
Langit memberi senyuman.
Ribuan bintangnya berkedip saling menggoda.
Bumi membentangkan karpet merahnya, bersiap menyambut si penapak, juga dengan senyuman.
Hari ini, para psakitan seolah terpenjara.
Terkurung dalam penghakimannya.
Tak ada hujan deras dan juga badai.
Bahkan angin berhembus dengan sangat tenang.
Semua seolah bertepuk tangan memberi semangat dan juga selamat.
'Terima kasih' ... sebuah ucapan sederhana, namun syarat makna.
Tentu saja, sambungan dua kata itu, tertuju untuk satu Dzat .... Tuhan Yang Maha Kuasa.
Pertemuan antara ibu dan anak yang telah di atur-Nya dengan sangat sempurna.
Meskipun harus mengorbankan seusap kaki sang ibu yang terkilir kesakitan .... Bukan masalah.
Karena berkah yang didapatnya seribu kali lipat lebih dari itu.
Di ruang tamu sebuah rumah mewah.
Ke dua pasang manusia yang terdiri dari Nilam dan Gavin, juga Didy dan Kedasih, duduk saling berhadapan dalam satu set sofa yang tersusun berlawanan.
"Dy, kamu yakin akan tinggal disini?" Nilam bertanya dengan raut seolah tak ingin berpisah.
Meskipun sebelumnya keduanyapun sangat jarang bertemu. Namun kali terasa berbeda bagi Nilam. Didy tidak lagi di Tegal Mayang, melainkan di kediaman sang ibu, Kedasih, yang entah bagaimana kini wanita itu menjadi Nyonya di rumah mewah itu.
"Iya, Kak. Aku sudah bertemu Ibu," imbuh Didy, melirik ke arah Kedasih di sampingnya. "Jadi tidak alasan bagiku untuk tidak tinggal bersama dengannya." Kembali mengalihkan pandang pada Nilam.
Menghembuskan nafas berat. Cukup sulit bagi Nilam merelakan anak itu, meskipun ia tahu, Didy kini bersama ibu kandungnya. "Baiklah, Dy. Kakak hanya bisa mendukung dan mendo'akanmu. Semoga kamu berbahagia selalu."
"Iya, Kak. Terima kasih."
Kedasih merangkulkan lengannya di pundak Didy. "Bibi pasti akan berusaha membuatnya bahagia, Nilam. Untuk menebus semua waktu dan kasih sayang pernah hilang darinya," tuturnya penuh penyesalan.
"Aku percaya padamu, Bi. Tolong jaga Didy. Aku sangat menyayanginya, seperti adik kandungku sendiri."
"Tentu Nilam. Dia adalah prioritas utamaku sekarang. Terima kasih sudah menjadi Kakak yang baik untuk Didy selama ini."
"Tidak, Bibi Kedasih. Aku belum melakukan apapun untuknya. Hanya do'a dan kasih sayang yang bisa ku berikan untuknya."
"Itu sudah lebih dari cukup."
Hanya seulas senyum di bibir Nilam. Ia melirik Gavin yang berkedip mengisyaratkan bahwa mereka harus segera pergi dari rumah itu. Lalu beralih kemabli pada Kedasih dan Didy. "Baiklah Bi, Didy. Kakak dan Kak Gavin harus pergi."
Didy bangkit seketika. "Kakak tidak akan tinggal dulu disini, sehari saja, temani aku," pintanya memohon.
"Ka--"
__ADS_1
"Jangan khawatir, Dy. Kami akan sering-sering mengunjungimu ke sini?" pungkas Gavin seraya bangkit dari tempatnya.
"Janji, ya, Kak?" Didy mengacungkan kelingkingnya ke arah gavin.
Yang kemudian di sambut pria tampan itu. "Janji." Lalu tersenyum.
"Kak Nilam juga janji, ya?"
"Tentu, Dy." Bukan hanya sambutan cantelan kelingking, Nilam merengkuh bocah remaja itu ke dalam pelukannya. "Kakak sayang kamu, Dy."
"Aku juga, Kak."
Lalu pelukan itu terlepas. "Kakak pamit ya." Mengelus pipinya.
"Iya, Kak. Kalian berdua hati-hati dijalan."
Gavin mendekati Didy, lalu memeluk bocah yang kini tak lagi dekil itu. "Jangan lupa lanjutkan sekolahmu." Lalu mengasak rambutnya.
"Pasti, Kak."
Kedasih tersenyum.
Aku bersyukur, anakku di kelilingi orang-orang sebaik mereka.
"Baiklah Bibi Kedasih, kami pamit," ucap Gavin.
"Baiklah kita antar kalian ke depan."
Mereka berjalan beriringan menuju pintu utama,
Turunlah dari dalamnya seorang pria muda berjas lengkap dengan dasinya. Juga kacamata hitam yang bertengger sempurna di hidung mancungnya.
Ia mulai melangkah dengan gagah menghampiri keempat orang yang berdiri diteras yang kini menatapnya.
"Edrick."
Suara sambutan Kedasih dengan senyuman di bibirnya, ia menghampiri pria itu lalu memeluknya.
Aku seperti pernah melihat pria ini. Batin Nilam.
Wajah lelaki ini, aku merasa tidak asing. Kata hati Gavin.
Membuka kacamatanya terlebih dahulu. Usapan lembut di punggung Kedasih di hadiahkan lelaki itu. Lalu tatapannya beralih pada bocah remaja yang berdiri di belakang Kedasih. "Bunda, apa bocah ini adalah Didy, yang tadi Bunda ceritakan padaku di telpon?"
Melepaskan diri dari pelukan itu. Lalu mengangguk penuh binar. "Iya, Edrick, Didy sudah Bunda temukan," sahut Kedasih riang.
Pria bernama Edrick itu mendekat ke arah Didy yang masih terdiam. "Hay Jagoan!" sapaan ramahnya sembari meminta balasan Didy untuk menyambut telapak tangannya yang melayang. "Aku Edrick, kakakmu."
Sesaat Didy berpikir, disertai senyuman, tak lama ia membalasnya, hingga membentuk tos. "Aku Didy, Kak."
"Aku sudah tahu." Edrick terkekeh seraya memeluk bocah itu dengan gembira.
"Oiya, Edrick. Kenalkan, ini Nilam dan Gavin. Kedasih menujukan telapak tanganya ke arah kedua sejoli itu.
Edrick menoleh pada sisi kanannya yang ditunjuk Kedasih. Seketika! Ia matanya membundar.
__ADS_1
Gadis ini, bukankah dia ... Nilam. Gadis yang ku temui di supermarket itu. Kenapa aku baru menyadarinya? Lalu beralih pada Gavin. Dan pria songong ini ... suaminya.
Nilam dan Gavin masih terdiam.
"Oh. Bukankah ini Nona Nilam dan Anda... suaminya?" Dengan lagak sesantai mungkin, Edrick menjulurkan telapak tangannya pada kedua orang itu.
Gavin menerimanya dengan tenang. "Hay, Tuan. Kita bertemu lagi."
"Kalian sudah saling mengenal?" Kedasih terheran.
Dengan senyuman manis, Edrick menjawab, "Iya, Bunda, aku pernah bertemu mereka sekali. Tapi bisa langsung kenalan." Ia terkekeh. "Lucu sekali bukan?"
"Benarkah?" tanya Kedasih lagi. "Kalau begitu ini adalah kebetulan yang sangat luar biasa."
"Iya, bagaimana kabarmu, Nona Nilam?" tanya Edrick yang menimbulkan guratan geram di wajah Gavin.
Melirik Gavin yang sudah dalam mode kesalnya, meskipun tersembunyi dibalik wajah datarnya, jelas Nilam mengetahui itu. " A- Aku baik, Tuan Edrick," jawabnya kaku.
Sepertinya lelaki ini menyukai Nilam.
Aku tidak boleh lengah menghadapi penikung ini.
Karena kedepannya pasti akan ada lagi pertemuan dengannya. Sial!
"Baiklah? sepertinya kami sudah terlalu lama berdiri disini. Kami pamit."
Rasa tak sabar Gavin ingin segera berlalu dari tempat itu mulai mengudara, diselipi sebuah perasaan menjijikkan. Apalagi kalau bukan cemburu. Haduh!
"I- iya, kami permisi dulu, Bibi Kedasih, Didy, dan juga ... Tuan Edrick." Nama terakhir disebutkan Nilam dengan ragu. Kembali ia melirik Gavin yang sudah memutar-mutar kunci mobil di tangannya dengan raut masam.
"Hati-hati, Kak. Jangan lupa sering-sering ke sini!" seru Didy. Dan bersambut anggukan dan senyuman Nilam yang mulai masuk ke dalam mobil Gavin.
"Iya, Nona Nilam. Aku tunggu!" Rangkulan di pundak Didy, Edrick dengan lagak selengeannya.
"Edrick ... kamu ini, jangan goda gadis itu. Dia akan menikah sebentar lagi. Ayo, masuk."
"Apa?! Jadi Nilam dan laki-laki itu belum menikah, Bunda?" Edrick seolah mendapat angin segar.
"Belum, Kak. Tapi sepertinya sebentar lagi." Didy merebut jawaban, seraya mengikuti sang ibu ke dalam rumah.
Edrick mengikuti dengan kembali merangkul bocah itu. "Oh .... Kalo begitu. Baguslah." Seringai diwajah Edrick itu ... entah apa maksudnya.
"Maksud Kakak?" Didy menangkap gelagat tak biasa dari diri Edrick.
"Tidak maksud apa-apa, Jagoan. Baguskan, jika mereka cepat menikah," kilahnya tersenyum. "Ngomong-ngomong, mereka itu siapanya kamu, Dy?"
"Kak Nilam itu tetanggaku didesa. Orang yang selalu membantuku. Dan Kak Gavin--"
"Ah, Kakak tidak perduli dengan pria arogan itu. Dy ... kamu sekarang adikku. Maka bantulah Kakakmu ini."
"Bantu apa, Kak?"
"Bantu Kakak mendapatkan Nilam."
Tentu saja Didy tersentak.
__ADS_1
"Tidak!"