnya bukan tertuju pada pelukan antara Nilam dan Hana yang kini sedang berlangsung. Namun bayangan kemesraan antara Nilam dan lelaki asing itu, yang beberapa saat lalu di saksikan mata telanjangnya. Sungguh mengusik perasaannya. Sakit!


Ia berbalik badan dan melenggang pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah penuh luka. Sebait senyum harapan yang baru saja di sunggingkannya, musnah dalam satu kedipan mata. Berganti udara hitam yang menyesakkan.


Oh, Cinta ... mengapa sesakit ini???

__ADS_1


__ADS_2