Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Rumit dan Membingungkan


__ADS_3

"Tuan Danu, apa yang menye--"


"Panggil saja saya Danu. Tidak usah terlalu formal, Tuan Gavin," potong Danu.


"Oh, oke. Kalau begitu panggil juga aku, Gavin. Tidak usah menggunakan embel-embel Tuan di depannya." Gavin tersenyum. "Oiya, Danu ... apa yang menyebabkanmu bisa sampai seperti ini?"


"Kemarin itu ... ketika aku berjalan menuju pulang, seseorang tiba-tiba memukul punggungku dari belakang." Selanjutnya Danu menceritakan kejadian yang menimpanya, namun tidak secara rinci. Karena bagian ketika Sella memaksanya untuk ... Ah menyebutkannyapun sungguh sangat memalukan baginya.


"Aku sempat berhasil melarikan diri. Tapi seorang lelaki bermotor berhasil mengejarku. Dan kami terlibat baku hantam di sana."


"Lalu?" tanya Gavin.


"Aku berhasil menumbangkannya. Tetapi tenagaku benar-benar terkuras karena perkelahian itu. Hingga akhirnya ... aku berada disini," lanjut Danu. Dan orang yang dimaksudnya adalah Leo.


"Syukurlah kamu tidak apa-apa," ucap Nilam. Dan tentu saja menghasilkan tatapan miring di mata Gavin.


"Iya, Nilam. Oiya, terima kasih, karena kalian sudah menolong dan membawaku ke sini. Aku tidak tahu dengan cara apa aku harus membalasnya."


"Tidak perlu sungkan Danu. Kita melakukan ini, atas dasar kemanusiaan." Seperti menekankan bahwa tidak ada cinta lagi di hati Nilam untuk lelaki itu.


"Benar. Sekali lagi terima kasih," ucap Danu tulus. "Oiya, Nilam ... Apa kamu sudah bertemu Didy?" lanjut Danu bertanya.


Mendengar nama Didy, seketika ingatan Nilam mencuat kembali tentang tujuannya pulang kembali ke desanya. "Didy! Belum, Danu. Aku datang ke sini memang untuk menemuinya. Bagaimana kabarnya sekarang?"


"Kamu pasti senang mendengar kabar ini." Senyuman Danu untuk Nilam itu, cukup menggigit perasaan Gavin.


"Kabar apa?" Nilam antusias.


"Didy sudah bisa bicara."


"Apa?! Benarkah?!" Menutup mulutnya tak percaya, Nilam terlonjak gembira.


"Iya, Nilam. Tetapi selain itu, juga ada kabar menyedihkan yang menimpa Didy," ujar Danu dengan air muka yang sudah berubah sendu.


"Maksudmu?"


"Mbok Parmi sudah meninggal, Nilam."


Nilam tersentak. "Mbok meninggal?"


Danu mengangguk mengiyakan. "Tapi kenapa Kakek dan Hana tidak ada yang memberitahuku?" Air matanya mulai merembes keluar.


Gavin menarik Nilam ke dalam pelukannya.


"Bukan tidak memberitahumu, mereka mungkin hanya belum sempat. Urusan bibi Murni saja cukup menguras waktu. Ya, kan?" Ia coba menenangkan.


Melihat pemandangan itu, Danu mengalihkan wajahnya ke sembarang arah. Mencoba sebisa mungkin tak memperlihatkan kecemburuannya.


Setelah cukup tenang, Nilam kembali membuka suaranya. "Lalu bagaimana Didy sekarang?"


"Dia tetap sekolah. Pak Kades mengajukan berbagai bantuan pada pemerintah, untuk menopang kehidupannya sampai ia mampu mandiri."


"Syukurlah. Aku benar-benar ingin segera bertemu dengannya."

__ADS_1


"Begitupun Didy, dia pasti senang bertemu denganmu," ujar Danu. "Tapi ... ada satu hal lagi, yang mungkin akan membuatmu lebih terkejut dari hanya sekedar berita kematian Mbok Parmi," lanjutnya berteka-teki.


"Apa lagi itu, Danu?" tanya Nilam penasaran.


Gavin hanya diam memperhatikan.


"Didy ...." Ucapan Danu tertahan dan ragu.


"Katakan Danu!" Nilam mulai tak sabar.


"Didy ... Didy adalah anak kandung Juragan Dahlan."


DEG!


Jantung Nilam terlonjak. "Apa maksudmu Didy anaknya Dahlan?" tanya Nilam masih tak mengerti.


Gavin mulai tertarik.


"Iya, Didy bukanlah cucu biologis Almarhumah Mbok Parmi. Dia hanya anak yang di titipkan oleh ibunya pada Almarhumah si Mbok."


"Di titipkan? Memangnya siapa ibunya? Lalu Dahlan, bagaimana bisa tiba-tiba menjadi ayahnya?" Nilam merasa semakin berbelit.


Kemudian Danu menceritakan kisah perjalanan panjang Didy, hingga sampai ke asuhan tangan Mbok Parmi. Yang di ketahuinya langsung dari mulut wanita tua yang kini sudah pergi ke alam baka itu.


Bola mata yang melebar sempurna, mulut terbuka yang ditutupnya menggunakan telapak tangannya, memperlihatkan dengan jelas, bahwa Nilam dalam keterkejutan yang luar biasa. "Didy ... jadi dia ...?"


"Benar Nilam. Itulah yang diungkapkan Mbok Parmi sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya," ungkap Danu.


"Kamu benar, Gav. Ayo." Nilam bersemangat. "Oh ya, Danu--"


"Pergilah. Aku sudah tidak apa-apa," pungkas Danu, ia mengerti betul apa yang ada dalam pikiran mantan kekasihnya itu.


"Baiklah. Kalau begitu kami pergi dulu."


Anggukan di sertai senyuman menjadi balasan Danu.


"Danu, kami permisi," pamit Gavin. "Oiya, untuk administrasi, sudah ku lunasi."


"Terima kasih, Gavin. Secepatnya akan ku ganti."


"Tidak perlu. Aku ikhlas. Cepatlah pulih."


"Ya, jika begitu, terima kasih. Berhati-hatilah di jalan."


"Tentu."


*****


Di Desa Tegal Mayang


Tanpa menemui Kakek Usman terlebih dahulu, Nilam dan Gavin langsung menancap ke kediaman Didy. Dengan yakin dan penuh semangat, keduanya berjalan menuju pintu usang gubuk tempat Didy tinggal itu.


"Benar ini rumahnya?" Gavin tak percaya. Mengedar pandangannya ke sekeliling. "Bagaimana dia bisa hidup di tempat seperti ini?" gumamnya.

__ADS_1


Tok tok tok ....


Ketukan didaratkan Nilam di pintu usang itu.


Dua kali ... tiga kali ketukan, tiba-tiba ....


"Kak Nilam!" Suara panggilan itu muncul dari arah belakang. Nilam dan Gavin sontak menoleh ke arahnya.


"Didy ...." Tanpa XYZ, layaknya film India, Nilam dan bocah yang kini tak lagi gagu itu berhambur saling berbalas peluk. "Kakak rindu kamu, Dy."


"Aku juga, Kak."


Nilam melepaskan pelukannya, kedua telapak tangannya beralih ke pundak Didy. "Kamu benar-benar sudah bisa bicara?"


"Iya, Kak. Tuhan memberiku kesempatan."


"Ya, Tuhan ... Kakak benar-benar senang, Dy."


Gavin melangkah mendekat ke arah mereka. "Hey bocah," sapanya ringan. "Kita bertemu lagi," ujarnya dengan senyuman.


"Kakak ini ...?"


"Ya, kita bertemu di sungai waktu itu."


Didy menatap Gavin dan Nilam bergantian. "Kalian ...?" Lagi-lagi suaranya tertahan, saking belum percaya dengan apa yang di lihatnya.


Nilam memendar senyuman. "Tuhan yang sudah mempertemukan kita, Dy."


"Bagaimana bisa? Apakah setelah melarikan diri dari rumah Dah--" Didy tak melanjutkan ucapannya, tatapannya berubah muram ketika ia mengingat kembali hubungan dirinya dengan Dahlan.


"Jangan sedih, Dy. Kita memang tidak pernah tahu rencana Tuhan. Tapi percayalah, bahwa Ia sedang menyiapkan sesuatu yang lebih indah di balik semua kenyataan ini."


Didy tersentak. "Kak Nilam tahu?"


Nilam mengangguk. "Danu yang sudah menceritakan semuanya pada Kakak."


Terdiam dan menunduk. Di telapak tangannya masih tergenggam tali yang di ikatkannya pada mulut tiga ekor ikan lele berukuran sedang. Sepertinya Didy masih setia dengan kebiasaannya. Memancing ikan di sungai. "Aku ..." ucap Didy tergantung.


"Sudah. Jangan bersedih. Bagaimana kalau kita masak ikan itu." Nilam mengalihkan pembicaraan.


"Kak Nilam benar, Dy. Lets go, kita bunuh ikan-ikan itu!" Gavin melingkarkan lengannya di pundak Didy dengan senyuman menghibur.


"Ayo, Kak." Senyum Didy mulai mengembang. Ia dan gavin lalu melangkah masuk ke dalam gubuk Mbok Parmi itu.


Nilam menatap kedua punggung lelaki berbeda generasi itu penuh haru. Hingga sesaat kemudian senyuman haru itu tiba-tiba memudar perlahan, dan berganti menjadi tatapan terkejut.


Seketika ia mengingat mimpinya tentang Nenek Samiah yang mengatakan bahwa Didy adalah cucu kandungnya. "Ya, Tuhan ... kenapa semuanya terasa semakin rumit dan membingungkan...?" keluhnya pelan.


°°°°°


Bersambung lagi.... Wios nya Zeyenggg.... 🤓🤓


Jan lupa jempol merahnya! ☝😂

__ADS_1


__ADS_2