
Di dalam sebuah ruangan yang berhias bunga-bunga dan kelambu yang merumbai cantik di ranjang pengantin itu, Shinta terus meraung juga berteriak.
Ruang kamar itu seharusnya menjadi saksi, penyatuannya dengan Gavin dimalam pertamanya sebagai sepasang pengantin nanti malam. Tapi kini ....
Hhuuuffftt... Miris. Gavin sudah kembali kepada keluarganya. Dan mengingat kembali Nilam sebagai kekasihnya.
Bagaimana bisa, ia terbebas dari sihir gendam itu?
"Aaaarrrggghhh!!!"
Pintu yang dikuncinya dari dalam, membuat seluruh keluarganya tak mampu menjangkaunya untuk memberikan penenangan.
"Shinta, buka pintunya, Nak?!" teriak Midar sang Ibu. Rapuh sudah sisi keibuannya, melihat sang anak sehancur itu.
Kacau!
Melenggang dengan geram, Dahlan meninggalkan tempat itu dengan amarah yang sudah membumbung didadanya. Dukun keparat!
Sebuah mobil yang terparkir dihalaman rumahnya dimasukinya dengan tergesa.
"Kita akan kemana, Juragan?" tanya sang supir yang sudah standby dibalik kemudi.
"Warjo."
"Baik, Juragan."
Dua jam kemudian, Dahlan sudah turun dari dalam mobilnya yang sudah terparkir sempurna dihalaman sebuah rumah sederhana yang tak bertetangga.
Tanpa menggunakan adab mengetuk pintu, Dahlan langsung menerobos masuk ke dalam rumah itu.
"Warjo!!" teriaknya memanggil.
Tak lama, seseorang muncul dari dalam sebuah ruangan dengan bertelanjang dada. "Ada apa, Dahlan?" tanyanya santai. Dan mulai menuntun tubuhnya untuk menduduki sofa yang terletak tak jauh darinya.
Tak ada raut bersahabat diwajah Dahlan. "Aku tanya padamu, kenapa gendam itu bisa luntur secepat itu?"
"Apakah maksudmu pria incaran puterimu itu sudah kembali pada kewarasannya?"
"Ya!! Hari ini adalah hari pernikahan puteriku, dan semuanya gagal! Karena pemuda itu lebih dulu sadar. Katakan padaku, kenapa bisa seperti itu?" Masih dalam geramnya.
Berbanding terbalik. Pria bernama Warjo itu malah memulas senyuman geli. "Semua itu karena kau mengabaikan satu hal, Dahlan!"
Kerutan tajam bergaris dikening Dahlan. "Apa maksudmu?" Ia ikut mendudukkan tubuhnya diatas sofa.
Tanpa menjawab, Warjo bangkit dari tempatnya dan menuntun langkahnya menuju sebuah kamar. Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan sebuah botol kaca berukuran kecil ditelapak tangannya.
__ADS_1
"Kau lihat ini." Disodorkannya benda itu kearah Dahlan.
"Apa ini?" Diputar-putarnya benda kecil itu dan ditelisiknya.
"Dengarkan aku baik-baik. Gendam itu memang ampuh, dan bisa bekerja dalam hitungan menit saja. Tapi saat itu kau dengan ketidak sabaranmu, memilih cepat pergi tanpa mendengar penjelasanku atas aturan dari gendam itu sendiri."
"Maksudmu?"
"Kau lihat, ada empat buliran bening yang terpisah di dalam benda itu."
Dahlan mengikuti ucapan si lelaki yang berprofesi sebagai dukun itu. Memusatkan matanya pada benda bening dalam genggamnya. "Iya, aku melihatnya. Lalu apa artinya ini?"
"Itu adalah empat tetesan air mata dari empat wanita berbeda," jelas sang dukun.
"Jangan bertele-tele. Cepat jelaskan."
Warjo tersenyum kecut. "Sesuai aturan yang ku ketahui, jika ada empat orang wanita yang menangisi lelaki itu dengan tulus selama gendam itu menguasainya, maka sihir pelet yang terkandung didalamnya, akan luntur seketika!"
Tersentak! "Apa?!"
"Ya, semudah itu. Semalam aku melihat tetesan air mata itu masih berjumlah dua bulir saja. Tapi entah kenapa, hari ini tiba-tiba lengkap."
Kita pastikan dulu ya .... Dua tetes air mata sudah pasti miliknya Briana dan Nilam. Lalu saat dalam pernikahan Gavin dan Shinta hendak berlangsung, yang menangis untuk Gavin disana adalah Asty. Jadi jelas bulir ketiga adalah miliknya. Kecuali Shinta, karena disini, ia berperan sebagai pelaku. Dan untuk bulir keempat ... kira-kira milik siapa, ya?
"Kenapa kau tidak menelponku mengenai ini?" Amarah Dahlan memuncak.
"Ku bunuh kau Warjo!" Bangkit dan melayangkan kepalan tangannya ke arah lelaki dukun itu. Namun ....
"Setitik saja kau sentuh aku ...." Jeda sesaat. "Kupastikan kehancuran atas kerajaan bisnismu, juga keluargamu." Sang dukun penuh ancaman.
"Aaaaarrggghh!!!" Dengan amarah tertahan didadanya, Dahlan meninggalkan tempat itu tanpa kepuasan.
*****
Menapakkan kakinya dengan kaku, Gavin mengedar pandangannya kesekeliling. Kenapa ia merasa merindukan rumah ini? Rumah yang menjadi saksi tubuhnya berkembang besar.
"Gav ... ada apa?"
Tepukan di pundaknya seketika membuatnya menoleh. "Ma ... kenapa aku merasa aku merindukan rumah ini? Apa yang sebenarnya terjadi padaku selama ini?"
Sorot dari kedua manik mata Briana memancarkan kesedihan, juga kerinduan. "Ayo duduk." Di tuntunnya tubuh tegap anaknya itu menuju sebuah sofa.
"Kamu terkena sihir, Nak."
Selanjutnya Briana meceritakan secara detail segala hal yang menimpanya hampir dua bulan belakangan ini. Terkecuali pernikahan tentang Nilam dan Kenzie, yang akan digelar beberapa waktu lagi, tak mampu diungkapkannya. Karena sudah dipastikan, Gavin akan sangat terluka bila mengetahui kenyataan itu.
__ADS_1
"Separah itukah, Ma? Dan aku telah menyakiti Nilam?" Suara pelan berbalut penyesalan terlontar dari mulut Gavin teriring rasa bersalah yang bergemuruh didalam dadanya.
Di pulas uraian air mata, Briana mengangguk. "Iya, Sayang. Dia sangat terpukul dan terluka. Mama sudah pernah mencoba memberitahunya, bahwa kamu dalam pengaruh gendam wanita itu."
"Lalu apa tanggapan Nilam?" sergah Gavin cepat.
Briana menggeleng ragu. "Sepertinya rasa sakitnya karena perlakuanmu terhadapnya, terlalu besar. Hingga ia tidak merespon apapun apa yang Mama ucapkan saat itu, selain tangis terlukanya yang Mama dengar."
Bumi boleh mengahakimi dengan menimbun tubuhnya. Langit boleh melemparinya dengan hujanan meteor. Tetapi kebencian Nilam terhadapnya, sungguh ia tak sanggup. "Ma, apakah Nilam membenciku?" Guratan sendu itu. Sungguh mencubit keras hati Briana.
"Dia bukan membencimu, Nak. Dia hanya terluka."
"Tapi aku benar-benar menyakitinya, Ma. Dia pasti membenciku."
Tak lagi bisa membalas kata, Briana hanya mampu mengeluarkan tangisnya. Direngkuhnya tubuh Gavin dan dipeluknya. Bagaimana jika puteranya ini benar-benar sudah mengetahui perihal pernikahan Nilam dan Kenzie? Sungguh hanya membayangkannya pun ia sudah sakit.
Dihantam kelamnya rasa sakit dan bersalah, Gavin melepas diri dari pelukan sang ibu. "Aku harus menemui Nilam, Ma." Ia mulai berdiri. Dibukanya tuxedo yang masih membalut tubuhnya, lalu dilemparnya ke sofa.
"Kamu akan kemana, Gav?" Dalam cemas Briana ikut berdiri.
"Aku akan ke rumah Nilam."
Melesat layaknya roket, Gavin meninggalkan Briana dengan segala kekhawatirannya.
"Gavin tunggu!" Berlari menyusul sang putera, yang sudah hilang ditelan pintu. Namun terlambat, BMW i3 milik Gavin, sudah melaju cepat melewati gerbang keluar dari area rumah megah itu.
"Ada apa, Ma?" Gerry datang tergopoh dari arah dalam. "Apa yang terjadi? Mana Gavin?" Di edarkannya kepalanya ke sekeliling.
"Dia pergi untuk menemui Nilam, Pa. Bagaimana kalau sampai dia tahu, bahwa Nilam akan menikah dengan sahabatnya sendiri."
Diraihnya tubuh yang berguncang itu ke dalam dekapnya. "Cepat ataupun lambat, Gavin pasti akan mengetahuinya, Ma." Dan itu benar, diusapnya lembut pucuk kepalanya isterinya itu.
"Tapi, Pa, Mama khawatir. Bagaimana kalau terjadi apa-apa pada Gavin. Dia dalam keadaan kalut, Pa."
"Dia sudah dewasa. Dia pasti bisa mengatur diri dan perasaannya. Mama tenanglah. Berikan do'a dan kepercayaan Mama untuknya."
Sejenak mencerna, lalu kemudian mulai mengangguk. "Iya, Pa."
"Sudah terlalu malam, ayo masuk."
Cinta yang tertanam pada jiwa yang luhur, akan tetap luhur.
Seribu tombak boleh merajam.
Sejuta godaan boleh menguji.
__ADS_1
Tapi yakinlah, satu hujatan duniapun, tidak akan mampu menumbangkan kekuatan yang lahir dari sucinya hati.