
"Sudahlah, Marni. Lupakan lelaki yang sudah menjadi mayat itu. Kau ikut saja aku. Aku bisa memberikan apapun padamu," ujar Dahlan jumawa.
"Tidak! Aku tidak sudi!"
"Marni, aku menyukaimu sejak dulu. Tapi kau malah memilih pria miskin itu. Ayo, ikutlah denganku. Aku tidak perduli dengan wajahmu yang mulai menua itu. Aku tetap mencintaimu."
"Apa kau pikir, dengan kau membunuh suamiku, aku akan sudi menerimamu?" Jeda sesaat. "Tidak Dahlan! Tidak akan pernah! Aku lebih baik mati daripada hidup bersamamu, lelaki jahannam!"
PLAK!
Satu tamparan keras Dahlan melesat dipipi Marni, hingga menimbulkan jejak merah di kulit yang masih terlihat muda itu.
"Bunuh ..." ucapan geram Marni. "Bunuh saja aku, Dahlan!"
"Dasar wanita tidak tahu di untung! Aku menawarkan hidup enak untukmu, tapi kau malah memilih mati!"
"Benar. Mati adalah pilihan terbaik untukku saat ini." Marni menantang.
Seorang lelaki bertubuh kekar mendekat ke arah Dahlan. "Juragan, aku dengar wanita ini memiliki seorang anak gadis yang sangat cantik. Jadi untuk apa Juragan mempertahankan dia. Aku rasa menggantinya dengan anaknya akan lebih menyenangkan."
Sukses penuturan anak buahnya itu, membuat seringai senyuman Dahlan terangkat. "Benarkah? Kenapa aku tidak tahu?"
"Aku juga baru mendengarnya kemarin dari penduduk. Banyak dari mereka tergila-gila pada gadis itu, Juragan."
Kalimat provokasi itu membuat tawa Dahlan menggema keras. "Hahaha ...."
Marni dalam ketakutan. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.
"Nilam, puteriku. Tidak! Jangan apa-apakan dia, Dahlan!"
"Oh, jadi benar yang di katakan anak buahku ini? Kau memiliki seorang anak gadis?"
"Tidak ... Dahlan ... jangan ...." Marni merangkak lalu bersimpuh di bawah kaki sang Tirani. "Jangan ambil anakku, aku mohon .... Sudah cukup kau menghabisi suamiku."
Tak ada setitikpun belas kasih di wajah Dahlan. Ia menendang tubuh Marni sekencang-kencangnya, hingga tubuh ringkih itu terjungkal ke belakang.
"Kalau aku tahu dari awal, kau memiliki anak gadis yang cantik, aku tidak perlu repot-repot menyeretmu, dan membuat si Wisnu itu mengantarkan nyawanya sendiri padaku. Cukup kau serahkan anakmu. Maka semua pasti akan baik-baik saja."
Marni terus menangis, ia kembali merangkak mendekati tubuh suaminya yang semakin membeku. Membelai wajah yang kini terpejam tenang itu penuh cinta. "Maafkan aku, Mas. Maafkan aku," sesalnya.
"Lenyapkan!" perintah Dahlan tegas pada anak buahnya.
"Dengan senang hati, Juragan," sambutnya.
Dan ....
JLEB!
Setelah menancap di perut Wisnu, benda yang sama itu, kini tertusuk dalam di punggung Marni. Kepala yang terangkat, dan matanya yang melotot menahan sakit, perlahan meredup dan terpejam.
Akhirnya, kedua sejoli itu pergi ke pangkuan Sang Pencipta di hari yang sama. Naas!
****
Sekujur tubuh Didy bergetar. Kejadian biadab itu bukanlah sebuah tontonan layar sinetron ataupun cinema blockbuster ala-ala Sylvester Stallone. Semua itu disaksikannya langsung dengan mata telanjang.
Dengan langkah terseok ia mendekati jasad kedua orang yang sangat dikenalinya itu. Namun naas, suara dedaunan kering yang di injaknya berhasil membuat salah satu anak buah Dahlan menoleh ke tempat yang sudah hampir jauh mereka tinggalkan.
"Juragan ... ada orang di sana!"
"Apa? Benarkah?"
__ADS_1
"Iya, Juragan. Sepertinya anak kecil." Ia mengamati dari kejauhan.
"Baiklah ayo kembali kesana."
Ke empat orang lelaki dewasa itu memutar tubuh kembali ke tempat asal dimana jasad Marni dan Wisnu tergeletak.
Sesampainya.
"Hey, Bocah! Apa yang kau lakukan disini?" tanya salah satu anak buah Dahlan.
Didy yang tengah menangis di hadapan kedua jenazah itu, seketika menoleh. Tubuh kecilnya meringsut karena takut. "A- aku ...."
"Kita apakan anak ini, Juragan? Apa perlu ki--"
"Tidak usah!" Dahlan mengeluarkan sesuatu dari dalam dompet yang di ambilnya dari saku celananya. "Minumkan ini?" Sebuah benda kecil berbentuk pil di sodorkannya pada anak buahnya.
"Apa ini, Juragan?"
"Perusak pita suara."
Flash back off
"Begitulah kejadiannya, Kak."
Nilam sudah menangis terisak di pelukan Gavin.
"Gav ... ayah dan ibuku ...."
"Tenang, Sayang. Mereka sudah tenang di alam sana. Sudah ya," Gavin berusaha menenangkan. "Didy, kamu yakin orang itu adalah Dahlan?" tanyanya memastikan.
"Aku sangat yakin, Kak. Aku pernah melihat dia di rumah salah satu penduduk. Aku sempat bertanya pada temanku siapa orang itu, karena aku sangat mengingat jelas wajahnya. Dan kata temanku, dia adalah Juragan Dahlan."
"Baiklah, Kakak percaya," ucap Gavin. "Sayang, apa sebelumnya kasus ini pernah di urus pihak berwajib?"
"Aku berjanji pada kalian, aku akan membukanya kembali," tekad Gavin. "Sekarang tenanglah. Sebaiknya kita semua istirahat."
Namun ada raut tidak nyaman di wajah Didy. "Umm ... Kak ...."
Gavin dan Nilam menoleh ke arahnya. "Ada apa, Dy?" tanya Gavin terheran melihat ekspresi wajah Didy.
"Apa kalian yakin akan tidur disini?" tanyanya ragu.
Kedua orang yang lebih dewasa darinya itu saling melempar senyum.
"Iya. Apa kamu keberatan, Dy?" Suara lembut Nilam.
Didy menggeleng. "Tidak, tidak seperti itu, Kak."
"Lalu?" tanya Gavin.
"Tempat ini tidak layak untuk kalian. Aku takut kalian akan gatal-gatal jika tidur disini.Jadi sebaiknya menurutku, kalian pulang saja ke rumah Kak Hana."
Hoaammm ...
Gavin menutup mulutnya yang menguap, entah jujur atau tidak. "Kak Gavin sudah terlalu ngantuk untuk menyetir, Dy. Lagipula Kakek Usman dan yang lainnya pasti sudah tidur. Kita tidak mau mengganggu waktu istirahat mereka," kilah Gavin. Ia membaringkan tubuh yang sejujurnya lelah itu di tikar yang kini di dudukinya.
"Tapi, Kak ...."
"Sudahlah, Dy. Ayo kita tidur."
Didy terdiam. Sejenak menatap kedua orang yang kini berbaring di hadapannya. Kalian benar-benar cocok. Sama-sama berhati baik. Ia tersenyum, lalu ikut membaringkan tubuhnya disamping Gavin.
__ADS_1
****
Cahaya matahari pagi menyusup masuk melalui celah-celah dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu itu.
Nilam membuka matanya perlahan, melakukan penyesuaian dengan cahaya yang masuk ke dalam kornea matanya dengan mengerjap-ngerjapkannya.
Tak terasa, rasa lelah yang teramat sangat membuatnya terbangun lebih siang dari biasanya. Di liriknya Gavin dan Didy masih terbuai dalam lelapnya. Ia mulai bangkit lalu berdiri dan berjalan menuju kamar kecil yang berada terpisah di belakang rumah itu.
Beberapa saat kemudian ....
Gavin tersentak, matanya terbuka seketika. Suara teriakkan minta tolong seseorang berhasil membangunkan paksa nikmat tidurnya.
"Nilam." Ia langsung melesat berlari ke asal suara.
Benar saja, seorang lelaki berusia 28 tahunan tengah menarik-narik tubuh Nilam dengan paksa. Mulut mungil yang sebelumnya berteriak minta tolong, di bekap menggunakan telapak tangannya.
"Hey!!!" teriak Gavin. "Lepaskan dia!" Tanpa babibu, ia menarik lengan Nilam agar terlepas dari rengkuhan lelaki itu. Dan ....
Lepas!
"Gavin ...!!" teriak Nilam, ia langsung beringsut ke belakang tubuh Gavin.
"Kakak ada apa, Kak?" Didy datang tergopoh.
"Tolong jaga Kak Nilam, Dy," pinta Gavin. "Kakak akan mengurus orang gila ini dulu."
"Hey, siapa kau? Beraninya mengataiku gila," ujar lelaki asing itu.
Gavin tersenyum kecut. "Aku suaminya. Mau apa kau, hah?" tantangnya. Dan ....
BUGG!
Satu bogeman mentah di daratkan Gavin di rahang kanan lelaki itu. Saat hendak membalas, Gavin dengan sigap menangkisnya. Dan lagi-lagi, pukulan susulan mengenai pelipis lelaki yang tidak di ketahui namanya itu.
"Awas kau!" seru lelaki itu kemudian berbalik badan meninggalkan tempat itu dengan memegangi wajahnya yang memar.
"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanya Gavin khawatir.
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."
"Syukurlah." Menarik Nilam ke dalam pelukannya. "Apa kalian mengenali lelaki itu?" pertanyaan itu di tujukkannya juga pada Didy.
"Dia Marwan. Dia memang menyukaiku sejak lama. Tapi aku selalu menolaknya," ungkap Nilam.
"Ya, Tuhan ... desa ini benar-benar bukan tempat yang aman untukmu."
"Itu benar, Kak. Kejadian seperti ini sudah menimpa Kak Nilam berkali-kali. Setiap lelaki yang Kak Nilam tolak di desa ini, pasti ujung-ujungnya mereka memakai cara jahat seperti tadi."
"Benarkah itu, Sayang?"
Nilam mengangguk. "Benar, Gav."
"Kalau begitu kita tak bisa berlama-lama di desa ini."
"Benar, sebaiknya kalian cepat kembali ke kota," timpal Didy mendukung.
"Iya, Dy."
Nilam melepaskan diri dari pelukan Gavin. Beralih menatap prianya itu. "Gav ... aku boleh mengajukan satu permintaan?"
"Tentu Sayang. Apa itu?"
__ADS_1
Nilam melirik Didy. "Ajak Didy bersama kita."
••••••